Belenggu Sang Pemuda

Belenggu Sang Pemuda
BSP15. Kecambah


__ADS_3

ADI POV


Semalam aku bisa mencari alasan untuk mengundur bercerita pada Dinda. Namun jelas, aku tak mungkin bisa beralasan terus.


Pagi harinya, aku terbangun karena Dinda yang mulai muntah-muntah kembali.


Dengan aku yang berusaha membantu Dinda mengeluarkan isi perutnya, yang tentu saja hanya keluar cairan saja. Karena Dinda belum makan apa pun pagi ini.


Setelah aku mengoleskan minyak angin aromatherapy, lalu aku membujuknya untuk makan. Ia terlihat sangat pucat dan lemas.


"Adek mau makan apa?" tanyaku padanya. Dengan mengahapus keringat dingin yang membasahi wajahnya.


"Lontong ada tak ya, Bang?" tanya Dinda lemah.


"Hmm, tak tau." sahutku kemudian, namun Dinda langsung berekspresi sedih, dengan mengerucutkan bibirnya.


"Li, Liana… coba kau jalan-jalan keluar. Mana tau ada yang jual lontong." ujarku pada Liana yang tengah membereskan tempat tidur yang semalam ia gunakan.


"Di mana, Bang?" tanya Liana dengan mengahampiriku.


"Tak tau. Coba kau cari aja." balasku yang diangguki Liana. Aku memberikanya uang sisa ongkosku semalam. Lalu ia berjalan keluar dari ruangan Dinda.


Lalu aku bergegas menuju kamar mandi. Sekedar untuk buang air kecil, cuci muka, dan sikat gigi saja. Karena Dinda pasti tak mau kucium, jika aku belum menyikat gigiku.


Aku pun tak tau sejak kapan ia terbangun. Namun saat aku mendengar suara muntahannya. Ia sudah berganti pakaian.


"Dinda sakit apa, Sayang? Keracunan makanan? Atau maghnya kambuh?" tuturku lembut, setelah kembali dari kamar mandi.


Dinda mengambil sesuatu dari balik bantalnya. Sebuah buku kecil berwarna biru. Seperti buku tabungan saat aku sekolah dasar dulu.


"Tengok ini Bang." ucapnya dengan senyum yang merekah.


Aku melihat buku itu, membaca nama yang tertera di situ. Bertuliskan ibu Adinda. Dan di bawahnya tertera alamat rumahku.


Dan saat aku membukanya, aku melihat sesuatu yang pernah aku lihat sebelumnya.


Ini sebuah foto hasil USG, sekilas mirip dengan milik Maya. Dan ada catatan tulisan dokter di lembar buku tersebut. Aku tak mengerti, maksudnya macam mana ini? Macam mana caranya Dinda bisa mengetahui hasil USG milik Maya?

__ADS_1


"Maksudnya macam mana ini, Dek?" tanyaku dengan tegang.


"Ada kecambah di sini, Bang." ungkapnya dengan senyum merekah dan menarik tanganku, lalu ia tempatkan di perut bawahnya.


Aku membulatkan mataku. Sungguh aku tak mengerti, macam mana kecambah bisa tumbuh di perut istriku? Dan apa hubungannya dengan foto hasil USG ini?


"Abang nampak bodoh kali!" serunya dengan menepuk pelan dadaku.


"Ini foto USG siapa?" tanyaku dengan masih memasang ekspresi bingung dan tegang.


Dinda menarik telingaku, "AKU HAMIL, ADI RIYANA!" teriak Dinda, sungguh membuat telingaku tuli sebelah.


Persekian detik aku terdiam tanpa ekspresi. Dan detik berikutnya aku langsung melakukan sujud syukur. Dengan air mata bahagia yang terbendung di kelopak mataku.


Kemudian aku langsung bangkit dan memeluknya, "Alhamdulillah, Sayang. Usaha Abang tak sia-sia. Kesabaran Abang nunggu Givan tidur, ternyata ada hasilnya juga. Abang sampai tak mengenal lelah, pagi-pagi buta Abang awali hari-hari Abang dengan nyelebor Adek. Abang percaya usaha pasti tak akan mengkhianati hasil." ungkapku dengan membingkai wajahnya.


Namun apa, Dinda malah terbahak-bahak mendengarnya. Apa ini? Apa jangan-jangan ia hanya mengerjaiku? Aku paham hobinya yang selalu mengisengiku itu.


"Adek bohongin Abang?" tanyaku dengan serius.


"Dinda tak hamil? Jangan-jangan Adek ngeprank Abang?" sahutku kemudian.


"Tak, coba Abang baca ini." balasnya dengan menunjukkan buku itu.


"Aku telat tiga hari, menurut hitungan aku. Pas aku cek ternyata aku positif. Dan pas aku periksain, katanya bayi aku udah berusia sekitar lima minggu." ucapnya dengan menunjukkan tulisan dokter tersebut, dan senyum yang tak pernah pudar.


Aku begitu bahagia mendengarnya, aku menciumnya habis-habisan. Aku mendekapnya erat sekali. Akhirnya aku bisa menghamili Adindaku. Dan akan kuberitahu umi secepatnya.


Tapi tunggu dulu. Aku memikirkan sesuatu. Aku memiliki beban yang tak Dinda ketahui. Tiba-tiba senyum bahagiaku lenyap sudah, setelah mengingatnya.


"Kenapa, Bang?" tanya Dinda yang sepertinya mengetahui perubahan ekspresi pada wajahku.


"Tak apa, Sayang. Pantesan, akhir-akhir ini Abang jadi sasaran amukan macan betina terus. Eh tak taunya…" ucapku tak kulanjutkan. Lalu aku tersenyum senang dengan menciuminya dengan gemas.


"Siapa itu macam betina? Maksudnya aku macam betina, macam itu? Abang ngatain aku macan betina?" sahut istriku yang terpancing emosi lagi. Aku harus kuat, aku harus bersabar menghadapinya yang macam ini sampai sembilan bulan.


"Tak, Sayang. Dek Dinda istri Abang. Bukan macan betina. Jadi mau makan apa? Biji kecambah mau makan apa nih?" balasku dengan mengelus perut datar milik Dinda, lalu menciumnya.

__ADS_1


"Abang ngatain anak aku biji kecambah?" ujarnya dengan mata kecil yang mekar sempurna itu. Hadeh, padahal ia sendiri yang menyebut janinnya dengan sebutan kecambah. Apa aku salah karena menambahkan kata biji di depannya?


Aku tak menyahutinya, aku takut salah lagi. Aku hanya memasang senyum manis, yang dulu membuatnya sampai nemplok terus padaku.


"Mau peluk." ucapnya dengan nada manja. Macam ini kah mood seorang ibu hamil? Emosional, manja, baperan, sensitifan, doyan ngamuk, dan jarang makan. Karena seingatku Dinda begitu malas untuk makan nasi. Ia lebih suka ngemil dan minum es.


"Sini Abang peluk." sahutku dengan mendekapnya erat. Aku ingin tetap seperti ini, sampai maut memisahkan.


Tapi aku sadar, di tempat lain. Ada seorang istri, yang menantikan kepulangan suaminya. Dan ada seorang anak, yang rindu akan suara ayahnya.


Untuk berterus terang pada Dinda pun rasanya aku takut. Apa lagi jika meminta Dinda untuk membagi diriku. Rasanya aku tak akan mungkin bisa adil pada istri-istriku. Karena terang saja, aku lebih berat pada Dinda.


Selain aku mencintainya, dia juga sekarang telah memberiku seorang anak dalam kandungannya. Yang jelas-jelas itu adalah anak kandungku, anak hasil perbuatanku. Aku tak ragu dan tak bimbang mengakuinya. Karena aku merasa melakukannya sesering mungkin. Dan jelas aku menyemprotkan benihku di dalam rahim Dinda.


Tak seperti pada Maya. Sampai sekarang pun rasanya aku berat menerimanya. Memang aku melakukannya, hanya saja waktu itu jelas aku memakai pengaman.


~


Siang harinya, aku berniat pulang ke rumah untuk menemui anakku. Rasanya aku tak enak hati, karena Givan terlalu lama dititipkan. Biar dia aku bawa saja, tak apa lah dia sementara harus kubawa ke rumah sakit. Karena tak ada pilihan lain.


Sebelumnya, aku sudah izin pada Dinda. Dan sekarang dia tengah terlelap kembali, setelah aku tepuk-tepuk part belakangnya. Ya itulah, ia semanja itu. Dan ia berkata, ia tak bisa tidur nyenyak, jika tak ada aku di sampingnya.


Dan Dinda juga bercerita, ia selalu bermimpi buruk akhir-akhir ini. Dinda mengatakan, ia bermimpi pakaian favoritnya dipinjam paksa oleh seseorang perempuan yang meneduh saat hujan tiba. Dan ia juga mengatakan, dalam mimpi tersebut aku hanya diam saja. Tak mencoba mengambil kembali baju Dinda yang orang itu rebut paksa.


Memang mimpi itu sedikit nyambung dengan pernikahanku yang tanpa sepengetahuannya. Mungkin ini firasat seorang istri pada suaminya.


Dan saat menjelang hari pernikahanku dengan Maya. Aku pun merasakan firasat yang sedikit aneh, menurutku. Waktu itu, aku tertidur kembali setelah selesai shalat malam. Dan seperti mimpi dan tidak mimpi. Aku ingat aku baru selesai shalat malam. Namun aku bermimpi ada sesuatu di atas sajadahku. Seorang bayi yang bersinar. Mungkin ini jawaban atas mimpiku saat itu. Karena paginya, aku amat teringat pada Dinda.


TBC.


Alhamdulillah, akhirnya hamil juga.


Tapi apa lagi ini?


Hmm, ada saja masalahnya 😩


Sebenarnya Adi udah dapat firasat, tapi dia tak pernah mikir bahwa Dinda hamil. Heran aku sama Adi Riyana ini 🙁

__ADS_1


__ADS_2