Belenggu Sang Pemuda

Belenggu Sang Pemuda
BSP48. Pola pikir Adi


__ADS_3

Ini season 2 dari novel Sang Pemuda, ya kak 😁


Sambil nunggu up, bisa baca dulu season 1 nya, ketikan aja dengan judul Sang Pemuda. Atau bisa juga tulis nama authornya aja, Anissah 😅


Adinda menaruh gelas berisi es teh manis itu di atas meja makan. Lalu ia menduduki kursinya, yang bersebelahan dengan kursi Adi.


"Rencananya tadi aku mau bilang, kalau aku udah ngandung sekarang. Tapi ibu malah bilang bahwa Abang itu tak jujur. Ibu minta alamat aku yang di sini, nanti biar aku dijemput sama a Afan atau a Arif. Katanya udahan aja, sekalipun Abang tak mau ceraikan aku. Tak apa, aku tetap harus ikut mereka. Aku harus tinggalin Abang." ungkap Adinda dengan hati yang begitu kacau. Bagaimana pun, ia mencintai suaminya. Ia tidak ingin berpisah, apa lagi ia tak tahu permasalahan jelasnya.


"Terus Adek udah kirim alamatnya? Dosa Dek kalau kau ninggalin suami macam itu. Adek keluar dari rumah, tanpa izin Abang aja udah dosa. Ini lagi apa? Malah diajak minggat. Janganlah, Dek. Abang tak mau pisah. Jangan tinggalin Abang sendirian." ucap Adi, dengan menggenggam erat tangan istrinya.


Adinda menggeleng, "Aku belum kirim alamatnya. Abang tak jujur apa sih? Sampek-sampek aku diminta pulang ke mereka?" tanya Adinda kemudian. Adi langsung menatap mata istrinya.


Masih untung mertuanya tadi tak langsung mengatakan hal yang sebenarnya. Tapi dengan ucapan orang tuanya, sudah pasti malah membuat Adinda penasaran dengan kenyataan yang sebenarnya.


"Mungkin masalah keuangan ternak, Dek. Abang serahin semuanya sama adiknya abang Mun. Adek masih inget kan sama bang Munawir?" jawab Adi, yang meleset jauh dari kenyataan yang sebenarnya. Tentu bukan hal ini yang dimaksud oleh ibunda dari Adinda.


"Kenapa Abang tak transparan? Kalau memang Abang suruh orang, harusnya Abang kasih tau ke mereka. Mungkin mereka kira, Abang terlalu nguwasain semua usaha. Apa lagi jelas, ternak aku sumber dananya dari Abang. Mungkin mereka mikir, Abang kepengen miliki itu juga. Padahal dari awal aku udah ada bilang, bahwa usaha itu untuk keluarga. Apa-apa harusnya Abang bilang dong ke mereka! Masalahnya kan bukan hanya kita yang dapat keuntungan. Tapi anggota keluarga aku, dan tetangga aku bergantung pada ternak itu. Kita cari makan bareng-bareng lah gitu ibaratnya. Abang mau serakah?" ujar Adinda panjang lebar.


Keuntungan tersendiri untuk Adi. Setidaknya ia merasa lega, karena sampai saat ini Adinda belum mengetahui kebenarannya. Meskipun ia dicap sebagai orang serakah, oleh istrinya sendiri.


"Taik ternak juga orang Abang yang kelola?" lanjut Adinda, membuat Adi sedikit tersentak kaget. Lantaran di dalam pikirannya, ia tengah bersyukur.

__ADS_1


"Keknya, Dek. Belum ada obrolan lebih jauh." sahut Adi sekenanya.


"Jangan diambil juga dong! Biar buruh di situ yang kelola. Untuk penghasilan tambahan untuk mereka." balas Adinda dengan intonasi suara sedikit meningkat. Karena kotoran burung puyuh bisa dijual untuk dijadikan pupuk. Burung yang sudah tidak berproduksi dengan baik pun, bisa dijual kembali.


"Memang mereka tau buangnya ke mana?" tanya Adi yang mulai memahami pembicaraan mereka.


"Aku udah ada bilang. Aku juga udah kasih nomor kontak Rozie, biar mereka yang buang sendiri ke Rozie." jawab Adinda, Adi manggut-manggut mengerti.


"Ya udah nanti Abang bilang ke Yayan." balas Adi kemudian.


"Yayan siapa?" tanya Adinda, membuat Adi mengurungkan niatnya untuk mencicipi es teh manis buatan suaminya.


"Adiknya abang Mun itu, dia namanya Yayan." jawab Adi, lalu ia menyeruput esnya perlahan. Rasa dingin menjalar nikmat di tenggorokannya.


"Uhuk, uhuk…" suara batuk Adi, yang mencoba mengeluarkan air yang masuk ke saluran pernapasannya itu.


"Pelan-pelan dong!" seru Adinda, dengan menepuk pelan punggung suaminya.


Adi menyelesaikan batuknya, lalu ia meminum airnya lagi. Agar tenggorokannya lebih nyaman.


"Tadi apa Adek kata? Abang pelit? Abang serakah?" tanya Adi terlihat tidak suka, dengan tuduhan yang istrinya berikan.

__ADS_1


"Dengerin ya, Dek. Pelitnya Abang itu macam mana? Kalau memang Abang pelit. Uang Abang, udah Abang pegang sendiri. Abang umpet-umpetin hasil usaha Abang. Dan Abang hitungin semuanya yang Adek makan." lanjutnya menjawab pertanyaannya sendiri, "Nah nyatanya kan Abang tak macam itu. Abang kasih semua yang Abang punya. Abang tak pernah hitungin semuanya. Tak pernah nyimpen uang tanpa sepengetahuan Adek." lanjutnya menjelaskan.


"Laki-laki perhitungan itu wajar. Apa lagi kalau betinanya macam Adek. Contohnya gini aja. Adek masak nasi untuk kita bertiga, untuk satu hari biasanya Adek masak cukup dua kaleng beras. Terus tak ada acara, tak ada tamu. Tiba-tiba Adek masak nasi dua kilo. Terbuang dong nasi itu nanti? Wajar dong Abang tegur? Sesuatu yang mubazir itu tak baik. Kalau dua kaleng cukup, kenapa harus masak dua kilo. Logikanya macam itu aja. Sama halnya kek kehidupan kita sehari-hari. Adek beli barang yang tak kita perlukan, wajar Abang tegur. Adek beli barang dibatas yang kita butuhkan, wajar Abang bilangin. Lain halnya kalau Adek belanja banyak untuk kebutuhan harian kita, Adek nyetok untuk satu bulan. Itu wajar Adek habisin banyak uang, karena barang-barang itu yang kita perlukan dan cukup untuk kita satu bulan. Terus untuk perawatan kecantikan Adek, Adek habisin banyak uang. Masih dibilang wajar, kalau Adek ambil yang Adek butuhnya aja. Untuk kepercayaan diri Adek, terus biar Abang betah di rumah. Wajar aja itu. Adek yang paham, Abang ini bukan pelit. Berpikirlah dewasa, kita tuh belum tentu ada terus. Roda kehidupan itu berputar. Takutnya posisi kita lagi di bawah, terus Adek kaget. Adek tak bisa nerima itu semua. Meski kita lagi ada, hiduplah dengan sederhana. Yang penting ini itu kita kecukupan semua. Tak perlu mewah, tak perlu mubazir barang." ungkap Adi menjelaskan dengan memperhatikan wajah istrinya dengan lekat.


"Abang marahin aku?" Adinda buka suara dengan suara yang sedikit bergetar.


"Tak, Abang tak marahin Adek. Abang cuma bilangin. Apa yang kita omongin, apa lagi kalau udah menyangkut harta. Pasti Adek selalu bilang Abang pelit. Ini lebih-lebih, Adek bilang Abang serakah. Untuk masalah tadi, mungkin benar kata Adek. Abang tak transparan pada mereka. Bukan Abang yang serakah, pengen nguasain usaha keluarga Adek. Tak Dek, tak macam itu." jelas Adi. Agar istrinya tak menangis.


Adinda langsung memeluk tubuh suaminya, "Aku jangan dimarahin terus. Orang tua aku jauh." ujarnya terisak.


Adi membalas pelukan istrinya, sembari membelai lembut rambut istrinya.


"Maaf ya kalau terlalu kasar jelasinnya." tutur Adi begitu halus terdengar.


"Adek yang paham. Abang ini bukannya pelit. Abang cuma mau kita hidup sederhana, tak mubazir makanan atau lainnya. Di luar sana banyak yang kekurangan makanan. Di luar sana banyak yang hidup serba sulit." lanjut Adi lembut, dengan masih mengelus rambut bergelombang milik istrinya.


Adinda melepaskan pelukannya, lalu ia menatap kedua netra coklat tua milik suaminya. Adi terlihat begitu dewasa, dengan pola pikir jauh ke depan.


TBC.


Divote dong, yang itu loh sebelahnya hadiah. memang sih setelah di update aplikasinya jadi bikin bingung.

__ADS_1


Likenya jangan lupa juga ya 😁


__ADS_2