
Setelah aku selesai dengan urusanku. Aku langsung menjemput Dinda yang tengah bersiap-siap di rumah. Namun setelah sampai di rumah, ia malah memintaku untuk berganti pakaian dulu.
Padahal aku sudah merasa keren dengan pakaian ini. Tapi aku menurutinya juga, untuk mengganti pakaianku.
Beberapa saat kemudian, aku sudah menjalankan mobilku menuju tempat wisata yang belum pernah kami kunjungi.
Entahlah ke mana, aku pun tak tau pasti tujuanku.
"Abang macam mana ceritanya bisa digebugukin bang Jefri sama bang Haris?" tanya Dinda yang membuatku mengerem mendadak. Untung jalanan ini begitu sepi. Dan masih jalan kampung.
"Adek tanya ke mereka?" sahutku yang mendapat anggukan kepala dari Dinda.
"Terus mereka cerita semua?" tanyaku kemudian, Dinda menggelengkan kepalanya menanggapiku.
Sialan mereka, membuatku malah tak bisa menjawab pertanyaan dari Dinda. Aku tak mungkin berterus terang.
"Memang karena apa Bang?" ucap Dinda kemudian. Aku menepikan mobilku agar lebih aman. Aku takut tak fokus mengemudi, jika Dinda masih membahas ini.
"Zulfa, Dek. Tapi katanya sih mau ditunangin Jefri. Umi sama ayah pun udah bahas masalah ini sama keluarga Jefri." jelasku kemudian. Tapi memang bukan karena ini juga aku dipukuli.
"Abang mergokin mereka berdua lagi?" tanya Dinda dengan memperhatikanku
"Ya Dek. Abang dulu macam itu ke perempuan. Sekarang malah berbalik ke keluarga Abang sendiri." jawabku dengan menunduk. Aku tak bisa membayangkan jika Zulfa ditinggalkan Jefri. Bagaimana nasibnya nanti? Apa suaminya mau menerimanya yang sudah tak perawan lagi?
Dinda mengelus lenganku, "Doain yang terbaik buat masa depan Zulfa. Hilang perawan, semoga tak hilang juga harga dirinya. Semoga kelak nanti ada laki-laki yang mau nerima apa adanya. Kalau tak ada, biar Zulfa aku ajarin ajian. Biar jantannya nemplok terus macam Abang. Mana manut lagi. Udah gitu bucin betul pulak." ungkapnya dengan terkekeh renyah.
Hanya wanitaku yang bisa mencairkan suasana macam ini, menjadi suasana yang menggelitik di bawah rusukku.
"Yuk, lanjut jalan lagi." ucapku langsung diangguki Dinda.
Lalu aku menjalankan lagi mobilku perlahan-lahan. Karena sebetulnya aku khawatir dengan kandungan Dinda, yang masih sangat rawan ini.
~
~
Setelah puas menjelajahi taman bunga buatan. Aku mengajak anak istriku untuk beristirahat di tempat penginapan sekitar sini.
Karena aku ingat ucapan Dinda semalam. Yang mengatakan untuk menginap di hotel, untuk mencari suasana baru. Agar tak bosan dalam berhubungan se*s.
"Masih jam tigaan, Bang. Yakin mau ngamer?" tanya Dinda, saat kami berjalan ke kamar yang sudah aku pesan.
"Givan kan belum tidur siang. Tengok dia, udah payah betul." jawabku dengan memperhatikan Givan, yang berada di dekapanku. Matanya sudah merem melek, sejak saat aku reservasi hotel.
"Memang kalau Adek minta, Adek tau waktu?" lanjutku melontarkan pertanyaan balik padanya.
__ADS_1
Ia terkekeh kecil, "Aku tak macam itu lah, Bang." elaknya kemudian.
"Dari pada Abang pagi-pagi betul udah pengennya bersarang aja." ledeknya dengan melirikku.
"Dingin Dek. Kalau abis subuh'an rasanya pengen ngeramin Adek aja." sahutku dengan tersenyum manis. Dengan mengedipkan sebelah mataku.
Lalu aku membukakan kunci kamar. Dan mengajak Dinda masuk. Kamar yang cukup nyaman untuk Givan dan Dinda.
"Papah bobo." ucap anakku saat aku meletakkannya di atas tempat tidur. Terpaksa aku harus merebahkan diriku sejenak.
Lalu aku memeluknya, dan mengelus punggungnya. Aku menoleh, pandanganku mengelilingi ruangan. Mencari keberadaan istriku.
Terlihat ia baru keluar dari kamar mandi. Lalu aku mengkodenya untuk tidur di belakangku.
Dinda mengangguk, lalu ia melepaskan hijabnya dan menggerai rambutnya.
Hmm, hanya seperti itu saja. Membuatku langsung ingin.
Lalu ia berjalan menghampiriku. Mencium pipiku sekilas, dan merebahkan tubuhnya di belakangku. Karena aku masih mencoba membuat Givan lelap. Memang ia sudah tertidur, tapi sepertinya ia belum lelap.
Dinda mulai nakal. Tangannya mencoba membuka kepala ikat pinggangku. Setelah berhasil, ia melepaskan pengait celanaku. Menurunkan resletingnya. Dan ia berhasil meraih apa yang ia cari.
"Udah bangun aja." ucap Dinda lirih. Namun bisa kudengar dengan jelas.
Aku tak menyahutinya. Aku khawatir nanti Givan membuka matanya kembali. Nanti malah membuatku semakin lama, untuk bisa menikmati ibunya.
Jempol tangannya berada tepat di lubang kencingku. Ia memutar jempolnya, sungguh ini semakin membuatku ingin menerkamnya.
"Masih foreplay, Woy. Udah ngeluarin pelumas aja." ledeknya dengan kekehan kecil. Apa ia tak sadar dengan kelakuan tangannya? Masalah pelumas, aku mana bisa menghendakinya.
Aku meraih beberapa bantal yang bisa kugapai. Dan menaruhnya untuk ditempatkan di sebelah Givan.
"Ngeledekin aja, Woy! Awas aja kalau Adek men*esah nanti. Abang ledekin habis-habisan." ujarku menarik tangannya yang berada di dalam celanaku. Lalu aku membalikkan tubuhku, langsung menindihnya. Dengan berat tubuhku yang aku tahan dengan siku tanganku.
Ia hanya terkekeh geli. Dan menggelengkan kepalanya.
"Abang baru diraba aja udah siap penetrasi macam itu. Tak yakin aku, Abang bisa bikin aku men*esah." ledeknya kemudian. Sepertinya ia sengaja meledekku. Agar ia betul-betul terpuaskan nantinya.
"Dek, boleh minta sesuatu tak?" tanyaku dengan memperhatikan wajahnya.
"Apa?" sahutnya dengan meraba pelipisku.
"Service Abang dulu sampai kl*maks. Nanti ronde kedua baru penetrasi." ucapku menjawabnya.
"Nanti kalau Abang tak bisa turn on lagi macam mana? Rugi aku." balasnya menyahutiku. Memang istriku tak mau rugi. Lebih-lebih ia ingin lebih diuntungkan.
__ADS_1
"Kenapa sih minta service segala? Memang biasanya servicean aku tak berasa kah?" ungkapnya serius. Aku lupa jika istriku begitu sensitif sekarang.
"Nikmat tiada tara servicean Dinda. Cuma Abang udah diujung betul. Nanti malah nanggung Adeknya, kalau Abang langsung ajak Ng W." jelasku kemudian.
"Jangan bilang Abang cepat keluarnya lagi? Abang masih rutin olah raga kan? Apa waktu di kota C Abang tak pernah olah raga lagi? Makanannya tak dijaga ya?" tuturnya mengintimidasi.
"Abang olah raga ringan waktu nginep di rumah orang tua Adek. Ya jarang, udah tak setiap hari lagi olah raganya. Untuk makanan, Abang mana bisa jaga. Abang makan apa yang udah disiapin mertua aja. Terus paling beli aja, tak pernah bikin makanan sendiri." jawabku lugas.
"Cuma Adek yang bisa ngurusin Abang. Cuma Adek yang bisa ngatur diri Abang." lanjutku. Kemudian aku langsung mengincar bibirnya.
Aku menikmati apa yang sudah menjadi hakku. Bukan hanya rasa yang menyatukan kita, tapi rindu yang menggebu-gebu ini cukup membuatku semakin ingin memakannya.
"Jangan kuat-kuat, bagian ini rasanya nyeri betul." ucapnya saat tanganku gemas meremas tutup tekonya.
"Tambah besar juga ukurannya, Dek." responku dengan memperhatikan dadanya dengan seksama.
"Abang sukanya besar apa sedang?" tanya Dinda dengan senyum samar.
"Suka yang ada di tubuh Adek. Abang selalu menggilainya. Apa lagi iniβ¦" jawabku lalu meraba selang*angannya, "Abang betah lama-lama di dalam sini." lanjutku kemudian.
"Pasti beda lagi rasa aku nanti pas aku udah lahirin anak Abang." sahutnya dengan menarik tanganku dari intinya.
"Abang yakin Adek bisa jaga ini semua. Abang pasti selalu mau untuk jaga anak-anak dan selesaiin tugas rumah. Kalau Adek lagi perawatan luar dalam." ungkapku dengan mengincar ceruk lehernya.
"Kalau aku memang tak enak lagi dipakai macam mana? Apa Abang ganti yang baru? Atau Abang jajan di luar?" pertanyaannya yang membuatku mengingat Maya kembali.
"Sekalipun demikian, Abang tak akan pernah ninggalin Adek. Adek pasti lebih paham tentang Abang. Abang hanya ingin menikah sekali seumur hidup. Dan tak ingin ada kisah cerai dalam rumah tangga Abang." jelasku mengunci pandangan matanya.
"Jangan sekali-kali lagi raguin kesetiaan Abang. Abang tak mungkin bisa duain Adek di hati." lanjutku kemudian.
Bahkan demi dirinya, aku menghindari malam pertamaku dengan istri keduaku.
Padahal, waktu itu bisa saja aku mengundur kepulanganku. Dan menikmati malam bersama Maya.
Tapi aku enggan melakukannya. Pernikahanku dengan Maya masih belum diketahui Dinda. Dan aku tak ingin Dinda tahu ini semua. Sekalipun ia tahu, aku tak yakin ia memberiku izin untuk menggilir malam-malamku.
Biarkan Maya memilikiku hanya untuk sebuah status.
TBC.
Mau waheho keknya mereka π€
π€
Nih ya mulut Adi, bikin gemes. π§
__ADS_1
Manis betul ucapannya. kek yang iya aja π
padahal aslinya istrinya dua π