Belenggu Sang Pemuda

Belenggu Sang Pemuda
BSP82. Toko perlengkapan bayi


__ADS_3

"He'em." Adi menjawab pertanyaan adiknya hanya dengan gumaman saja.


"Abang, Abang… masih ada hubungan sama kak Dinda?" tanya Zulfa begitu antusias.


"Bukan urusan kau. Kau macam anak kecil, apa-apa yang kau tau. Nanti kau laporin ke umi. Kalau keadaannya Abang balik macam mana? Abang yang laporin semua kelakuan kau ke umi, macam mana? Abang bisa dengan mudahnya, ngorek-ngorek Jefri biar bisa cerita sejauh mana kalian. Itu bukan hal yang sulit buat Abang." ungkap Adi, sedikit mengancam Zulfa. Agar ia bisa mengerti posisi kakaknya sekarang.


"Aku kan udah biasa sharing sama umi. Masalah cinta aja, aku cerita ke umi." jelas Zulfa membela dirinya.


"Urusan Ng W kau cerita juga?" tanya Adi dengan menolehkan kepalanya, dan pandangannya menatap tajam pada Zulfa.


Zulfa menggeleng lemah, ia tak seberani itu untuk menceritakan sejauh mana hubungannya dengan Jefri.


"Makanya orang tuh dewasa, apa-apa tuh disaring dulu. Dicerna baik-baik, jaga mulut kau itu. Sharing sewajarnya. Jangan terlalu lemes, jangan terlalu ember." jelas Adi perlahan. Agar Zulfa memahami.


"Maaf, Bang." sahut Zulfa dengan memfokuskan perhatiannya pada Kinasya. Karena ia takut mendapat amarah dari Adi.


"Jadi kau mau ikut Abang balik tak nanti?" tanya Adi kemudian.


Zulfa menggeleng, "Aku balik ke kota J aja, aku udah bilang ke ayah semalam. Kata ayah nanti baliknya bareng ayah sama umi aja. Katanya mereka mau ke sini, kalau kak Maya lahiran." ungkap Zulfa memberitahukan.


Adi mengangguk mengerti. Tak lama, mobilnya sudah berada di parkiran toko perlengkapan bayi. Zulfa turun dengan menggendong Kinasya. Dan kemudian, Adi turun dari mobilnya. Dengan langsung mengambil alih gendongan Kinasya.


"Kau ingat kan apa yang kak Maya sebutin tadi?" ucap Adi, dengan Zulfa yang langsung menganggukan kepalanya.


Lalu mereka melangkah masuk ke toko tersebut. Kinasya yang sedari bayi sering diajak belanja oleh Adinda, begitu antusias saat berada di keramaian. Dengan rak yang berjejer rapih, dan barang-barang yang tersusun menarik.


"Pah, tu tu tu….." seru Kinasya dengan menunjuk sepeda dorong roda tiga, dengan karakter yang menarik perhatiannya. Yang berbaris rapih di bagian samping pintu yang mereka lalui barusan.


"Kin mau?" tanya Adi dengan memutar tubuh Kinasya agar menghadap padanya.


Kinasya menganggukan kepalanya berulang kali, dengan mata yang berbinar penuh harap.


"Kin udah punya belum di rumah?" tanya Adi, dengan berjalan mendekati sepeda roda tiga itu.


"Yum… mau, mau… mau entu…" suara Kinasya yang membuat Adi tersenyum geli.


"Papah gemes sama Kin. Jangan cedal dong, mau dua tahun kan Kin ini. Nanti ulang tahun mau hadiah apa?" tanya Adi dengan terus mengajak Kinasya berbicara. Lalu Adi menurunkan Kinasya, agar gadis kecil itu bisa memilih sepeda mana yang ia inginkan.


"Bang, Abang…" Panggil Zulfa di belakang kakaknya.


Adi menoleh ke sumber suara, "Heh kau! Sana cari yang kak Maya butuhin. Abang di sini sama Kin." sahut Adi kemudian.

__ADS_1


"Masa gak ditemenin. Kalau aku mau minta pendapat gimana?" ujar Zulfa dengan cemberut.


"Terserah kau aja lah. Yang kira-kira pantas buat anak perempuan aja." balas Adi. Lalu Zulfa membalikkan tubuhnya, berjalan dengan menghentak-hentakan kakinya beberapa kali.


'Dasar bocah!' gumam Adi melihat tingkah Zulfa.


"Paaaa, papa paaaaa." panggil Kinasya berulang kali.


"Ok, ok Kin. Papah dengar." sahut Adi dengan memusatkan perhatiannya pada gadis kecil imut itu.


Kin mengusap karakter lebah, yang berada di stang sepeda dorong itu. Sepeda bermerekan keluargaku itu, sepertinya sangat menarik perhatian gadis mungil tersebut.


"Mau itu?" tanya Adi.


Kinasya tersenyum lebar dengan menganggukkan kepalanya berulang kali.


"Pasti Kin diajarin mamah Dinda ya, buat minta ini itu kalau diajak jalan-jalan?" tanya Adi kemudian.


Kinasya yang belum mengerti jelas akan ucapan orang dewasa itu, hanya manggut-manggut saja.


"Hmmm, cium dulu dong." ujar Adi dengan senyuman samar.


Adi terkekeh sendiri, saat mendapat kecupan manis dari anak kecil itu.


Lalu Adi bangkit dan menggendong Kinasya. Ia mendekati salah satu pekerja toko tersebut, dan memberitahu bahwa ia ingin membeli sepeda dorong roda tiga tersebut.


"Nanti bilang ke mamah Dinda ya? Pamerin ke mamah Dinda, kalau Kin dapat sepeda dari Papah." ucap Adi. Kinasya hanya menganggukkan kepalanya berulang.


'Sebahagia ini punya anak perempuan. Pasti Dinda juga senang, kalau aku kasih dia anak perempuan dari Maya. Pasti dia lucu dan gemesin kek Kin.' gumam Adi dalam benaknya.


"Taruh di sini dulu Bang. Nanti mau sekalian barang yang lain." ucap Adi pada pekerja toko tersebut. Pekerja laki-laki itu pun mengangguk.


Lalu Adi berlalu pergi, dengan matanya yang memperhatikan barang-barang untuk bayi tersebut.


"Paaaaa, entu…. Entu pah." seru Kinasya, yang membuat beberapa orang menoleh ke arah Adi.


"Apa lagi, Nak?" tanya Adi dengan membalikkan Kinasya, agar menghadap padanya.


"Tuuu…." suara Kinasya, dengan tangannya menunjuk pada boneka beruang besar berwarna merah muda.


"Mahal, Kin. Sepeda Kin aja udah setengah juta." ucap Adi dengan memandangi wajah Kin yang tiba-tiba kecewa tersebut.

__ADS_1


"Hmm, empon mah. Empon mamah…." ujar Kinasya yang membuat Adi berpikir keras. Ngomong apa dia? Pertanyaan yang kian muncul di benak Adi.


"Telepon mamah itu, Bang. Kayaknya dia nyuruh Abang buat telepon mamahnya." jelas Zulfa, yang muncul dari belakang Adi. Dengan membawa beberapa perlengkapan bayi.


"Ohh… Kin mau ngadu ya?" tanya Adi. Kinasya langsung mengangguk cengengesan.


"Dasar! Anak mamah Dinda ya macam ini modelnya." tutur Adi lirih, dengan menciumi pipi Kinasya berkali-kali dan berjalan menuju susunan boneka tersebut.


Zulfa bisa mendengar ucapan abangnya dengan jelas. Ia pun semakin penasaran tentang apa yang sudah terjadi, sejak kakaknya itu memutuskan untuk kembali ke provinsi A.


Lalu Adi mengambil boneka yang Kinasya tunjuk. Dan membawanya menuju kasir.


Adi membayarkan semua barang yang Zulfa dan Kinasya pilih.


"Totalnya tiga juta seratus, Pak. Mau cash atau debit?" ucap kasir dengan tersenyum ramah.


"Debit aja." jawab Adi dengan menyodorkan kartu yang berwarna platinum tersebut.


Kasir mengambil alih kartu Adi. Setelah ia menggesekkan pada mesin kecil tersebut, kasir itu meminta Adi untuk menekan tombol untuk passwordnya.


Dan setelahnya menyelesaikan proses pembayaran. Adi dan Zulfa membawa barang-barang mereka. Dan memasukkannya pada mobil milik istrinya tersebut.


"Ke mana lagi kita?" tanya Adi pada adiknya. Setelah mereka duduk bersebelahan dengan sabuk pengaman yang sudah terpasang dengan benar.


"Ke mall, beli buku, makan juga dong. Beli baju juga dong, Bang" jawab Zulfa dengan antusias.


"Aji mumpung kau? Rupanya Jefri tak pernah belanjain kau ya?" sahut Adi dengan ekspresi mengejek.


Zulfa mengangguk lemah, "Bang Jeff kan belum PNS. Yang udah PNS itu bang Haris. Bang Jeff bisa diposisikannya sekarang kan, karena bantuan dari bang Haris. Bang Haris yang bawa bang Jeff ke kota C ini. Bukan mereka sama-sama berjuang di sini." jelas Zulfa. Adi sedikit kecewa mendengar ucapan adiknya. Dipikirannya ia sudah membayangkan Zulfa hidup di kalangan masyarakat menengah ke bawah, dengan Zulfa yang berkeliling dengan mendagangkan makanan tradisional.


Adi menggelengkan kepalanya, menepis pikiran buruknya.


"Kau masih sama dia tak sih?" tanya Adi kemudian, dengan mobil yang perlahan keluar dari parkiran toko perlengkapan bayi ini.


"Masih, Bang. Tapi memang lagi ada sedikit masalah." aku Zulfa dengan berbicara pelan.


"Putusin aja, Abang khawatir kau nanti tak hidup dengan layak. Kau udah terbiasa ini itu ada, terus tiba-tiba harus hidup pas-pasan. Abang tak tega cuma buat bayanginnya aja." tutur Adi mengutarakan maksud hatinya.


TBC.


Diminta untuk putus? Gimana kalau kalian di posisi Zulfa?

__ADS_1


__ADS_2