
"Umi kan tau Abang. Mana mungkin kan Abang macam itu?" ucapku bertanya balik, agar umi terkecoh dan tak mempertanyakan akan hal itu lagi.
"Umi sama Ayah ngerasa Abang demikian. Padahal dulu Abang itu setia loh, sejak saat Abang mempertahankan Shasha dulu. Umi sama ayah paham, bahwa Abang bisa jaga statusnya. Tak macam ini, Bang. Abang itu… nampak begitu gelagapan saat disinggung tentang wanita lain. Tegang, tak jelas untuk jelasin. Tak iyain, tak nyangkal juga. Berarti tandanya kan betul, bahwa Abang memang ada perempuan lain. Iya kan, Bang?" ungkap umi dengan tersenyum samar dan intonasi suara yang bisa membuatku untuk jujur.
"Mungkin hati Abang belum sembuh aja, Umi. Jadi susah, kalau harus nerima Maya dan pernikahan ini. Dengan cerita cinta Abang yang ditinggal Shasha tanpa kejelasan, padahal waktu itu Abang lagi sayang-sayangnya sama dia. Abang baru sadar, ternyata cuma Shasha yang dukung Abang saat Abang lagi di posisi terendah. Cuma Shasha juga yang mampu tutupin semua keburukan Abang. Tapi dia malah nikah sama yang lain, padahal kan tak lama lagi Abang bisa halalin dia. Udah macam itu, Abang lagi cinta-cintanya sama Dinda. Umi malah ngebentengin Abang dari segala sisi, Abang udah macam orang gila kurang setan kalau udah mikirin Dinda. Asal Umi tau aja, yang beresin penyakit kiriman itu Dinda. Yang bikin Abang semangat untuk berubah jadi lebih baik itu Dinda dan Givan. Perjalanan cinta udah kek gitu, malah dadakan disuruh nikah. Coba aja Umi bayangin jadi Abang, apa tak mumet tuh. Bahkan Abang sampek sering migren kalau udah banyak pikiran." ungkapku pelan, dengan memandang pintu kamar mandi yang tertutup. Karena itu yang ada di depan mataku, jelas aku tak mungkin untuk memandang wajah umi. Aku takut tak bisa mengontrol mulutku, akan sesuatu yang terjadi antara aku dan Dinda.
"Umi yang minta Shasha buat tinggalin Abang, karena kasian kalau dia harus nungguin Abang sampek selesai masa hukuman." sahut umi yang membuatku tak percaya. Aku menoleh dengan mata yang terbuka lebar, sungguh aku tak menyangka dengan apa yang barusan umi ucapkan.
Kasihan katanya? Tapi umi tak kasihan dengan anaknya sendiri? Pantas saja yang berbalik ke anaknya bertubi-tubi, tak taunya ibunya macam ini. Aku tak habis pikir dengan opsi yang umi ambil.
Aku menggeleng berulang kali, "Umi jahat ya. Pantas aja Shasha selalu bungkam dan tak pernah bahas masalah itu lagi, tak taunya umi dalang dari semua ini. Hati-hati Umi dalam bertindak, tengok anak Umi tak cuma satu. Memang nampak kek sepele, tentang segala sesuatu yang Umi ucapin itu. Tapi berdampak pada kehidupan anak-anak Umi." balasku dengan memandang wajah umi yang terlihat biasa saja.
"Yang udah ya udah lah, Bang. Tak perlu diperpanjang juga. Lagian kan, Abang udah punya keluarga. Shasha juga udah berkeluarga, kenapa masih dibahas aja?" tanya umi kemudian.
"Tiap hari Shasha pasti datang ke rumah. Entah itu untuk main, entah itu untuk nganterin sesuatu. Dia itu baik, Umi. Abang tak enak hati sama dia, lepas Abang tau ternyata Umi kek gitu sama dia. Sama Zuhra dia sering bikin makanan, sering bantu-bantu beresin rumah Abang. Tiap hari Abang ketemu dia, Umi. Malu betul rasanya Abang, Abang bersikap seolah tak ada apa-apa dan baik-baik aja. Abang malu Umi kek gitu ke Shasha. Padahal jelas Abang sama dia udah mantanan, tapi dia tetap baik Mi. Ya ampun, Umi. Jangan kek gitu lagi nanti." tuturku pelan dengan suara yang kutekan, agar emosiku bisa tertahankan.
Bukan apa-apa, aku dan Shasha pun biasa saja seolah tak ada apa-apa di antara kita dulu. Tapi dia baik pada Zuhra, pada anak-anakku pun dia baik, terlebih lagi pada Dinda. Selama ini aku meyakini bahwa Shasha yang bersalah atas hancurnya hubunganku dengan dia, tapi nyatanya itu salah. Selama ini aku salah mengira, ternyata Shasha sama tersakitinya seperti aku.
"Oh, jadi perempuan itu Shasha? Yang selalu neriakin Zuhra kalau lagi telepon sana Umi tuh dia? Jangan-jangan Abang tinggal serumah lagi sama Shasha." tuduh umi dengan menunjukku.
__ADS_1
Apa lagi ini? Bukannya merasa bersalah, umi malah menuduh Shasha.
"Rasanya tak mungkin ya, Umi. Kalau di provinsi A tinggal satu atap sama bukan muhrimnya." tukasku jelas, lalu aku berlalu pergi keluar dari ruangan Zulfa.
Ya Allah, Bi. Kenapa Abi dulu cinta sama umi yang memiliki sifat seperti itu? Untung saja jodohnya sebentar, kalau lama bisa banyak dosa karena Abi nanggung dosa umi juga. Ya ampun, yah. Doain semoga istri ayah ini cepat sadar dan bertaubat. Heran aku sama ayah, kenapa bisa mau nikahin umi?
Tak habis pikir aku dengan ibuku sendiri, kenapa ia sampai hati demikian? Memang apa salahku dulu? Sampai-sampai ia tega mencampuri urusanku dengan Shasha dulu.
~
Sesampainya aku di rumah Maya, aku langsung disambut dengan tangisan dan pelukan dari Maya.
"Nangisin apa, May? Ini awas Naya kejepit loh." ucapku dengan mencoba melepaskan pelukannya, karena ia sambil menggendong Naya. Bisa penyek anak mungil ini.
Aku beralih pada Naya, kemudian mengambilnya dari gendongan Maya. Mata Naya membulat, saat melihatku tengah mengangkat tubuhnya.
Mungkin dia kaget melihat sosok hitam sepertiku, haduh aku jadi ingin tertawa melihat ekspresinya.
"Kenapa, Nak? Ini Papah, Nak." ucapku dengan menciumi wajahnya.
__ADS_1
Matanya masih mekar sempurna, dengan tubuhnya mencoba memberontak.
Matanya kecil, tapi ia tengah melotot sekarang. Tentu terlihat lucu dan menggemaskan.
"Daddy dong, jangan papah." sahut Maya yang memeluk pinggangku.
Aku menoleh ke arah Maya, terlihat ia tengah menyunggingkan senyumnya padaku. Aku membalas senyumannya sekilas, lalu beralih pada Naya kembali.
"Abang mau dipanggil papah aja, jangan daddy." balasku kemudian, lalu aku menduduki sofa ruang tamu. Tak lama, Maya mengikutiku dan duduk di sebelahku.
"Tapi aku mau dipanggil mommy, terus Abang dipanggil daddy." ujar Maya yang bersandar pada lenganku.
"Macam apa aja, Abang orang pedalaman. Dipanggil papah aja udah paling kotaan di sana, apa lagi ini dipanggil daddy. Orang-orang nanti malah pada ngira bahwa nama Abang Dedi lagi, kan begitu pengucapan Daddy." tuturku yang membuat Maya terkekeh geli.
"Abang bisa aja." tukasnya dengan memukul pelan lenganku.
"Ambilin minum, May. Air putih dingin, ada tak?" pintaku padanya, karena aku masih asik melihat wajah Naya yang masih terkejut sedari tadi.
"Ambil sendiri aja dong, Bang. Anggap aja rumah sendiri, gak perlu sungkan-sungkanan." sahutnya kemudian, ia masih bergelayut manja pada lenganku saja. Apa ia tak mengerti kah, bahwa aku tak bisa dibantah?
__ADS_1
"Cepet ambilin! Terus Abang mau ada ngomong penting sama kau." tegasku dengan menggoyangkan lenganku, agar ia melepaskan lenganku yang ia peluk itu.
TBC.