Belenggu Sang Pemuda

Belenggu Sang Pemuda
BSP77. Kereta api


__ADS_3

CRAZY UP 🤩


"Hallo, May… lagi apa?" tanya Adi dalam panggilan teleponnya.


"Aku…. Aku lagi di rumah aja. Aku lagi ngemil stuff roti." jawab Maya. Namun ia tak mempercayai ucapan Maya, karena terdengar begitu banyak suara bising kendaraan yang cukup mengusik pendengarannya.


"Oh, ya udah. Udah makan, kan?" sahut Adi kemudian.


"Udah, Bang. Udah dulu ya, aku lagi mau bikin jus dulu." balas Maya cepat.


"Ya udah, May." tutur Adi, lalu ia memutuskan sambungan teleponnya.


Adi tadi berniat memberitahu Maya, bahwa ia akan pulang. Namun dengan ia menelpon Maya tadi, membuat Adi mengurungkan niatnya untuk memberitahu Maya. Karena ia malah mencurigainya, ia tak percaya Maya berada di rumah. Dengan suara bising kendaraan yang berlalu lalang, rasanya tak mungkin jika Maya tengah berada di rumah. Pasalnya, meskipun depan rumah Maya adalah jalanan. Namun jalanan itu sepi dari kendaraan yang lewat, dan biasanya hanya kendaraan motor dan mobil pribadi saja yang lewat.


Lalu Adi mencari nama Adindaku, dalam kontak teleponnya. Dan menyentuh ikon panggil.


"Hallo, Dek." ucap Adi, dengan menempelkan ponselnya pada telinganya.


"Ya, Bang. Mau balik kah? Aku jemput ya?" sahut Adinda, membuat Adi terkekeh kecil.


"Belum mau balik, Dek. Ini Abang masih di stasiun. Nunggu kereta datang, mau ke kota C." ungkap Adi memberitahu.


"Ke ibu kah? Kalau ke ibu tuh, bawa buah tangan. Kelengkeng, jeruk, apa apel. Atau bawa semuanya aja. Biar tak malu, masa main ke mertua cuma datang orangnya aja." balas Adinda.


"Iya, Sayang. Yang penting kan uangnya datang tiap bulan." ujar Adi kemudian. Karena Adinda setiap bulannya mengirimi orang tuanya uang. Padahal menurut Adi tak perlu, karena mereka sudah mendapat bagian dari peternakan puyuh milik Adinda. Namun itu terserah pada Adinda kembali, karena Adi tak berhak melarang seorang anak, untuk memberikan apa pun untuk orang tuanya.


"Dodol!!! Bek sampoe, aku bilang Abang pelit lagi nih." tutur Adinda. Adi hanya terkekeh kecil menanggapinya.


"Bang…" panggil Adinda lagi.


"Eu hai, Dek." sahut Adi.


"Kangen. Udah pengen kelonan." ungkap Adinda. Membuat Adi tertawa renyah.


"Baru juga semalam tidur sendiri. Nanti deh, Abang usahain selesaiin urusan Abang. Biar bisa balik cepat." ucap Adi, "Zuhra berulah, Dek. Dia ternyata tak beda jauh dengan Abang dulu. Rencananya, Abang balik sekalian bawa Zuhra. Boleh ya, Dek." lanjut Adi bercerita.


"Hah? Yang betul, Bang? Padahal dia kek alim, kalem macam itu. Padahal dia paling cantik, ya Bang? Eman-eman cantiknya." sahut Adinda.


"Betul, Dek. Abang aja sempat tak percaya." balas Adi menimpali.


"Terus macam mana lagi, reuni semalam asik tak? Cantik-cantik ya kawan perempuan Abang." ujar Adinda, membuat Adi menepuk jidatnya sendiri.

__ADS_1


"Maaf, Dek. Semalam itu, Abang kan lagi cari makan. Terus Seila telepon. Katanya nanti kalau mau balik, sekalian bawa barang pesanan Adek. Terus dia juga bilang makan di cafenya dia aja. Ya udah Abang datang kan, soalnya dia bilang katanya ada Nova juga. Nova itu yang laki-laki itu nah, Dek." jelas Adi, agar Adinda tak cemburu buta.


"Adek tau dari mana memang? Maaf ya, Abang tak bilang. Soalnya, Adek bilang mau tidur." lanjut Adi kemudian.


"Kan setelahnya Abang bisa lapor sama aku. Aku tau dari postingannya kak Seila. Inget loh Bang, Abang udah beristri. Anak Abang udah besar, udah mau sekolah. Abang jangan bertingkah aja." tukas Adinda memberikan nasehat.


"Ya, Dek. Abang ingat itu kok. Terus macam mana Adek di sana? Liana datang buat nemenin tidur tak?" tanya Adi dengan memperhatikan orang-orang yang berlalu lalang melewatinya.


"Aku baik-baik aja. Cuma tadi pagi sempat mual aja, karena tak cium bau khas Abang. Liana datang kok." jawab Adinda.


"Abang janji buat balik cepat. Udah dulu ya, Dek. Abang mau cari makan dulu. Tadi pagi baru makan roti aja." ujar Adi, berniat menyudahi panggilan teleponnya.


"Kenapa tak makan nasi? Biasanya Abang lahap kalau sarapan." sahut Adinda bertanya kembali.


"Tak ada yang ngurus, Abang mana bisa ngurus diri Abang sendiri." balas Adi, dengan melangkahkan kakinya menuju gerobak gado-gado yang berada di seberang jalan.


"Manja! Dulu bujang ngurus sendiri juga. Giliran punya istri, apa-apa serba neriakin aku." tutur Adinda, membuat Adi tersenyum geli. Karena ia merasa bahwa dirinya memang seperti itu.


"Udah terbiasa apa-apa Adek yang ngurus. Udah dulu ya, Dek. Mau makan gado-gado dulu." tukas Adi, lalu Adinda mengiyakan. Dan setelahnya, Adi langsung memutuskan sambungan teleponnya.


Adi memesan gado-gado, dan tak lama ia langsung menikmati makanannya.


~


Hanya teman-teman Adi, dan beberapa orang yang ia kenal. Yang Adi ikuti balik dalam sosial medianya.


Adi tak menyadari, seorang wanita berumur dua puluh tahunan tengah memperhatikannya sedari ia duduk di kursinya.


"Ekhmmmm…. Maaf, anda.. suaminya kak Dinda ya?" ucap seseorang tersebut. Karena ia tak bisa menahan rasa penasarannya lagi.


Adi menoleh pada sumber suara, dan ia mengangguk sembari menyunggingkan senyum ramahnya.


"Wah, boleh minta foto bareng,...Bang… Eh, siapa biasa dipanggilnya? Abang kan ya? Kaya kak Dinda biasa manggil?" tanyanya canggung.


"Boleh. Iya, biasa dipanggil Abang." jawab Adi.


"Wah, makasih Bang. Nanti aku tag kak Dindanya." sahutnya. Lalu ia berpindah ke kursi sebelah Adi. Karena di gerbong Adi, banyak kursi yang kosong.


Lalu perempuan tersebut mengambil beberapa jepretan dari ponselnya.


"Udah eh, cukup." ujar Adi. Saat perempuan tersebut hendak mengambil gambarnya lagi.

__ADS_1


"Oh ok. Makasih ya, Bang?" sahut perempuan tersebut. Adi hanya menganggukan kepalanya saja.


"Mau ke mana ini, Bang?" tanya perempuan tersebut kembali.


"Mau ke kota C." jawab Adi seperlunya.


"Ohh." balasnya kemudian. Lalu tak ada percakapan lagi di antara penggemar dan suami idolanya itu. Perempuan tersebut masih duduk di sebelah Adi, dengan dirinya sibuk dengan ponselnya.


~


Beberapa jam kemudian. Adi telah sampai di rumahnya yang berada di kota C.


Ia menggelengkan kepalanya, saat mobil sejuta umat milik Jefri. Terpakir anteng dalam halaman rumahnya.


'Pasti lagi Ng W lagi mereka. Aduh… Bikin pusing aja.' gerutu Adi, saat ia baru turun dari ojek onlinenya.


Adi memutar tubuhnya, dan melangkah menuju ke rumah ibu Rokhayah. Ia ingin merebahkan tubuhnya sejenak, karena ia merasakan pinggangnya sedikit tidak nyaman.


Tok, tok, tok.


"Assalamualaikum…" ucap Adi, dengan mengetuk pintu rumah mertua dari istri keduanya itu.


Tak lama pintu dibukakan.


Ceklek.


"Wa'alaikum salam. Eh Adi, masuk aja. Maya lagi keluar dari pagi. Katanya jalan-jalan ke CFD yang di K******." sahut ibu Rokhayah.


"Oh, ya udah Bu. Biarin aja." balas Adi. Lalu ia berjalan menuju kamar tidur Maya.


"Sialan itu betina! Segala stuff roti dikambing hitamkan, jus buah dijadikan alasan. Awas aja kau nanti." ucap Adi, dengan melepaskan jaket hodienya. Dan ia berjalan masuk ke kamar mandi, yang berada di kamar tersebut.


......................


Maaf eh, lama tak up 😅


Soalnya author kemarin tengah berduka. Kakak ipar author meninggal dunia Rabu lalu, dan lepas itu sibuk bantu-bantu untuk tahlil di sana. Kemarin sore juga author baru sampai lagi ke kota C, lumayan perjalanannya bikin boyok. Padahal udah lewat tol terpanjang di Indonesia 🤭, tapi tetap aja berasa kali lelahnya.


Ok, jadi jangan salah paham ya. Author tak pindah lapak kok. Author pasti selesaikan ceritanya dulu, kalau memang ada niatan untuk pindah.


Udah nyoba konsisten, untuk up setiap hari. Tapi apa daya, untuk konsisten makan tepat waktu pun sulit kali. Ditambah lagi, ada kabar yang tak terduga. Jadi dengan terpaksa, tidak bisa up untuk beberapa hari kemarin. Maaf ya sekali lagi, semoga bisa dimaklumi.

__ADS_1


__ADS_2