
Ibu Risa menatap tamunya dengan wajah bingung. Pak Sodikin tersenyum canggung, dalam menyambut tamunya tersebut.
"Bu… diem aja. Ini cucunya dicium apa dimasak." ucap Adinda dengan wajah kesalnya. Ia tengah menggendong kedua bayi kembarnya, karena Ghifar dan Givan tengah bergelantungan pada leher ayahnya.
Ibu Meutia sendiri, menggendong Naya. Sedangkan pak Dodi membawakan buah tangan, yang cukup banyak. Zuhra sendiri, pagi tadi ia mengambil penerbangan ke provinsi A. Ia memantapkan hatinya, untuk tinggal di provinsi A. Karena menurutnya, kampung tersebut adalah tempat ternyaman untuknya. Ditambah lagi dengan agama yang begitu kental, membuatnya semakin mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.
Tawa renyah terdengar begitu memenuhi ruang tamu tersebut. Berbeda dengan Adinda yang masih terlihat kesal saja, karena ibunya tak menyambutnya dengan gembira.
"Emang ini bayi siapa? Kapan kamu hamil?" tanya ibu Risa, dengan mengambil seorang bayi yang membuka matanya. Karena bayi yang berada di dalam gendongan model ring, tengah pulas dalam tidurnya.
"Anak Dinda, Bu. Dia balik ke Adi karena hamil lagi, ini bayinya kembar." jelas Adi membuat ibu Risa dan pak Sodikin saling melempar pandangan.
"Bener-bener ya kamu, Din! Ghifar masih kecil, kamu udah hamil lagi. Jangan bilang Ghifar disusuin sapi, karena kamu hamil lagi ini?" ucap ibu Risa dengan mata kecilnya terbuka lebar.
"Tuh kan? Kan? Kan? Makanya aku tak kasih tau Ibu sama Bapak tuh karena ini, Bang. Aku pasti kena marah." ujar Adinda dengan menoleh ke arah suaminya yang tengah kerepotan mengurus kedua anaknya.
"Kamu bilangnya mau balik ke Adi, karena kasian sama Ghifar dan Adi juga. Kok tiba-tiba kamu punya anak lagi aja?" balas pak Sodikin dengan mengamati salah satu anak kembar Dinda, yang berada dalam dekapan ibu Risa.
"Ohh… Dinda bilangnya macam itu kah, waktu dia nyusulin Adi ke provinsi A Pak?" tanya Adi dengan memerhatikan wajah mertuanya tersebut.
Pak Sodikin dan ibu Risa mengangguk bersamaan, "Dia datang-datang, minta antar ke bandara. Katanya mau balik ke Adi, kasian Ghifar sama Adi. Sore dia bilang, abis isya langsung berangkat ke bandara." jawab pak Sodikin kemudian.
"Nah, terus besoknya jam delapan atau jam sembilan Dinda sampek di rumah Adi. Adi tak jemput, karena tak tau Dinda bakal balik." sahut Adi dengan melepaskan Ghifar di tempat yang lebih luas. Lalu Adi menutup pintu tralis, agar Ghifar tak bisa keluar dari dalam rumah itu.
"Lah… dia bilang ke aa-nya, katanya di bandara sana udah dijemput Adi. Tau begitu anter langsung aja ke rumah kamu, Di. Bawa anak dua, mana lagi hamil lagi." balas ibu Risa, dengan memberikan Ghifar bolu pandan.
Ghifar mendekati neneknya, ia menerima bolu tersebut dengan memamerkan giginya. Dua gigi baru di bagian atas yang baru tumbuh lagi, baru menembus gusinya. Membuat tampilan giginya, hanya terlihat baru empat saja. Dua di atas, juga dua di bawah. Padahal giginya sudah berjumlah enam.
"Ihh, Adi pisan. Bocah guteng, sini De sama Nenek." ajak ibu Risa pada Ghifar. Bocah guteng bisa diartikan sebagai anak hitam karena panas matahari, dalam bahasa daerah kota C.
__ADS_1
"Dih… Dih.." ucap Ghifar dengan menunjuk neneknya.
"Itu Nenek, Bang." jawab Adi yang mengerti dengan isyarat anaknya.
"Manggil ke kamu 'Di' aja?" tanya ibu Risa pada menantunya.
Adi menganggukkan kepalanya, "Bang Adi biasanya manggilnya. Awal-awal sih papah, bisa dia nyebut papah. Tapi lama kelamaan, malah ikutan mamahnya manggilnya." jelas Adi dengan memperhatikan mertuanya secara bergantian.
"Manggil mamahnya aja 'Mak' padahal diajarin suruh manggilnya mamah." timpal Adinda kemudian.
"Itu mau ke mana itu, Van. Diawasin itu adiknya." pinta pak Sodikin pada Givan. Anak itu tengah cemberut saja, dengan memeluk tubuh ayahnya.
"Lagi ngambek ini, Kek. Tak digendong Nenek katanya." ucap Adi dengan mengusap surau anaknya yang acak-acakan.
"Aduh, kasian. Sini Nek bayinya, gih Nenek ajak Givan." sahut pak Sodikin pada istrinya.
Lalu Givan berada dalam gendongan neneknya, dengan mencari keberadaan Ghifar yang masuk ke ruangan lain. Tak lama terdengar tawa dari arah dapur, dengan suara teriakan Ghifar membuat Adi bangkit dari duduknya.
"Ya ampun, anak Dinda. Dek… dia lagi ngadem di kulkas, sambil meluk botol air dingin." ucap Adi dengan duduk di lantai bersama Ghifar. Adi meraih toples plastik, dengan mengeluarkan makanan dari dalam toples tersebut.
"Kampungan kau, Nak. Bilang dong, Mamah nyalain AC. Sana ngadem di kamar Mamah, ada AC-nya."
"Tapi pintu kolamnya ditutup aja, Bang. Nanti nyemplung pulak dia ke kolam."
Ujar Adinda dengan melonggarkan gendongannya, terlihat Ghavi masih terlelap pulas.
"Sama kamu aja, Din. Sekalian anak kamu yang lagi tidur itu, ditaruh di kasur aja. Istirahat dulu kamunya." balas pak Sodikin yang membuat Adinda menoleh pada ayahnya.
Adinda bangkit dari duduknya, lalu berjalan menuju kamarnya. Diikuti dengan Ghifar yang menggeser tumpuan duduknya untuk mengikuti ibunya.
__ADS_1
"Ini, silahkan diminum dulu." ibu Risa dengan menyajikan es teh dalam teko bening. Terlihat ibu Risa tengah menuangkan air tersebut, dalam gelas yang tersedia.
"Bang Givan di kamar gih. Ada mamah, Ghifar sama Ghavi." tutur Adi pada anaknya, yang tengah meminum es teh tersebut.
"Sama Papah aja." tukas Givan dengan menaruh gelas di atas meja.
"Sini Pak bayinya." pinta ibu Risa pada suaminya.
"Ini Bu." ujar Adi dengan memindahkan buah tangan yang mereka bawakan.
"Oh, iya Di. Makasih, tolong simpan di dapur aja." sahut ibu Risa, dengan Adi langsung membawakan barang-barang tersebut ke dapur.
Adi kembali, kemudian duduk di kursi yang tersedia. Diikuti dengan Givan, yang duduk di pangkuan ayahnya.
"Ini orang tua Adi, Bu, Pak." ucap Adi dengan memperhatikan wajah mertuanya.
Pak Sodikin dan ibu Risa mengangguk, "Lama ya Bu, baru ketemu lagi." sahut ibu Risa pada ibu Meutia.
"Iya, saya baru tau. Kalau Adi sama Dinda udah beranak pinak macam itu, mana ribut cerai lagi dengan anak yang segitu banyaknya." balas ibu Meutia dengan memberikan Naya minum air putih, yang dibeli dalam perjalanan tadi.
"Saya sih, Bu. Udah gak apa Dinda tak pulang-pulang juga, dari pada sekalinya pulang malah ribut besar. Sebenarnya anaknya sama-sama cinta, cuma egonya pada besar-besar. Udah ajalah, pasrah sama keputusan anak-anak. Yang penting sama-sama bahagianya, karena kita sebagai orang tua gak bisa campur tangan urusan mereka." balas ibu Risa dengan mengubah posisi bayi dalam dekapannya tersebut. Bayi itu merengek, karena tak betah dengan posisinya. Saat ia sudah dalam posisi disangga, ia menoleh-nolehkan lehernya. Untuk memperhatikan wajah orang-orang yang berada di hadapannya.
"Alhamdulillah, kami ke sini bawa kabar baik Bu. Bulan depan, Adi sama Dinda mau resmikan pernikahannya. Sekarang status Adi udah duda, dia udah cerai sama istri mudanya. Ini anaknya Adi, Bu. Dinda bilang, Dinda sanggupin ngurus anak gadis Adi ini." ungkap ibu Meutia dengan tersenyum lebar.
Pak Sodikin menoleh ke arah istrinya, kemudian ia mengarahkan pandangannya pada menantunya. Ia merasa tak yakin, dengan ucapan orang tua Adi tersebut. Sedikit banyaknya, pak Sodikin memahami sikap anaknya yang tak bisa ditebak tersebut. Hanya saja, ia meragukan keputusan Dinda untuk mengurus anak Adi dengan perempuan lain tersebut.
"Itu anak Adi? Kok mukanya lain? Gak sama kaya Ghifar, atau kembar." tanya ibu Risa, kemudian ia langsung menutup mulutnya reflek. Ia merasa ucapannya barusan, membuat tersinggung tamunya.
"Sebenarnya…
__ADS_1
TBC.