
"Tau lah. Nampak dari foto yang kau kasih caption, 'Bukan perjuangan biasa' itu nah. Kalau masalah dia belum nikah. Haris pun udah tau, pas kau bolak-balik rumah sakit aja. Cuma Sukma tak mau rujuk, kata dia masih untung dulu Sukma tak nuntut Haris ke polisi. Padahal waktu dia kabur ke orang tuanya itu, udah babak-belur dia. Bisa aja Sukma visum, terus bikin laporan ke polisi buat jerat Haris. Tapi Sukma kasian sama anak. Dia lebih milih cerai aja, dari pada penjarakan Haris." ungkap Jefri menjelaskan.
"Kau tau sebetulnya. Tapi pas aku tanya, kau bilang tak tau pasti. Inilah, itulah, apalah." sahut Adi menimpali.
"Aku tau dari Dinda, akhir-akhir ini kan aku sering chatan sama istri tua kau itu. Haris kan tak mungkin juga dia cerita. Dia KDRT, terus istrinya kabur karena udah babak-belur. Kan malu dianya, Di." balas Jefri kemudian.
Lalu mereka berdua turun dari mobil. Jefri langsung memesan makanan untuk mereka, dengan Adi yang mencari tempat duduk untuk mereka.
Setelah Adi mendapatkan tempat duduk. Adi langsung menghubungi Haris, agar ikut bergabung dengan mereka.
"Di, aku pesankan buat kau yang sedang aja pedasnya." ungkap Jefri. Adi hanya mengangguk menanggapinya.
Mereka berdua, asik dengan ponsel masing-masing. Sampai Jefri menyodorkan ponselnya tepat di hadapan Adi.
"Eh, Hay… Dek Dinda, sayang." ucap Adi, ketika ia bisa melihat wajah istrinya di layar ponsel Jefri.
"Keluyuran terus. Kemarin sama Seila, sekarang sama bang Jefri." sahut Adinda dengan bibir mengerucut.
"Bilang aja kau iri, karena kau tak ikut gabung di sini." ledek Jefri pada Adinda.
"Awas aja kau nanti!!" balas Adinda dengan memasang wajah kesalnya.
Adi terkekeh geli, "Diajak Jefri makan kerang ijo, Dek. Padahal Abang tadi udah rebahan di kamar." terang Adi menimpali.
"Kau posesif betul, Dek. Baru punya laki satu aja kau sombong betul." ujar Jefri membuat tawa Adi dan Adinda pecah.
"Aku cukup Bang Adi aja satu untuk selamanya." sahut Adinda kemudian.
"Nah, kalau Adinya tak cukup kau aja macam mana?" tanya Jefri. Membuat Adi was-was sendiri.
"Ya dia bakal miskin dadakan, itu konsekuensinya kalau dia ninggalin aku." jawab Adinda kemudian. Adi merasa sedikit lega mendengar jawaban Adinda. Karena hal itu pernah Adi ucapkan pada Adinda, jika Adi meninggalkannya demi perempuan lain. Namun Adi pun sedikit kaget mendengar penuturan Adinda, rasanya tak mungkin Adinda membawa kabur hartanya atau menyingkirkan dirinya dari kehidupan Adinda.
"Kalau dianya tak mau ninggalin kau, tapi dia mau sama yang lain juga macam mana?" sahut Jefri, membuat Adi semakin tegang.
"Kalau macam itu kasusnya, aku lebih milih ikhlasin dia aja. Akan aku doakan yang terbaik buat aku dan dirinya. Kalau dia masih baik untukku, dan keturunan aku. Ya aku doakan semoga perempuan itu mau lepasin bang Adi buat aku. Tapi kalau bang Adi udah tak baik buat aku, dan keturunan aku. Aku berdoa sama Allah, biar bang Adi Allah simpan di sisinya aja." jelas Adinda membuat Jefri tertawa terbahak-bahak. Berbeda dengan Adi yang langsung diam membisu, dengan ekspresi tegang bercampur takut.
__ADS_1
"Kenapa macam itu, Dek?" balas Jefri setelah menyelesaikan tawanya.
"Aku mana ikhlas tengok dia sama yang lain. Mending udah aja sekalian tengok dia dimakamin." ketus Adinda kemudian.
"Udah deh bahasnya, keknya suami kau tegang betul itu." ucap Jefri mencoba mencairkan suasana.
"Biasa aja kali Bang. Kan Abang tak macam itu juga." ujar Adinda pada Adi.
"Iya, Dek. Udah jadi belum spaghettinya?" tanya Adi pada istrinya.
"Belum, Liana lagi mandi dulu. Aku lagi kepengen dibuatin. Tak ada Abang, jadi nyuruh Liana." jawab Adinda.
"Eh, udah dulu ya Dek. Udah datang pesanannya. Mau makan dulu, dinner romantis with suami orang." ujar Jefri. Membuat mereka semua larut dalam tawa.
"Ok, ok. Suamiku balikin tepat waktu ya. Pastiin dia masuk kamar dengan benar." ucap Adinda kemudian.
"Ok siap, Dek." sahut Jefri. Lalu setelahnya, Jefri memutuskan panggilan videonya.
"Udah di chat belum Harisnya, Di?" tanya Jefri, saat dirinya memulai memakan pesanannya.
~
~
Esok harinya, Adi berencana membeli perabot untuk calon bayinya. Karena Maya mengatakan, ada beberapa barang yang belum ia miliki.
"May, Abang perginya sama Zulfa aja. Kau di rumah aja." ucap Adi yang terlihat sudah berpakaian rapih.
"Aku kan mau jalan-jalan juga, Bang." protes Maya.
"Lahiran kau nanti di toko perlengkapan bayi! Udah di rumah aja.Kemarin pun kau udah kenyang kan ngedate sama laki-laki lain?" sahut Adi, dengan sindiran tajamnya.
"Kan aku udah bilang, itu cuma supir taksi online aja. Cemburu boleh, tapi yang paham sama kejadian aslinya." elak Maya.
Adi langsung menoleh pada Maya. Lalu ia menggelengkan kepalanya sambil berjalan ke arah dapur, sambil bergumam pelan.
__ADS_1
'Apa dia kata? Cemburu? Muak aku yang ada. Jijik aku, malu-maluin aku aja. Dasar betina, tak pandai dia jaga marwahnya!'
Adi menuangkan air minum untuknya, dan meneguknya hingga tandas.
Lalu Adi berjalan kembali menuju ke ruang keluarga, yang berada di kediaman ibu Rokhayah.
"Ayo, Zulfa. Sekalian refreshing. Barangkali kau mau beli buku apa yang lain." ajak Adi pada adiknya, Zulfa. Adi khawatir, adiknya masih begitu terpuruk memikirkan nasib percintaannya dengan Jefri.
"Buku yang aku mau adanya online, Bang." sahut Zulfa dengan menunjukkan informasi yang ada di layar ponselnya.
"Coba Abang tengok." ujar Adi dengan duduk di sebelah Zulfa, dan memperhatikan layar ponsel milik Zulfa.
'Tak usah beli aturan, di rumah buku ini ada setumpuk. Malahan, aku bisa tiap waktu ketemu sama yang nulisnya.' gumam Adi dalam hati.
Adi malah tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
"Hey, Bang. Kok senyum? Bayarin ya onlinean akunya?" tutur Zulfa dengan menggoyangkan tangan abangnya.
"Abang udah punya, nanti minjem aja punya Abang." tukas Adi kemudian.
"Ketimbang sembilan puluh lima ribu aja." ucap Zulfa dengan melirik sekilas pada Adi.
"Nih tengok, Abang punya udah ada tanda tangannya. Buku ini pun udah sekitar enam bulanan yang lalu keluar, malahan sekarang ada novel barunya. Nih, tengok." ujar Adi dengan menunjukkan fotonya dengan Dinda. Terlihat mereka berdua tersenyum lebar ke arah kamera, dengan memamerkan buku yang Adi pegang.
"Ini buku yang kau mau kan?" tanya Adi. Dan Zulfa langsung mengangguk, dengan mata masih fokus pada ponsel abangnya.
"Nah ini yang baru. Belum banyak dicetak, baru sekitar tiga puluhan aja. Dan Abang pun udah punya, plus tanda tangan dan foto sama penulisnya juga." jelas Adi dengan memamerkan foto lainnya dengan Dinda.
"Loh, kok yang difoto ini kak Dinda tak pakai kerudung." ucap Zulfa heran.
TBC.
Lagi ada Maya loh di situ 😆
Nih, author kasih tau ya Zulfa. Malahan abang kau itu tak cuma nampak Dinda tak pakek kerudung, tapi udah rutin nampak Dinda tak pakek apa-apa juga 🤣
__ADS_1
Aduh, gemes pulak yang nulisnya 🤭