
"Pertahankan aku, yang kasian sama anak kita Bang." ucapnya dengan mendongakan kepalanya.
"Dengan Abang ada di sini, nungguin kau lahiran, ngadzanin Naya. Itu tandanya Abang coba nerima kau dan Naya. Tapi sungguh May, Abang malu betul. Harga diri Abang serasa diinjak-injak sama kau, saat kau jalan sama laki-laki lain. Kau tak bisa kah ajak ibu untuk jalan sama kau? Sampai-sampai kau ajak laki-laki lain." ujarku dengan menurunkan pandanganku padanya.
"Aku butuh Abang, aku pengen Abang selalu ada buat aku." sahutnya kemudian.
"Tengok nanti aja untuk masalah cerai, karena Abang sekarang udah buru-buru. Abang harus mampir ke Zuhra dulu, Zuhra lagi di rumah sakit soalnya." tuturku dengan melepaskan pelukannya.
"Bang, kita harus bicarakan ini dulu." ucapnya dengan mencekal tanganku, saat aku melepaskan pelukannya di pinggangku.
"Untuk apa? Kau pengen Abang percepat?" ujarku membalasnya, saat aku mulai duduk di hadapannya.
"Bukan begitu, Bang. Agar kita memahami keadaan satu sama lain. Agar aku paham, bahwa Abang di sana bener-bener kerja. Gak main perempuan lain dan biar Abang di sini juga paham tentang keadaan aku, tentang Naya yang butuh Abang, butuh dady-nya." ungkap Maya dengan menatapku lemah. Ia terlihat masih begitu kesakitan, atas luka bekas operasinya.
"Cinta itu datang karena terbiasa. Kalau Abang selalu pergi dan gak pernah ada waktu buat kita, gpimana caranya kita untuk terbiasa? Gimana caranya cinta itu datang? Yang ada di tatapan Abang cuma ada rasa kasihan dan marah. Kalau aku berbuat salah, udah fatal banget menurut Abang. Abang gak bisa mentolerir itu. Bisa gak sih Bang, stay di sini lebih lama? Atau, bawa aku dan Naya hidup sama Abang? Aku pengen kita sama-sama untuk besarin anak, aku pengen kita saling berbagi layaknya suami istri. Bukan karena rasa tanggung jawab Abang aja, bukan karena rasa kasihan Abang aja. Tolong mengerti maksud baik aku, Bang." lanjut Maya dengan meneteskan air matanya.
"Abang tak bisa ambil keputusan sekarang. Abang sulit untuk nerima ini semua, ditambah lagi Naya tak mirip sama Abang. Kau yakin tak itu anak Abang?" tanyaku mengungkapkan rasa resahku akhir-akhir ini. Aku bergantian memandangi wajah Naya dan wajahnya.
__ADS_1
"Abang dady Naya, Abang harus yakini itu. Masalah Naya gak mirip Abang, aku bisa tunjukkan sesuatu." jawab Maya dengan mengulurkan tangannya, untuk membuka laci meja yang berada di sebelah tempat tidur ini.
Ia menunjukkan album kenangan yang lumayan lapuk, namun masih bisa terlihat dengan jelas.
"Ini aku, ini saudara-saudara aku. Aku gak mirip mereka, aku pun gak mirip ibu dan ayah." ucapnya dengan jarinya menunjukkan foto keluarganya.
"Tapi… aku mirip sama omah aku, Bang. Ini omah aku, dia udah almarhum sejak aku masih SD. Ini omah dari pihak ayah aku. Dan…" jelasnya dengan membalikkan lembaran lain.
"Ini omah aku dari pihak ibu, dia mirip Naya menurut aku. Omah keturunan Tionghoa, omah ini kakeknya etnis Tionghoa. Tapi orang tuanya cuma keturunan aja, sama kaya omah. Omah juga udah almarhum sejak aku kecil." lanjutnya, dengan menunjukkan foto wanita yang memang sedikit mirip dengan Naya. Ini semakin membuatku merasa pusing. Omah dari kakeknya omahnya, rasanya tak sampai kejangkauan pemahamanku. Sedetail itu Maya menjelaskan, agar membuatku tak meragukan Naya lagi.
"Berarti kakek buyutnya ibu kau etnis Tionghoa macam itu?" ujarku dengan menurunkan pandanganku pada foto yang berada di tangan Maya.
Aku terdiam sejenak, memikirkan kemungkinan yang Maya jelaskan tadi. Bahwa Naya mirip nenek buyutnya, yaitu ibu dari ibu Rokhayah. Aku pun sering melihat anak yang mirip dengan anggota keluarga dari ayah atau ibunya, tak mirip dengan orang tuanya. Namun, aku seenaknya malah berprasangka bahwa Naya bukan anak kandungku.
Aku berpindah posisi untuk bisa berbaring di sebelah Naya. Ia menggeliatkan tubuhnya yang berselimut kain jarik bermotif batik. Aku sedikit memiringkan tubuhnya, dan menyangga di antara punggung dan tengkuknya.
"Maafin Papah ya, Nak. Anak Papah yang sehat-sehat, jangan rewel, jangan nakal. Baik budi ya, Nak… " ucapku lirih dengan menciumi seluruh wajah mungilnya. Aku melirik sekilas pada Maya, ia tersenyum terharu. Ia menghapus air matanya yang tak tertahan di kelopak matanya.
__ADS_1
"Kalau Abang minta tes DNA segala, aku pasti lebih milih cerai aja. Bukan karena apa-apa, tapi karena aku gak mau dipermalukan Abang sejauh itu. Karena aku hamil di luar nikah pun, keluarga besar aku udah merasa malu banget. Jangan sampai, Abang sengaja menambah-nambah masalah untuk mempermalukan keluarga aku. Kalau memang Abang gak percaya, bahwa Naya anak Abang. Abang boleh pergi dan tinggalin aku sama Naya, tanpa tes-tes segala. Aku gak maksa Abang untuk tetap tinggal, untuk pertahankan aku dan Naya. Aku harap ini yang pertama dan terakhir kalinya, Abang ngeraguin Naya." ungkapnya dengan berderai air mata. Ia berbicara pun dengan suara yang bergetar.
"Aku sakit hati pas Abang nyindir aku, masalah Naya gak mirip Abang. Aku sakit hati, pas pulang ke sini ternyata Abang banyak bekas kec*pannya. Entah itu bekas garukan, atau memang Abang bener-bener main perempuan di sana. Aku jalan sama Hamzah, yang kejadian kecelakaan itu. Aku sengaja pengen tau reaksi Abang. Apa panas liat aku sama yang lain? Apa ngerasain seperti yang aku rasain. Abang nuntut aku jadi yang terbaik, tapi Abang gak bisa dicontoh sebagai suami yang baik." lanjutnya dengan tangis yang terdengar begitu pilu.
"Jangan nangis, May. Tak baik untuk kesehatan kau, ingat kau lagi nifas. Ingat luka yang kau punya." sahutku dengan mendekatinya dan memeluknya, agar ia merasa tenang dan menyudahi kegiatan menangisnya.
Sepertinya c*pangan yang Dinda berikan, berdampak besar. Bukan cuma kawan-kawanku, yang akhirnya mengetahui tentang aku yang sudah menikah. Saat kejadian malam di mana aku berkumpul dengan Seila, mereka sangat puas mentertawakanku yang begitu pasrah karena diberi c*pangan yang lumayan banyak.
Tapi ayah pun mengetahui, bahwa aku memiliki perempuan lain. Lalu sekarang, ternyata Maya pun mengetahui tanda itu. Aku tak bisa mengelak, karena ia pun pasti paham akan tanda merah itu. Aku pun tak bisa berkata jujur, karena keadaan Maya yang seperti ini. Mau berterus terang pun aku takut, takut terjadi sesuatu padanya dan Naya.
Ternyata Maya jalan dengan laki-laki lain pun, karena pelarian atas rasa kecewanya padaku. Tapi tetap saja, itu adalah solusi yang tak bisa dibenarkan.
"Tinggalin dia, ayo kita mulai dari awal lagi. Dengan aku dan Naya." ujar Maya, dengan mendongak menatapku.
TBC.
Jadi, kalian di pihak siapa?
__ADS_1
Maya? atau Dinda?
Kira-kira bang Adi milih siapa ya? Ada yang bisa nebak? 🤔