Belenggu Sang Pemuda

Belenggu Sang Pemuda
BSP131. Safar dan Sukma


__ADS_3

Flashback on


Beberapa saat setelah aku sudah kembali ke rumah, setelah masuk ke penjara untuk pemeriksaan itu. Aku kedatangan tamu, yang memang sudah terbiasa keluar masuk di rumahku. Bukan lain adalah Safar, dengan wajah pucat dan ragu. Ia menemuiku yang tengah bermain dengan Givan, di halaman rumah.


"Bang, ngopi yuk. Aku pusing kali, aku mau tukar pikiran." ajaknya dengan menggaruk kepalanya sendiri.


"Abang suka kembung, kalau abis ngopi. Tinggal ngomong aja tuh, makek acara ngajakin ngopi segala." sahutku dengan kembali mengoper bola ke arah anakku.


Safar memperhatikan Givan, lalu ia mengisyaratkan kehadiran Givan dengan dagunya.


Ok, aku mengerti. Mungkin pembicaraannya mengarah ke hal serius, mungkin ladang tengah bermasalah pikirku.


Aku memanggil anakku dan menunjuk pada Zuhra dan Dinda, yang tengah duduk di teras rumah dengan mengobrol dan memakan cemilan.


"Tuh, ada mamah sama tante. Gih ke sana, ajak tante main. Papah mau ada perlu sama om Safar." ucapku mencoba menarik perhatiannya ke arah yang lain.


"Biasanya juga diajak tuh, makek acara aku harus ikut tante ke sana. Bilang aja mau penting, tak mau diganggu." ketus anakku dengan berlalu dengan wajah marahnya. Givan sesensitive itu, sejak ia sadar dirinya akan memiliki adik.


Aku menoleh ke arah Safar, ternyata ia duduk di bangku panjang yang berada di bawah pohon mangga.


Aku berjalan ke arahnya, kemudian duduk di sebelahnya.


"Apa hal?" tanyaku kemudian.


"Bang, itu aku sakit. Lubangnya tuh, Bang. Kira-kira kenapa ya, Bang? Aku takut penyakitan, lebih-lebih mana aku belum nikah lagi." ungkapnya begitu resah.


Apa ya kira-kira maksudnya? Dia kata, 'itu'? Lubang itu? Oh, iya-iya. Aku mengerti.


"Lubang kencing?" ucapku bertanya balik.


"Sttt, jangan kuat-kuat lah ngomongnya. Nanti didengar kak Dinda sama Zuhra lagi, kan bisa malu aku." balasnya dengan menaruh telunjuk tangannya di depan mulutnya.

__ADS_1


Aku mengangguk, "Baru pertama kali?" tanyaku kembali. Entah kenapa aku mencurigainya ke arah situ. Memang untuk laki-laki itu hal yang normal, tapi tidak untuk laki-laki penurut dan agamis sepertinya.


"Kemarin, Bang. Terus paginya, kencingnya sakit. Lubang kencingnya tuh, Bang. Kek melebar macam itu." ungkapnya dengan menunduk. Aku paham ia malu, namun sepertinya ia takut itu adalah sebuah penyakit. Sepertinya ia tak berani, jika harus bertanya pada orang tuanya. Maka dari itu, ia lebih memilih untuk bertanya padaku.


"Kalau satu minggu tak sembuh, coba kau periksakan ke dokter." jawabku membuat matanya melebar seketika.


Aku tahu, karena aku memperhatikannya sedari tadi.


"Memang aku kenapa, Bang?" tanyanya kemudian, tentu saja dengan wajahnya yang panik.


"Sindrom jepitan m*m*k. Biasanya itu terjadi pada laki-laki yang baru pertama kali berhubungan intim." jelasku dengan nada seperti dokter. Lalu Safar menendang kakiku pelan.


Aku terbahak-bahak, hiburan tersendiri saat melihat reaksi Safar tadi.


"Udah tak apa, nanti juga sembuh sendiri. Yang penting pakek pengaman, biar tak malu-maluin keluarga nanti." ungkapku dengan menepuk bahunya pelan. Lalu ia mengangguk mengerti.


Kemudian kami mengalihkan pembicaraan, dengan pembahasan yang lain.


Entah Sukma yang gatal, atau Safar yang ingin. Yang jelas, pikiranku mengarah ke situ. Apa lagi, saat aku baru pulang itu. Ada Sukma, Nurul dan Seila berada di rumah. Lalu, saat aku masuk dan menemui Dinda. Safar memanggil Sukma, kemudian membawa Sukma pergi.


Mana mak cek dan pak cek menginginkan Zuhra untuk dijadikan menantu lagi. Meskipun aku sudah berterus terang, bahwa Zuhra tengah dalam masa pengobatan. Tapi sepertinya, mak cek dan pak cek sudah cocok dengan Zuhra.


Aku sebetulnya terserah pada orang-orang yang bersangkutan. Karena perasaan seseorang tidak bisa dipaksakan.


Yang membuatku takut sekarang, adalah adanya Jefri di sini. Jika ia tinggal bersamaku. Bukan Dinda yang aku khawatirkan, tapi Zuhra. Aku khawatir Zuhra dirayu Jefri, untuk menuntaskan kebutuhannya. Mana Zulfa sudah menjadi korban, aku tak mau Zuhra pun sama. Meski Zuhra jelas sudah tak suci lagi, tapi aku tetap tak ingin mereka menjadi korban laki-laki yang memiliki karakter seperti Jefri.


Maka dari itu, aku lebih memilih agar Jefri mengontrak saja di daerah sini. Biarlah perempuan yang lain saja, yang jadi korbannya. Yang penting jangan adikku sendiri.


"Jadi nanti aku ngekos nih? Tapi biaya kosan dari kau kan, Di?" tanya Jefri kemudian.


Aku mengangguk, "Cuma bulan ini aja. Makan sama biaya kos aku yang bayar, tapi bulan berikutnya kau tanggung sendiri." jawabku dengan memperhatikan kawan-kawanku yang mulai berdatangan.

__ADS_1


"Kalau kau mau bersih-bersih, kau naik aja ke lantai atas. Pakek dulu kamar yang kau mau di sana. Lepas itu kah turun lagi, kau tidur di tempat abusyik aku aja." jelasku padanya.


"Ada siapa di rumah abusyik kau?" sahut Jefri kemudian.


"Tak ada siapa-siapa. Tapi tak ada setan juga, kau tenang aja." balasku dengan mengalami mereka yang baru berdatangan.


"Ya udah, aku langsung ke sana aja. Biar mandi di sana aja." ujar Jefri kemudian.


Aku tak langsung menjawab ucapan Jefri, karena aku meladeni pertanyaan kawan-kawanku satu persatu. Ada yang bertanya tentang kapan lahirannya, karena kemarin hari Dinda masih bisa ke warung. Kemudian pagi tadi, orang-orang sudah mendengar kabar bahwa Dinda melahirkan. Jadinya mereka sedikit bingung dengan kabar yang beredar luas.


"Far, bungksin makanan untuk Jefri. Terus kau anterin ke rumah abusyik." pintaku pada Safar, Safar mengangguk. Lalu hendak melangkah masuk, tetapi urung karena ucapan Jefri.


"Tak perlu, nanti makan di sini aja. Mau mandi, naruh barang bawaan, sama rebahan sebentar aja. Nanti aku ikut melekan di sini juga." ucap Jefri kemudian.


Aku mengangguk, lalu meminta Safar untuk mengantar Jefri ke rumah abusyikku.


Lalu aku membawa ke luar termos air panas, kacang, dan beberapa cemilan lainnya. Tidak ketinggalan juga rokok dan papan catur, tetapi ada di antara mereka yang membawa kartu remi dan gaple juga. Sekitar lima belas orang yang berada di sini, mungkin di antara mereka ada yang murni ingin menemaniku melekan. Atau memang ingin dapat rokok dan cemilan saja, karena seperti itulah kebiasaannya. Pasti mereka berpikir bahwa makanan dan rokok di sediakan di sini, apa lagi jelas dengan didukung oleh sifat royal Dinda. Yang jelas sudah diketahui semua warga.


~


~


Esok harinya, aku baru bangun pukul sepuluh pagi. Karena lepas subuh, aku baru memejamkan mataku.


Aku langsung membersihkan diriku ke kamar mandi. Kemudian setelahnya, aku mencari keberadaan anak-anak dan istriku.


Saat aku keluar, Ghifar tengah digendong oleh ibu mertuaku. Dengan Givan yang tengah menangis, sambil digendong oleh Zuhra.


"Kak Dinda mana, Dek?" tanyaku pada Zuhra, dengan membawa Givan dalam gendonganku.


"Lagi diperiksa sama ibu Nur, soalnya tadi jam delapan kak Dinda….

__ADS_1


......................


__ADS_2