
"Mulut kau, Dek." ujar Adi lirih dengan menggelengkan kepalanya berkali-kali. Ia tak percaya, mendengar ucapan istrinya yang begitu kasar.
"Memang kau mau apa ke sini? Mau talak kan? Udah cepet talak, aku terima kok." tutur Adinda dengan duduk bersila menghadap Adi, dengan bantal yang kembali ia taruh di pangkuannya.
Adi terdiam dengan menundukkan kepalanya, ia tak bisa melakukan hal yang istrinya inginkan.
"Tunggu apa lagi? Kalau aku yang punya hak untuk mutusin tali pernikahan ini, dari awal aku menikah dengan orang lain. Aku pasti ambil keputusan untuk talak yang lain, dari pada macam ini. Kau pikir kau sehebat itu? Kau punya apa sampek berani madu aku diam-diam? Apa sekaya itu kau? Sekuat itu kau? Ingat ya, Bang. Kena santet segitu aja kau udah sekarat, jangan banyak tingkah dengan mainin perasaan aku. Kau pikir, aku tak bisa berbuat yang lebih-lebih sama kau kah Bang? Nyombongin apa kau? Macam laki-laki cuma kau satu-satunya di dunia ini!" ungkap Adinda begitu kasar, dengan nada bicaranya yang sedikit meninggi.
Rasa sakit atas ucapan istrinya, kini didengarnya kembali.
"Dengerin Abang, Dek. Jangan terus-terusan minta cerai. Abang tau Adek tak terima dengan sikap Abang ini, tapi bukan macam itu caranya Dek. Dosa besar kau buat suami kau sakit hati, atas ucapan kau itu. Jangan ngutamain emosi aja, Abang paham kau marah. Tapi kalau gini caranya, masalah kita tak akan selesai-selesai." ucap Adi lembut, dengan menghapus air mata istrinya. Yang mungkin tanpa sadar Adinda jatuhkan.
Adinda melirik sekilas pada suaminya, lalu ia membuang wajahnya kembali.
"Saat pernikahan kita baru jalan dua bulan, Maya hubungi Abang dan bilang bahwa dirinya tengah berbadan dua." ujar Adi dengan memberi jeda, agar dirinya lebih siap menceritakan semuanya.
"Terus? Kau datang sebagai pahlawan begitu? Kau pikir kau dermawan, dengan tanggung jawab atas kehamilan seseorang. Saat posisi kau adalah suami dari aku?" sela Adinda yang kembali menaikkan suaranya.
__ADS_1
"Sssttttttttt… dengerin dulu, Dek. Kau kenapa sih nyela Abang terus?" tanya Adi dengan merengkuh tubuh istrinya.
Namun, Adinda langsung menolak rengkuhan suaminya. Dengan reflek mendorong tubuh suaminya, membuat Adi melongo tak percaya dengan tindakan Adinda.
"Aku bilang aku jijik sama Abang. Aku tak bisa bayangin kau tidur sama yang lain, lepas itu kau gauli aku di sana. Pasti aku ketempelan penyakit perempuan itu lewat kau lagi, Bang." tuduh Adinda dengan menatap jijik suaminya.
"Demi Allah, Dek. Abang tak pernah tiduri dia, cuma Adek yang Abang gauli. Ok, Abang akui itu anak Abang dan Abang sering tidur sekamar dengan Maya. Tapi Abang tak pernah untuk colek dia, atau gauli dia. Abang cuma tidur, lepas Abang sama Maya menikah. Hanya tidur, tanpa aktivitas fisik lainnya." elak Adi atas tuduhan istrinya. Ia menahan cerita tentangnya dan Maya dan lebih mementingkan perihal hubungannya dengan Maya, agar Adinda tak mengatakan jijik lagi pada dirinya. Karena hal itu sungguh membuatnya tersinggung dan sakit hati, atas ucapan istrinya tersebut.
Adinda menghapus air matanya kembali, karena hatinya begitu tersayat. Saat suaminya mengakui bahwa dirinya menikah lagi, dengan menyebutkan juga bahwa anak itu adalah anaknya.
"Waktu itu Adek lagi hamil, Maya juga lagi hamil. Abang tak berani ambil resiko besar, makanya Abang mutusin untuk jelasin semuanya lepas semuanya bersalin." jelas Adi dengan membingkai wajah istrinya, kemudian menghapus linangan ait mata yang terus merembes keluar.
"Aku paham! Yang intinya, Abang mikirin kondisi aku. Tapi Abang juga mikirin keadaan Maya, jelas karena itu anak Abang. Aku tau, memang aku udah tak diutamakan lagi. Karena Abang jelas lebih mikirin keadaan Maya itu, dari pada kepercayaan aku. Abang jahat, Abang tega sama aku…." ujar Adinda dengan memukuli dada bidang Adi.
"Abang tak mau jadi pembunuh, Dek. Adek yang paham itu, Adek yang ngerti masalah Abang." tukas Adi dengan menahan tangan istrinya, lalu mendekap erat tubuh Adinda.
Namun, hal itu kembali lagi. Adinda berontak dari pelukan suaminya, lalu ia meloloskan diri dari suaminya.
__ADS_1
"Tak ada yang perlu dibicarakan lagi. Bawa anak Abang, bawa pulang dia. Besarin Ghifar dan jangan bawa dia pulang ke sini lagi." tutur Adinda kemudian, dengan menunjuk pintu kamarnya.
"Abang tak mau, Dek. Abang tak mau kita pisah, Abang tak mau pergi tanpa Adek dan anak-anak. Adek harusnya paham akan kondisi Abang. Abang terpaksa macam ini, karena pengen kita tetap baik-baik aja. Harusnya Adek…." ungkap Adi yang langsung disela oleh Adinda.
"Tapi cara Abang salah. Coba Abang jawab jujur, dia resmi atau siri juga?" tanya Adinda yang membuat Adi diam tak sejenak.
"Resmi, Dek." jawab Adi dengan menunduk lesu.
Air mata Adinda mengalir tanpa bisa dicegah, "Oh macam itu… Pantas aja aku tak kunjung Abang resmikan, ternyata udah ada yang ngisi posisi itu. Sebetulnya, aku ini kurang apa sih Bang? Sampai hati Abang demikian sama aku. Kurang ngabdi apa aku sama Abang? Kurang berbakti apa? Kurang bertanggung jawab apa aku? Apa aku tak cukup bisa untuk muasin…."
"Stop, Sayang… Jangan dilanjutkan, Abang sakit dengar Adek ngomong macam itu." sela Adi dengan langsung memeluk istrinya sembari terguncang dalam tangisannya.
"Abang cinta sama Adek, mohon pengertiannya. Abang pun lagi proses untuk ceraikan Maya, bertahanlah sebentar lagi. Abang janji, Abang tak macam ini lagi. Jangan bilang ini itu, nyatanya tetap Adek yang Abang pertahankan selama ini. Mohon maafkan kesalahan Abang selama ini, Dek. Jangan tinggalkan Abang, jangan tinggalkan Ghifar. Ayo kita hidup sama-sama, ayo kita hidup bahagia dengan kita dan anak-anak kita." lanjut Adi dengan menahan tubuh istrinya yang berontak, atas pelukannya.
"Aku tetap bukan pilihan. Silahkan Abang pergi, dengan bawa keturunan Abang!" pinta Adinda dengan penampilan yang begitu kacau. Penampilan Adi pun tak kalah buruknya, ia seperti kehilangan separuh jiwanya.
......................
__ADS_1