Belenggu Sang Pemuda

Belenggu Sang Pemuda
BSP161. Surprise 2


__ADS_3

Tidak disangka, ternyata..... CRAZY UP LAGI 😍😍😍


"Memang kau perempuan yang baik?" tanyaku dengan menggeser posisi tubuhku, lalu Zuhra menegakkan punggungnya. Kemudian ia duduk di sebelahku dengan bersandar pada ranjang, sembari mengeratkan selimut yang aku berikan tadi.


"Seburuk-buruknya laki-laki aja, pasti cari perempuan yang baik untuk dinikahinya. Bukan apa-apa, Dek. Tapi karena keturunan itu, bagaimana dengan ibunya. Kau paham maksud Abang?" lanjutku yang sedari tadi diperhatikan oleh Zuhra.


"Abang bukan orang baik-baik, kak Dinda pun sama. Rokok selalu nyelip di jari, malah minuman keras jadi pelarian rasa sakit hatinya dan rasa terpuruknya. Ya main balap, ya judi juga. Tapi pelan-pelan Abang coba rubah diri Abang sendiri, juga perlahan Abang rubah diri kak Dinda. Berharap semoga anak-anak Abang sama kak Dinda kelak, jadi anak yang baik budi, penurut, sholeh dan sholehah." ungkapku dengan memandang lurus ke depan, lalu aku menoleh ke arah Zuhra.


"Tapi kan aku beda kasusnya sama kak Dinda dan Abang. Aku sama Awan kan….." sahutnya yang langsung kusela.


"Terserah kau! Udah mendingan belum? Ayo ke Banda, kita datengin lagi bu Aisahnya. Kau cerita nanti sama dia, apa yang kau rasa setelah minum obat resep darinya." selaku dengan bangkit dari posisiku, lalu aku melangkah keluar dari kamarnya.


"Dek… siapin Abang makan, lepas ini Abang mau ke B*nda antar Zuhra." seruku dengan berjalan ke arah kamarku.


"Dek…." panggilku kembali, tapi tetap saja tak ada sahutan yang terdengar.


Aku menepuk jidatku sendiri, aku melupakan sesuatu.


Astaghfirullah, aku lupa jika anak dan istriku berada di rumah mertuaku.


Aku langsung bergegas pergi ke kamar mandi, untuk membersihkan diriku. Lalu setelahnya, aku langsung mengajak Zuhra pergi keluar. Biar nanti aku mengajaknya makan di luar saja.


Sungguh aku merasa miris pada kehidupanku sendiri. Kenapa Dinda malah bertindak demikian, tanpa mendengarkan penjelasanku dulu. Bahkan sampai sekarang, Dinda belum tau tentang cerita aslinya. Tapi ia masih tetap ingin berpisah dariku, rupanya kesalahanku fatal sekali menurutnya.


~


~


~


Satu minggu kemudian


Hari ini aku tengah membuat pagar dari bambu, untuk dipasangkan di ladangku. Aku membuatnya dengan beberapa pekerja dan juga Safar. Karena bambu yang aku pesan, malah diantarkan ke rumahku bukan ke ladangku. Jadi biar aku buat di rumah saja, dan setelah jadi akan kembali diangkut ke ladangku.


Aku amat merindukan istri dan anak-anakku, apa boleh buat Dinda masih enggan mengangkat telepon dariku. Jika aku ingin berbicara dengan Givan, maka aku menghubungi aa Arif terlihat dahulu.

__ADS_1


"Siapa itu, Bang?" tanya Safar dengan menaikkan dagunya, menunjukkan bahwa ada orang yang baru datang dengan isyaratnya.


Aku menoleh ke arah pandangan Safar, ternyata….


"Papah….." seru Givan dengan berlari ke arahku.


Terlihat Dinda baru keluar dari dalam mobil, sembari menggendong bayi. Aku yakin, bayi itu adalah Ghifar anakku.


Aku langsung memeluk Givan, lalu menggendong dan membawa Givan berjalan ke arah Dinda.


"Makasih, Sayang…" ucapku dengan tangis yang tak tertahan, aku langsung menubruknya dengan pelukanku.


Aku bahagia melihatnya pulang padaku, tentu dengan anak-anakku juga.


Namun, aku merasa sakit pada telingaku. Aku menarik tubuhku, karena jeweran di telingaku kian terasa menyakitkan.


"Baca ini! Sial betul nasib aku." ujarnya dengan memberiku secarik kertas yang terlipat rapih, lalu ia berjalan melewatiku begitu saja.


Aku membaca surat tersebut, tapi aku malah dibikin bingung dengan surat ini. Karena ini adalah hasil tes kesehatan istriku, yang tentunya aku tak mengerti apa isi di dalamnya.


"Apa ini, Dek?" tanyaku dengan menyusulnya.


"Aku hamil!" jawabnya ketus dengan menoleh ke arahku sekilas. Lalu ia kembali melanjutkan langkah kakinya.


Aku mendapat beberapa tepuk tangan dari arah mereka yang tengah bekerja, aku langsung menoleh ke arah mereka.


"Hebat, Bang. Gacor…" seru mereka dengan mengacungkan jempol tangannya.


Aku pun hanya mengangguk menanggapi mereka, dengan menyunggingkan senyum bahagianya.


Ternyata benihku yang aku siramkan saat Dinda nifas ke 31 hari itu, bisa membuahinya kembali.


Saat aku sampai di dalam kamar, aku melihat Dinda tengah merebahkan Ghifar di atas tempat tidur. Aku langsung mendekatinya, lalu mendudukkan Givan di atas tempat tidur. Dengan aku yang langsung mencium keningnya sekilas, "I love you, my wife." ungkapku tulus dari hatiku.


Dinda memberiku lirikan tajam, "Aku bertahan, cuma sampai aku melahirkan aja. Aku balik, karena mikirin nasib anak-anak aku sama kau nanti. Anak yang tak punya akte lahir, yang entah bagaimana pendidikannya kalau dia ikut aku. Karena akte penting untuk pendaftaran sekolahnya. Belum lagi masalah nashab, aku tetap pengen anak-anakku ikut nashab ayah kandungnya. Karena dia anak halal, bukan anak di luar perkawinan macam anak kau sama selingkuhan kau itu." ucapnya dengan penuh tekanan.

__ADS_1


"Ada Givan, Dek. Tak pantas kau ngomong macam itu di depan anak-anak, nanti dia mikir kita bagaimana lagi." sahutku dengan mencium pipinya sekilas.


Dinda langsung menghapus bekas ciumanku di pipinya, lalu ia berlalu pergi ke kamar mandi.


Aku akan berusaha memperbaiki hubunganku dengan Dinda, sampai waktunya ia melahirkan nanti. Agar aku tak ditinggalkannya kembali.


Sampai di sini aku paham. Dinda ternyata tak seegois yang aku kira, ia masih memikirkan nasib anak-anakku. Ya… meski anak-anak yang menjadi alasannya. Tapi aku bahagia, melihatnya mau pulang kembali padaku.


Tak lama Dinda sudah keluar dari kamar, lalu ia berjalan ke arah tempat tidur dan langsung merebahkan tubuhnya di samping Ghifar.


"Givan mana? Ajak dia bersih-bersih diri dulu, terus ajak makan." pintanya lembi, dengan ia memijat pelipisnya.


"Ke kamar Zuhra tadi dia. Coba Abang tengok dulu ya." sahutku yang diangguki saja olehnya.


Mungkin ia kelelahan dan akan beristirahat sejenak. Untungnya Ghifar tertidur, jadi Adindaku bisa mengistirahatkan tubuhnya sejenak. Sungguh aku merasa bahagia, bahwa Dinda tengah mengandung kembali. Ternyata sehebat itu benih yang aku punya, pantas saja Maya bisa hamil hanya karena benih yang keluar dari bocoran kond*m saja.


Entahlah, aku tak memikirkan nasib Naya dan Maya lagi. Aku ingin fokus pada Adindaku dulu. Nanti jika waktunya tepat, Dinda juga bisa diajak ngobrol. Biar aku meminta saran darinya, tentang kehidupan Naya kelak.


"Lagi ngapain, Bang?" tanyaku setelah membuka pintu kamar Zuhra.


Terlihat Givan sudah bertelanjang dada, ia hanya mengenakan celana jeans panjangnya saja.


"Abis pipis terus cuci muka dia, Bang. Minta makan sama kentucky katanya, Bang." ujar Zuhra yang baru keluar dari kamar mandi.


Aku mengangguk mengiyakan, "Ya udah ajak beli sana, terus tolong suapin. Abang mau ngobrol sama kak Dinda dulu." balasku dengan merogoh uang dalam saku celanaku.


"Kak Dinda betul udah balik, Bang?" tanya Zuhra memastikan.


Aku mengangguk dengan menyerahkan uang lima puluh ribuan dan memberikannya pada Zuhra, "Iya, dia hamil lagi. Makanya dia pulang ke Abang." jawabku dengan tersenyum lebar.


Zuhra menyunggingkan senyumannya, "Wah… Ghifar mau punya adik lagi. Asik, aku tambah banyak ponakannya." sahutnya dengan sumringah.


"Ya udah, tolong Abang buat suapin Givan dulu. Abang mau ngobrol sama kak Dinda." tuturku yang langsung dianggukinya.


Lalu aku kembali ke dalam kamarku, untuk menanyakan tentang keadaan anakku yang berada di perut Adindaku.

__ADS_1


......................


😱 serius meteng maning?


__ADS_2