
"Apa?" tanya Adi dengan membawa beberapa plastik belanjaan milik Adinda.
"Safar macam mana sih sebetulnya? Dia kejar aku, udah dapat malah tak ada kabar. Kesel betul aku dibuatnya." ucap Sukma dengan wajah cemberut.
Adi terkekeh kecil, "Iyalah, aku pun kalau udah dapat ya kabur. Soalnya rasa janda sih, coba rasa perawan macam Dinda. Pasti Safar bertahan." sahut Adi yang mendapat pelototan dari Sukma.
"Sialan kau!!" balas Sukma terlihat begitu kesal pada Adi.
"Datangin aja rumahnya. Jam segini biasanya dia lagi di rumah, gih sana." saran Adi, kemudian ia melangkah masuk ke dalam rumahnya.
"Tunggu, Di!" seru Sukma dengan menarik baju yang Adi kenakan.
"Apa lagi? Jangan minta Safar suruh ke sini, aku tak mau rumah aku jadi tempat zina kau sama Safar. Lagian kau sama dia udah dewasa, pacaran bisanya sembunyi-sembunyi macam itu. Dewasa dong, ke rumahnya, ngobrol sama orang tuanya juga. Biar mereka restuin kau jadi menantunya." ujar Adi setelah memutar tubuhnya menghadap Sukma.
"Nah itu, kata dia orang tuanya tak boleh kalau Safar sama aku." tutur Sukma dengan helaan nafasnya.
"Sebetulnya bukan tak boleh, tapi katanya orang tuanya takut rumah tangga Safar nanti malah lebih dominan kau. Jadi seolah-olah kau ini kepala keluarga, karena kau lebih tua dari pada Safar. Tapi coba aja kau main ke sana! Apa jangan-jangan kau udah ngandung?" tukas Adi penuh selidik.
"Ish… sembarang! Aku tak lagi hamil lah." sahut Sukma cepat.
"Ya udah kau sana, minta antar Zuhra tuh atau Givan. Aku mau beres-beres dulu ini. Aku disuruh Dinda cuciin daster barunya, sama ini." balas Adi dengan menunjukkan isi plastik belanjaan tersebut.
Sukma terkekeh geli, "Kau yang lebih tua dari Dinda pun, rumah tangga kau lebih dominan Dinda. Eh, tapi besar juga ukuran Dinda punya. Pantas kau betah, mainannya cocok ya Di?" ujar Sukma kemudian.
"Kalau di ranjang kan, aku yang lebih dominan. Diminta nyuci macam ini sih wajar kali, kan aku sayang istri. Aku tak mau istri aku capek, apa lagi marah-marah karena aku tak nurut. Ini ukuran baru, dia montok kali sekarang. Sayangnya mahal betul, ditoel aja marah. Ngambek minta beli lipstik sebagai kompensasi kerugian." ungkap Adi yang membuat tawa Sukma pecah.
"Memang macam mana ceritanya?" tanya Sukma ingin tahu.
"Pas mau ambil Ghifar, dadanya tak sengaja tertoel. Eh langsung marah dia, aku minta maaf sambil rayu dia. Dia bilang, aku mau maafin Abang asal beli lipstik dua. Pas aku tengok di keranjang sh*p*enya, harga lipstik itu yang satunya 270 ribu. Dua lipstik kan berasa ya? Aku bilang satu aja, mahal itu Dek. Dia maksa, terus malah ngerambat marahnya. Ya udah, ya udah beli tiga sekalian. Dari pada nanti minta pisah ranjang lagi." ungkap Adi bercerita, membuat kawan lama itu terpingkal-pingkal.
"Kau kalah telak dibuatnya." timpal Sukma setelah selesai dengan tawanya.
"He'em, cari aman aja aku. Setidaknya, kalau dia terpenuhi itu… adem hidup gue." sahut Adi dengan terkekeh kecil.
"Jadi udah beres masalah kau sama dia? Gimana kabarnya yang muda itu?" tanya Sukma dengan duduk di atas kap mobil Adi.
__ADS_1
Sukma mengetahui cerita rumah tangga Adi dari Jefri, karena Adinda begitu menutup dirinya jika ada seseorang yang menanyakan tentang keadaan rumah tangganya.
"Tetap pisah, tapi nanti setelah dia siap nifas. Susah bujuknya, capek juga kan kalau harus berjuang sendirian. Jadi ya udahlah, mungkin udah jalannya. Lepas nanti pisah pun, aku tak ada pikiran buat lanjut sama Maya. Aku pengen fokus berladang aja. Karena anak-anak aku banyak, Givan, Ghifar, Naya sama yang dua lagi yang di kandung Dinda. Jadi total anak lima, pengen tambahin ladang macam itu. Biar anak-anak aku punya bagian semua dari aku, biar Dinda tak terlalu kesusahan untuk urus mereka." jawab Adi dengan nada sedikit pelan.
Mata Sukma membulat, "Hah? Kembar? Terus tetap mau pisah gitu, lepas kalian tau anak kalian sebanyak itu? Jangan egois, coba dibicarakan lagi aja Di." sahut Sukma kemudian.
"Aku sama Dinda untuk sekarang udah lagi baik-baik aja, aku tak mau bikin dia renggang lagi kalau bahas masalah itu lagi. Biar nanti aku tak pernah ingetin perceraian itu, biar dia minta sendiri kalau dia masih tetap pengen cerai." balas Adi dengan menoleh ke arah pintu rumahnya.
Terlihat Adinda tengah memperhatikan mereka berdua, yang tengah mengobrol di halaman rumahnya.
"MASUK KAK!" seru Adinda dengan melambaikan tangannya.
Sukma mengangguk, lalu mengayunkan langkah kakinya menuju ke arah Adinda. Diikuti dengan Adi, yang membenahi barang bawaannya kemudian mengikuti langkah kaki Sukma.
~
Beberapa saat kemudian, Safar datang bermaksud untuk mengantarkan makanan untuk keluarga kakak sepupunya itu.
"Assalamualaikum, Kak… ini makanan dari my mamak." seru Safar dengan melangkah masuk ke dalam rumah Adi.
"Wa'alaikum salam, ya simpan di meja dapur." sahut Adinda yang berada di ruang keluarga, tentu bersama seseorang yang bertamu tadi.
"Mau kabur kau? Dasar pengecut!!" maki Sukma, dengan memperhatikan Safar dari ujung kaki sampai ujung kepala.
"Nih, Kak. Simpan aja sendiri lah!" ujar Safar pada Adinda.
Lalu ia mengayunkan langkah kakinya menuju ke tempat duduk yang tersedia.
"Bukan mau kabur, orang lagi ngumpulin dana buat ngelamar kau. Ayo ke rumah dulu, kenalan dulu sama keluarga aku." lanjut Safar berbicara pada Sukma, dengan menggenggam tangan Sukma.
"BANG… Safar ngon Sukma mau meukawen." seru Adinda, yang membuat Adi berlari ke arah sumber suara.
"Kapan? Kapan? Ada dangdutannya tak? Manggil Ayu ting-ting tak? Terus motong sapi tak?" tanya Adi secara mendadak.
Sukma tertawa geli, dengan menutup mulutnya. Dengan Adinda yang terpingkal-pingkal, dengan memegangi perutnya.
__ADS_1
"Tak ada Ayu ting-ting, nanti aku ngundang Cut Rahayu aja. Sama hebohnya, macam ngundang Ayu ting-ting." jawab Safar dengan mimik wajah juteknya.
Cut Rahayu adalah Ayu, kakak sepupu Adi. Yang sering mengajak Givan untuk jalan-jalan.
Adi mencolek dagu Sukma, "Cicip dong, Suk. Masa Safar boleh cicip, aku tak dapat." ujar Adi, yang tentu saja hanya menggoda mereka berdua.
Adinda menyuarakan tawanya lagi, apa lagi Safar langsung memukul pelan tangan Adi yang sempat mencolek dagu kekasihnya itu.
"Kak, kurung apa macam mana itu. Masa iya mau cicipi Sukma." ucap Safar dengan terlihat begitu marah.
"Gurau kali, Far! Lagian Abang udah bisa nebak rasanya Sukma, pasti tak beda jauh dari rasa perempuan yang kemarin kau gilir sama Abang." sahut Adi dengan duduk di sebelah istrinya.
"Hah? Siapa itu? Kau gilir siapa kemarin?" tutur Sukma dengan menarik kera kemeja Safar.
Tentu Adi hanya bercanda saja, Adinda pun mengetahui bahwa suaminya hanya bercanda.
Safar langsung menggelengkan kepalanya berkali-kali, karena ia tak menyangka bahwa Sukma termakan omongan kakak sepupunya itu.
Berbeda Adi yang tertawa begitu puas, dengan menepuk pahanya sendiri berulang kali.
"Sialan ya kau, Bang! Awas aja kau!" ucap Safar dengan menunjuk pada Adi. Lalu ia berlalu pergi, dengan menarik tangan Sukma. Mereka berdua pergi begitu saja, tanpa pamit pada tuan rumah tersebut.
"Mantap ya mereka, gercep. Tak macam Abang." ujar Adinda tiba-tiba, membuat tawa Adi lenyap begitu saja.
Adi menoleh pada istrinya, lalu dengan cepat ia mencium pipi istrinya.
"Gercep, makanya belum setahun nikah Adek udah dua kali hamil." sahut Adi dengan tersenyum lebar.
"Sana geser, sempit betul tuh!" balas Adinda dengan menepuk paha suaminya.
"Jadi macam mana untuk acara besok?" tanya Adi dengan menggeser posisi duduknya.
"Acara apa? Besok awal puasa kan? Abang aja yang puasa, aku keknya tak ikut puasa. Takut bayi aku kenapa-kenapa, soalnya bayi kembar kan butuh nutrisi lebih." jawab Adinda kemudian. Lalu ia mengganti channel TV, dengan acara yang lain.
"Nih, Abang kasih tengok KTP Abang. Jangan-jangan Adek malah tak tau betulan lagi." ungkap Adi, dengan mengeluarkan KTP miliknya, dari dalam dompetnya.
__ADS_1
TBC.
Apa apa hayo?