
Beberapa hari kami lalui, dengan Dinda yang masih menolak ajakanku untuk berhubungan badan. Entah karena ia tidur duluan, atau memang ia tengah sakit kepala.
Aku jadi teringat, akan aku yang sempat dicumbui oleh Maya. Apa Dinda merasakan sesuatu kah? Sampai ia nampak tak selera padaku.
Lebih-lebih semalam, ia terang-terangan menolakku. Ia mengatakan, ia tengah tak ingin. Padahal aku pasti akan merangsangnya, tapi dia menolakku. Dan malah mengajakku untuk tidur saja. Ini cukup membuatku sakit kepala. Karena biasanya, aku rutin mengeluarkan cairanku. Namun harus dipendam sampai satu minggu lebih.
"Dek, tolong bukain pintu. Abang kebelet pipis." seruku, saat mendengar ketukan pintu berulang kali. Padahal tadi aku dan Givan dari luar. Tapi tak ada tamu. Giliran aku masuk, malah ada yang bertamu.
"Ya Bang." sahut Dinda, setelah aku berada di dalam kamar mandi.
Aku segera menyelesaikan tujuanku, lalu aku keluar dari kamar mandi. Untuk mengetahui siapa tamu tadi.
"Hai, Di." sapa wanita yang berada di ambang pintu.
Bisa-bisanya, ia menyusulku ke sini. Padahal aku sudah mengatakan padanya, bahwa aku tak bisa ikut hadir dalam pesta itu.
Terlihat Dinda menatapku dengan tajam. Pasti ia tengah cemburu buta sekarang.
"Kau tak berniat nyuruh aku masuk, Di?" tanya Seila, dengan menatapku dan Dinda bergantian.
"Ohh, iya… silahkan masuk, Sel." ucapku mempersilahkannya.
Dinda terdiam dengan memperhatikan langkah kaki Seila. Aduh, aku merasakan sepertinya aku akan kena amukan macan betina.
"Kau tau dari mana aku tinggal di sini?" tanyaku pada Seila. Dengan aku, yang merangkul Dinda. Aku ingin mengamankannya, sebelum nanti aku diamuknya.
Aku bertanya demikian, karena rumahku belum siap dibangun. Dan aku masih menempati rumah abusyikku.
"Kata pekerja rumah kau. Keknya rumah baru kau nanti megah betul ya, Di?" jawab Seila kemudian.
"Papah, bantuin aku." seru anakku yang berlari ke arahku.
"Bentar ya, Sel. Aku tinggal dulu." ujarku pada Seila.
"Sini, Sayang." ajakku pada Dinda. Pasalnya Dinda masih diam saja, dengan raut wajah yang tak menyenangkan.
Lalu aku membawa Dinda ke belakang. Aku segera menyelesaikan masalah anakku dengan mobil remote controlnya. Dan aku mengajak Dinda untuk berbicara.
Gilanya aku, aku malah melupakan keberadaan kalung berlian untuk Dinda. Ke mana aku simpan itu barang? Aku baru ingat bahwa aku membeli kalung berlian, saat melihat wajah Seila.
"Itu Seila. Temen Abang dulu. Dia suka modifikasi mobil juga. Terus…" ungkapku terpangkas olehnya.
"Terus dia pembalap juga? Cs Abang? Best friend Abang? Atau mantan Abang? Apa betina bekas pakek Abang?" sela istriku, menuduhku tanpa konfirmasi terlebih dahulu.
"Bukan, Sayang." jawabku yang langsung membingkai wajahnya, lalu kucium bibirnya sekilas.
__ADS_1
"Cuma temen aja." lanjutku kemudian, dengan menyunggingkan senyum manis untuknya.
"Aku tak percaya. Mana dia cantik betul lagi. Pasti Abang pernah mabok dia." ucap Dinda, lalu menarik sudut bibirnya ke bawah.
"Sampai kapan aku disuruh nunggu? Mana tak dibagi minum lagi." suara seseorang yang seharusnya berada di ruang tamu. Tak sopan sekali dia!
Aku dan Dinda tanpa sengaja menoleh berbarengan, ke sumber suara.
"Ya sebentar, aku buatkan minum." ucap Dinda, lalu berjalan menuju dapur.
"Awas aja kau, Bang. Kupotong habis Adi's bird kau!" ancam Dinda dengan delikan tajamnya.
Kenapa dengan istriku? Sampai ucapan 'Kau' ia sebutkan lagi.
Aku berjalan menuju ruang tamu. Untuk menemani Seila.
"Kan aku udah kata! Kau tak perlu datangi rumah aku." ujarku dengan menduduki sofa.
"Aku penasaran betul tentang istri kau. Aku kira kau ngarang aja. Ternyata betulan. Tapi kok dia nampak judes betul, Di." ucap Seila dengan menurunkan intonasi suaranya.
"Dia cemburuan." jawabku cepat. Seila terkekeh geli mendengarnya.
"Yang tadi anak kau? Udah besar dia, Di?" tanya Seila kemudian.
"Silahkan diminum." ucap Dinda dengan memasang senyum yang terlihat dipaksakan. Lalu saat ia menoleh padaku, ia kembali memasang wajah kesalnya.
"Terima kasih." sahut Seila.
"Duduk sini, Sayang." tuturku dengan menepuk tempat di sebelahku.
"Kenalin, Dek. Ini Seila." lanjutku mengenal Seila pada Dinda.
"Sel, ini Adinda. Istri aku." ungkapku pada Seila. Lalu mereka berjabat tangan.
Dinda tersenyum sekilas, dengan menyebutkan namanya. Sepertinya ia begitu puas, saat aku menyebutkannya sebagai istriku. Tapi memang kebenarannya, ia adalah istriku. Wanita yang aku cintai.
"Aku sekarang cuma temennya aja, Kak. Tenang aja." ungkap Seila dengan memandangi wajah Dinda.
"Memang dulu apanya? Terus tadi apa kau kata? Kak?" ucap Dinda dengan menatap tajam Seila. Kenapa Dinda terlihat begitu menyeramkan.
"Kau kira aku setua itu?" lanjut Dinda dengan nada tinggi. Aku dan Seila terkejut mendengar suaranya.
"Eh, maaf-maaf." sahut Seila gugup, "Ya memang dulu pernah dekat. Tapi memang tak sampai punya hubungan." lanjut Seila kemudian.
"Terus ngapain pulak kau ke sini? Rindu kau sama Adi-Adi ini?" balas Dinda sewot. Jujur aku merasa takut dengan sikapnya. Kenapa dengan wanitaku? Biasanya dia selalu ramah dengan orang. Bahkan, dengan Shasha pun ia berteman. Padahal jelas Shasha adalah mantan tunanganku.
__ADS_1
"Tak, Kak. Eh, Dek. Dinda maksud aku. Ada pesta ulang tahun teman nanti malam. Apa Adi tak ada bilang sama kau?" jelas Seila. Membuat Dinda memberikan delikan tajam padaku.
"Berani kau keluyuran, Bang? Jangan harap aku masih anggap kau suami!" ancam Dinda pelan.
Aku menelan ludahku. Jelas aku tak ingin itu terjadi.
Lalu ia pergi meninggalkanku dan Seila di ruang tamu. Moodnya sehancur itu kah dia?
"Kenapa istri kau, Di?" tanya Seila, selepas kepergian Dinda ke belakang.
"Tak tau. Memang macam itu kali mood ibu hamil." terangku ragu.
"Takut loh aku." ungkap Seila dengan menyeka keringat di dahinya.
"Apa lagi aku. Lagian kau nekat betul. Berani-beraninya kau apelin suami orang. Macam tak ada kerjaan lain aja kau." ucapku padanya.
"Assalamualaikum…" ucap seseorang di ambang pintu. Siapa lagi itu? Mana perempuan lagi suaranya.
"Wa'alaikum salam." sahutku kemudian. Lalu aku berjalan menuju pintu.
"Dek Dinda ada, Bang?" tanya Shasha. Memang Shasha sering ada perlu dengan Dinda, atau sebaliknya. Mereka akrab berteman. Dan aku pun sudah biasa saja setiap kali melihat Shasha. Shasha pun tak pernah memandangku lebih. Dia juga sepertinya sudah biasa saja padaku.
"Ada di dalam. Masuk aja." jawabku dengan mempersilahkannya masuk.
Shasha berjalan melewatiku. Ia sedikit kaget melihat Seila yang berada di ruang tamuku. Pasti ia masih ingat rupa wanita yang membuatku malas dengannya dulu.
"Kok kau ada di sini?" tanya Shasha dengan menunjuk pada Seila.
"Sini Kak." seru Dinda dari dalam.
Tanpa menunggu jawaban dari Seila. Shasha pergi menemui Dinda. Ia nampak sudah kesusahan berjalan. Kurang lebih kandungannya sudah delapan bulan. Sepertinya itu juga, kalau aku tak salah kira.
"Kok Shasha hamil? Nikah sama kau juga? Binik kau dua?" tanya Seila pelan.
Mendengar pertanyaannya yang menyebutkan bahwa istriku dua. Membuatku menelan ludah kembali, jika mengingat kenyataan getir itu.
Aku tak tahu bagaimana nanti ngamuknya Dinda, saat mengetahui bahwa dirinya dimadu.
Hanya karena ada teman wanita berkunjung saja. Dia sudah semengerikan itu. Apa lagi jika mengetahui hal itu. Bisa-bisanya jakunku ditebas olehnya.
TBC.
Hujat dong pemerannya, jangan hujat authornya 🤭
Entah itu mantan, masalah ekonomi, orang tua. Pasti ada aja masalah itu dalam rumah tangga.
__ADS_1