Belenggu Sang Pemuda

Belenggu Sang Pemuda
BSP85. Diintrogasi mertua


__ADS_3

Adi hanya terdiam, ia terlihat tengah berpikir.


"Adi mau tengok peternakan puyuh Adi, Bu." sahut Adi kemudian.


"Liat ya liat aja, malam ya kamu pulang ke istri. Jangan seolah kamu masih perjaka aja, Di. Keluyuran seenaknya, istri kamu tinggal-tinggal terus." balas ibu Rokhayah. Ia mulai meninggikan suaranya pada menantunya tersebut.


"Iya Abang tuh gitu. Kayanya ada perempuan lain." timpal Maya. Adi mengharapkan Maya untuk membelanya, bukan malah semakin menyudutkannya.


"Itu bukan urusan kau, May. Masih untung aku kasihan sama kau. Kau tau kan, aku tak pernah pengen buat nikahin kau. Segala kau aduin ke orang tua kau, ke orang tua aku. Biar kau bisa aku nikahin kan? Terus, bukannya kau tau sendiri. Kejadian itu terjadi, karena kau yang sengaja godain aku. Aku laki-laki normal, kau tau kelemahan aku di masalah selang*angan. Dan dengan pandainya, kau lenggak-lenggokin tubuh kau di depan mata aku." seru Adi yang dengan berdiri dari duduknya, lalu ia menunjuk Maya.


"Sampai sini aku paham, May. Kau memperalat aku kan, biar anak kau ada ayahnya." lanjut Adi dengan pandangan tajam mematikan. Maya sedikit beringsut ke belakang, saat melihat pemandangan Adi yang dikuasi oleh emosi.


"Apa pun itu, semuanya udah terjadi. Kamu yang berbuat, kamu juga yang harus tanggung jawab. Yang sadar, kamu udah beristri. Segala kesalahan kamu, kamu limpahkan ke Maya. Maya hamil pun gara-gara kamu, Di! Otak kamu di mana? Kamu gak bisa berpikir sejauh ini." seru ibu Rokhayah. Membuat langkah kaki Adi yang hendak berlalu langsung terhenti.


"Lepas Maya lahiran, kamu ceraikan aja dia. Percuma rumah tangga pisah-pisah terus kaya gitu. Gak berkah, gak datangin pahala. Jangan nambah-nambah dosa. Ceraikan aja anak Ibu." lanjut ibu Rokhayah penuh amarah.


"Ok, memang itu mau Adi. Tapi Adi pastiin, hak asuh anak jatuh ke Adi." putus Adi kemudian. Lalu ia berlalu pergi dari rumah itu, tanpa memperdulikan seruan dari Maya dan ibunya.


Ia langsung memasuki mobil milik Adinda, dan pergi dari pekarangan rumah tersebut.


'Ibu dan anak tak tau diuntung! Bikin pusing kepala aja. Nambah-nambah beban hidup dan bebanpikiran. Kalau tau cerai, mending tak usah nikah dari awal.' gumam Adi dalam hati.


Dalam perjalanan menuju rumah orang tua Adinda, dering ponsel Adi terdengar berbunyi berulang kali.


Adi membaca nama yang tertera di layar ponselnya, ternyata Seila yang menelpon. Adi langsung menyentuh ikon hijau dan meloud speaker panggilannya.


"Mobil kau ini mau berapa hari lagi di rumah aku?" seru Seila, membuat Adi cekikikan sendiri.


"Eh, aku lupa. Ya udah nanti aja kalau aku balik ke provinsi A." jawab Adi kemudian.


"Sekalian bawa barang pesanan istri kau." sahut Seila.


"Ok, Dinda udah transfer kan?" tanya Adi memastikan. Karena dirinya tak banyak membawa uang.


"Udah. Ya udah, kabarin aja kalau kau mau ke rumah aku." jawab Seila. Lalu ia mematikan sambungan teleponnya.

__ADS_1


'Deg-degan betul. Rasanya aku bakal dihabisi di sana. Semoga aja ibu mertua ada kasihan sama aku, dan ngertiin keadaan aku yang serba salah macam ini.' gumam Adi dalam benaknya.


~


Empat puluh menit kemudian, Adi sudah memarkirkan mobilnya di tepi jalan depan gang rumah orang tua Adinda.


Dengan nyali yang semakin menciut, ia melangkah ragu menuju rumah orang tua istrinya.


Tok, tok, tok


"Assalamualaikum…" ucap Adi, setelah dirinya sampai di depan pintu rumah tersebut. Pintunya terbuka, namun Adi tak berani langsung masuk ke dalam.


"Wa'alaikum salam." sahut suara laki-laki yang Adi kenal. Tak lain adalah kakak kedua Adinda, Arif. Ia menatap Adi dengan tatapan yang sulit diartikan.


Dan Adi menyadari sesuatu, kakak iparnya tengah memperhatikan tanda merah di antara lehernya yang tertutupi kerah kemejanya.


"Habis gilir kamu? Kenapa gak sekalian antar Dinda aja?" ucap Arif terdengar begitu dingin dan menyeramkan.


"Itu A…." jawab Adi ragu-ragu.


Adi mengangguk, dan melangkahkan kakinya masuk. Lalu ia mencium tangan ayah mertuanya, dengan tangan Arif bergantian. Ia mencoba memahami bahwa dirinya sekarang sudah menjadi adik ipar Arif. Tak sopan rasanya, bila ia tak mencium tangan Arif. Yang notabene merupakan kakak kandung Adinda.


"Duduk lah, kamu ngapain berdiri aja. Kamu bukan tamu, yang apa-apa harus dipersilahkan." lanjut pak Sodikin, saat melihat Adi hanya mematung dengan menundukkan kepalanya.


Adi terhenyak kaget, lalu ia menundukkan kursi yang berada di seberang tempat pak Sodikin duduk.


"Gimana kabar Dinda sama Givan? Mereka gak kurus kering kan di sana?" tanya pak Sodikin terdengar santai. Namun, sebenarnya ia tengah memendam rasa kesal yang begitu memuncak. Ia tak terima putrinya dimadu oleh menantunya, yang bahkan belum genap setahun menyandang status sebagai suami Adinda.


"Givan sehat, setelah lebaran nanti dia masuk TK. Dinda juga sehat, dulu kan berat badannya 49an. Sekarang dia udah 57an." jawab Adi dengan tersenyum canggung.


"Kok bisa segemuk itu? Dinda mana bisa gemuk. Anak itu dari kecil badannya segitu-gitu aja." sahut Arif, yang duduk di sebelah Adi.


"Iya, soalnya lagi ngandung." balas Adi kemudian.


"Uhuk, uhuk…." pak Sodikin yang tengah meminum tehnya, tersedak minumannya sendiri.

__ADS_1


"Minum, Pak. Minum Pak." ucap Adi reflek.


"Bu… ambilin air putih." seru Arif dengan berpindah duduk di sebelah ayahnya.


Ibu Risa langsung muncul dengan segelas air putih di tangannya. Lalu ia memberikan gelas berisi air itu pada Arif.


Adi langsung mengulurkan tangannya, dan ibu Risa menyambut uluran tangan Adi. Lalu Adi langsung menundukan kepalanya, agar bisa mencium tangan ibu mertuanya.


"Mana Dinda?" tanya ibu Risa dengan menoleh ke arah pintu rumahnya.


"Dinda tak ikut, Bu. Dinda sama Givan masih di provinsi A." jelas Adi perlahan.


"Kenapa tak kamu bawa sekalian?" tanya ibu Risa. Dengan duduk di kursi single yang berada di sebelah suaminya.


"Dinda hamil, Bu." bukan Adi yang menjawab, melainkan ayah kandung dari Adinda.


"Hah? Yang bener?" tanya ibu Risa memastikan, terlihat ia begitu bahagia dengan binar mata yang gembira.


Adi tersenyum lebar dengan menganggukkan kepalanya.


"Suruh pulang, Di. Minta dia lahiran di sini ada." ucap ibu Risa dengan tersenyum lebar.


"Ahh, akhirnya aku punya cucu lagi." lanjut ibu Risa pelan. Namun bisa didengar oleh semua orang yang berada di ruang tamu tersebut.


"Ini, rencananya… Ibu sama Bapak mau Adi ajak ke sana. Buat mandiin tujuh bulanan Dinda." ungkap Adi yang sedikit bisa rileks.


"Dengan bangganya kamu hamilin Dinda, dengan posisi kamu yang masih bohongin dia. Jijik liat kamu, Di. Leher penuh tanda, gak punya malu kamu kunjungi mertua dari istri pertama kamu. Kamu waras, Di?" ujar Arif yang membuat senyum Adi memudar.


'Tanda-tanda aja dipermasalahkan, masa iya harus jujur juga masalah tanda. Lagian juga aku tak habis pikir sama Dinda, bisa-bisanya ngasih cap macam ini. Udah nampak aku laki-laki hidung belang, ditambah lagi disangka habis gilir sama yang muda. Awas aja kau, Dek.' gumam Adi dalam hatinya.


"Biarpun Adi ada di sini juga, Adi tak pernah nidurin yang kedua. Adi selalu tidur di rumah Adi sendiri, atau sengaja jaga jarak sama yang kedua. Jadi kalian pasti tau siapa pelakunya." jawab Adi dengan menatap ketiga orang tersebut, secara bergantian.


......................


votenya dong 😁

__ADS_1


__ADS_2