Belenggu Sang Pemuda

Belenggu Sang Pemuda
BSP209. Seharga motor


__ADS_3

Belum juga aku menyelesaikan ucapanku, dengkuran halus Dinda sudah terdengar begitu merdu. Dia tertidur di ujung ranjang, dengan kepala dan kaki yang melintang. Kalau begini, bagaimana caranya aku tidur?


Aku berniat berpatroli sejenak, untuk melihat keadaan anak-anakku. Dimulai dari kamar Givan, yang berada di sebelah kamarku dan Dinda ini. Anak itu sudah mendengkur, dengan liur walet yang mengaliri bantal berbalut kain bermotif ikan koi tersebut. Aku mendaratkan kecupan ringan, di pucuk kepalanya. Lalu aku keluar untuk menengok keadaan Ghifar.


Lantai atas hanya ditempati oleh aku, Dinda dan Givan. Karena kamar Zulfa pindah ke bawah, karena umi takut Zulfa melakukan hal nekat. Edo dan istrinya pun, sudah kembali ke provinsi KB. Sedangkan Edi, ia pindah ke lantai bawah karena anaknya yang suka menangis malam. Membuatnya butuh bantuan orang lain, untuk menggantikan mengasuh Novi di tengah malam. Sedangkan Zuhra, memang dari awal memiliki kamar di lantai bawah, dengan kamar pribadi umi juga yang bersebelahan dengan kamar milik Edi.


Aku membuka pintu kamar Zuhra. Terlihat bayiku yang sudah mulai tumbuh besar ini, tertidur pulas dengan merentangkan tangan dan kakinya. Dengan Zuhra, yang tidur di lantai karena ranjangnya ditiduri oleh anakku. Bukan hal aneh untuk Ghifar, ia memang sedari baru bisa menegakkan lehernya. Cara tidurnya memang menguasai ranjang, ya kurang lebih seperti ibunya. Aku tak jarang sering sakit leher, karena tempatku tidur hanya cukup untuk tubuhku saja. Bukan lain karena Dinda yang selalu memutar tubuhnya ke sana ke mari, padahal awalnya tidur dengan posisi romantis.


Aku membereskan mainan Ghifar yang berserakan di kamar Zuhra, dengan mengambil botol susu bekas dan menaruhnya di dapur.


Entah mengapa penjelasan Dinda membuatku tak bisa tidur. Aku bingung, aku harus bagaimana? Maya dan ibunya seolah kabur, sejak ia mendapatkan cek sebesar 4,8 M dan sertifikat rumah yang kembali menjadi miliknya. Aku ingin marah, tapi pada siapa? Karena Maya yang menghilang diri seperti ini, membuat amarahku padanya terpendam di dada.


Aku ingin membagi pikiranku dengan seseorang, tapi istriku kelelahan dan terlelap tidur. Ayah dan umi pun, sepertinya sudah tidur.


"Laper, Bang?" tanya seseorang yang mengagetkanku.


Aku memutar tubuhku, menghadap ke sumber suara. Terlihat Edi tengah mengambil air minum, yang berada di dalam kulkas.


"Tak." jawabku seperlunya.


"Kak Dinda udah tidur, Bang?" sahutnya setelah menuangkan air dalam botol tersebut, di gelas yang berukuran sedang.


"Udah. Kenapa sih kau nanyain kak Dinda?" balasku dengan memperhatikan dirinya yang tengah meneguk air dalam gelas tersebut.


Edi berhenti sejenak dari aktivitas minumnya, "Cepat bawa balik lagi. Aku pusing, Bena ditawari terus sama kak Dinda. Aku suruh Bena bilang ke kak Dinda, bahwa aku tak ada uang buat belanjain dirinya terus-terusan. Ehh… kak Dinda bilang balik ke Bena. Katanya kau suruh milih, bukan suruh bayar. Jarak dua, tiga hari. Paketan pada berdatangan. Aku gak enak, kalau kak Dinda kaya gitu terus. Mana pas Bena cerita, punya aku ini tiga juta loh mas, tas punya kak Dinda seharga motor loh mas, tas yang dipakek Zuhra itu dua jutaan loh mas, aku dikasih ini loh mas seharga enam juta. Tambah-tambahin beban pikiran aku. Masalahnya susah rubah Bena, untuk gak belanja barang mahal. Giliran udah terbiasa susah, malah dienakin lagi sama kak Dinda." ungkap Edi yang terlihat begitu kacau.

__ADS_1


"Ck… susah perempuan kalau udah macam itu. Itu baru onlinenya, belum lagi berlian dan seperangkatnya. Abang udah capek nasehatin, kalau kak Dinda udah tak ada yang dipengeni juga tak akan belanja-belanja. Biarkan aja, uang pun uangnya sendiri. Abang mana ada uang, untuk beli yang berjuta-juta itu." balasku malas, dengan duduk di kursi makan.


"Abang enak bilang, uang pun uangnya sendiri. Giliran habis, pasti ngerengeknya ke kita yang jadi suaminya." sahut Edi dengan duduk di kursi yang berada di seberangku. Lalu ia mengambil roti tawar dan langsung melahapnya.


"Kan Abang udah pernah bilang, kurang lebih sebulan dua ratus jutaan. Dari pada kau berantem gara-gara masalah kesukaannya perempuan, lebih baik kau cari uang banyak-banyak. Kak Dinda juga, barang lama atau barang yang udah dia bosen itu. Dijual balik ke online macam itu, ada tas, sepatu, baju, kerudung terus lain-lain juga. Jadi tak berat hisabnya di akhirat kelak." balasku dengan menengadahkan kepalaku, dengan memijat pelipisku.


"Mending begitu, bisa jadi uang lagi. Kalau Bena kan jadi koleksi, katanya sayang masa mau dijual udah bekas aku." ujar Edi dengan menirukan suara perempuan.


"Tas yang seharga motor itu kan, bisa dijual balik dengan harga yang tak terlalu jatoh. Mending kak Dinda cuma seharga motor, yang udah mabok branded macam itu kan berani sampek yang miliaran rupiah. Tapi mereka sebut itu investasi, karena memang bisa dijual balik." jelasku yang membuat Edi manggut-manggut.


"Boleh kali aku kerja sama Abang. Barangkali aku dapat gaji 100 juta perbulan." ucapnya yang membuatku melongo.


"Kan Abang udah kata, kau buka usaha. Kalau kerja, kau capek tapi hasil segitu-gitu terus." sahutku dengan menggebrak meja makan pelan.


"Ok, asal pinjam modal awalnya. Sok ceritain, biar aku bisa banting setir mantap. Aku juga pengen punya lamborghini." ungkapnya dengan wajah yang begitu bersemangat.


"Nanti modal awal, kau bilang ke kak Dinda. Pak cek udah bilang ke bank, untuk cairan deposit Abang. Mungkin bulan-bulan berikutnya cair, kau bisa minta tolong ke kak Dinda. Nanti kau beli ladang dulu……"


Kami berbincang, sampai Edi memahami apa yang harus ia lakukan setelah ini. Setelahnya, aku langsung merebahkan tubuhku di karpet ruang keluarga. Karena Ghifar terbangun dan meminta susu, tentu ia tak langsung tidur lagi. Alhasil, aku mengajaknya tidur di depan TV yang menyala ini.


~


Pagi harinya, Dinda tengah melakukan peregangan otot di halaman belakang. Setelah sekian lama, aku baru melihatnya melakukan aktivitas olahraga kembali. Tentu karena ia kerepotan mengurus anak-anakku.


"Semangat, Sayang." ucapku dengan menggendong Ghava, dengan menggunakan gendongan ring. Dengan Ghavi yang aku gendong dengan tangan.

__ADS_1


Ghava minta diayun, ia sudah merengek sesaat dirinya selesai mandi. Dengan Ghavi yang juga merengek, ia tak mau direbahkan di atas tempat tidur ataupun bouncernya. Alhasil, aku menggendong dua-duanya.


"Bang…… Dih…." suara khas anakku, yang semakin mendekat ke arahku. Kenapa ia tahu, bahwa aku berada di sini?


"Dih…." lanjutnya lagi, setelah melihatku menoleh ke arahnya.


Ghifar langsung mempercepat laju alas duduknya, untuk bergerak ke arahku. Ia memamerkan giginya, yang baru tumbuh empat buah itu.


"Pue lom? Dih, Dih, Dih! Dikira sama kawannya kah kau?" tanyaku dengan wajah kesal. Namun, Ghifar malah heboh sendiri dengan celotehannya.


"Bang…. Bang…." celotehannya lagi, setelah dirinya berada tepat di depan kakiku. Ia mengangkat kedua tangannya, bermaksud untuk meminta gendong padaku.


"Papah lagi ajak adek kembar. Nanti ya gantian, tunggu kembar bobo dulu." balasku yang membuatnya menarik sudut bibirnya ke bawah.


"Satu… dua.. tiiii…." seru Dinda yang memperhatikan Ghifar yang akan menangis itu.


Belum juga Dinda menyelesaikan ucapannya, tangis kencang Ghifar sudah memekakan telinga.


Aku berjongkok, dengan meraih tangannya, lalu terdengar suara sepatu yang berlari ke arahku. Ternyata Dinda menghampiriku, yang tengah kerepotan dengan anak-anak ini.


"Yuk sama Mamah." ajak Dinda dengan sudah siap dengan posisi untuk menggendong Ghifar.


Ghifar menggelengkan kepalanya, "Bang…. Bang…." suara Ghifar dengan menatapku dengan tatapan sedihnya. Aduh… aku jadi tak tega melihat wajahnya itu.


"BANG…. AAARRRRRRRRRGGGGHHHHHHHHHH……" teriak Ghifar, karena aku hanya diam dengan memandangi wajahnya saja.

__ADS_1


Aku menghela nafas beratku. Bagaimana pun juga, Ghifar belum mengerti untuk mengalah dari adiknya.


......................


__ADS_2