Belenggu Sang Pemuda

Belenggu Sang Pemuda
BSP149. ASIP untuk Ghifar


__ADS_3

"Jangan nangis terus lah. Kau laki-laki, Di. Bukannya nyelesaiin masalah, tapi kau malah nangis terus. Asal kau tau aja, Dinda di sana macam orang gila. Dia nangis kejer, sampek tetangga pada kepo. Dia manggil nama Ghifar terus, dia sebetulnya tak tega ngasih anaknya sama kau." ucap Jefri agar Adi bersemangat kembali dan mau berjuang untuk rumah tangganya.


"Kau tau Dinda bilang apa? Dia kata, dia ngasih Ghifar ke kau itu. Biar masa depan Ghifar cerah, biar sekolahnya tak dipersulit. Karena Ghifar belum punya akte lahir, dengan dia sama kau kan jadi Ghifar bisa punya akte lahir. Dengan bin-nya kau, ayah kandungnya sendiri yang satu nashab sama dia. Kau bayangin aja macam mana terpukulnya Dinda. Dia lagi kangen sama kau, tapi malah dihadapi kenyataan pahit. Dia dipertemukan langsung sama istri lain dari suaminya, hari ini juga dia harus ngerelain anaknya yang tiba-tiba tak ada lagi di jangkauannya. Keputusan yang pintar, yang diambilnya dalam waktu singkat. Tapi jangan kau tanyakan, macam mana hancurnya dia sekarang." lanjut Jefri yang membuat Adi diam dengan pandangan kosong.


Selama ini dia hanya membayangkan jika dirinya ditinggal oleh Adinda, ia tak sampai membayangkan bagaimana kacaunya istrinya saat mengetahui kenyataan ini.


"Kalau udah begini, aku harus macam mana lagi Jef?" ujar Adi dengan mendekap erat anaknya.


"Berhenti nangis, terus kau omongin baik-baik sama dia. Tadi kan kau belum sempat jelasin apa pun kan? Dinda pun selama di mobil cuma diam seribu bahasa, dia tak nanya apa pun tentang kau dan Maya." tutur Jefri dengan mengambil botol susu tadi, lalu ia berlalu ke arah dapur.


'Dinda tak nanya apa pun sama mereka? Dia pengen aku jelasin? Atau karena dia tak sanggup dengar semuanya?' gumam Adi dengan menghapus air matanya.


Hari ini, sahabatnya sendiri mengetahui bagaimana lemahnya Adi hari ini. Bahkan, mungkin ini adalah hari yang bersejarah untuk Adi. Karena ia tak pernah menangis seperti ini, semenjak dirinya dewasa. Meskipun air matanya karena Adinda, tapi tetap saja ia begitu terlihat lemah dan terpuruk.


"ASI Dinda udah penuh lagi, Di. Aku mesti ke sana untuk anterin botol beling ini, aku juga diminta untuk belanja botol ini agak banyakan." ujar Jefri dengan anak rambut yang basah, karena ia baru saja membasuh mukanya.


"Dinda tak mau susuin sendiri kah? Dia akan tetap perah ASI-nya kah? Ghifar tak puas, kalau nyon-nyon tak pakek karet buatan pabrikan asli." sahut Adi dengan menoleh ke arah Jefri.


"Iya lah, itu sih jelas. Sensasi yang bayi sukai itu, ya cara dia hisapnya. Bukan laju air yang keluar dari sana. Dengan cara itu juga kan, hati ibu dan anak itu menyatu. Lewat menyusui, ibu dan anak bisa mentransfer suasana hati mereka. Itu yang aku tau." balas Jefri yang membuat Adi menatap kosong ke arah gorden jendela rumah itu.


"Jangan ngelamun lah, tengok itu anak kau melongo aja. Dia pengen diajak ngobrol itu, Di." lanjut Jefri dengan melihat keadaan Adi yang begitu memprihatinkan.


"Tiap kali aku tengok wajah Ghifar, aku tak bisa nahan rasa cengeng aku." tukas Adi datar.


Jefri menepuk pundak Adi, "Malam nanti aku di sini, sekalian bantuin kau ngurus Ghifar." tuturnya kemudian.


Adi hanya mengangguk, lalu terdengar suara pintu rumah yang terbuka dan tertutup kembali. Karena Jefri keluar dari rumah itu.


"Kau tak tidur-tidur, Nak. Mau diayun-ayun kah?" tanya Adi pada anaknya, yang berada di dekapannya.


Ghifar bersuara, tapi suaranya terdengar seperti aungan kucing. Membuat Adi sedikit menarik sudut bibirnya ke atas, "Ini Ghifar apa kucing nih? Kaget Papah, Ghifar macam kucing malam jum'at aja." ujar Adi kembali.


Saat dirinya dan Ghifar tengah berinteraksi, terdengar suara dering yang berasal dari ponsel Adi.

__ADS_1


Adi meraih ponselnya, "Umi nelpon?" ujar Adi lirih.


Lalu ia melihat wajah anaknya kembali, "Oma nelepon Papah, Nak. Bentar ya, Papah mau ngobrol dulu sama Oma." ungkap Adi pada anaknya.


Hanya suara lirih yang Ghifar keluarkan, ia merespon apa yang ayahnya ucapkan.


"Hallo, Umi." ucap Adi, saat ponselnya sudah menempel pada telinganya.


"Abang ke mana aja? Besok pagi kakaknya Maya mau pulang, mobilnya mau dibawa balik lagi Bang." sahut ibu Meutia, terdengar dari nada suaranya menandakan dirinya merasa cemas pada Adi.


"Oh, iya. Nanti malam Jefri antar, Mi. Adi lagi bantu-bantu Haris di rumahnya. Soalnya wajib melekan untuk calon pengantin." balas Adi yang entah berapa lama lagi ia harus berbohong.


Ghifar menyangka dirinya tengah diajak berbicara dengan ayahnya, celotehan yang tak jelas mulai terdengar dari mulut kecilnya.


"Siapa itu, Bang? Suaranya macam bayi." tanya umi, saat Adi menundukkan pandangannya agar bisa melihat Ghifar.


"Hmm, Abang lagi sama Kin. Nanti telepon lagi aja, Mi. Abang lagi main sama anak-anak." ungkap Adi, kemudian dengan cepat ia mematikan sambungan teleponnya.


Namun, tak disangka. Jari Adi yang menempel di pipi Ghifar langsung ditarik anak itu, lalu dimasukkan ke dalam mulut kecilnya. Dengan gerakan reflek, ia bisa melakukan hal itu. Karena ia menyangka bahwa jari itu adalah ujung dada ibunya.


"Jangan gitu dong, Nak. Papah sedih tengok kau macam ini. Sabar ya, nanti besok kita bujuk mamah." ungkap Adi dengan menahan air matanya.


Lalu Adi bangkit dan mengayun tubuh anaknya, yang berada di dekapannya. Ia menyenandungkan syair Islami, agar anaknya bisa terlelap tidur.


~


Pukul satu dini hari, deru suara mobil terdengar di telinga Adi. Adi yang masih menggendong anaknya, langsung menuju ke gorden jendela rumahnya. Untuk melihat siapa yang datang di waktu malam seperti ini.


'Si Jefrong! Aku kira Dinda, mana ini anakan tak tidur-tidur lagi.' gumam Adi dalam hatinya, saat Jefri keluar dari mobil dan langsung bergegas menuju pintu rumah tersebut.


Adi langsung membuka kunci pintu rumahnya, kemudian Jefri langsung memasuki rumah tersebut.


"Lah… belum tidur juga itu bayi?" ucap Jefri, saat melihat Adi masih menggendong anaknya.

__ADS_1


"Tadi dia tidur sebentar, terus aku tinggal buat sholat isya. Sholat belum selesai, dia udah owa-owa lagi. Abis itu dia minta susu, susu udah abis sampek dia udah sendawa. Eh dia tak merem-merem lagi. Ditaruh di kasur, dia tak mau. Ngerengek lagi, rewel betul perasaan. Tak macam biasanya." ungkap Adi bercerita.


"ASIP-nya aku masukin ke freezer lagi ya. Dinda juga belum tidur, dia ngelamun aja. Sesekali air matanya netes, tapi pandangannya kosong." sahut Jefri dengan menaruh beberapa botol ASIP yang ia bawa dari dalam cooler bag.


"Mungkin Ghifar ikut galaunya aja." balas Adi dengan duduk di sofa ruang tamu. Namun, malah Ghifar menangis terisak. Kemudian, tangisnya langsung pecah.


"Dia tak mau duduk keknya, Di. Bentar, aku cuci tangan dulu. Biar aku gantiin kau, mana tau kau pengen istirahat sejenak." ujar Jefri, saat melihat Adi yang bangkit kembali dari duduknya sambil menguap.


"Tak perlu, Jef. Tolong anterin mobil itu ke rumah aku, besok pagi mau dipakek sama yang punyanya." seru Adi, karena Jefri langsung berlalu pergi ke kamar mandi.


"Kencing." sahut Jefri sedikit berteriak.


Tak lama Jefri kembali, lalu ia langsung bergegas pergi. Untuk mengantarkan mobil tersebut.


Adi mencoba menaruh anaknya di tempat tidur, dengan dirinya yang merebahkan tubuhnya di sampingnya.


Kaki Ghifar menendang-nendang, tangannya pun direntangkan begitu lebar. Terdengar juga suara-suara khas celoteh bayi, yang dikeluarkan oleh anak itu.


"Tidur, Nak. Biar besok kita tak bangun kesiangan, kita kan mau ketemu mamah sama bang Givan besok." ungkap Adi dengan memeluk anaknya.


Ia tak memungkiri, bahwa dirinya membutuhkan istirahat. Apa lagi jahitan pada lukanya, cukup memberikan rasa nyeri dan berefek panas dingin pada tubuhnya.


~


~


Pagi harinya, Adi sudah bersiap untuk menemui istrinya. Sekarang ia tengah berada dalam perjalanan menuju rumah orang tua Adinda, dengan Ghifar yang terlelap tidur.


"Lampu merah P******** lurus terus ya, Pak. Depan A***mart yang sebelah kiri nanti, ada gardu selamat datang di pesantren ya. Nanti masuk ke arah jalan situ." ungkap Adi memberitahukan jalan yang ia tahu, pada sopir taksi onlinenya.


"Ok, Pak. Gak ambil kanan dari lampu merah aja, Pak?" tanya sopir tersebut, saat mobilnya berhenti di lampu merah yang Adi sebutkan.


......................

__ADS_1


__ADS_2