
"AKU HAMIL!!! HASILNYA STRIP DUA! ABANG TEGA BETUL SAMA AKU, ANAK AKU MASIH KECIL-KECIL."
"Ya Allah, Bang…… macam mana ini?"
Ia terduduk menangis dengan memeluk lututnya. Kenapa istriku menjadi lebay sekarang? Ia seolah dihamili oleh pacarnya, lalu pacarnya tak mau bertanggung jawab.
Aku bangkit dari posisiku, lalu aku beralih memeluknya yang terduduk di lantai.
"Rabbi habli min ladunka dzurriyatan thayyiban innaka sami'ud du'a." ucapku sembari memeluknya.
Dinda menoleh ke arahku, dengan langsung menjambaki rambutku. Entah kenapa, aku malah tertawa lepas dibuatnya.
"Disyukuri coba, Dek. Malah nangis jeh, padahal jelas yang hamili suaminya sendiri." ucapku dengan mencekal tangannya, yang masih berusaha menjambaki rambutku. Kemudian, aku langsung memeluknya dengan erat.
"BAKAI! MEUROH!!" serunya dengan memberiku delikan tajam.
Ia memakiku dengan ucapan yang terdengar cukup kasar di sana, bakai berarti tak berpengalaman bisa juga disebut dengan bodoh. Sedangkan meuroh, berarti ceroboh.
"Adek pun bakai juga, masa tak tau suaminya udah keluar di dalam." sahutku yang membuatnya berontak dalam pelukanku. Setelah dirinya terbebas, ia langsung memukuliku dengan bantal guling berkali-kali.
"Aku benci sama Abang. Pokoknya, kita tak temenan. Kita musuhan! Dengoe tuh, MUSUHAN!!!" serunya dengan menghentakkan kakinya, menuju pintu kamar kami.
Kenapa dengannya? Bisa-bisanya suami istri musuhan? Lalu, bagaimana nanti kita menyatu? Aku malah berpikir ke arah situ.
Aku berjalan menuju ranjang bayi kembar kami, setelah mengecek keadaan mereka. Aku langsung bergegas ke kamar mandi, untuk membersihkan diriku dan menuntaskan hajatku.
~
Kami tengah sarapan bersama. Hanya Icut dan kembar yang sudah terbangun, sisanya masih terlelap dalam alam mimpinya.
Apa lagi Ghifar, ia tengah jumpa kangen dengan Zuhra semalam suntuk. Dua kali aku mengeceknya saat tengah malam, masih saja mereka tertawa dan menguyah makanan. Sedangkan Givan, ia terlelap bersama Novi pukul sepuluh malam. Novi terjatuh, hingga bibirnya berdarah. Membuat Givan merasa bersalah, atas tindakannya yang mengejar Novi agar Novi berlari. Drama memang anak-anak ini, tak beda jauh dengan Adindaku.
__ADS_1
Aku sengaja mengantongi tespek, yang aku temukan di nakas kamar. Strip dua, yang menunjukkan hasilnya positif. Padahal istriku sudah pernah hamil berkali-kali, tapi ia masih tak mengerti alarm tubuhnya yang menunjukkan bahwa dirinya hamil.
Sesi sarapan telah usai, aku merogoh tespek milik Dinda dari dalam kantong celanaku.
"Ibu, Bapak, Umi, Ayah. Adi minta maaf… karena Adi…" ucapku sambil mengeluarkan tespek tersebut, kemudian menunjukkannya ke mereka semua.
"Adi… buat Dinda hamil lagi." lanjutku dengan memperhatikan ekspresi wajah mereka satu persatu. Mereka melongo sesaat, kemudian saling melempar pandangan.
Terlihat Dinda masih asik menguyah sayuran yang ia tambahkan lagi ke piringnya, padahal nasinya sudah habis dimakannya. Ia seolah tak peduli, dengan ucapanku barusan.
"Maniak!" sahut ayah yang membuat kami semua menoleh ke arahnya.
Lalu ayah tertawa sumbang, saat dirinya menjadi pusat perhatian.
"Bolehlah, aktivitas fisik semau kamu. Kan udah halal ini. Tapi untuk kehamilan, sebaiknya dijarakin. Kasian anak-anak kamu, kecil-kecil begitu udah ada adik lagi." timpal bapak mertuaku. Memang beliau yang paling tak ridho, anaknya aku hamili terus-terusan. Aku pun tak menghendaki kehamilan ini, tapi mau bagaimana lagi. Ternyata aku dan Dinda diberikan amanah lagi dari Yang Maha Kuasa.
"Udah hamil, mau macam mana lagi?" balas Dinda yang masih fokus pada makanan saja. Ia memang malas membahas ini, atau memang ia masih marah padaku?
"Bang Adi aja suruh ikut KB, aku tak mau lah. Tau kan efek KB? Belum lagi turunnya hormon, jadi malas berhubungan. Nikah kan salah satunya tujuannya itu, masa giliran udah nikah malah jadi malas karena KB." sungguh aku malu sekali mendengar ucapan frontal dari istriku. Terlihat umi dan ayah menahan tawanya, dengan ibu dan bapak mertuaku saling melempar pandangan.
"Wis… angel! Angel tuturane." ucap ayah dengan nada yang cukup viral di media sosial.
"Kerja kau yang tekun, Bang. Ingat, minimal satu anak satu hektar. Pikirkan untuk nambah ladang, stabilin hasil panen. Banyak-banyakin usaha baru, biar bisa ngasih makan anak-anak kau." ujar umi yang membuat Dinda terkekeh geli. Memang betul juga ucapan umi, memang lucu kah?
"Kemarin nambah tiga hektar pun ngeden betul. Sampek cairin deposit, buat makan bulan depan." sindir Dinda yang sepertinya tengah menyindirku. Aku mencairkan deposit, karena uang istriku yang habis untuk memproses Maya kemarin. juga untuk biaya pernikahan kami berdua.
Aku langsung melemparkan tisu bekas, yang sudah kukepal. Saat ia menoleh, aku memberikannya kecupan jarak jauh padanya. Dengan semua orang yang memperhatikanku, menyuarakan tawa renyahnya.
"Lepas ini periksa, Di. Ke tempat dokter kandungan aja." ujar umi yang langsung aku angguki.
Lalu setelahnya, kami bersiap untuk menuju ke dokter kandungan. Aku ingin melihat keadaan janin yang tengah Dinda kandung, dengan konsultasi masalah menyusui si kembar.
__ADS_1
Kembar beranjak ke bulan keempat, dengan Dinda yang sudah mengandung kembali. Padahal jelas, Icut dan Ghifar belum juga berjalan. Aku membayangkan bagaimana repotnya pagi untuk Dinda, juga jam sore ketika waktunya anak-anak mandi. Aku harus ekstra perhatian pada istriku. Karena jika tidak, hubungan aku dan Dinda akan kurang harmonis.
Sesaat setelah kami masuk ke dalam ruang khusus USG, aku melihat janin kami anteng di dalam rahim istriku.
"Udah enam minggu usianya." ucap dokter tersebut. Sudah besar saja anak kami, tapi Dinda tak memahami alarm dari tubuhnya.
"Kami punya anak kembar, usianya kurang lebih empat bulan, juga mereka masih ASI eksklusif." ujar Dinda setelah gel yang berada di atas perutnya, dibersihkan oleh asisten dokter tersebut.
"Dua minggu lagi cek up kembali ya. Lalu untuk menyusui… bagaimana dengan keadaan Ibu akhir-akhir ini? Apa ada yang dirasa? Lalu bagaimana kualitas dan volume ASI-nya?" tanya dokter tersebut, dengan duduk di kursi kebesarannya kembali.
Ia menuliskan sesuatu pada kertas, mungkin ia tengah menulis resep obat untuk Adindaku.
"Saya tak tau kalau lagi hamil, ngerasanya biasa aja. Cuma memang ASI keknya lebih sedikit, karena biasa pump ASI dengan hasil banyak. Terus tiba-tiba akhir-akhir ini, ASI-nya tak bisa di-pump. Kembar pun rewel, kadang badannya hangat. Mungkin mereka kekurangan cairan sepertinya." jawab Dinda, dengan memperhatikan dokter tersebut.
Memang sih kembar rewel beberapa hari terakhir, dengan badan yang hangat. Jadi mereka kekurangan asupan ASI ternyata, aku baru memahaminya sekarang.
"Ok, baik. Saya rekomendasikan susu formula yang aman, untuk perut anak kembar Ibu. Karena jika Ibu menyusui anak tunggal, mungkin saya akan meresepkan agar ASI Ibu kembali berlimpah. Tetapi Ibu memiliki bayi kembar, membuat saya sedikit khawatir dengan keadaan mereka jika mereka harus tetap ASI. Sedangkan keadaan ibunya tengah mengandung kembali seperti ini."
"Saya minta Ibu untuk cek kembali setelah dua minggu ke depan, karena agar saya bisa memastikan janin yang Ibu kandung tunggal atau kembar kembali. Karena Ibu sendiri mengatakan, bahwa Ibu memiliki riwayat hamil kembar dari keluarganya."
"Saya resepkan vitamin dan obat anti mual. Nanti bisa ditebus di depan ya, Bu. Kemudian, saya rekomendasikan juga susu formula untuk bayi kembarnya."
Ungkapnya dengan memberikan kertas resep pada kami, dengan ia menyunggingkan senyum ramahnya.
Lalu kami pamit dan keluar dari ruang dokter tersebut, dengan aku menggandeng tangan istriku. Aku akan memiliki setengah lusin anak, yang akan mengisi kamar-kamar di rumah megah milik kami berdua.
TBC.
Setengah lusin, Woy? 😱
Tak kebayang repotnya jadi Dinda, pantesan dia jadi kurus ya. Itu karena dia capek ngurus anak, dengan kondisinya yang demikian. Aduh, ngeri-ngeri sedap 😌
__ADS_1