
Adi tertidur pulas selama beberapa jam. Ia bangun, dengan langit yang telah melewati masa senjanya.
Adi bergegas bangun, dan menuju ke kamar mandi. Untuk membersihkan dirinya. Setelahnya, ia menjalankan shalat maghribnya.
Lalu ia berjalan menyisiri rumah mertuanya, bertujuan untuk mencari keberadaan istrinya. Namun ia tak menemukan Maya di dalam rumah ini.
'Ke mana itu betina?' gumam Adi. Lalu ia melangkah ke luar dari rumah itu, dan berjalan menuju ke rumah yang adiknya tempati. Ia ingin mengetahui kabar adiknya. Dan ia ingin memastikan, apa Jefri masih berada di rumahnya itu.
Namun Adi mendapati mobil Jefri, yang masih stay di halaman rumahnya.
Ia bersandar pada pagar rumah mertuanya, dengan memperhatikan rumahnya yang terlihat tidak berpenghuni tersebut.
'Berapa ronde mereka? Giliran nikah nanti tinggal bosannya aja.' gumam Adi dalam hatinya.
Lamunannya terganggu, saat sebuah mobil berwarna silver berhenti tepat di depannya.
'Siapa lagi ini?' gumam Adi, dengan mengamati seseorang yang sepertinya enggan turun dari dalam mobil itu.
Adi menaikan alisnya, saat seorang laki-laki seumurannya turun dari tempat kemudi. Dan berjalan memutar, untuk membukakan pintu untuk seseorang yang berada di kursi sebelahnya.
Adi menggelengkan kepalanya miris. Melihat istrinya dalam keadaan hamil besar, diantar pulang oleh laki-laki lain.
Maya tersenyum canggung pada Adi, saat dirinya sudah berada di hadapan Adi.
"Aku langsung pulang ya, May." ucap laki-laki yang mengantar Maya tersebut. Maya hanya mengangguk dan memberi senyum ramahnya.
Lalu mobil tersebut mulai meninggalkan tempat tersebut, dengan menekan klakson satu kali.
Adi masih terdiam membisu, ia hanya menatap marah pada Maya.
"Bang, itu cuma taksi online." ujar Maya lirih.
Adi hanya mengangguk, dan menyuruh Maya masuk ke rumah. Dengan Adi yang mengekori langkah kaki Maya.
Maya tak memahami, bahwa Adi sudah dikepung emosi. Maya tak memahami, akan ada sesuatu yang dahsyat terjadi setelah ini.
Setelah Adi menutup pintu rumah itu. Adi langsung melemparkan pot bunga hias, yang terdapat di dalam ruang tamu itu. Yang berada tak jauh dari jangkauan tangan Adi.
Bruk…
Suara pot plastik yang pecah, dengan tanahnya yang mengotori ruang tamu tersebut.
Maya tersentak kaget, ia langsung gemetaran saat menoleh ke arah suaminya. Ia mendapati Adi tengah menatapnya tajam, dengan rahang yang mengeras.
"MATI AJA KAU, MAY!!!" teriak Adi penuh amarah.
__ADS_1
Maya menggelengkan kepalanya, dengan memundurkan tubuhnya. Saat Adi berjalan mendekatinya.
"KAU KIRA AKU SEBEDOH ITU?"
"KAU KIRA AKU PERCAYA?"
"DIKASIH HATI MALAH MINTA JANTUNG, KAU YA?"
"KAU SENGAJA MAU BIKIN MALU AKU?"
"KAU SENGAJA MAU INJAK-INJAK HARGA DIRI AKU SEBAGAI SUAMI KAU?"
"KALAU KAU MEMANG TAK BISA JADI IBU YANG BAIK BUAT ANAK AKU NANTI, TINGGAL KAU BILANG SAMA AKU. BILANG BUAT CERAIKAN KAU. ANAK SERAHIN KE AKU. BIAR KAU BEBAS SAMA LAKI-LAKI MANAPUN."
"KAU TAK BISA JAGA MARWAH KAU SEBAGAI ISTRI AKU!"
"KAU MALU-MALUIN, MAY!!!"
"DI MANA PIKIRAN KAU?"
"DIPERTAHANKAN MALAH NAMBAH DOSA AJA KAU!!!"
Teriak amarah Adi penuh emosi. Lalu Adi pergi begitu saja dari rumah itu.
Ibu Rokhayah berpikir bahwa Adi memang benar-benar terpaksa menikahi putrinya. Ia juga berasumsi, bahwa menantunya memiliki wanita lain. Karena Adi selalu menganggap Maya salah di matanya.
Tak ada sesuatu yang mengesankan untuk ibu dan anak itu, sejak Adi berstatus sebagai suami Maya.
"Minta Adi beresin hubungan kalian. Jangan khawatir anak kamu gak kecukupan. Kamu yang rajin kerja, buat menuhin kebutuhan anak kamu. Biar anak kamu, ibu yang jaga. Jangan pernah kasih anak kamu ke Adi. Sama kamunya aja dia begitu, apa lagi sama anak kamu nanti." ungkap ibu Rokhayah, dengan masih memeluk erat anaknya.
"Maya cinta sama bang Adi, Bu. Maya juga udah capek kerja. Udah kepengen di rumah aja, ngurus anak dan suami. Biar bang Adi yang jadi tulang punggung kami, Bu. Udah tanggung jawabnya, sebagai kepala keluarga." sahut Maya disela tangisnya.
Ibu Rokhayah menggeleng tak percaya, "Ibu khawatir Adi semakin menjadi-jadi. Cinta jangan dijadikan alasan, ibu gak terima kamu dimarahi Adi terus-terusan." balas ibu Rokhayah. Maya hanya terdiam membisu, tak merespon perkataan ibunya.
Di tempat lain.
Adi masuk begitu saja ke dalam rumah miliknya. Ia sudah tak berpikir panjang lagi, jika ia harus menyaksikan adiknya tengah bergumul dengan temannya.
Namun Adi malah mengerutkan keningnya, ia merasa heran pada dua sejoli itu.
Jefri tengah memeluk pinggang Zulfa yang dalam posisi berdiri. Jefri tengah menangisi sesuatu, terlihat dari mata dan wajahnya yang begitu memerah. Yang membuat Adi semakin bingung. Karena adiknya memandang lurus ke depan, dalam pandangan kosong. Zuhra terlihat begitu dingin dan kejam. Urat wajahnya menggambarkan kemarahan yang tertahan, namun matanya terlihat begitu pasrah atas segala sesuatu yang telah terjadi.
Zulfa menoleh ke arah pintu. Saat pintu rumahnya ditutup kembali oleh Adi.
Dengan gerakan reflek, Zulfa melepaskan rengkuhan kekasihnya pada pinggangnya. Dan ia langsung berlari ke pelukan kakak sekandungnya.
__ADS_1
"Abang…." ucap Zulfa dengan mulai meneteskan air matanya.
Adi semakin bingung, di hadapankan dengan posisi seperti ini. Ia memeluk adiknya, mengusap pelan punggung adiknya. Agar adiknya merasa tenang berada dalam lindungan kakaknya. Lalu Adi memusatkan perhatiannya pada Jefri.
Jefri terlihat begitu memprihatinkan, dengan wajah sedih yang tak bisa ia tutupi. Dan air mata yang terpaksa dihapus, agar tak menurunkan harga dirinya.
Jefri mengalihkan pandangannya, saat Adi masih memperhatikannya.
Adi tak tahu pasti, apa yang sudah terjadi pada mereka berdua. Namun ia hanya memahami, bahwa hubungan mereka tidak dalam keadaan baik-baik saja.
"Pulanglah ke orang tua kau, Zulfa. Jangan dipaksakan, kalau memang tak baik untuk hati kau." ucap Adi lirih. Lalu ia merangkul adiknya, mengantarkan Zulfa masuk ke dalam kamarnya.
Setelahnya, Adi berjalan menuju dapur. Ia merasa kerongkongannya begitu kering, karena ia telah melepaskan amarahnya pada istrinya tadi.
"Balik lah kau, Jef! Udah malam, apa kau tak tugas malam nanti?" ucap Adi, saat melihat Jefri masih berada di tempatnya.
Lalu Adi berjalan menuju kamarnya. Membiarkan Jefri sendirian di ruang tamu tersebut.
Adi melamuni semua kejadian yang terjadi pada dirinya, dan pada keluarganya. Terutama nasib yang diterima adik-adiknya.
Adi berencana, akan tetap membawa Zuhra. Dan meminta Zulfa untuk pulang ke kota J. Adi yakin, lambat laun Zulfa pasti akan sembuh dari luka hatinya. Entah apa yang ada dipermasalahkan mereka berdua. Namun Adi yakin, ini ada sangkut pautnya dengan masalah hati.
Adi merogoh ponselnya, dan mengirimkan Adinda sejumlah pesan. Namun tak kunjung dibalasnya. Membuat Adi tiba-tiba merasa khawatir pada keadaan anak dan istrinya tersebut. Karena akhir-akhir ini, memang Adinda sudah sering mendapatkan kontraksi palsu. Dengan keadaan bayinya, yang kepalanya sudah masuk panggul. Adi khawatir, anaknya dilahirkan prematur. Karena lahir terlalu dini.
Ia mencari nama Liana dalam kontak teleponnya. Dan menyambungkan panggilan pada Liana.
"Hallo, Li…." ucap Adi. Ia masih menunggu jawaban atas panggilannya.
"Li… Liana…." panggil Adi lagi.
'Padahal udah diangkat, tapi kenapa tak ada suara-suara.' gumam Adi, dengan menatap layar ponselnya.
"Ya, hallo Bang." sahut Liana sepersekian detik berikutnya.
"Cobalah ke rumah Abang, tengok kak Dinda sama Givan lagi apa. Bawalah pakaian kau juga. Tidurlah kau di sana, sama kak Dinda sama Givan." ujar Adi.
Namun Adi memandang kembali layar ponselnya, karena Liana tak menyahuti ucapannya.
"Ada apa, Li? Abang jadi khawatir."
"Li, hallo… Liana…" ucap Adi kembali.
......................
Ada apa jeh? Ada yang tau?
__ADS_1