Belenggu Sang Pemuda

Belenggu Sang Pemuda
BSP213. Obrolan keluarga


__ADS_3

"Sebetulnya ini semua adalah kegagalan dari rencana Abang. Abang cuma bisa berencana, tapi Allah malah kasih jalannya sendiri. Awal-awal niat Abang udah jelek Mi, Yah. Karena Abang udah niat zina, biar Dinda hamil terus minta tanggung jawab sama Abang. Dengan Dinda hamil kan, umi pasti restuin Abang. Kalau Ayah sih tak sesusah Umi, kasarnya Ayah masih bisa dilobi lah. Baru mau ambil tindakan, biar Dinda bisa hamil. Tapi malah Dinda nangis, terus ketauan warga. Karena waktu itu… rumah Abang belum semegah sekarang. Pagar rumah aja, bambunya udah pada keropos dan patah. Tembok juga keadaannya memprihatinkan, udah macam rumah tua. Setelah nikah, tinggal ujian ekonomi. Abang juga belum ada rencana buat bilang ke Umi waktu itu, karena Dinda belum hamil. Bulan berikutnya, Maya datang dengan segudang masalahnya. Di bulan itu juga, ternyata Dinda udah ngandung anak Abang. Di situ Abang mumet betul, karena Dinda sama Maya sama-sama lagi hamil. Yang Abang pahami, perempuan hamil tak boleh banyak beban pikiran. Terbukti dari Dinda hamil kembar, dengan keadaannya banyak pikiran. Selama kehamilan Dinda bolak-balik rumah sakit, janinnya pun punya sedikit masalah sama pernapasannya. Sampek ke lahirannya, Dinda bikin Abang panik. Karena dia tak sadar, setelah ngejan yang terakhir. Itulah sebabnya, makanya pas awal itu Abang pendam sendirian aja. Abang takut nyawa Dinda sama Maya jadi korbannya, kalau sampek mereka tau bahwa Abang beristri dua. Nah… rencananya Abang lagi, setelah Maya lahiran Naya dan Dinda lahiran Ghifar waktu itu. Maya Abang ceraikan, terus Abang resmikan Dinda. Tapi sulit betul ternyata, untuk ceraikan Maya. Udah macam itu, Dinda malah minta pisah. Tapi perpisahan Abang sama Dinda ditunda, pas dia hamil kembar. Akhirnya, kita mutusin lepas nifas baru pisah. Tapi sama Umi tak boleh, Maya juga mundur teratur. Ya udah, jadi nanti Abang rencananya mau resmikan sekalian resepsi pernikahan sama Dinda. Keknya bulan depan, karena perhiasannya baru pesan tadi." ungkap Adi dengan memperhatikan kedua orang tuanya.


Adi menghela nafas beratnya, "Sebetulnya bisa aja, Abang nikah resmi tanpa restu orang tua. Tapi masalahnya, waktu itu Dinda yang tak mau Abang nikahin. Dinda bilang restu orang tua itu penting, mending tak usah dilanjut kalau tak dapat restu. Kalau tak percaya, coba baca balik Sang Pemuda. Di situ Dinda nolak Abang, dia juga tak mau untuk Abang nikahin tanpa restu. Tapi karena Abang udah terlanjur mabok, Abang maksain kehendak Abang. Terus terjadilah pernikahan siri itu, Mi. Awalnya warga minta untuk nyerahin Abang ke WH, tapi pak cek ada bilang bahwa Abang sama Dinda ini suka sama suka. Jadi katanya, ya udah nikahin aja dari pada bawa sial di kampung itu. Makanya kenapa Abang maharin pakek ladang, karena memang Abang tak punya uang atau barang lainnya. Mana uang Abang tinggal dua jutaan aja waktu itu, tak mungkin juga maharin Dinda uang dua juta. Pasti dia langsung nolak Abang mentah-mentah, karena dia barang mahal tak mungkin dihargai murah. Yaa… itung-itung suap biar Dinda mau sama Abang." lanjut Adi, yang berakhir mengundang tawa renyah dari mereka. Dengan Dinda yang menepuk tangan suaminya, lalu ia bersandar pada lengan berotot milik suaminya.


"Ohh… berarti Dinda cakap waktu itu tak bohong ya?" sahut pak Dodi kemudian.


"Ya tak lah, Yah. Biarpun keahlian aku ngarang cerita, tapi tentang kisah cinta aku sama Abang. Aku tak ngarang lah, cuma sama Author ditambahkan kaldu jamur aja." balas Adinda dengan Adi yang menoleh ke arah Adinda, dengan langsung mendaratkan ciumannya di pipi istrinya.


"Ok, ok. Jadi kapan Ayah harus ke rumah orang tua kau, Din?" tanya pak Dodi dengan memperhatikan Adinda yang tengah kesal pada suaminya, karena Adi terus menerus menciumi pipinya berkali-kali.

__ADS_1


"Nanti, Yah. Lepas Abang siapin masalah perhiasan sama keperluan pernikahan lainnya aja. Kalau ibunya Dinda sih, malah nyuruhnya suruh bahagia aja tak pulang-pulang juga tak apa. Ayahnya juga terserah ke Dinda aja, mereka pengen Dinda seneng. Cuma Dindanya aja, yang bikin cerita ini berbelit-belit." jawab Adi dengan melirik istrinya.


Adinda langsung mencomot mulut suaminya, dengan tawa Adi yang terdengar begitu lepas.


"Nah tuh, Mi. Dulu setega itu sama Dinda sama Adi? Begitulah hasilnya, cucu segudang kita baru tau sekarang. Kalau anak itu, tinggal diarahin aja. Tak perlu dilarang, karena mereka berpikir larangan itu untuk dilanggar. Coba kalau dari dulu Adi sama Dinda nikah, mungkin anaknya udah tujuh atau delapan itu. Kalau misal awal mereka nikah kita tau, Adi tak betul jadi kepala keluarga. Kita yang jadi orang tuanya tuh nasehatin, arahin Adi baiknya macam mana. Kalau rumah tangga mereka renggang karena ekonomi, kita yang jadi orang tuanya bakal bantu perekonomian mereka sampek mereka siap dilepas sendiri. Kita ini orang tua, meski anak-anak kita udah pada nikah dengan pilihannya sendiri. Kita tetap harus kontrol, harus arahin mereka kalau mereka salah. Tak perlu terlalu jauh ikut campur, kita benahi yang nampak salah di depan mata kita aja. Atau kalau mereka butuh solusi dari permasalahan rumah tangga mereka, kita kasih solusi terbaiknya. Karena sedikit banyaknya, kita merasakan sendiri bagaimana ujian di rumah tangga kita. Janganlah kasih patokan sempurna, untuk jadi calon mantu kita. Dengan anak kita bahagia, bisa berubah menjadi lebih baik lagi itu. Udah bisa jadi kemungkinan, bahwa memang calon mantu yang mereka pilihkan udah yang paling baik dari yang terbaik. Dari awal Ayah udah naruh yakin sama Dinda, tapi Umi bagi tau Ayah kalau Dinda macam inilah itulah. Sampek jodoh-jodohkan Adi, terus terlalu ngelarang Adi untuk dekat sama Dinda. Itu secara tak sadar, bikin Adi makin nekat untuk dapatkan Dinda." ujar pak Dodi dengan menggenggam tangan istrinya.


"Sekarang udah terlanjur. Setelah ini, semoga tak ada yang ngumpet-ngumpetin cucu kita lagi. Kita tinggal jagain Zulfa sama Zuhra, nikahin mereka kalau mereka udah nemuin pendamping hidup yang tepat. Juga udahin acara jodoh-jodohin anak lagi, cukup pengalaman kita dari kasus Adi aja. Biarin Zulfa suruh milih sendiri, jangan maksa suruh sama Wahyu. Kalau dia mau sama Jefri ya udah biarin, Jefri pun dalam kontrolnya Adi. Biarin mereka balik lagi, kita jangan terlalu ikut campur." lanjut pak Dodi dengan tersenyum lebar pada istrinya.


Adi yang sedari tadi tengah memperhatikan kedua orang tuanya, kini ia memutar lehernya untuk menoleh ke arah istrinya.

__ADS_1


"He'em, Abang juga sekilas pernah dengar ceritanya dari Zuhra. Jadi Dek, Wahyu itu dia PNS. Tapi Adek tau tak? Ternyata Wahyu itu duda." sahut Adi dengan menurunkan suaranya.


Mata Adinda melebar, "Ya ampun, duda? Aku dulu di godain duda ora iya, ora mbuh. Aku takut duda itu lebih sayang sama anaknya nanti, tau-tau dia nikahin aku karena butuh baby sitter lagi." balas Adinda kemudian.


"He'em… manakan si duda itu, duda cerai Dek. Jangan-jangan dia sama istrinya dulu cerai, karena kesalahan dari laki-lakinya Dek." ujar Adi yang membuat ibu Meutia dan pak Dodi melongo, kemudian mereka memandang satu sama lain.


"Sejak kapan kau pandai ghibah, Bang?" tanya ibu Meutia yang membuat Adi dan Adinda langsung memusatkan perhatiannya pada ibu Meutia.


Adi langsung memasang senyum kudanya, dengan Adinda yang terkekeh geli dengan menutup mulutnya.

__ADS_1


......................


__ADS_2