
Jadi Dinda menulis untuk mencurahkan amarahnya? Atau tentang keresahan hatinya begitu?
"Aku punya riwayat magh, terus penyakit itu tak bisa sembuh. Karena permasalahannya itu asam lambung yang naik, bukan karena virus atau lainnya. Kunci dari penyakit itu, yang penting bisa jaga pikiran, terus kendalikan emosi diri sendiri. Awalnya, aku ini tipe manusia yang diam kalau marah. Tapi saat itu juga, magh aku langsung kambuh. Karena tak ada makanan yang masuk, waktu istirahat pun terganggu karena rasa sakit. Jadinya anemia, setelah anemia datang. Terus HB darah aku turun, sel darah putih menang dan meningkat. Jadinya mengundang penyakit lain, macam demam dan pengentalan darah. Macam itu dokter yang menangani aku setiap kali magh aku kambuh. Dan… bagaimana caranya biar aku ngendaliin pikiran aku dan emosi aku? Ya cuma itu, nulis. Aku bisa maki-maki peran yang dihujat pembaca. Aku bisa masukin kekesalan aku dalam scene pemerannya. Aku bisa marah-marah sepuas hati aku, sama seseorang yang mengecewakan dalam cerita itu. Terus lepas aku aktif nulis, magh aku udah tak pernah kambuh lagi. Tapi Abang, seolah tak paham semuanya. Pengen betul kita ribut, aku ini tak mau Bang marah-marah macam ini. Aku tak pernah puas untuk nuntasin amarah aku." tuturnya dengan mengambil nafas beberapa kali. Ia berbicara dengan suara yang tinggi, keringat dan air mata pun bercucuran. Sebetulnya aku amat takut, jika Dinda sudah seperti ini.
"Jangan bikin dosa aku bertambah banyak! Biarin aku berekspresi, selagi tak merugikan Abang. Aku paham tanggung jawab aku, aku paham tugas-tugas aku. Aku tak mungkin duduk santai mantengin hp, kalau tugas aku belum selesai. Menurut aku sih, memang Abang yang selalu curiganya berlebihan. Berpikiran terlalu jauh, berprasangka terlalu buruk. Karena memang takut dirinya ketahuan. Bukan begitu kan?" lanjutnya kemudian, tapi dengan nada suara yang mulai stabil. Dengan senyum smirk yang menakutkan.
"Ck… udahlah. Maaf ya, aku sering marah-marah." ucapnya dengan menggenggam tanganku, lalu ia mencium pipiku sekilas. Kemudian pergi berlalu begitu saja.
Sebetulnya wanitaku termasuk kejenis apa? Kenapa dia sulit sekali dipahami.
Terdengar bunyi notifikasi masuk di ponsel Dinda, yang berada di belakangku.
Aku mengambilnya, dan melihat notifikasi tadi. Ternyata, si produser dan idola istriku itu tengah berada di dalam perjalanan menuju ke rumah kami.
Aku berjalan untuk mencari Dinda, berniat untuk mengembalikan ponselnya.
"Dek, ini hpnya." ujarku, saat menemukannya tengah makan sesuatu di ruang keluarga.
Dinda hanya mengangguk dan melirikku sekilas. Aku menaruh ponselnya di meja, kemudian mengayunkan kembali langkah kakiku menuju ke halaman belakang.
__ADS_1
Aku ingin menelpon Haris. Ya… aku sedikit penasaran tentang istriku dan fakta yang tak kuketahui.
Aku mencari nama Haris, lalu mendial ikon panggil. Lalu sembari menunggu telepon tersambung, aku membersihkan kursi yang sedikit berdebu. Agar aku bisa mendudukinya, tanpa membuat celanaku kotor.
"Ya, Di… mau minjemin uang kah?" ucapnya langsung yang membuatku sedikit terkejut, karena aku meloudspeaker panggilan telepon.
"Hallo kek apa. Mau minjemin uang kah? Macam aku apa aja." sahutku yang mengundang tawanya.
"Soalnya hari itu Dinda bilang mau bilang kau dulu, buat minjemin aku uang." jelasnya kemudian. Tentu tujuanku meneleponnya bukan untuk meminjamkannya uang, ada-ada saja Haris ini. Membuatku merasa tak enak hati, jika sampai tak memberinya pinjaman uang.
"Kurang berapa lagi memang?" tanyaku dengan duduk di kursi yang aku bersihkan tadi, lalu menonaktifkan pengeras suara pada ponselku.
Tentu ia tengah menyindirku, aku masih mengingat mahar yang kuberikan pada Maya. Hanya lima gram cincin emas, aku sudah sah memilikinya.
Sebetulnya bukan berarti janda itu murah ya, buktinya Dinda sampai bernilai triliunan jika diuangkan. Hanya saja, memang adat di daerah kota C. Tak begitu memberatkan pihak laki-laki. Misalkan harus resepsi pun, acaranya pasti sederhana dan tak terlalu banyak mengeluarkan biaya besar. Memang adat istiadat di berbagai daerah tentu berbeda-beda.
"Ya udah, nanti aku pinjamkan 50. Nah 50nya lagi, itu untuk hadiah nikahan kau sama Alvi aja." tuturku kemudian.
"Jangan sih, Di. Aku minta emas aja buat hadiah nikahannya, biar lepas selesai acara nanti. Aku ada barang untuk dijual, biar aku ada pegangan sampek ketemu gajian." tukasnya dengan suara penuh harap. Aku tersenyum samar, Haris begitu mempertimbangkan semuanya. Ia pun terang-terangan meminta sovenir emas, agar ia bisa gunakan. Saat tabungan habis terkuras.
__ADS_1
"Jadi macam mana? Aku kasih 50 kau tak mau." ucapku memastikan, aku menoleh ke belakang. Karena merasa tengah diperhatikan seseorang, ternyata benar. Givan tengah melihatku dari pintu yang terbuat dari kaca tersebut, membuat seseorang bisa melihat ke luar ada ke dalam ruangan dengan jelas.
Aku langsung membuang wajahku ke arah lain, berpura-pura tak melihat anakku saja.
"Pinjamkan 100. Sovenirnya kau kasih aku emas, yang agak besaran nilainya. Jangan takut sovenir kau hangus nanti, saatnya kau dan Dinda resepsi peresmian. Nanti aku kasih sovenir pernikahan yang senilai dengan yang kau kasih, atau mungkin bisa lebih dari itu. Tergantung macam mana keadaan keuanganku." jelasnya perlahan. Ok, aku paham. Jadi Haris menginginkan, sovenir ini sebagai hutang. Kurang lebihnya seperti itu.
"Aku paham ya, Di. Kalau masalah uang, anggap aja kita tak kenal." lanjutnya, saat aku tak menyahutinya. Membuatku terkekeh geli mendengarnya.
"Bukan masalah itu. Soalnya Dinda udah ada bilang mau pesan emas, tapi keknya tak begitu besar nilainya." jawabku memberitahunya, karena Dinda sebelum aku di penjara. Ia pernah berkata ingin memesan emas pada Seila, tapi memang aku tak tahu kelanjutannya.
"Nanti kasih tau istri kau, minimal 20 gram gitu ya. Nikahin Alvi, habis bebek, habis ayam. Bahkan sampek habis kandang-kandangnya. Untung aku tak jual burung cucak rowoku." balasnya yang membuat tawaku pecah mendengarnya.
"Iya, iya. Nanti dibilangin. Ris, boleh kau ceritakan sedikit tentang Dinda dulu. Ya… sepengetahuan kau aja lah." putusku kemudian, lalu aku mulai menyuarakan inti dari aku menelponnya.
"Yang jelas tak murahan. Dulu dia sempat gembrot betul, lepas siap jadi janda sama Mahendra dulu. Terus dia rajin titipin anak, dengan dalih pengen ngebentuk badan di tempat gym. Ya memang, uangnya pun turun nitipin anak juga. Terus dia jujur, bahwa selama masa iddah dia minum obat gemuk badan. Biar dikira bahagia, lepas dari Mahendra. Tapi, aku kenal dia. Pas dia udah punya nama, dan tentunya uangnya juga banyak. Dia sering endorse gitu, terus kadang jadi model. Nulis juga aktif, sering ikut seminar ke luar kota. Sekaligus ngajak liburan aku, Sukma dan anak-anak. Liburan pun, itu dibayarinnya juga. Oh iya, Jefri juga selalu nyempil kalau liburan. Saking pengen ikut liburan gratis, dia sampek bilang tak apa aku jadi baby sitternya Givan." ungkapnya lalu terkekeh geli sendiri. Aku jadi teringat akan dada Dinda yang berukuran cukup besar, ternyata benar ucapannya yang mengatakan bahwa dirinya pernah gemuk. Lalu kembali ke berat badan ideal.
"Sebetulnya bukan itu yang mau aku tanyakan. Aku mau tau tentang sifat Dinda, yang tak aku ketahui." sahutku setelah Haris selesai dengan tawanya.
TBC.
__ADS_1