Belenggu Sang Pemuda

Belenggu Sang Pemuda
BSP102. Adinda kecewa


__ADS_3

"Butuh apa?" tanya Adinda begitu ketus. Saat Adi menarik kursi besi,yang terdapat di balkon tersebut. Dan memindahkannya tepat di hadapan istrinya, lalu ia menduduki kursi tersebut.


Adi menyentuh hidung istrinya dengan telunjuk tangannya, belum lagi senyum merekah yang terpatri hanya untuk istrinya.


"Maaf ya udah salah paham tadi. Abang cemburu tengok Adek bawa laki-laki ke rumah." ungkap Adi dengan suara yang terdengar sangat lembut.


"Givan mana?" tanya Adinda, mengalihkan perhatiannya pada gitar yang masih berada di dekapannya.


"Givan dibawa kak Ayu, jalan-jalan belanja bulanan ke mall." jawab Adi dengan menarik dagu istrinya untuk menghadap padanya.


"Kan enak cari yang tak ada anak. Abang butuh sama betina, tak usah susah ungsikan anaknya." sahut Adinda yang menepis tangan Adi dari dagunya.


"Tak macam itu, Dek. Abang tadi kan maen sama Givan. Terus kak Ayu datang, bilang mau ajak Givan." jelas Adi dengan menarik tangan istrinya, yang sibuk pada gitar yang entah kapan dibelinya.


Karena Adi pribadi memang tak memiliki gitar, dan tak bisa memainkan gitar.


"Hmm…" Adinda merespon Adi hanya dengan gumaman saja.


"Maaf, ya Sayang." ungkap Adi, sembari mencium pipi istrinya.


"Abang turun aja, tidur apa ngapain. Aku lagi pengen sendiri." sahut Adinda, dengan mengalihkan pandangannya ke hamparan kebun kopi yang sangat luas.


"Abang mau temenin Adek…" balas Adi begitu lembut. Adinda berpikir Adi tengah butuh dirinya. Ia sudah paham dengan kelakuan suaminya setelah pulang dari berpergian jauh.

__ADS_1


"Abang butuh aku? Butuh se*?" tanya Adinda dengan urat wajah masam.


"Bukan berarti Abang butuh Adek hanya untuk se* aja. Adek kenapa, hm? Cerita sama Abang. Sampai-sampai, Abang baru pulang kok Adek ngomongnya macam itu? Ada yang ngomong sesuatu tentang Abang kah? Sepercaya itukah Adek sama orang?" ungkap Adi dengan menggenggam tangan Adinda.


"Tak ada yang perlu diceritakan, Bang. Aku hidup macam biasanya di sini. Tak ada yang ngomong apa pun. Tapi Abang lupa sesuatu, Abang lupa kalau aku manusia. Aku punya otak, aku punya naluri, aku punya perasaan. Kalau memang tak ada yang Abang sembunyikan, ya udah tak usah di perpanjang. Gitu aja kok repot." ucap Adinda dengan kesal.


"Ya kalau Adek macam itu, seolah Adek nuduh Abang. Adek nyangka Abang yang bukan-bukan." sahut Adi halus, agar permasalahannya bisa diselesaikan tanpa pertengkaran.


"Bukan nuduh, bukan nyangka. Abang tak jelas ngapain di kota C, mana sampai selama itu. Padahal jelas, Zuhra sama Jefri tak jadi tunangan. Banyak transaksi yang Abang pakek, selama Abang di sana. Belum lagi beberapa bulan yang lalu, Abang kirim ke bang Haris 150 juta kan? Nah itu untuk apa semua? Bayar rumah sakit, tebus obat di rumah sakit yang sama, belum lagi transaksi di toko perlengkapan bayi, penarikan uang dalam jumlah besar, transaksi di minimarket hampir setiap hari. Itu ada apa? Siapa yang sakit? Siapa yang Abang biayain? Ok, memang itu uang Abang. Tapi Abang perlu tau, bahwa ada hak aku di situ. Bukan aku pelit, bukan aku perhitungan, tapi Abang yang memang tak terbuka sama aku. Silahkan pakek uang Abang, habiskan juga silahkan. Aku tak mungkin ngelarang. Cuma, aku pengen tau. Ke mana itu larinya pengeluaran Abang. Setiap kali ditanya, Abang bungkam. Maaf-maaf kalau dengan tidak sopannya aku minta pihak bank, untuk cetak pengeluaran dan pemasukan yang Abang gunakan selama ini." ungkap Adinda dengan raut wajah yang begitu geram pada suaminya. Sedangkan Adi sendiri, merasa sudah pasrah atas semuanya. Ia tak berpikir sejauh ini, bahwa istrinya ternyata secerdas itu.


"Aku wajib lapor, wajib minta izin, tapi Abang sendiri macam mana? Bukannya sombong, aku masih mampu Bang untuk cari uang sendiri." lanjut Adinda dengan meloloskan air matanya, yang sedari tadi ia tahan-tahan.


"Abang tak terbuka sama aku, Abang udah tak jujur sama aku. Udah berani ngumpet-ngumpet, dengan pandainya utak-atik sosmed aku. Hp sendiri selalu Abang sakuin, simpan di tempat yang susah untuk aku raih. Kadang ditinggal dalam keadaan mati. Jangan kira aku tak tau itu semua, Bang." ucap Adinda dengan bangkit dari duduknya.


"Maaf, Dek." sahut Adi dengan menundukkan kepalanya.


"Dari pada ngomong maaf terus, tapi tak bisa jelasin. Lebih baik Abang turun, aku pengen tenang. Aku tak mau stres gara-gara mikirin ini semua. Aku tak mau bayi aku kenapa-kenapa karena masalah ini." ketus Adinda, dengan menunjuk pada pintu penghubung tersebut.


"Abang pengen nemenin Adek." ungkap Adi dengan mendekati istrinya. Namun Adinda langsung menahan tubuh suaminya, dengan tangannya.


"Butuh pelepasan? Hmm?" tanya Adinda dengan tatapan tajamnya. Adi hanya terdiam dengan memandangi wajah istrinya.


"Ok, aku paham. Ayo kita maen." putus Adinda cepat, lalu menarik tangan suaminya. Menuju kamar yang berada di lantai dua ini.

__ADS_1


Dengan cepat Adinda meloloskan hijabnya, dan menarik ikat rambutnya. Agar rambutnya tergerai indah di depan suaminya.


Adi masih terdiam, ia paham istrinya tidak benar-benar menginginkannya. Ia tau istrinya hanya terpaksa, agar tak diganggu dengan dirinya lagi.


Adinda membantu Adi meloloskan kaosnya, dan menariknya menuju ke tempat tidur.


"Kenapa diam aja? Ayo mulai, bukannya Abang dekatin aku terus karena butuh pelepasan?" tanya Adinda dengan sorot matanya yang penuh amarah.


Adi langsung membawa Adinda ke atas tempat tidur, lalu ia mengunci pandangan istrinya. Namun dengan cepat, Adinda membuang mukanya. Ia berpaling dari tatapan suaminya.


Bukannya melanjutkannya, Adi malah merebahkan tubuhnya di samping istrinya. Dan memeluk istrinya erat.


Ia menyembunyikan wajahnya di ceruk leher istrinya, bulir bening lolos begitu saja dari netranya.


Ia sudah pasrah dengan keadaan ini. Ia tak ingin membohongi istrinya lebih jauh, namun ia pun tak mampu untuk mengatakan hal yang sebenarnya. Rasa takut kehilangan selalu menyelimuti dirinya, ia teramat takut Adinda meninggalkannya tanpa kasihan. Ia takut istrinya begitu kecewa atas pengkhianatan yang tak sengaja ia lakukan, di belakang istrinya.


Tiba-tiba Adinda membingkai wajah suaminya, ia menghapus ujung mata suaminya yang basah. Ia memandangi wajah suaminya yang berubah sangat merah.


"Abang cinta tak sama aku sebetulnya?" tanya Adinda kemudian.


TBC.


Mewek loh author nulis ini 😭

__ADS_1


__ADS_2