Belenggu Sang Pemuda

Belenggu Sang Pemuda
BSP196. Tuntutan Maya


__ADS_3

Adinda tersenyum canggung, "Anu, Yah… ya namanya bukan rumah sendiri, jadi mau ini itu kan tak nyaman." ungkap Adinda kemudian.


"Lagi dibersihkan kamar yang pernah kau tempati, sama kamar Adi yang di sebelah kamar itu." ujar pak Dodi dengan duduk dan menyalakan televisi.


"Maya kapan kau antar pulang, Bang?" tanya pak Dodi dengan menoleh ke arah anaknya tersebut.


"Suruh pulang sendiri aja lah. Naya kan ditinggal di sini, kasian Dinda kalau handle anak-anak seorang diri." jawab Adi dengan fokus pada tayangan bola di layar televisi.


"Besok anterin aja tuh, Bang. Yang sopan lah, masa dia suruh balik sendiri. Sekalian kita ngunjungin ibu sama ayah." timpal Adinda dengan membelai surai Givan, terlihat Givan tengah bermanja pada ibunya tersebut.


"Naya sakit, Dek. Masa mau dibawa perjalanan jauh. Yuk kita bawa Naya sama Givan ke dokter dulu, sekalian Adek barangkali mau pasar malaman." sahut Adi dengan bangkit dari duduknya.


Pak Dodi terkekeh geli, mendengar penuturan anaknya tersebut.


"Memang macam itu, Yah. Abang mana pernah ngajak ke tempat mewah. Ngajak tuh ke pasar malam, makan di kedai pinggir jalan, jajan ya cilok lima ratusan." balas Adinda dengan memandang suaminya dengan senyum mengejek.


"Macam mana, Dek. Abang tak punya uang, ini kan bukan uang sendiri. Abang ragu-ragu lah makeknya, nanti dicetak pulak mutasinya." ujar Adi dengan menoleh pada pintu kamar Maya yang terbuka.


"Lah, mau ke mana tuh dia?" tanya Dinda pada suaminya.


Adi mengayunkan langkah kakinya, "Kau mau ke mana, May?" ucap Adi dengan menghampiri Maya.


"Aku mau pulang, Bang." jawab Maya dengan menenteng tas jinjing yang berukuran cukup besar.


"Malam ini? Naya kau bener tinggal di sini?" sahut Adi dengan memperhatikan penampilan Maya.


"Ya, Bang. Percepat aja perceraiannya, kalau bisa gak usah sidang." balas Maya dengan melirik sekilas pada Adinda, yang tengah memangku Givan.


"Kalau macam itu, kau aja yang beli talak. Biar cepat prosesnya." ujar Adi dengan bergantian menatap Maya dan juga menatap Adinda, yang tengah duduk di sofa ruang keluarga bersama Givan dan pak Dodi.

__ADS_1


"Aku malas urusnya, Abang aja yang urus." tutur Maya dengan mencium anaknya.


"Balik besok aja, May. Biar sekalian diantar Bang Adi." timpal Adinda kemudian.


"Aku gak butuh ya saran dari kamu! Ini tuh urusan aku sama Bang Adi, kamu gak usah ikut campur! Kamu tuh perusak tau gak?! Perusak rumah tangga orang!" maki Maya yang membuat pak Dodi geleng-geleng kepala.


Adinda menghela nafas beratnya, "Menurut pandangan aku, tak ada pelakor di sini. Kalau kau mau hujat seseorang atas kerusakan rumah tangga kau, lebih baik kau pertanyakan itu ke dirikau sendiri. Aku udah capek, May. Aku ngalah, udah kan? Tapi memang kau tetap bukan pilihan. Terus kita bisa apa, selain nerima kenyataan ini. Masa iya aku minggat diam-diam, biar kau jadi pilihan akhir cerita ini. Aku tak mau pergi, dengan status masih istri orang. Dosa aku udah banyak, aku tak mau tambah dosa karena pernikahan ini." balas Adinda yang bangkit dari duduknya dan berjalan menghampiri Maya.


"Kamu berani sama aku? Kamu jawab terus setiap kali aku ngomong. Gak terima ya, atas ucapan aku barusan?" ujar Maya dengan menaikkan dagunya.


Adinda sudah berada di hadapan Maya, Adi merasa was-was dengan pemandangan seperti ini. Ia khawatir mereka berlaku diluar perkiraannya.


"Itu karakter aku, May! Kau kira aku penakut dan cuma nangis ketika dimaki? Tak, tak macam itu. Aku tak akan membalas, kalau yang maki aku mertua aku atau orang tua aku sendiri. Aku tau tata krama, aku tau sopan santun. Nah kalau yang makinya kau, memang siapa kau? Sampek aku harus takut? Aku bukan tak terima, atas segala yang kau ucapkan. Tapi kau salah ucap, harusnya kau malu di sini. Aku yang pertama, aku yang dinikahinya lebih dulu. Mana mungkin aku bisa jadi pelakor? Saat status aku adalah istri sahnya, meski hanya secara agama. Aku tak menurunkan harga diriku, aku tak menurunkan derajatku hanya untuk dapatkan laki-laki kau itu. Aku tak pernah dimasukinya lebih dulu, saat akad belum diucapkannya. Kau maki aku dari masa laluku, sampek ke hijab aku. Kau pikir kau suci? Kau pikir kau terbebas dari dosa? Jangan seolah kau makhluk paling agung ya, May! Derajat kita sama. Asal kau tau, pertanyaan yang kian menyerangku itu tentang anak kau itu. Betulkah itu kloningan Adi Riyana? Lebih baik kau cari jawabannya, dari pada kau maki aku terus dengan sebutan pelakor. Aku udah capek badan, aku udah capek hati dan pikiran. Jangan nambahin beban hidup aku!" seru Adinda dengan suara tinggi.


Adi yang memang paham akan sifat Adinda, hanya bisa geleng-geleng kepala saja. Karena seluruh anggota keluarga, langsung berhamburan keluar dari kamarnya. Saat mendengar suara menggelegar dari istrinya tersebut. Bukan hal aneh untuk Adi, tentang Adinda yang memiliki karakter seperti ini. Karena ia pun sudah merasakan sendiri, dengan makian, hujatan dan tindakan kasar dari istrinya ketika marah.


Ia melenggang pergi, menuju ke kamar anak-anaknya. Dengan diikuti Givan yang berlari mengikuti jejak ibunya. Bukan hal aneh untuk anak itu, mendengar ibunya memarahi seseorang. Sedikit banyaknya, ia memahami situasi sekarang. Karena keadaan, yang memaksanya untuk mengerti akan kehidupan ini.


~


Akhirnya, Adi memutuskan untuk mengantar Maya sampai ke stasiun kereta api. Dengan dirinya mengajak Zuhra, Givan dan Naya. Untuk sekalian mampir ke dokter gigi, juga ke dokter umum.


"Cukup tak tujuh juta itu? Buat ongkos sama pegangan kau di sana." ucap Adi, setelah mobilnya terhenti di parkiran stasiun kereta api tersebut.


"Kurang lah! Ini pasti Dinda lagi yang ngasih, bukan uang Abang." sahut Maya sebelum turun dari mobil.


"Abang mana ada uang. Bagian lahan kau dua hektar, tapi ada di provinsi A." balas Adi dengan memperhatikan anak-anak dan Zuhra dari spion tengah. Terlihat Givan tengah duduk dengan memandang jendela, sedangkan Zuhra tengah mencoba mengajak Naya berbicara.


"Aku gak mau, aku mau uang aja. Sama rumah aku yang dibeli Abang itu, balik ke tangan aku dan atas nama aku." ungkap Maya dengan pandangan fokus pada Adi.

__ADS_1


"Ok, May. Baru tau Abang, ternyata kau macam itu. Tau macam ini, dari awal aja May kusuap kau uang. Sana cepat turun!" pinta Adi dengan menunjuk pintu mobil, dengan dagunya.


Maya beralih menatap anaknya, "Momy pergi dulu, Nak. Momy begini, biar kamu gak kekurangan apa pun. Momy tau, Papah kamu pasti sayang banget sama kamu." ungkap Maya dengan mencium pipi anaknya.


Lalu Maya keluar begitu saja tanpa pamit pada Adi, dengan Adi yang langsung memutar balik setir mobilnya. Menuju ke dokter gigi terlebih dahulu.


~


Satu jam lebih, Adi dengan anak-anaknya dan juga Zuhra sudah kembali lagi ke rumah. Adi langsung menggendong Givan yang tengah bersedih hati, karena ia harus kehilangan gigi taringnya. Dua gigi depannya belum tumbuh sempurna, tetapi ia kembali memiliki jendela di mulutnya.


"Naya kasih ke kak Dinda, Dek. Abang mau langsung tidurin Givan dulu, udah jamnya tidur." pinta Adi pada Zuhra yang berada di belakangnya.


"Memang kak Dinda mau urus Naya?" tanya Zuhra yang menghentikan langkah Adi.


"Belum diomongin lagi. Tadi sih kak Dinda tak mau, tapi ngomongnya halus. Dengan alasan, dia keteteran ngurus putra-putra Abang. Kau kasih tau tentang obatnya ke kak Dinda, cerita juga apa yang dokter bilang tadi." jawab Adi yang diangguki oleh Zuhra.


Adi langsung masuk ke kamar Givan yang berada di lantai atas, yang dulunya adalah kamar yang pernah Adinda tempati. Adi yakin, Givan sudah bisa dipercaya untuk tidur di lantai atas. Apa lagi kamar tersebut, sudah dilengkapi dengan kamar mandi yang berada di dalam kamar. Membuat Adi tak khawatir, jika Givan akan buang air di malam hari.


Dengan kamarnya dulu, kini akan ditempatinya dengan Adinda dan bayi kembarnya. Berbeda dengan Ghifar, bayi itu harus tidur di lantai bawah bersama Zuhra. Yang sementara waktu Zuhra pergi, Adinda dan si kembar berada di kamar yang akan Ghifar tempati.


Ceklek…


"Kak Dinda, ini Naya. Kata bang Adi, Naya sama kak Dinda aja. Ini obatnya, diminum tiga kali sehari. Terus kata dokter, demamnya dicek secara berkala." ungkap Zuhra, setelah dirinya masuk ke dalam kamar tersebut.


Adinda menoleh ke arah Zuhra yang tengah menggendong Naya, "Akak tak mau…..


TBC.


Makian halus yang menusuk 😟

__ADS_1


__ADS_2