
"Ya gitu lah, Bang. Makanya ekonomi bang Haris pun sedikit lebih, sejak kenal Dinda. Karena mereka sering pergi cari channel kerjaan. Soalnya kalau ngajak bang Jefri agak susah, dia tak mau sambilan selain jadi dokter aja." ungkap Alvi dengan sedikit menekan suaranya, saat ia membicarakan tentang Jefri.
Aku mengangguk mengerti, "Ke mana Jefri sekarang?" tanyaku kemudian.
"Itu lagi sama Zulfa di halaman belakang." jawab Alvi dengan menyuapi Kin yang berada di pangkuanku.
"Hah? Yang betul?" ujarku tak percaya. Karena Zuhra tadi pagi pergi dengan ayah.
"Iya, betul. Orang tadi Zulfanya datang sendiri kok." sahut Alvi dengan menyuapi Kin kembali.
Aku menyerahkan Kin kembali pada Alvi, tapi anak ini enggan bersama ibu sambungnya. Ia tak mau lepas dariku. Jadi aku memutuskan menggendong Kin, untuk menemui mereka.
Aku tak suka jika Jefri mengajak Zulfa bertemu di luar, dengan cara ngumpet seperti ini. Dia kan laki-laki dewasa, apa tak bisa menemui Zulfa di rumah saja? Dia benar-benar tak sopan sekarang.
Saat aku sudah berada di pintu belakang rumahnya, aku melihat Zulfa tengah bersandar pada bahu Jefri. Sembari duduk bersebelahan di kursi taman, yang terdapat di halaman belakang rumahnya ini.
"Woy…." panggilku, lalu mereka langsung menoleh ke arahku.
"Pacaran di rumah orang, malu-maluin aja kalian! Dewasa dong, Jef. Datengin Zulfa di rumah, pacaran di rumah. Atau kalau kau mau bawa dia pergi, bawa dia pergi dengan izin orang tuanya." ungkapku dari pintu ini, lalu aku kembali masuk ke rumah Haris. Aku akan meminta Alvi untuk mengusir mereka saja, karena setahuku Haris paling marah jika rumahnya dijadikan tempat berpacaran apa lagi berzina. Dia sendiri pun dulu, sebelum menikah dengan Alvi. Dia yang pergi dari rumahnya, jika ia membutuhkan Alvi.
"Vi… suruh Zulfa pulang." ujarku, ketika sudah berada di halaman depan rumah Haris.
"Ya tak enak, Bang. Masa tamu diusir-usir. Bang Adi sendiri aja sana, yang minta Zulfa pulang." sahut Alvi kemudian. Benar juga sih, tapi aku takut dikatai sebagai kakak yang bawel jika terlalu jauh mencampuri mereka.
Namun, tak lama Zulfa dan Jefri muncul dari dalam rumah. Zulfa tersenyum canggung pada kami semua, dengan Jefri yang terlihat cuek saja.
Aku hanya terdiam sambil mengajak Kin bermain, aku sudah amat kesal dengan mereka berdua.
__ADS_1
~
Sekarang aku sudah berada di rumah mertuaku, di kediaman orang tua Dinda. Aku tengah bergurau bersama Givan, di kamar milik istriku. Dengan Ghifar yang tengah olahraga sendiri di atas tempat tidur. Bayi empat puluh hari lebih itu tak mau diam, mendengar kakaknya tengah tertawa bahagia. Membuatnya semakin bersemangat menggerakkan tangan dan kakinya secara bersamaan.
Sungguh aku sudah amat bahagia hanya dengan seperti ini saja, apa lagi jika Dinda ikut melengkapi kehidupanku. Karena ia yang masih saja seperti itu, tak ada kemajuan pada hubungan kami.
Naya boro-boro bisa diajak bercanda seperti ini, baru saja di taruh di tempat tidur dia sudah merengek minta digendong kembali. Naya seperti sudah terbiasa digendong, bahkan tidur saja dia saja harus diayun dengan tangan.
"Di… kamu kapan pulang ke provinsi A?" tanya ibu mertuaku, yang tiba-tiba muncul dari balik pintu.
"Tak pulang, nunggu Dinda aja." jawabku menoleh sekilas ke arah ibu mertuaku.
Memang aku tak berniat pulang, sampai aku bisa membawa Adinda dan anak-anakku kembali.
"Memang kamu gak kerja?" sahut ibu mertuaku dengan duduk di tepian tempat tidur, dengan menoel pipi Ghifar. Membuatnya membuka mulutnya dan mencari jari yang menempel di pipinya tersebut, mungkin ia mengira itu adalah pucuk dada ibunya.
"Adi ngeladang aja. Ladang udah ada yang ngelola sendiri, jadi kalau ditinggal pun tak apa." jelasku tak bermaksud meninggikan diri.
"Sana rendemin ASIP dulu, Di." pinta ibu mertuaku dengan menggendong Ghifar, bertepatan dengan Givan yang meminta dimanja juga pada neneknya.
"Sini Abang sama Papah aja." ajakku setelah bangkit dari posisiku, lalu membenahi kembali pakaianku.
"Mau sama Nenek! Nenek tuh tak sayang aku lagi, apa-apa pasti Adek dulu yang diduluin. Padahal aku yang pertama dan Adek yang kedua, tapi Adek terus yang diutamakan." seru anakku, dengan bersedekap tangan.
Ia terlihat begitu marah, belum lagi Ghifar yang masih menangis saja.
"Udah Ghifar sama Adi aja, Bu. Barangkali Givan lagi mau sama neneknya." putusku dengan mengambil Ghifar dari gendongan ibu mertuaku.
__ADS_1
"Tuh… Papah pilih kasih. Sayangnya cuma sama Adek aja! Mentang-mentang Adek anak kandung Papah, jadi Papah cuma mau ngurus Adek aja!" seru anakku dengan menatapku dengan tajam.
Aku menghela nafasku, "Abang kenapa? Mau apa? Coba diinget lagi Papah kek mana ke Abang?" ucapku dengan menggandeng tangannya, lalu mengajaknya mengikutiku ke dapur. Untuk merendam ASIP yang sudah Dinda simpan di kulkas.
Givan masih terdiam, dengan memanyunkan bibirnya. Entah apa yang tengah ia pikirkan? Dia juga tengah sehat, tak sedang pilek atau demam. Tapi kenapa ia rewel seperti itu? Sampai-sampai dia mengatakan hal itu.
Aku tengah menyendokkan ASIP yang sudah direndam tadi, entah mengapa Ghifar tak mau meminum ASI dari botol bertutup karet itu.
~
Sore harinya, aku mendapat kabar dari Zuhra. Bahwa ia tengah tak baik-baik saja di sana, mau tak mau aku harus mengurusnya di sana. Karena ia tak mau untuk pulang ke umi, atau ikut denganku di sini. Entah apa yang membuat ia berat meninggalkan rumahku, padahal rumah umi tak kalah nyamannya dengan rumahku.
Dinda baru kembali, lalu ia langsung membersihkan dirinya. Ia membawa makanan yang disukai oleh Givan, ia juga membawa es krim bertepak besar dan juga dua kotak roti bakar.
Setelah ia selesai mandi, ia langsung mengambil alih Ghifar yang berada di dekapanku. Lalu ia mulai menyusui Ghifar, sembari memakan roti bakar berisikan slai nanas dengan dicocol dengan es krim.
Aku melongo melihat caranya memakan, benarkah cara makan roti bakar seperti itu caranya? Bahkan ia tak menawariku sedikitpun, padahal aku ada di depannya.
"Tawarin suamimu, Din." ucap ayah mertuaku, yang baru masuk ke rumah. Ia sudah datang sejak ashar tadi, lalu ia ke luar lagi dengan membawa motor bebeknya.
Dinda hanya mengangguk, tapi tetap diam tak menawariku. Aku mengulurkan tanganku, aku ingin mencoba caranya memakan roti bakar tersebut.
Namun, plak…
Ia memukul tanganku, lalu ia memberiku delikan tajam.
"Ambil sana yang di dalam, jangan minta punya aku. Orang tuh, tak sopan betul." ucapnya yang membuatku tak percaya. Karena, sejak kapan istriku pelit padaku?
__ADS_1
"Kau kenapa sih, Dek? Aneh betul. Givan juga rewel betul dari tadi, ada apa sih sebetulnya?" tanyaku dengan menarik kembali tanganku yang sempat menyentuh roti bakar tersebut.
......................