
"Akak hancur, Dek. Tau bang Adi punya istri lain, selain Akak. Akak kecewa, karena bang Adi tega bohongin Akak sejauh ini. Akak macam orang bodoh, yang diam aja saat semuanya terjadi. Akak tak bisa bayangin malam-malam Abang tanpa Akak, di mana abang kau numpahin rasanya sama perempuan itu. Akak tak bisa bayangin, macam mana anak perempuan dari istri lainnya itu kasih kebahagiaan untuk bang Adi. Akak tak sanggup bayangin itu semua, karena Akak udah cukup hancur dengan kenyataan ini. Akak ikhlas, Dek. Akak coba lupain ini semua, terus biarin bang Adi bahagia sama yang lain. Karena Akak sadar, Akak tak sanggup jika memperpanjang masalah ini. Berjuang sama bang Adi pun rasanya udah tak mungkin. Karena Akak tak bisa nahan air mata kecewa Akak, setiap kali liat bang Adi. Jadi untuk apa juga dipertahankan? Karena yang ada itu cuma rasa sakit, yang Akak rasakan. Kalau ngutamain perasaan, Akak sadar Akak pasti kalah akan rasa itu. Tapi Akak tak mau mikirin diri sendiri aja, kasian perempuan itu juga pasti abang kau bohongin. Mau bagaimana pun juga, status Akak pasti kalah dengan perempuan itu. Karena perempuan itu resmi, sedangkan Akak siri. Akak tak mau mempersulit keadaan ini, biar mereka bahagia dengan cara seharusnya. Tanpa halangan dari Akak, kalau masalah anak-anak bisa nanti dibicarakan dengan baik. Karena Akak paham, bang Adi pasti keberatan akan anak-anak Akak. Akak cuma mau akte anak-anak ikut bang Adi, biar nashab mereka jelas. Udah itu aja, kalau mereka hidup dengan siapa? Biar nanti sama Akak, atau satu di Akak, satu di bang Adi." ungkap Dinda dengan suara bergetar, terdengar juga isakannya yang begitu pilu.
Andai saja Dinda mau mendengar penjelasanku, pasti ia tak berprasangka sejauh ini.
Dengan ia mengatakan hal tersebut, membuatku merasa bersemangat untuk mempertahankan hubunganku dengan Dinda kembali. Ternyata hatinya masih milikku, ternyata cintanya masih untukku.
"Aku mohon, Kak. Tetaplah sama-sama sama bang Adi, kasian anak-anak. Akak harus percaya, sama ucapan bang Adi. Sedikit banyaknya, aku dengar cerita tentang bagaimana bang Adi memperlakukan kak Maya. Tempat kak Dinda di hati bang Adi, tak ada tandingannya dari siapa pun. Setidaknya dengar apa yang bang Adi jelasin ke Akak dulu." sahut Zuhra kemudian.
"Akak masih butuh waktu untuk nenangin diri. Akak masih belum pengen dengar apapun tentang Maya sama bang Adi. Akak masih belum bisa nerima semuanya." balas Dinda dengan sesenggukan.
Andai saja aku berada di sisinya, pasti pelukanku cukup menenangkan dirinya.
"Jadi macam mana tentang anak-anak, Kak? Akak kapan pulang, mereka butuh ibunya." ujar adikku kembali ke pembahasan awal.
"Besok Akak pulang, tapi Akak minta tempat di lantai atas. Tolong nyuruh orang buat bersihin lantai atas. Nanti bilangin ke abang kau, Akak mau tinggal di lantai atas. Terus bang Adi tak boleh naik ke atas." tuturnya membuatku geleng-geleng kepala. Kenapa harus demikian? Memang senajiz itu kah aku untuknya?
"Ya Kak, besok pulangnya ati-ati ya." tukas Zuhra. Lalu panggilan telepon mereka terputus, setelah salam terdengar dari Dinda.
"Semangat dong, Bang. Setidaknya, akak sama Abang masih tetap satu atap." ucap Zuhra dengan bangkit dari posisinya, lalu menepuk pundakku beberapa kali.
Aku hanya mengangguk saja, kemudian ia berlalu pergi ke kamarnya.
Rasanya aku ingin memakai pelet, untuk meluluhkan hatinya. Aku ingin Adindaku klepek-klepek dan bertekuk lutut padaku.
__ADS_1
"Bang… diminta angkat telepon dari umi itu." seru Zuhra yang memunculkan kepalanya dari balik pintu kamarnya.
"Ya, Dek." sahutku dengan berjalan ke kamar, untuk mengambil ponselku.
Aku meraih ponselku, lalu berjalan lagi ke luar dari kamar. Karena di dalam kamar bayi kecilku tengah tertidur pulas, dengan pendingin ruangan yang terasa menyejukkan kulit. Padahal cuaca di tempatku sudah cukup sejuk, tapi bayi itu bisa merasa nyenyak sampai mendengkur jika pendingin ruangan terasa menyejukkan kulitnya.
"Hallo, Umi." ucapku, setelah panggilan teleponku terhubung.
Aku menduduki kursi, dengan kaki yang aku angkat di atas meja. Perutku lapar, tapi tidak ada apa pun untuk dimakan. Untuk keluar jauh mencari bakso atau mie ayam rasanya aku malas betul, karena sekarang waktu sudah menunjukkan tengah hari.
"Hallo, Bang. Gimana kabarnya?" tanya umiku dalam sambungan telepon.
"Baik, Umi. Umi gimana keadaannya? Udah mendingan belum?" jawabku dengan bertanya balik.
Sepertinya aku harus memesan makanan pada ibunya Shasha saja, karena bangun tidur nanti anak-anakku pasti makan. Entahlah kalau Zuhra, ia tak pernah terlihat makan. Nafsu makannya sudah begitu buruk, ditambah lagi ditinggal oleh Dinda. Selera makannya semakin kacau, tubuhnya saja sampai terlihat begitu kurus. Ia terlihat tak pernah membawa piring untuk dirinya sendiri. Hanya cemilan dan makanan ringan saja yang masuk ke mulutnya.
"Betul, Umi. Tapi Umi tak percaya kan sama cerita Abang waktu itu?" balasku kemudian.
"Bu… bikin nasi selauknya tiga bungkus. Ayam, tumis kangkung, tahu, tempe. Yang dua kasih sambel, yang satu jangan kasih sambel." ucapku berbicara pada ibunya Shasha.
"Cukup tak lauknya?" tanyanya dengan menunjukkan banyaknya lauk yang ia bubuhkan.
"Kasih dadar juga buat yang tak kasih sambelnya itu." jawabku kemudian.
__ADS_1
"Komplit ya… ada protein hewani, ada sayur, ada protein nabati juga." timpal Shasha yang membantu ibunya membungkuskan makanan untukku.
"He'em, biasanya macam itu kalau sama mamahnya. Makanya masak aja kadang butuh waktu lama, karena masaknya tak satu menu aja." jelasku dengan menyerahkan uang lima puluh ribuan padanya.
"Nanti dianter aja ya, Sha." ujarku dengan berlalu pergi.
"Lagi pesen makanan, Bang?" tanya umi yang masih tersambung dengan panggilan telepon.
"Ya, Umi. Zuhra tak masak." jawabku sambil berjalan menuju halaman rumahku.
"Mamah siapa? Apa Zuhra udah punya anak di sana?" tanya umiku setelah terdiam sejenak. Mungkin umi mendengar percakapanku dengan Shasha dan ibunya tadi.
"Bukan anak Zuhra juga. Lagi ada temen bawa anaknya. Macam mana Umi keadaan Zulfa di sana? Dengar-dengar katanya Zulfa putus sama Jefri, betulkah itu?" tanyaku mengalihkan pembicaraan.
"Katanya break. Memang break sama putus beda kah, Bang? Lagi sakit Zulfa juga, badannya panas kalau malam, diare juga." jawab umi terdengar seperti tengah khawatir.
"Break ya menurut Abang sama kek putus. Cuma bedanya kalau break itu masih pacaran, tapi macam istirahat dulu. Tak komunikasi dulu, tapi statusnya masih pacaran. Awas tifus, dulu Dinda kena tifus tuh demamnya malam aja. Bedanya Dinda sembelit, bukan diare. Tapi sembelit maupun diare, kan tetap masalah pencernaan. Diperiksa darah aja, apa tuh namanya… tes widal kalau tak salah." jelasku dengan mengambil sendok dan piring. Aku harus mengisi perutku dulu, sebelum bayi rewel itu bangun.
"Terus waktu Dinda sembuhnya diapain, Bang?" ujar umi.
"Ya sembuhnya di rawat di rumah sakit, sampai empat apa lima hari. Abang tuh sampek khawatir, waktu Dinda kena tifus. Soalnya sampek lemes betul dia, mana kalau magiin dia menggigil." tuturku bercerita.
"Ohh… serumah ya dulu, Bang? Sampek tau semua macam itu." tukas umiku yang membuatku memejamkan mata sejenak. Aku melupakan sesuatu, bahwa umi tak mengetahui apapun tentang aku dan Dinda.
__ADS_1
"Tuh… diam aja." lanjut umiku yang tak mendapatkan jawaban dariku.
......................