Belenggu Sang Pemuda

Belenggu Sang Pemuda
BSP153. Musyawarah


__ADS_3

"Di… Bapak mau tanya, tentang rumah tangga kalian. Sebenarnya, pernikahan kalian masih bisa ditangguhkan enggak? Bapak coba pahami keadaan, Bapak ngerti sama keputusan anak Bapak. Nah, kalau udah begini. Kamu mau ambil keputusan yang gimana? Udah lama Bapak sabar, udah cukup juga kamu ngulur-ngulur waktunya. Mungkin Dinda juga udah siap dengan segala sesuatu yang akan terjadi nanti, kamu juga harus siap kalau jalan satu-satunya itu ya pisah." ucap pak Sodikin, setelah Givan dibawa masuk oleh Maylani. Dengan Adinda yang berada di ruang tamu bersama keluarganya dan juga suaminya, sembari memberikan ASI untuk Ghifar dengan ditutupi hijabnya sendiri. Karena dia adalah tipe orang yang pemalu untuk menyusui di depan orang banyak, meski itu adalah keluarganya sendiri.


"Adi… Adi tak mau cerai, Pak. Adi pasti tangguhkan pernikahan Adi sama Dinda. Adi udah turunin surat cerai untuk Maya, tapi dia tak mau tanda tangan. Jadi Adi ambil balik surat itu, terus minta kawan Adi untuk urus perceraian yang tanpa tanda tangan itu. Entah apa itu namanya, tapi Adi udah lagi proses lagi." sahut Adi dengan berbicara secara perlahan, sembari memperhatikan satu persatu keluarga dari istrinya tersebut.


"Dinda tak ridho, Pak. Dinda mau udah aja, Dinda udah telanjur sakit hati sama Bang Adi." timpal Adinda, yang membuat Adi menoleh pada istrinya dengan pandangan kagetnya.


"Jadi gimana, Di? Dari awal kan Bapak udah pernah bilang sama kamu, bahwa keputusan akhirnya ada di Dinda. Kalau udah gini, kamu gak boleh maksa lagi. Dinda pengen pisah dari kamu, pasti masalah anak kita ambil jalan tengahnya. Kita omongin baik-baik, Di. Kalau memang kamu atau Dinda udah tak bisa nampung Ghifar, biar nanti diurus sama Arif. Ya, Rif?" ujar pak Sodikin, kemudian ia mengarahkan pandangannya pada Arif. Yang tengah duduk di sebelah Adi.


Tak butuh waktu lama, Arif langsung menganggukkan kepalanya. Tanda ia setuju dengan apa yang ayahnya katakan.


"Adi tetap tak mau cerai, Pak." jelas Adi dengan menduduk lesu, dengan linangan air mata yang langsung ia tahan dengan jarinya. Namun, tetap saja. Sifat air akan tetap mengalir dari tempat tinggi, ke tempat yang lebih rendah. Ia sadar, dirinya menjadi pusat perhatian seluruh keluarga. Apa lagi suara yang bergetar, menunjuk bahwa dirinya tengah terguncang hantaman perasaan.


"Dewasa, Di. Jangan begini lah, yang kasian sama Dinda. Jangan pikirin diri kamu, atau anak-anak aja. Lambat laun, kamu pasti bisa terbiasa tanpa Dinda. Masalah anak-anak, tenang aja karena mereka banyak yang sayang. Dinda juga gak mungkin biarin anaknya kekurangan kasih sayang, dia pasti tau yang terbaik untuk anaknya." tutur pak Sodikin dengan memperhatikan menantunya yang terisak sambil menunduk tersebut.


"Tolong kasih Adi waktu, Pak. Adi tak bisa langsung talak Dinda, Adi masih berat sama Dinda." tukas Adi yang menoleh pada istrinya. Ia mencoba mencari kekuatan untuk hatinya, dengan memandang wajah istrinya.


"Berapa lama?" tanya Arif.

__ADS_1


"Tiga bulan, tapi kalau sebelum tiga bulan itu Dinda pulang ke Adi. Adi anggap masalah ini selesai, artinya Dinda masih ingin sama Adi. Tapi Adi juga bukan lepas tangan macam itu aja, selama tiga bulan itu. Tak, tak macam itu. Adi dan Adinda tetap suami istri, Adi juga masih berhak atas Dinda dan anak-anak. Jadi, kapan pun Adi berkunjung. Tolong jangan usir-usir Adi. Adi coba untuk bujuk Dinda selama tiga bulan itu juga, tapi kalau memang hasilnya nihil. Adi pasrah sama keadaan, Adi nerima apa yang Dinda putuskan nanti." jawab Adi setelah air matanya terhapus, lalu ia berani untuk menatap satu persatu anggota keluarga Adinda.


"Tapi selama itu juga, aku tak mau digauli. Aku tau pikiran licik Abang, sengaja kan selama itu mau usahain aku hamil. Biar aku tak bisa lepas dari Abang kan?" ungkap Adinda yang terdengar begitu tidak sopan di telinga Adi. Karena Adinda membahas tentang hal sensitif tersebut, di depan keluarganya.


"Terserah Adek. Abang cuma mau nengokin anak dan istri Abang, berharap Adek bisa berubah pikiran. Karena Adek udah macam ini, dari awal Abang di sini Abang diusir-usir terus. Pasti Adek tak mau, kalau harus ikut Abang lagi. Abang paham itu, Dek." sahut Adi dengan memperhatikan wajah istrinya yang begitu terlihat tengah menahan tangisnya.


"Ya udah, berarti kamu minta waktu tiga bulan lagi untuk talak anak Bapak? Sebelumnya, kamu udah yakin mau perpanjang dosa selama tiga bulan itu?" ucap pak Sodikin kemudian.


Tentu benar berdosa, jika Adi menggantungkan rumah tangganya dengan Adinda. Karena permasalahan yang berlarut-larut, yang membuat Adi dan Adinda tidak memiliki hubungan yang baik pun sudah amat berdosa untuk keduanya. Apa lagi ditambah berpisah atap dan tidak dipenuhinya nafkah batin, tentu akan membuat masalah di akhirat nanti bertambah berat. Jika nafkah lahir yang berupa uang, Adi pasti mampu untuk memberikannya pada Adinda. Namun, untuk perhatian dan kasih sayang mungkin akan mengikis seiring berjalannya waktu.


"Mau macam mana lagi, Pak? Dinda minta pisah, sedangkan Adi tak mau. Ya Adi coba ambil tengah-tengahnya dulu, mana tau hubungan Adi dan Dinda bisa diperbaiki selama tiga bulan itu. Adi berharap rumah tangga Adi dan Dinda masih bisa diperjuangkan, apa lagi kalau Adi dan Dindanya masih sama-sama cinta Pak." sahut Adi mengutarakan tujuannya tentang keputusan yang diambil tiga bulan mendatang tersebut.


Adi terdiam dengan memandangi wajah istrinya yang tengah menyusui anaknya tersebut, Adi mencoba untuk merekam gambaran Adinda pada ingatnya. Karena setelah ini, ia harus pergi dan terpaksa menitipkan Adinda juga anak-anaknya pada keluarga mertuanya tersebut.


"Makan dulu, Di. Yuk ke belakang, Givan juga udah nyiapin buat kamu." ajak ibu Risa yang muncul kembali dari dalam rumahnya.


"Ayo, A. Makan dulu, makan bareng-bareng." lanjut ibu Risa pada Arif, yang masih duduk di sebelah Adi dengan memainkan ponselnya.

__ADS_1


"May aja yang suruh makan, Bu. Aa harus ke peternakan lagi, soalnya udah ada yang nungguin di sana." jawab Arif dengan menyimpan ponselnya, lalu ia pamit pada keluarganya untuk melanjutkan pekerjaannya.


Lalu Adi ditarik oleh Givan, kemudian mereka menyantap makanannya dengan diselingi canda tawa.


Berbeda dengan Adinda, yang sedari tadi menahan rasa tidak nyaman pada lambungnya tersebut. Lalu ia berjalan meninggalkan tempat makan, dengan pandangan mata semua orang yang berada di situ terpusat padanya.


"Papah sih, mamah kan tak suka kalau makan sambil ngobrol. Apa lagi bercandaan macam ini." ujar Givan menyalahkan ayahnya, dengan terus memperhatikan ibunya yang masuk ke dalam kamarnya.


"Mamah kan memang lagi sakit, liat aja makanan mamah aja kan beda sama kamu." sahut ibu Risa meluruskan tentang situasi sekarang.


"Lah… kok iya. Kenapa mamah makan bubur?" tukas anak tersebut, ketika melihat pada piring ibunya yang ditinggalkan di atas meja begitu saja.


"Lambungnya lagi tak sehat, soalnya mamah lagi pusing. Jadi lupa makan, jadi magh-nya kambuh deh." jelas ibu Risa pada cucunya tersebut.


"Tuh, pasti gara-gara Papah deh." tuduh Givan dengan menyipitkan matanya pada Adi.


Membuat Adi bingung, karena ia tersudut oleh anaknya tersendiri.

__ADS_1


......................


Tuh kan Papah... 😒 Gemes deh Mamah 😆


__ADS_2