Belenggu Sang Pemuda

Belenggu Sang Pemuda
BSP121. Kabar duka


__ADS_3

"Hmmm, apa ya… keras kepala, terus menurut aku untuk ukuran perempuan dia sedikit kasar. Masalahnya Sukma dulu tak pernah sampek nyubit atau apa, kalau kesel ke anak-anak. Tapi Dinda kan sampek gigit, ya meski lepas berbekas dia minta maaf habis-habisan. Kau pernah tak kena gigitnya?" jawab Haris memberitahuku. Aku berpikir sejenak, memang Dinda kalau kesal pasti menggigit. Tapi sejak ia hamil, sepertinya sudah tak pernah lagi. Atau karena ia sedikit longgar dalam mengurus Givan, membuatnya lebih banyak akur dari pada berantem dengan anaknya itu.


Karena sejak menikah denganku, Givan sering ikut denganku berladang. Setelah di rumah pun, terkadang aku yang menemani Givan bermain. Sedangkan Adinda pasti membereskan tugas rumah, atau tengah makan dan bersantai. Tapi memang, untuk segala kebutuhan anak itu pasti Dinda yang mengurusnya.


"Selain itu?" tanyaku pada Haris.


"Lebih kompleksnya apa? Aku bingung sendiri nih." sahut Haris, dari suaranya pun terdengar ia tengah berpikir dalam kebingungannya.


"Tentang penusukan itu, terus tentang tulisannya." jelasku, sebetulnya aku pun bingung sendiri. Apa lagi Haris memberitahuku tentang hal yang sudah aku ketahui.


"Itu real gerak refleksnya aja, saat ada seseorang yang tengah melecehkannya di depan umum. Aku pun dulu pernah tak sengaja nyenggol dadanya, di parkiran mobil di mall. Nyenggol juga pakek sikut, bukan sengaja aku senggol. Eh dia langsung injek kaki aku pake sepatunya yang lumayan lancip, terus jari-jari aku digigitnya kuat sekali. Di dalam mobil, aku dimakinya habis-habisan. Katanya tak sopan lah, rugi bandar lah, ini itu. Intinya dia tak suka bagian tubuhnya disentuh tanpa izinnya." ungkap Haris bercerita. Kenapa aku tak pernah mendapatkan hal seperti Haris?


Tapi sebentar, aku mengingatnya kembali. Malah dulu Dinda yang lebih banyak menyentuhku dan melecehkanku. Makanya aku menyerang balik dirinya.


"Tulisannya?" tanyaku sambil memutar ulang semua kenanganku bersamanya.


"Bagus kok, tak terlalu berlebihan." jawabnya. Apa dia kira aku meminta pendapatnya?


"Bukan masalah tulisannya bagus atau tak. Tapi kenapa dia nulis tuh?" jelasku yang sebetulnya sudah merasa sedikit kesal.


"Kan dia cari uang juga dari situ. Awalnya kan namanya dikenal dari tulisannya." ucapnya ngotot. Padahal jelas yang harusnya marah ya aku, karena tak mendapatkan jawaban yang tepat darinya.


"Jangan sampai, aku tak jadi minjemin kau duit Ris." ujarku yang membuatnya bungkam seketika.

__ADS_1


"Sungguh, Di. Aku tak tau pasti kenapa dia nulis. Cobalah kau tanya ke Jefri, Jefri itu kan selain dia paling dekat dengan Dinda. Dia juga baca semua karya-karya Dinda. Bisa dibilang, dia ini sangat mengidolakan istri kau." sahut Haris kemudian. Masa iya Jefri? Aku tak yakin Jefri waras jika diajak ngobrol serius.


"Hmm." gumamku menyahutinya.


"Jangan lupa transfer, 100 juta ya Di." tuturnya penuh semangat.


"Sialan kau!" tukasku yang mendapatkan tawa renyah darinya. Kenapa seolah seperti aku yang memiliki hutang?


"Ok, ditunggu. Udah dulu ya, Di. Aku lagi repot, mumet kali kepala aku." sahutnya yang langsung kuiyakan. Kemudian mematikan sambungan telepon tersebut.


Benarkah Jefri tahu banyak tentang Dinda? Aku jadi penasaran, lebih baik aku pastikan sendiri saja.


[Jef, sibuk kah?] isi pesan chat yang aku kirimkan untuknya.


"Coba bagi aku nomor Zulfa yang baru." ucapnya tiba-tiba. Tak Haris, tak Jefri sama saja. Tak ada yang bilang hallo dulu.


"Tak tau, terakhir dia minta kuota sama aku di nomor yang biasa dia pakek." sahutku jujur.


"Ada masalah kah?" lanjutku bertanya padanya. Dia hanya mengiyakan, lalu senyap. Tak ada suara yang terdengar kembali.


"Kau kan tau rumah umi di kota J, kenapa tak kau datangi aja dia ke sana?" usulku, mencoba membantu hubungan mereka. Aku pun tak mau, jika Jefri lepas begitu saja.


"Kepentok ongkos, kalau kau mau ongkosin ya tak masalah. Aku betul-betul lagi tak ada uang, pulang pergi kerja aku nebeng sama Haris." ungkapnya terdengar sangat menyedihkan.

__ADS_1


"Mobil kau ke mana? Motor aku kau ke manakan juga? Zulfa bilang, motor aku ada sama kau." tanyaku dengan mengingat kembali motor hijauku itu.


"Mobil ada, cuma memang tak ada bensinnya. Motor kau kan udah dijual, buat beli cincin Zulfa dan persiapan tunangan. Tapi kan memang Zulfa minta dibatalkan aja pertunangannya." jawabnya membuatku sungguh tak percaya. Apa dia gila menjual motorku seenak jidatnya? Dia kira aku orang tuanya kah, sampai-sampai aku menuhin segala persiapan pertunangannya.


"Gila kah kau, Jef? Memang macam mana keadaan kau? Sampek-sampek kau tak punya apapun macam itu." sahutku yang ikut merasa pusing. Tak ada bedanya dengan pencuri, malah lebih jelas dia bermain terang-terangan.


"Bapak aku udah meninggal, udah mau sepuluh hari. Ibu aku balik sama laki-laki yang dulu pernah bikin keluarga aku hancur. Padahal tanah kuburan bapak masih basah, kau bayangin aja Di. Ini aku baru balik dua hari yang lalu dari kotaku. Uang pegangan aku habis buat ongkos pesawat, sama bantu biaya pemakaman. Aku cuma ngarepin cepet gajian aja udah. Mau pindah ke kotaku pun, aku mau ngapain di sana? Usaha diambil alih sama laki-laki itu. Meskipun diambang kebangkrutan, tapi aku yakin masih bisa diperjuangkan. Tapi malah mereka ambil alih." ungkapnya begitu pilu. Jangan-jangan ia tengah menangis di sana. Aku bahkan tak tau kalau bapaknya wafat, mungkin kejadiannya saat aku berada dalam penjara sepertinya. Nanti Dinda akan kuberitahukan juga, jangan-jangan dia pun tak tau kabar duka itu.


"Kenapa ibu kau balik sama laki-laki itu? Pasti ada alasannya kan?" balasku setelah menyimak ceritanya.


"Ada memang, tapi ibu bungkam. Dia tak mau ngomong apa pun sama aku." jawabnya dengan nada semakin menurun.


"Kau jangan ngenes-ngenes betul lah. Aku terharuan orangnya, nanti ikut nangis pulak aku di sini." ucapku kemudian, terdengar kekehan pelan darinya.


"Keknya sekitar sebulan lagi Dinda lahiran. Tolong kau anterin ibunya Dinda ke sini, bapaknya juga sekalian tak apa kalau dia mau. Nanti ongkos kau, aku yang bayarin. Bukan aku sengaja nyuruh-nyuruh kau, apa lagi keadaan kau lagi terpuruk macam ini. Aku pun pasti bayar kau. Cuma kau mau tak? Dari pada di kota C kau ngapain? Kerja kau cuma mikirin gajian, Ng Win Zulfa pun tak kan? Lebih baik kau ke sini. Tapi nanti aku arahkan kau buat megang ladang aku di provinsi L. Surat-suratnya sih masih diurus, tapi pasti ladang itu aku olah juga. Syukur-syukur kau yang jaga di sana kan, mana tau bisa ketemu lagi sama Fiqoh." ungkapku panjang lebar. Bukan aku sombong padanya, aku hanya ingin mengajaknya mendapatkan uang yang lebih layak. Ya setidaknya, dia memiliki pikiran tak enak hati padaku. Jika sampai meninggalkan Zulfa.


"Di, pendidikan aku tinggi loh. Tak berniat kah kau jadikan aku dokter keluarga aja?" sahutnya kemudian.


"Alhamdulillah, tak pernah ada yang sakit di sini. Paling pilek aja, karena suhu terlalu dingin. Tapi sembuh sendiri begitu matahari terbit. Jadi aku tak butuh dokter, udah ada dokter di daerah aku. Ya meski jauh jaraknya, tapi dia paling mahal matok harga 75 ribu. Aku yakin, pasti tak segitu kalau dokternya kau." balasku yang membuatnya terkekeh geli.


"Jadi betul ini, aku mau dijadikan pesuruh kau?" tanya Jefri kemudian.


......................

__ADS_1


__ADS_2