Belenggu Sang Pemuda

Belenggu Sang Pemuda
BSP84. Ucapan Haris


__ADS_3

"Tak, Bang. Cuma habis muntah aja. Aku sering mual, kalau tak cium bau Abang." sahut Adinda kemudian.


"Sabar ya, nih hari ini Abang mau ke rumah ibu dulu. Mau cerita soal Adek." ungkap Adi dengan tersenyum manis. Ia mencoba meyakinkan istrinya, agar ia tenang dan mau bersabar sedikit lagi. Karena Adi yang terus mengundur kepulangannya ke provinsi A.


"Janji besok pulang, ya Bang? Aku tak mau sendirian di sini. Sepi betul, aku cuma berduaan aja sama Givan." ucap Adinda. Adi pun mengerti perasaan Adinda. Ia pun berharap Maya segera melahirkan. Agar ia bisa cepat kembali ke istri sirinya.


"Abang usahain. Sabar ya, Dek." sahut Adi.


"Siapa itu?" tanya seseorang, yang membuat Adi terkejut, dengan reflek bergeser dari posisinya.


"Is, Ken! Ngagetin Papah aja." seru Adi, dengan mengusap-usap dadanya.


Kenandra terkekeh geli, "Hallo Mamah… Adek aku udah keluar belum?" tanya Kenandra yang langsung duduk dipangkuan Adi.


Anak laki-laki Haris yang irit bicara, dan sulit untuk bergaul itu. Ternyata sudah mengenal Adi, dan mereka terlihat sudah saling akrab.


"Belum, Bang. Dua bulan lagi keluar." jawab Adinda dengan senyum samar. Ia memperhatikan Kenandra yang duduk dipangkuan suaminya. Sedikit terbesit di pikirannya. Harusnya Givan yang suaminya dekap itu, bukan anak dari temannya. Adinda sudah merindukan pemandangan itu.


"Nanti aku ke Mamah. Sama Adek Kin." sahut Kenandra kemudian.


"Boleh, nanti di sini juga Abang bisa ketemu sama umi Sukma." balas Adinda menyahuti.


"Aku yang tak mau ketemu umi. Ketemu sama Mamah aja udah. Aku tak butuh umi." ujar Kenandra, bertepatan dengan Haris yang memasuki gerbang rumahnya. Haris mendengar ucapan anaknya itu.


Haris tak pernah membunuh karakter Sukma di kehidupan anak-anaknya. Hanya saja, memang Kenandra beranggapan salah dengan perginya ibunya dari sisinya. Meski berulang kali Haris menjelaskan bahwa ibunya tak seperti yang Kenandra sangkakan, tapi tetap saja anak itu lebih percaya dengan kenyataan yang terjadi. Tanpa ia ketahui dengan jelasnya.


"Tak boleh gitu, Nak." ucap Haris yang menarik atensi mereka semua. Lalu Kenandra menoleh ke arah Haris, kemudian langsung berlalu masuk kembali ke dalam rumahnya.


Haris menurunkan Kinasya dari sepeda roda tiganya, dan membawanya duduk di pangkuan Adi.

__ADS_1


"Maa… Ma… Mama…" celoteh Kinasya yang melihat ke layar ponsel Adi.


"Hai, Dek. Wah, sekarang udah pandai ya manggil Mamah." sahut Adinda yang bisa melihat gambar Kinasya di layar ponselnya.


Lalu terdengar suara tawa renyah dari gadis kecil itu, dengan disusul celotehnya yang tak dimengerti oleh Adinda.


"Padahal baru tadi dipuji, malah bikin pusing aku sekarang. Dasar bocah!" balas Adinda pelan, Adi dan Haris hanya terkekeh kecil mendengar ucapan Adinda.


"Kin mau bobo dulu ya, Mah. Dadah…" ujar Haris dengan mengangkat Kinasya dari pangkuan Adi, lalu ia memberikannya pada gendongan pengasuh Kinasya. Terdengar teriakan protes serta rengekan dari Kinasya, saat dirinya yang digendong pengasuhnya berlalu masuk ke dalam rumah.


"Sehat, Dek?" tanya Haris kemudian, dengan dirinya duduk di sebelah Adi. Adi pun sedikit menjauhkan layar ponselnya, agar Adinda bisa melihat dirinya dan juga Haris.


"Alhamdulillah, Bang. Aku pengen cepet pulang juga, udah kangen sama orang tua. Kangen juga sama anak-anak dan kalian." jawab Adinda dengan memperhatikan kedua laki-laki tersebut, di layar ponselnya.


"Abang juga kangen kali, Dek." sahut Haris yang langsung mendapat delikan tajam dari Adi. Lalu ia hanya bisa terkekeh geli dengan melirik Adi sekilas.


"Tapi kau jangan pulang, udah aja di sana. Biar seneng terus, biar bahagia terus. Nanti kalau kau balik, keknya malah bikin kau murka. Lagian ya, buat apa juga kau balik. Kalau kau di sana aja udah seneng." ungkap Haris kemudian. Adi menoleh ke arah Haris dengan mengerutkan keningnya, ia merasa tercengang dengan ucapan Haris barusan. Seolah-olah Haris tengah memberikan gambaran tentang sesuatu yang dirinya sembunyikan dari Adinda.


"Ya, Dek. Ada sesuatu, nanti kau patah hati lagi." jawab Haris yang membuat jantung Adi langsung berdetak cepat.


"Apa itu, Bang?" balas Adinda dengan ekspresi penasaran, yang begitu terlihat jelas.


"Alvi maksa kali, dia minta nikah sama Abang. Jadi keknya kau bakal gagal, untuk jadi mamahnya anak-anaknya Abang Dek." jelas Haris yang membuat tawa Adinda terdengar.


"Dodol, aku udah penasaran betul. Kirain ada apaan." tutur Adinda kemudian.


"Tau nih, tak jelas betul kau Ris." timpal Adi dengan kembali memperhatikan wajah istrinya di layar ponsel.


Haris tertawa sejenak, "Udah sana kau balik! Aku mau nyambung tidur." ucap Haris dengan melangkah masuk ke dalam rumah.

__ADS_1


"Udah dulu ya, Dek. Abang mau pulang, nanti langsung ke ibu." ujar Adi pada istrinya.


"Oh, iya Bang. Kabarin lagi ya." sahut Adinda kemudian, lalu Adi mengiyakan dan memutuskan sambungan teleponnya.


Adi melangkah menuju ambang pintu rumah Haris, "Zulfa… ayo balik." seru Adi.


"Ya, Bang." sahutan Zulfa yang berada di dalam rumah Haris.


Lalu Adi memasuki mobil istrinya, dan menunggu adiknya di dalam mobil tersebut.


Beberapa menit kemudian, mereka telah sampai di halaman rumah milik Adi. Zulfa berjalan lebih dulu, dengan membawa sebagian perlengkapan yang ringan dibawa. Dengan Adi yang menyusul dengan membawa perlengkapan lainnya, yang baru saja ia beli.


Setelah rapih, ia menemui Maya yang tengah duduk bersama ibunya di ruang keluarga.


"May, Abang ke peternakan ya. Abang tak balik, telepon aja kalau udah berasa." ungkap Adi dengan duduk di sebelah Maya.


Maya menoleh ke arah Adi, "Baru juga pulang, Bang. Udah mau pergi lagi aja." sahut Maya dengan menawari Adi piring berisikan potongan buah yang tengah ia makan.


Adi menggeleng, menolak buah yang Maya tawarkan.


"Nanti baju-baju, popok, celana sama sarung tangan bayinya dicuci dulu May." ujar Adi kemudian.


"Kenapa sih tak Abang aja? Giliran cuci, ini itu. Tetep aja aku yang disuruh." balas Maya dengan fokus pada televisi di hadapannya.


Adi menghela nafasnya, "Bisa tak, tak ngebantah perintah suami? Orang tuh jangan malas coba! Yang banyak gerak, lahiran normal tuh bukan hal yang mudah. Harus diusahakan juga, kau ngepel jongkok kek, atau ngelap-ngelap kek. Perasaan kau nyantai terus tiap kali Abang ada di rumah." ujar Adi dengan suara yang mulai naik.


Ibu Rokhayah menggelengkan kepalanya berkali-kali, ia begitu muak dengan menantunya yang selalu meninggikan suaranya pada anaknya.


"Memang kamu mau ke mana? Kok buru-buru banget? Sampek gak mau bantuin nyuciin pakaian calon anak kamu dulu." ucap ibu Rokhayah menyahuti ucapan Adi.

__ADS_1


Adi hanya terdiam, terlihat ia tengah berpikir.


TBC.


__ADS_2