
"Dia Hendra, yang ngontrak di kontrakan ibu." jawab Maya dengan menoleh padaku.
Hendra dengan Mahendra apakah mereka sama? Ayah kandung Givan? Mantan suami Dinda? Givan juga selalu menyebutkan Mahendra dengan sebutan papah Hendra. Apa mereka orang yang sama?
"Kontrakan yang di belakang rumah ini kah?" tanyaku kemudian. Karena aku pernah membeli sembako, pada warung kecil yang masuk ke gang tersebut. Di situ pun, aku mengetahui ternyata ada beberapa pintu kamar kos yang menempel dengan dinding belakang rumah ibu Rokhayah.
"Iya, itu kontrakan punya ibu. Dulunya kan gudang, sampai ke dapur itu gudang. Terus ayah macam udah firasat mau gak ada gitu, dia bikin beberapa kontrakan. Katanya biar ibu ada pemasukan tiap bulannya, kalau ayah udah gak bisa kasih nafkah lagi." jelas Maya dengan umi dan ayah menyimak cerita Maya.
Entahlah, aku sudah tak perduli dengan obrolan mereka selanjutnya. Aku ingin mengetahui lebih lanjut, tentang maksud Dinda menemui mantan suaminya tersebut. Meski sebenarnya aku ragu, kalau dia adalah mantan suami istriku. Karena dia tak ada mirip-miripnya dengan Givan, atau karena aku melihatnya dari jarak jauh?
Aku berpura-pura memain ponselku, padahal sebenarnya aku menunggu Dinda kembali. Aku ingin memastikan sendiri, dengan mendatanginya langsung. Tapi aku tak mau untuk berdebat dengan semua keluargaku. Apa lagi ayah dan umi sekarang berada di pihak Maya lagi, pasti membuatku semakin sulit untuk menyelamatkan pernikahanku dengan Dinda.
Cukup lama Dinda belum kembali juga, dengan aku yang masih setia memperhatikan mobilnya dari depan rumahku. Aku yakin Dinda tak mungkin meninggalkan mobilnya, karena aku tau itulah mobil kesayangannya. Bahkan, saat mobil itu kena sita. Ia sampai memperjuangkan mobil itu, agar sampai kembali lagi ke tangannya.
Maya dan umi pamit berbelanja sayuran, karena umi mengatakan akan makan bersama Jefri juga. Sedangkan ayah, berangkat ke kedai dengan Zulfa.
Aku sudah mengganti pakaianku dan berniat ikut dengan Dinda, saat Dinda sudah kembali lagi ke mobilnya.
Akhirnya, penantianku tak sia-sia. Dinda muncul kembali dengan Hendra itu dan seorang wanita berperut besar yang mengekorinya. Dia istrinya Hendra kah? Atau keluarganya?
Aku berjalan menghampiri Dinda dan menunggunya di depan pintu mobilnya. Dinda terlihat tengah berpamitan, lalu ia berjalan menghampiri mobilnya.
"Awas!" ucapnya dengan nada sewot. Kenapa dia? Harusnya aku yang marah. Dia istriku, tapi dengan tanpa izin dariku ia menemui Hendra tersebut.
__ADS_1
"Abang ikut." sahutku dengan tetap berdiri di depan pintu mobilnya.
"Udah sana pompa lagi aja istri kau, biar dia makin besar terus meletup. Repot-repot kau recokin hidup aku, macam kau tak punya kebahagiaan aja di luar sana. Padahal lebih jelas puasnya, apa lagi ny*sunya. Udah pasti cocok tuh susunya, karena besar dan juga menyuburkan. Terus Abang cepat gemuk dan meletup juga. Pesan aku Bang, tolong jangan lama-lama hidup." ketusnya dengan menarikku, agar aku tak menghalangi pintu mobilnya.
Aku bisa dibilang sudah kebal, mendengar makiannya setiap hari. Aku mengampuni atas ucapan istriku, aku rela dimaki dan dihinanya. Tapi aku tak tau ganjaran dosa yang harus ia emban kelak, karena ia bersikap demikian pada suaminya. Sudah menjadi pengetahuan global secara agama, bahwa surga istri berada pada suaminya.
"Abang ikut, Dek." ucapku lembut, dengan menyentuh tangannya.
"Hei Mas, bisa minggir gak? Yang sopan dong!" seru Hendra tersebut, yang ternyata masih di ujung gang dengan perempuan hamil itu.
"Dek… Abang ikut." ulangku, tanpa memperdulikan seruannya.
"KAMU NGAPAIN, DI?" teriak ibu Rokhayah, yang berada di balik pagar rumahnya.
Aku terpaksa melepaskan Dinda, dengan Dinda yang bergegas masuk ke dalam mobilnya. Kemudian melajukan mobilnya dengan hampir menyerempetku, karena ia langsung tancap gas dengan tanpa perhitungan.
Aku merasa, istriku begitu menginginkan aku mati. Bahkan ia kemarin sehari sebelum pernikahan Haris, ia mengatakan bahwa aku lebih baik mati di tangannya dari pada dia melihatku bahagia bersama yang lain.
Aku merasa Dinda mengatakan hal demikian tak main-main, karena aku mengingat kejadian saat pelipisku dihantam dengan botol hiasan ruang tamunya. Karena hantaman botol tersebut, pembuluh darah di area mataku pecah. Membuatku memiliki noda darah yang berada di bagian putih mataku, tepatnya di bagian pojok kiri bawah.
Bukan hanya itu saja, tiga jahitan yang aku dapat karena hantaman botol itu. Lalu ini, dia sengaja menyerempetku. Kalau aku tak menghindar satu langkah saja, sudah pasti aku akan mendapatkan luka lecet di bagian tubuhku.
Terlihat Hendra sudah tak ada di gang itu, mungkin mereka sudah kembali ke kontrakannya. Dengan ibu Rokhayah yang tengah mengepel teras rumahnya.
__ADS_1
Saat aku hendak menyebrang, aku mendapati ada seorang ojek online yang melintas. Aku memberhentikannya, lalu memintanya membawaku. Namun, sebelum pergi. Aku sempat membuat orderan, yang langsung diambil oleh ojek online tersebut.
Jefri menginap di rumah Haris, kalau tak langsung pulang kemungkinan Dinda berkumpul dengan geng squad broken heart-nya itu. Aku langsung mengarahkan ojek online tersebut mengantarku ke alamat rumah Haris, meski sebelumnya aku meminta diantarkan ke depan lampu merah sana. Ya sudahlah, biar nanti ongkosnya aku tambahkan saja.
Sayang sekali, saat aku baru sampai di depan rumah Haris. Haris masuk ke dalam mobil Dinda, dengan mobil itu yang langsung melaju pergi dari halaman rumah Haris.
Aku menghela nafas lelahku, dengan memperhatikan mobil Dinda yang kian menjauh.
"Mau ke mana mereka? Kenapa kau tak ikut, Vi? Pengantin baru, suaminya dibawa orang boleh aja." ucapku saat melihat Alvi tengah menyuapi Kin, di halaman rumahnya.
"Udah biasa, Bang. Dari dulu juga kek gitu terus bang Haris kalau udah menyangkut Dinda. Pasti dia tak bisa nolak, terus langsung laksanakan ajakan dari Dinda." sahutnya dengan membuka gerbang rumahnya lebih lebar. Lalu mempersilahkan aku masuk, dengan disambut teriakan dari Kin yang cukup memekakan telinga.
"Memang mereka mau ke mana?" tanyaku dengan mengambil alih Kin yang berada di gendongan Alvi, karena anak itu minta ikut denganku.
"Laboratorium P*******, katanya sih mau cek kesehatannya Dinda. Sama katanya sekalian ada kerjaan apa gitu, soalnya Dinda tak ada pemasukan lagi gitu. Jadi keluar cari duit sama bang Haris." jawab Alvi kemudian.
"Mbak… tolong buatkan kopi satu." ucap Alvi pada salah satu pengasuh anak Haris, yang baru keluar dengan memberikan Alvi tisu basah dan air minum dengan botol berwarna pink.
"Memang biasanya cari duit sama Haris?" sahutku ingin tahu. Alvi memiliki tanda merah di bagian dadanya, aku jadi merindukan Adindaku. Karena kulit Alvi yang sebening dan semulus Dinda, membuatku menginginkan bergumul dengan istriku sendiri. Alvi mengenakan baju ketat, yang memiliki potongan leher yang cukup besar. Jadi bisa terlihat payudaranya yang sedikit menonjol, aku pun menjaga pandanganku dan tak memelototinya. Hanya saja, memang terlihat di depan mata.
"Ya…….
TBC.
__ADS_1