
Mendengar Zulfa yang mengucapkan nama Dinda, membuat Maya langsung menoleh pada suaminya itu. Berbeda dengan Adi yang terlihat biasa aja.
Zulfa memukul pelan paha kakaknya itu, membuat Adi memusatkan perhatiannya pada Zulfa. Karena dirinya sedari tadi, tengah sibuk menyentuh tombol kembali pada ponselnya.
"Ha? Ha? Ha?" suara Zulfa bersuara seperti kartun dari negeri Jiran tersebut. Dengan menunjukkan tangannya pada Adi.
"Apa?" tanya Adi heran.
Zulfa mendekati mulutnya pada fungsi dengar kakaknya, lalu ia membisikan sesuatu.
"Masih ada hubungan sama kak Dinda ya?" bisik Zulfa yang hanya bisa dengar oleh Adi saja.
Lalu Zulfa memundurkan tubuhnya, dengan pandangannya yang mengarah pada bagian bawah telinga Adi. Zulfa melihat sesuatu yang ia pernah dapatkan dari Jefri.
"ASTAGFIRULLAH!!!" pekik Zulfa dengan reflek memundurkan tubuhnya.
"Apa sih?" tanya Adi sedikit sewot. Karena ia merasa kaget, atas seruan dari adiknya.
"Bang, aku memang gak lanjut kuliah. Karena aku sadar, otak aku udah gak mampu untuk memahami logaritma lebih dalam. Apa lagi untuk terjun ke lapangan saat KKN, aku benar-benar gak sanggup. Makanya aku gak lanjut kuliah. Tapi aku punya otak, Bang. Aku masih bisa berpikir. Aku masih bisa menghitung. Apa lagi menghitung waktu sejak Abang sampai di sini. Aku tau Abang ke mana selanjutnya, dan berapa lama di sana. Aku bisa hitung kalkulasi waktu yang dilalui Abang. Tapi aku gak bisa berpikir positif, saat aku liat itu Bang. Astagfirullah, Bang Adi. Sambat, Bang." ungkap Zulfa dengan panik.
Membuat Adi semakin merasa heran pada adiknya tersebut.
"Udah, berisik lah! Ayo berangkat." ajak Adi, lalu ia berjalan lebih dulu. Meninggalkan Zulfa yang masih terduduk dengan berbagai macam pertanyaan di otaknya.
Lalu Zulfa menoleh pada Maya, Zulfa memusatkan perhatiannya pada leher Maya. Ia tak menemukan tanda yang sama, seperti tanda merah yang kakaknya miliki. Ia menggelengkan kepalanya cepat, lalu berlari kecil untuk menyusul kakaknya.
"Bang, naik apa kita?" tanya Zulfa pada abangnya. Terlihat Adi tengah memainkan ponselnya dengan bersandar pada pagar.
"Ojek, nanti Abang mau ambil mobil dulu." jawab Adi, tanpa menoleh pada Zulfa.
"Aku tunggu di sini aja ya? Abang jemput aku ke sini bawa mobil." sahut Zulfa menimpali.
"Abang capek lah bolak-baliknya. Kau pun pesan ojek aja lah. Apa mau naik becak aja?" balas Adi dengan menyimpan ponselnya ke dalam saku celananya.
"Malu lah, Bang. Kenapa gak taksi online aja." ujar Zulfa.
"O*o Abang habis." tutur Adi dengan terkekeh pelan.
"Biar aku yang bayar. Mana alamatnya sini." putus Zulfa sedikit sewot. Adi terkekeh geli, dan menjembreng kedua pipi adiknya itu.
__ADS_1
"Aduh, aduh. Sakit lah, Bang." protes Zulfa kemudian.
"Nih, perumahan P******** Residence , cluster Gardenia. Tulis macam itu, biar nanti Abang tunjuk aja rumahnya. Tak jauh dari gapura selamat datangnya." ucap Adi.
"Rumah siapa itu, Bang?" tanya Zulfa, dengan masih mengetikan alamat tersebut.
"Haris." jawab Adi ringkas.
"Mobil Abang taruh di situ?" tanya Zulfa kembali.
"Bukan! Abang tak punya mobil di sini. Ada motor hijau itu, kau ke manakan itu motor Abang?" ujar Adi dengan menoleh pada adiknya.
"Di pinjam bang Jeff. Motornya masih di rumahnya." sahut Zulfa dengan cengengesan.
Tak lama, taksi online pesanan Zulfa. Sudah berada di hadapan mereka. Lalu Adi dan Zulfa masuk ke bangku belakangnya.
Lima menit kemudian, taksinya telah sampai di depan rumah Haris. Adi keluar lebih dulu, lalu ia berdiri tegak dengan merapihkan lengan kemejanya.
"Pa… pa pa, papppa…" ucap anak kecil yang berada di balik gerbang.
Adi langsung menoleh pada sumber suara, dan ia langsung menuju gerbang tersebut. Ia menekuk lututnya, untuk bisa mensejajarkan dirinya dengan Kinasya.
"Jangan, Dek. Orang asing itu, bukan Papah." seru Haris, yang rupanya berada tak jauh dari tempat Kinasya.
"Sialan kau! Kin aja masih inget sama Papah ya, Kin?" tutur Adi dengan bangkit berdiri. Dan menuju ke pagar rumah yang berukuran sebesar pintu. Ia membuka kuncinya, lalu melangkah masuk.
"Sini, Dek." ucap Adi dengan menoleh pada Zulfa yang masih mematung, dengan mengagumi rumah milik Haris.
"Cuma 1,5M. Rumah Abang kau di sana tembus 4M." seru Haris yang menyadari kekaguman di mata Zulfa.
"Dia juga anak orang kaya. Cuma memang agak kampungan, maafin ya?" tutur Adi. Lalu Haris menyuarakan tawanya, dengan Zulfa yang menghampiri kakaknya dengan malu-malu.
"Papah…." ucap Kinasya, dengan menyentuh kaki Adi. Adi menundukkan pandangannya. Dan langsung menggendong Kinasya.
Adi lalu menciumi pipi tembem anak angkat Haris tersebut.
"Masih ingat aja sih, Kin." ujar Haris melihat kedekatan mereka berdua.
"Ingatlah, sering video callan sama mbak Nok itu." sahut Adi kemudian.
__ADS_1
"Tengok, Dek. Abang kau mainannya sama pengasuh bayi." balas Haris dengan kekehan.
"Eh, Ris. Mana j**z putih?" tanya Adi langsung, dengan melangkah menuju ke arah gerasi mobil Haris.
"Memang simpan sini kah?" jawab Haris membuat Adi menatapnya dengan sengit.
Lalu Haris terkekeh kecil, melihat reaksi Adi.
"Kan waktu itu aku ke kota J pakek travel. Terus mobil simpan di tempat kau." jelas Adi kemudian.
"Iya ingat. Ada di dalam, kau masuk aja dari dalam. Gerasinya baru dikunci tadi. Rencananya aku mau tidur, aku baru lepas tugas malam ini." ungkap Haris memberitahu.
Lalu Adi masuk ke dalam rumah Haris, dan mengeluarkan mobil milik Adinda dengan sangat hati-hati sekali. Ia khawatir terlalu dalam menginjak pedal gas, karena mobilnya begitu kencang ketika melaju.
Dan setelah Adi memarkirkan kendaraannya, ia keluar dari mobil dengan masih menggendong Kinasya.
"Ris anak kau, aku ajak jalan-jalan ya?" ucap Adi kemudian.
Haris mengangguk, "Mbak, siapin susu Kin sama botolnya. Pakekkan juga dia kerudung, leging panjang sama kaos kaki. Sepatunya juga ambil, Mbak." seru Haris tepat di depan pintu rumahnya.
"Berapa tahun ini, Bang?" tanya Zulfa pada Haris. Dengan dirinya menyentuh pipi tembem Kinasya.
"Berapa ya, keknya sembilan belas bulan." jawab Haris dengan setengah berpikir.
"Ken ikut tak apa, Ris." ujar Adi dengan mendudukkan Kin di atas kap mobil. Dan membantu memakaikan sepatu untuk Kinasya.
"Ken sekolah lah." sahut Haris. Adi malah teringat Givan yang masih belum disekolahkan di sana.
"Yuk Zulfa berangkat. Masukin tas Kin tuh. Terus nih, kau pangku dia." ujar Adi pada Zulfa. Zulfa menaruh tas Kinasya, pada bangku belakang mobil. Dan setelahnya, ia mengambil Kinasya dalam gendongan kakaknya.
Zulfa memperhatikan sebuah id card yang tergantung di spion tengah mobil itu. Dan Zulfa menariknya agar bisa membaca nama yang tertera di sana, berikut dengan foto yang terpampang jelas.
Ia terlihat terkejut, dengan menutup mulutnya reflek.
"Bang, ini mobil kak Dinda?" tanya Zulfa dengan mata membulat.
......................
Zulfa mulutnya lemes loh 🤭
__ADS_1