Belenggu Sang Pemuda

Belenggu Sang Pemuda
BSP90. Tawaran untuk Jefri


__ADS_3

"May, coba susuin." ucapku setelah berada di hadapan Maya.


"Sakit, Bang. Gak mau aku, nanti dada aku kendor juga." ujar Maya. Apa dia kata?


Aku langsung menatapnya dengan tajam, aku bisa toleransi jika ia beralasan sakit karena jahitan. Aku pun pernah merasakan luka jahit, meski tak sebanyak yang Maya dapatkan. Tapi aku tau rasa sakitnya, aku bisa memaklumi itu.


Namun, dengan santainya dia berkata ia khawatir dadanya kendor. Dia pikir dada dia kencang kah?


"Iya tau, kendornya itu kaya balon yang habis ditiup." timpal Putri, sahabat karib Maya yang dari SD selalu berteman dengan Maya itu.


"Kendor tinggal perawatan, senam, olahraga, minum jamu. Udah bagus lagi nanti, May. Ketimbang nyusuin anak aja kau banyak alasan." sahutku dengan menaruh Naya di dekatnya, lalu aku bergegas pergi ke luar.


"Dibikinin susunya apa gimana? Bukannya marah-marahnya aja." seru Maya yang membuat langkah kakiku terhenti.


"Kau jalan apa gimana, biar rahim kau tak bengkak." balasku dengan memutar tubuhku.


Padahal ia sudah diberi tahu, namun apa yang ia lakukan. Hanya duduk diam dan tiduran, segala pakai diapers dewasa lah. Jorok betul, BAB dan BAK di dalam diapers.


Untungnya aku tak sendirian, untuk mengurus Maya yang jorok itu. Aku dibantu dengan ibu Rokhayah dalam mengurus bayi besar itu. Aku pun tau kewajibanku, untuk membersihkan kotoran istri saat nifas. Namun, Maya sepertinya sudah keterlaluan.


Kembali lagi aku mengerti akan luka bekas operasinya, tapi dokter sudah memberitahu segalanya. Bahwa tak apa-apa ia bergerak dan beraktifitas ringan juga. Malah bagus untuk rahimnya, karena saat akan pulang dari rumah sakit. Dokter memberitahu bahwa rahim Maya masih membengkak. Harusnya tiga hari dari masa melahirkan, rahimnya sudah kembali ke bentuk semula. Ini rahim, bukan perut. Kalau perut jelas membutuhkan waktu yang cukup lama, untuk kembali ke bentuk semula. Malah tak jarang, yang memiliki perut tetap besar setelah ia melahirkan. Aku paham akan hal itu.


Aku tak setega itu pada Naya. Aku menuju ke dapur, untuk membuatkan susu untuk bayi kecil itu.


Sepertinya aku harus segera pulang, aku merasa sudah terlalu lama berada di sini. Aku khawatir dengan Adindaku, apa lagi dia hari ini mendapat vaksin tetanus toksoid 2. Pasti ia demam dan tangganya sedikit bengkak.


Aku sudah memberitahu sejak sebelum pergi, untuk divaksin setelah aku kembali. Namun, malah ia divaksin hari ini. Ia berkata, mumpung vaksinnya masih tersedia dan keadaannya tengah fit. Bidan pun sudah menyuruhnya sejak satu minggu yang lalu, seperti itu alasan yang Dinda berikan.


Dinda pun dalam telepon bercerita banyak tentang hari-harinya. Mulai dari Sukma yang berkunjung ke rumah, lalu menginap di sana. Sampai dengan Safar yang terang-terangan meminta berkenalan dengan Sukma. Ia pun bercerita tentang Shasha yang sudah kembali ke provinsi A, tapi tidak dengan anaknya. Karena anaknya diambil oleh suaminya. Dinda menceritakan bagaimana sedihnya Shasha.

__ADS_1


Tapi aku masih penasaran dengan cerita dompet Dinda yang tertinggal di ATM itu, lalu seorang laki-laki yang mengembalikannya. Setiap kali aku tanya, Dinda hanya berkata nanti saja diceritakan di rumah.


Aku segera memberikan susu formula pada bayi yang masih menangis itu. Lalu aku kembali untuk menemani kawan-kawanku di luar.


"Di, maaf eh belum bisa ngasih hadiah untuk anak kau." ucap Jefri tiba-tiba.


"Aku tak butuh hadiah, aku udah mampu beli sendiri." sahutku lalu tertawa renyah. Jefri dan Haris pun ikut menyuarakan tawanya.


"Serius aku." balas Jefri kemudian.


"Tak apa Jef, santai aja. Yang terpenting jaga mulut kau itu. Aku ini lagi coba selesaiin masalah, kau jangan nambah-nambah beban pikiran aku." jelasku dengan menoleh padanya.


Aku tau keadaan keuangannya sekarang. Zulfa pun pernah sampai minta dibelikan kuota padaku, saat aku berada di provinsi A. Itu jelas tandanya, Jefri tak semampu itu untuk memenuhi kebutuhan Zulfa. Meski aku tau, mereka masih berpacaran. Namun, wajarnya perempuan itu meminta ini itu. Apa lagi jelas, hubungan suami istri sudah mereka lakukan, pasti Zulfa meminta lebih atas pengorbanannya yang ia berikan. Karena seperti itu biasanya pacar-pacarku dulu, setelah aku men*duri mereka.


"Kalau kau mau, kau boleh ikut aku." lanjutku kemudian.


Jefri menganggukkan kepalanya, "Kerja kasar ya, Di?" tanya Jefri memastikan.


"Ya… dibilang kasar ya tak juga, tapi memang tak berdasi juga." jawabku dengan mengambilkan rokok untuk mereka, yang aku simpan di angin-angin pintu rumah ini. Aku memang sudah tak merokok, tapi aku mempersiapkan rokok untuk acara begadang nanti malam. Karena biasanya seperti itu, jika ada bayi yang baru lahir dan belum lepas tali pusarnya. Pasti akan ditunggui semalam suntuk.


"Orang tua aku sekolahin aku tinggi, sampai jadi dokter. Berharap anaknya bisa jadi dokter yang bisa membanggakan mereka." ungkap Jefri. Mungkin ini berat untuknya, atau mungkin dia malu jika menjadi pesuruhku.


"Untungnya aku disuruh jadi tukang ladang dari aku kecil. Umi, ayah, pak cek, pak wa aku getol betul ngucapin, 'sekolah yang betul biar bisa suksesin ladang kau. Ambil fakultas pertanian, biar ada ilmu dasar dan pemikiran ke depan untuk nasib ladang kau.' macam itu terus mereka kalau semangatin aku." ujarku bercerita.


Jefri dan Haris terkekeh pelan, "Itu kau bukan jadi tukang ladangnya, tapi kau jadi bos ladangnya. Jelaslah kau tak malu dan merasa bangga. Orang ladangnya udah hektar-hektaran, mungkin lain ceritanya kalau kau jadi buruh petiknya." sahut Jefri dengan menepuk pelan lenganku.


Betul juga apa yang ia kata, "Iya ya. Tapi kalau aku tak bisa kelola betul-betul, bukan tak mungkin ladang itu malah tak jalan." balasku tak terima. Ladangku bisa sampai di titik ini pun, karena ada usahaku di sana.


"Kalau dia ikut kau, kau bayar dia berapa?" tanya Haris dengan menunjuk aku dan Jefri bergantian.

__ADS_1


"Masalah bayaran kan bukan sama aku." jawabku jujur, karena memang bukan aku yang mengurus keuangan untuk gaji pekerja. Namun saat Dinda kan, ia termasuk orang luar yang aku percayakan. Aku belum banyak bilang dengan orang yang mengurus keuangan lahanku, jadilah Dinda digaji langsung olehku.


"Kan dia nanti bakal jadi adik ipar kau." tutur Haris dengan membantu Kin memasukan makanannya ke mulutnya. Kin begitu anteng jika ada makanan.


"15an lah, macam gaji dinda dulu aja." tukasku cepat.


"Wow, 15 juta Jef. Ambil aja itu, dari pada kau nelatenin tiga jutaan sebulan. Belum bayar kontrakan dan lain sebagainya." ucap Haris. Sepertinya Haris sengaja memojokkan Jefri, agar mau bekerja denganku.


"Memang gimana sistemnya?" tanyaku penasaran.


"Susah-susah gampang, Di. Tak semua orang punya berpendidikan dokter bisa jadi dokter. Apa lagi harus buka praktek, izin dan pengalamannya harus memadai. Waktu aku kan ikut tes CPNS, bisa lolos. Jefri ikut dua kali tak bisa lolos." jawab Haris. Seperti yang Zulfa katakan waktu hari itu.


"Kenapa kau bisa lolos?" tanyaku kemudian.


"Doa istri menyertai." jawab Haris dengan tersenyum bangga.


"Oh, jadi karena aku belum beristri jadi aku tak lolos tes itu?" sahut Jefri sewot.


Haris terkekeh geli, "Aku tau ya Jef, meskipun aku bukan malaikat Raqib dan Atid kau. Tapi sedikit banyaknya, aku tau tentang kau. Maksiat terus sih kau, jelas lah kehidupan kau dipersulit." balas Haris dengan tampang menyebalkannya.


Sepertinya akan terjadi saling ejek di antara kami, aku berinisiatif untuk membuatkan mereka kopi. Namun, sebelum pergi aku akan memulai masalah dulu.


"Kalian harus ingat ya, bahwa aku punya 15cm. Belum lagi diameternya big dan kepalanya jelas besar. Terus aku punya ada gelangnya. Ingat ya itu." ungkapku dengan bergegas pergi.


Haris dan Jefri melongo melihatku, tapi setelahnya mereka tertawa cekikikan. Dengan mulai membanggakan diri masing-masing.


TBC.


Ada yang mau nambahin ukuran Adi juga? 😆

__ADS_1


__ADS_2