Belenggu Sang Pemuda

Belenggu Sang Pemuda
BSP164. Mengikhlaskan


__ADS_3

Dinda tengah berada di atas tempat tidur, dengan laki-laki tersebut yang tengah merokok sembari merebahkan diri di atas tempat tidur. Mereka hanya berdua, tanpa crew dan orang lain. Dinda mengenakan hijab yang asal nempel, dengan laki-laki tersebut yang bertelanjang dada.


Laki-laki tersebut terlihat begitu terkejut, atas seruan dariku. Berbeda dengan Dinda yang hanya geleng-geleng kepala saja, tapi masih tetap fokus pada kertas yang berada di tangannya.


"KELUAR KAU!!" seruku pada idola Dinda tersebut.


"Jangan salah paham, Bang. Kita cuma lagi istirahat." ujarnya dengan langsung meraih bajunya, lalu mengenakannya secara terburu-buru.


"Biarin aja, tak usah dijelasin." timpal Dinda yang terlihat santai saja.


"Keluar! Keluar!!!" ucapku dengan menunjuk pintu yang barusan aku masuki.


Lalu laki-laki tersebut langsung keluar tanpa permisi, dengan aku yang berjalan semakin mendekati Adindaku.


"Dek… kau bersuami, kau pun lagi ngandung. Dia suami orang, Dek. Anaknya udah banyak. Bisa-bisanya kalian main kotor, dengan alibi pekerjaan." ucapku dengan duduk di hadapannya.


Terdengar helaan nafas panjang dari Dinda, "Terus kenapa? Yang penting istrinya tak tau, terus suamiku juga tak tau. Udah beres masalahnya. Kan begitu kan konsepnya selingkuh? Kau aja alibi orang tua sakit, tak taunya k*n*o* kau yang sakit, karena kurang jepitan dari selingkuhannya." jawabnya yang hanya melirik sekilas padaku. Lalu ia fokus kembali pada pekerjaannya tersebut, ia begitu santai saat aku tengah berapi-api seperti ini.


"Berapa lama lagi kau kerja? Abang mau jemput kau balik, Abang tak suka kau keluar rumah terlalu lama macam ini. Kau lalai sama tugas kau, kau lupa dengan status kau." ujarku dengan menyentuh lengannya.


Rasanya percuma, jika aku meninggikan suaraku untuknya. Karena ia tak mempedulikan seruanku.


"Ck… waktunya aku pulang juga, aku pasti pulang Bang. Aku tak mau kandungan aku kenapa-kenapa, kalau aku bertahan di rumah aja. Aku tak bahagia, aku pusing, aku pengen marah terus kalau liat Abang. Biarin aku cari kesenangan aku sendiri, biarin aku cari kebahagiaan aku sendiri. Aku tak betah, tiap hari Abang recokin. Aku risih, aku jijik!!!" ucapnya dengan mencoba melepaskan tanganku yang berada di lengannya.


Demi Allah, aku tak baik-baik saja saat mendengar ucapannya. Ketakutanku bertambah besar, kekalutanku bertambah runyam. Dia sudah tak bahagia hidup bersamaku. Bahkan ia mengatakannya dengan cukup lantang.


Aku membuang wajahku, menghadap ke arah lain. Pasti sekarang mataku memerah, menahan rasa yang memuncak di pelupuk mataku ini. Cengeng… ya aku cengeng sekarang. Dinda terlalu banyak menyakitiku dengan kata-katanya. Ia bukan Adindaku lagi.


Mungkin setelah ini, aku lebih baik cari aman saja. Aku akan coba mengikhlaskan hubunganku dengan Dinda, pada takdir yang seharusnya terjadi saja. Rasanya aku sudah tak sanggup, untuk mendengar ucapan kasarnya lagi. Aku tak mau Dinda tak mendapatkan surga-Nya, hanya karena aku sakit hati dengan ucapan istriku sendiri.

__ADS_1


Aku bangkit dari posisiku, lalu dengan cepat menghapus air mataku yang merembes.


Kemudian aku berbalik badan, dengan langsung membingkai wajahnya.


Aku menciumi seluruh wajahnya, "Abang pulang ya. Adek cepat pulang, Abang sama anak-anak nungguin di rumah." ucapku kemudian.


Ia memejamkan matanya, saat aku menciumi wajahnya. Ia hanya mengangguk mengiyakan ucapanku.


Kemudian aku pergi dari kamar istirahatnya, aku tak menoleh lagi padanya. Karena rasa sesak di dada, kian menyerangku tanpa ampun.


Mungkin memang hubunganku dan Dinda tak bisa lagi diselamatkan. Percuma jika hanya aku yang berjuang, sedangkan dirinya memilih untuk pergi.


~


~


Tiga hari berlalu, aku mendapat kabar bahwa umi jatuh dari kamar mandi.


"Katanya kenapa Abang tak pernah angkat telepon dari umi?" lanjutnya kemudian.


"Kau kan tau, Abang repot urus anak. Kalau kau lagi nyuci, ngurus pakaian, masak juga. Anak-anak sampai dua-duanya Abang bawa ke ladang. Jadi boro-boro mau pegang HP , Abang udah repot sendiri sama keseharian Abang." jawabku dengan merebahkan diri pada karpet ruang keluarga.


Memang demikian, Ghifar dan Givan sampai aku ajak ke ladang. Jika aku ingin melihat keadaan ladangku.


Untungnya Givan sudah mengerti, jadi ia tak meminta gendong saat berada di ladang.


"Iya, aku aja capek kali Bang. Ghifar sering nangis tak jelas, kalau tidur mesti diayun-ayun dulu jadinya. Udah aku insomnia, siang aku tak bisa tidur juga. Jadi rasanya kek remuk betul ini badan." balasnya dengan helaan nafas panjang.


"Coba kau yang minta kak Dinda pulang. Kasih tau, kalau Ghifar sama Givan lagi pada ingusan. Biar dia ada rasa khawatirnya sama anak." sahutku dengan mencoba memejamkan mataku, mumpung anak-anak tengah tidur siang.

__ADS_1


Memang Ghifar dan Givan tengah dilanda flu. Penyebabnya karena jam istirahat mereka tak teratur, belum lagi karena mereka sering menangis.


"Ya udah, nih aku teleponin." ujarnya dengan mengutak-atik ponselnya.


"Hallo…." suara Dinda yang berada di seberang telepon, mungkin Zuhra meloud speaker panggilan teleponnya.


"Hallo, Kak. Gimana kabarnya?" tanya Zuhra dengan begitu semangat.


"Baik, Dek. Gimana kabar kau, anak-anak dan bang Adi?" jawab Dinda dengan bertanya balik. Aku tersenyum samar, ternyata Dinda masih menanyakan tentang kabarku.


"Aku sama bang Adi baik-baik aja, Kak. Cuma anak-anak pada pilek, nangis terus aku kerepotan Kak." sahut Zuhra dengan nada memelas. Bisa saja adikku yang satu ini, semoga ia bisa membuat istriku pulang dengan alasan tersebut.


"Kau sama anak-anak mau ikut Akak tak? Akak tak betah di rumah. Kita cari rumah sederhana aja gitu, buat kita tinggali. Tapi jangan sampai bang Adi tau, Akak pengen seneng tanpa bang Adi." balasnya dengan nada suara menurun.


"Kasian bang Adi, Kak. Jangan ditinggal sendirian macam itu. Lagian nanti kita macam mana? Kan masalah keuangan kita, yang cukupin segalanya itu bang Adi." ujar adikku. Aku tak habis pikir dengan Zuhra, bisa-bisanya ia berat padaku karena uang.


"Akak yang cukupin. Akak ada ladang di kampung, delapan atau sepuluh bulan sekali panen. Warisan dari papah kandungnya Givan, buat pendidikan Givan katanya. Ya memang tak ada satu hektar, tapi kan Akak tak diam. Akak bisa kerja juga." jelas Dinda yang membuatku melongo. Pantas saja ia menolak uang dariku, ternyata ia memiliki pegangan lain.


"Pengobatan aku macam mana?" tanya Zuhra dengan melirikku sekilas, entah apa yang ia rencanakan dalam pikirannya.


"Ya Akak yang bayarin. Kau tenang aja, Akak usahain segala sesuatunya. Akak pun tak betah hidup kekurangan, apa lagi di jaman modern macam ini." jawab Dinda.


"Memang Kak Dinda sama Abang udah cerai? Kalau udah cerai, tak apa Akak pindah rumah juga. Maaf nih Kak, bukan aku ikut campur. Tapi tak baik loh Kak, rumah tangga renggang macam ini. Aku sedih liat Kak Dinda macam itu sama abang aku. Bukan karena bang Adi abang aku, tapi aku udah nganggap kalian itu orang tua aku, panutan hidup aku. Cobalah Kak, dibicarakan baik-baik dengan perasaan aja. Karena kalau udah pakek logika, memang bang Adi macam tak punya hati. Tapi tindakan Akak juga tak betul, nanti yang dosanya tambah banyak tuh Akak, bukan Bang Adi." ungkap Zuhra yang membuatku melongo tak percaya. Aku tak mengira, ia bisa berbicara layaknya orang tua seperti itu. Semoga saja nasehat dari Zuhra, bisa menggetarkan hati Adindaku. Karena aku masih berharap lebih para Dinda.


"Akak……


TBC.


Tanggung, Makkk......

__ADS_1


Arghhhhhhh, kesel kali aku. 😒


__ADS_2