Belenggu Sang Pemuda

Belenggu Sang Pemuda
BSP224. Suami terbaik


__ADS_3

Aku merasakan gerakan Adi's bird, saat aku menekannya ke part belakang istriku.


"Ng*ceng itu, Bos!" ucap istriku terdengar cuek saja.


"Tak kangen kah?" sahutku dengan mengeratkan pelukanku. Kepalaku berada di ceruk lehernya, aku menyesapi bau keringat khas istriku.


"Nanti aja, biar menggebu-gebu. Tahan aja dulu kangennya, Bang." balas istriku dengan memindahkan beberapa piring ke sebelah tempat cuci.


Entah kenapa, ucapannya seolah tak mengizinkanku untuk memasukinya.


"Betul tak pengen kah? Udah beberapa hari tak campur, Dek." tanyaku memastikan.


"Abang mau jajan tak? Aku belikan perawan kah?" jawabnya yang membuat jantungku tersentir. Aku langsung melepaskan pelukanku, lalu menghadapkan tubuhnya ke arahku.


"Aku belum selesai nyuci piringnya ini! Aduh, lepas Bang!!" ujar istriku dengan menggoyangkan lengannya, agar terlepas dari cengkramanku.


"Cepet cuci tangan! Abang mau ngomong sama Adek." seruku dengan melepaskan genggaman tanganku pada lengannya.


Aku kesal, aku marah mendengar penuturannya barusan. Ia seperti tak punya perasaan padaku, dengan terang-terangan dia memintaku tidur dengan yang lain. Apa kabar kemarin, saat aku mempunyai status dengan laki-laki yang berpoligami? Ia selalu mengatakan, bahwa ia jijik padaku. Dengan tanpa belas kasihnya, ia membiarkan seluruh kewajibanku ia tunaikan sendiri.

__ADS_1


Aku duduk di kursi ruang tamu. Aku bisa melihat Naya dan Ghifar tidur dalam satu tempat tidur, di ruang keluarga dari celah tembok dari kayu ukir ini. Sedangkan Givan, tidur di kasur lainnya dengan memeluk guling.


Pikiranku campur aduk. Aku takut Dinda malah mengurungkan niatnya, untuk meresmikan pernikahan kami karena permasalahan jenuh ini. Aku takut, permasalahan ini tak memiliki jalan keluar. Benarkah pernikahan jika tidak ada badai yang menerpa, maka permasalahan muncul dari diri kita sendiri seperti ini? Seperti yang tengah aku dan Dinda rasakan saat ini.


Terlihat Dinda berjalan ke arahku, dengan membenahi ikatan rambutnya. Sungguh cintaku masih untuk dirinya, tapi kenapa rasa yang bisa aku tebak ini membuatku jenuh akan hubungan ini?


"Apa, Bang?" tanyanya dengan duduk di sebelahku, dengan menyilangkan kakinya.


"Adek jenuh sama Abang?" tanyaku dengan menggenggam tangannya yang berada di atas pahaku.


Dinda menoleh ke arahku dengan tersenyum lebar, "Hmmm…. Mungkin sedikit. Mungkin kita lagi capek aja sama keseharian kita, mungkin kita lagi tak punya masalah aja jadi bosen di titik ini." jawabnya kemudian.


"Harus macam mana sih kita ini?" sahutku dengan merangkul pundaknya. Aku ingin tetap harmonis, meski perasaan kami seolah tengah membeku sekarang.


"Harusnya Abang tak hamili aku waktu 31 hari itu. Dengan aku yang bisa bagi waktu, dengan olahraga rutin saat itu kan bisa bikin Abang betah. Masalahnya… aku ini udah tak enak untuk jepit Abang. Sebelum Abang melakukannya sama aku juga, Abang udah bisa nebak rasa aku yang masih lebih kuat genggaman Abang ini. Dari situ Abang males untuk hubungan, karena memang tak enak untuk dinikmati. Berlanjut dari situ, sekarang anak kita udah banyak meski usia kita masih produktif. Aku tak minta baby sitter, atau semacamnya. Lebih baik kan, tugas rumah yang diganti orang dari pada jaga anak. Pikir aku… entah seminggu tiga kali, atau dua kali. Aku dikasih waktu sekitar dua jam, untuk bugarin badan aku di tempat gym. Tapi itu juga masih belum di-ACC sama Abang, Abang enggan aku jauh dari anak hanya untuk beberapa saat aja. Abang enak, bangun tidur masih bisa peregangan, atau lari ngitarin rumah, ditambah macam up-up'an yang lain. Nah aku, bangun tidur kadang keduluan anak Bang. Boro-boro mau olahraga, karena kelima anak aku masih kenceng minum susu. Tak Givan, Naya, Ghifar, kembar juga, bangun tidur pasti minta susu. Dari situ aku lanjut kan, untuk bikin sarapan dan nyuapin anak-anak. Baru bisa selesai jam sembilan, kalau lancar dan tak ada yang ngamuk. Bukan aku keberatan, dengan anak banyak macam itu. Cuman… aku minta waktu, untuk olahraga biar Abang tetap betah. Ok, aku paham dan Abang pun paham juga. Bahwa aku macam ini, karena lahirin keturunan Abang. Tapi suatu saat Abang punya keturunan sama perempuan lain, aku tak mungkin ikhlas gitu aja. Jadi kan, bagaimana caranya biar Abang betah sama aku dan tak cari perempuan lain? Di depan aku Abang sok tak mau, karena takut nyakitin aku. Ada kesempatan, ada perempuannya, ada uang juga, udah itu kejadian Maya-Maya yang lain." ungkap Adinda dengan menyerongkan tubuhnya, menghadap ke arahku.


Aku tak berpikir sejauh itu, aku kira masalah olahraga sudah berakhir waktu itu. Kenapa ini malah semakin rumit untukku? Aku harus bagaimana? Aku kepala keluarga, aku ingin istriku tetap bersama anak-anakku, tapi keharmonisan rumah tangga kami yang sekarang menjadi taruhannya.


"Abang kan sekarang nganggur juga. Buat ngecek keadaan usaha kita, tinggal Abang kontekin orang-orang kita aja. Entah kalau lagi di provinsi A, Abang punya kesibukan ngecek ke ladang. Nah, sekarang kan kita lagi di kota C. Abang tak punya kegiatan juga, Abang yakin tak mau gantiin aku jaga anak-anak?" lanjutnya karena aku terdiam sambil tengah berpikir keras.

__ADS_1


Sepertinya semacam pengasuh bayi paruh waktu, harus kuambil untuk membantu Dinda yang keteteran ini sampai tak bisa mengurus dirinya sendiri. Dek Ning sepertinya mau, untuk ikut dengan Dinda dalam mengurus anak-anak. Jika aku tengah sibuk di ladang, sedangkan Zuhra fokus pada warnetnya.


Aku tersenyum manis padanya, dengan mendaratkan kecupan kecil di pipi kirinya.


"Abang egois ya? Abang tak pengertian ya? Maaf ya?" ucapku dengan senyum yang aku pertahankan.


"Tak juga. Abang suami yang baik, sayang istri dan anak-anak. Mungkin aku yang terlalu banyak nuntut. Aku begini, karena aku takut ada Maya-Maya yang lain. Aku takut, Abang bertahan hanya karena anak-anak aja. Bukan karena Abang masih cinta sama aku. Meski aku tak secantik dulu lagi, tapi aku pengen aku tetap yang terindah untuk Abang. Aku tau, laki-laki suka keindahan dari dalam diri wanitanya. Aku tetap ingin ngusahain keindahan aku, untuk Abang." sahutnya yang membuatku malah ingin menangis. Dasar Adi Riyana cengeng! Tak diapa-apakan, udah mau nangis aja.


"Adek tetap cantik, meski perawatannya cuma kisaran dua puluh jutaan aja. Adek…" aku belum menyelesaikan ucapanku, tapi terdengar tawa tertahan dari istriku.


"Katanya perawatan tergantung kebutuhan. Aku ambil yang aku butuhkan aja, Abang bilangnya macam itu." sela istriku kemudian.


Entah kenapa aku malah tertawa, dengan diikuti Dinda yang mentertawaiku juga. Dinda menepuk-nepuk pahaku, agar aku berhenti dari tawaku.


"Udahlah, jangan dibahas. Nanti dek Ning Abang minta ikut Adek, kalau udah di provinsi A. Karena Abang tak selalu ada di rumah, Abang mesti cek langsung ke ladang juga banyak urusan tentang ladang kita. Kak Yusniar, tetap beresin rumah. Terus Dek Ning, bantu Adek urus anak-anak. Adek wajib olahraga, kan kita punya tuh alat gym sendiri. Nanti macam biasa aja, ada instruktur senam yang ke rumah. Biar nanti kita bayar perbulannya, macam biasa aja. Biar Adek tetap stay di rumah, tetap bisa kontrol anak-anak meski Adek olahraga juga. Kalau sementara di sini, Adek aja yang datang ke gym sendiri. Abang yang sementara jaga anak-anak, tapi paling lama dua jam ya Dek. Adek juga harus jaga kepercayaan Abang, jangan iseng ngobrol sama laki-laki yang ada di tempat gym." jelasku yang membuat senyum Dinda mengembang.


Istriku mengangguk beberapa kali, lalu memelukku sangat erat. Begini kah, cara menyenangkan istri? Semoga untuk segala yang telah kami usahakan, rasa jenuh ini cepat menghilang dari keharmonisan rumah tangga kami. Semoga segala usaha Dinda, untuk mempertahankan hubunganku dengannya membuahkan hasil yang terbaik. Aku ingin menjadi suami dan ayah yang terbaik, untuk keluarga kecilku ini.


TBC.

__ADS_1


Aku harus jujur.... sebenarnya ini mau tamat. 🥺


__ADS_2