Belenggu Sang Pemuda

Belenggu Sang Pemuda
BSP147. Penjelasan Jefri


__ADS_3

"Kau rupanya! Aku kira Dinda nyusulin." ucap Adi setelah membuka pintu rumahnya.


"Nih, ada beberapa botol ASIP. Ada kulkas kan?" ujar Jefri yang membawa cooler bag berisikan beberapa botol ASIP.


"Ada, kenapa Dinda tak ikut?" tanya Adi dengan menunjukkan letak lemari es.


"Sini, Di." pinta Jefri yang berada di depan lemari es. Adi langsung berjalan ke arah Jefri, masih dengan mendekap Ghifar yang berselimut handuk.


"Ini ASI kau panasi dulu, caranya kau rendem di mangkuk berisikan air hangat. Intinya yang penting suhu ruangan aja, jangan sampek Ghifar minum susu dingin. Nanti keenakan pulak dia, minum es susu setiap saat." lanjut Jefri dengan memindahkan botol beling berisikan ASIP, ke dalam freezer lemari es.


"Aku tau lah, Dinda kemarin juga nyuruh aku macam itu. Pas dirinya perawatan kulit ke klinik kecantikan." sahut Adi dengan memperhatikan celotehan Jefri.


"Nih aku juga bawa botol untuk nyon-nyonnya Ghifar, tapi kalau dia tak mau kau sendokin aja pelan-pelan. Ini botolnya udah disteril, sekarang kau tinggal pakek aja. Setiap kali abis dipakek, botolnya dicuci pakek pakek sabun cuci khusus. Aku udah belanjakan juga, masih ada di mobil barangnya. Aku juga bawa beberapa pakaian Ghifar, sama kain yang Ghifar perlukan." jelas Jefri dengan mengatur suhu lemari es tersebut.


"Dengerin lagi…" ujar Jefri, saat Adi akan bersuara.


"Ini kau kasihkan ke Ghifar di botol susu yang labelnya paling lama. Jadi misalnya nih, kan ada tanggal nih dan ada jam juga. Ini kan 10 Maret 2021, jamnya 13.10 terus ini tanggal yang sama, tapi jamnya 13.40 berarti kau kasih ke Ghifar yang jam 13.10 dulu, Di. Begitu seterusnya, kau paham kan?" lanjut Jefri menjelaskan tentang masa penyimpanan ASI.


"Seterusnya? Memang Dinda tak mau ke sini kah?" tanya Adi dengan sisa harapannya.


"Terus ASIP kalau di suhu ruangan, dia bertahan sampai 2 jam ya. Selebihnya nanti dia bisa basi, kecuali pakek cooler bag ini. Kalau pakek cooler bag ini, ASIP bisa bertahan 24 jam. Nah kalau di lemari es tapi bukan di freezer, ASIP kuat sampek lima hari. Kalau di freezer, ASIP bisa tahan sampek 6 bulan dalam keadaan optimal. Paham kan?" ungkap Jefri yang mendapat anggukan kepala dari Adi.


"Terus, kalau kau mau keluar. Kau pakek aja cooler bag ini, Di. Ini kan cooler bag-nya dengan tipe kantong terpisah, jadi caranya kau bekukan dulu ini kantong esnya. Terus kalau kau mau pergi, kau simpan kantong es ini di tengah botol beling yang udah ada ASIP-nya. Jelas kan, Di? Aku bawain dulu ya perlengkapan Ghifar." lanjut Jefri dengan berlalu pergi, setelah mendapat anggukan kepala dari Adi.


Adi menghela nafasnya, kemudian mengelap permukaan kulit Ghifar yang masih basah.


"Sabar ya, Nak. Papah pasti usahain, biar kita bisa kumpul lagi." ucap Adi merasa amat kasihan pada anaknya sendiri, sampai tak terasa ia meneteskan air matanya kembali.

__ADS_1


Ia merasa tak tega melihat anaknya tengah menyesapi jempol tangannya, karena Ghifar sedari tadi sampai sekarang belum ada cairan yang masuk ke mulutnya.


Lalu Adi mengambil botol dengan jam yang paling lama, kemudian merendamnya di mangkuk berisi air hangat dari dispenser air.


"Ini, Di. Ada celana Ghifar, pakaian Ghifar, mantel dan kain selimutnya." ucap Jefri dengan menaruh tas bayi berwarna ungu dan hitam.


"Sini, biar aku bantu. Kau salinin dulu anak kau, kasian itu dia barangkali kedinginan." lanjut Jefri, saat melihat Adi tengah kesusahan untuk menuangkan ASIP di botol beling ke dalam botol susu yang memiliki tutup ber-ni*ple karet.


Jefri langsung mengambil alih kegiatan Adi, dengan Adi yang membawa dua tas tersebut masuk ke kamarnya. Ia berniat membalurkan minyak telon pada tubuh Ghifar dan memakaikannya pakaian.


Setelah Ghifar sudah berpakaian, Adi keluar dari kamarnya. Berniat untuk memberikan Ghifar ASIP, yang diberikan oleh Adinda dalam botol.


"Ini, Di." ucap Jefri dengan memberikan botol susu untuk Ghifar.


Adi langsung menerimanya, lalu memberikannya pada Ghifar. Terlihat Ghifar begitu terburu-buru saat ujung botol susu berbahan karet itu menempel pada mulutnya, tapi ia malah menangis tanpa sebab. Setelah dirinya menyadari, bahwa karet itu bukanlah milik ibunya.


"Kenapa ini, Jef." tanya Adi, saat Ghifar menggelengkan kepalanya. Membuat tutup karet itu terlepas dari mulut kecilnya.


"Waduh… anget badannya, dehidrasi dia Di." lanjut Jefri, saat dirinya menyentuh permukaan kulit wajah Ghifar. Bermaksud untuk menghapus ASI di sekitar mulutnya.


"Macam mana ini? Aku harus gimana?" ujar Adi panik, dengan ia bangkit dari duduknya dan mencoba menenangkan Ghifar. Karena anak itu terus menangis.


"Sendokin aja, Di." saran Jefri, lalu Adi langsung bergegas mengambil sendok dan meminta Jefri untuk membuka tutup botol susu tersebut.


Dengan sendok teh, ia menyuapi Ghifar ASIP yang Adinda berikan. Terlihat anak itu sangat menikmati suapan demi suapan ASIP yang masuk ke mulutnya.


"Kalau lepas ini dia tak anget lagi, Ghifar tak perlu diberikan obat. Dia cuma dehidrasi aja, Di." ujar Jefri dengan memegang botol susu, sembari Adi menyuapkan ASIP untuk Ghifar.

__ADS_1


Adi menggosok ujung matanya, lalu menghapus cairan yang keluar dari matanya.


"Berapa jahitan? Sakit kali kah, atau ada masalah sama mata kau?" tanya Jefri, saat dirinya melihat pergerakan Adi saat menghapus air matanya.


"Tiga jahitan." jawab Adi yang fokusnya hanya untuk Ghifar.


"Sih kau kenapa?" tanya Jefri kembali, karena melihat rembesan air mata Adi yang jatuh pada pakaian anaknya.


"Dinda tak mau ambil anaknya kah, Jef? Dia tak kasian kah sama Ghifar? Dia ada ngomong apa sama kau?" ungkap Adi dengan suara yang bergetar.


Bukan menangis karena rasa sakitnya, tapi Adi menangisi anaknya yang sengaja dipisahkan dari ibunya. Ia tak tega melihat Ghifar yang lebih sering menangis, sampai Ghifar dehidrasi karena kekurangan cairan. Belum lagi cara Ghifar begitu terburu-buru saat menikmati ASIP, membuatnya semakin terpukul dengan kenyataan ini.


"Kau jangan nangis lah, aku tadi di sana habis nangis. Masa iya hari ini aku ikut sedihnya aja." sahut Jefri dengan menepuk pundak Adi.


"Bukannya kau sama Haris yang rencanain kejutan ini? Kau sama dia pengen aku sama Dinda berantakan kan?" tuduh Adi dengan berhenti dari aktifitasnya sejenak, lalu memandang Jefri dengan tatapan marah. Jangan lupakan juga matanya yang memerah dan berair, memperlihatkan kesan betapa kacaunya dirinya sekarang.


"Demi Allah, aku sama Haris tak rencanain itu. Kemarin hari, aku ke rumah kau yang di provinsi A. Aku ngasih kabar, bahwa lima hari lagi Haris nikahan. Aku ke situ sekalian mau laporan tentang keadaan ladang sama Dinda. Terus istri kau kata, katanya dia udah pesan tiket untuk pulang. Dia biarin kau pulang, karena dia mau nyusulin kau. Dia pengen kasih sedikit kejutan untuk kau, dengan dia yang tiba-tiba nyamperin kau. Soalnya dia tau dari kau sendiri kan, bahwa kau tinggal di rumahnya yang ini. Jadi lepas belanja tadi, rencananya dia mau balik ke sini. Karena dia kira kau semalam tinggal di sini. Terus, terakhir subuh tadi dia hubungi kau katanya abis teleponan sama kau dan kau bilang kau ada di rumah. Tapi kau juga bilang, kau mau lanjut tidur. Karena semalamnya kau susah tidur. Dinda bilang kek gitu sama aku sama Haris." ungkap Jefri menjelaskan tentang rencana Dinda.


Namun, terdengar tangis Ghifar kembali. Karena susu untuk Ghifar lenyap tak tersisa.


"Rendem lagi aja, Jef. Sedikit aja, soalnya dia kek belum puas." ujar Adi yang fokusnya terbagikan.


Lalu Jefri langsung bergegas menuju dapur, dengan Adi yang menggendong Ghifar dan mengayunkannya perlahan. Agar anak itu bisa tenang dan tak menangis kembali.


"Terus macam mana ceritanya Dinda bisa sampek di sini? Kapan dia ambil penerbangan? Sama kau kan dia balik ke sini?" tanya Adi dengan berjalan menyusul Jefri, yang tengah berkutat di dapur.


......................

__ADS_1


Ini loh maksud Dinda biarin Adi pulang ke kota C, malah dia kek nyuruh gitu kan. Eh... tak taunya, dia mau kasih kejutan buat suaminya


Oh, iya. ASIP itu, air susu ibu perah.


__ADS_2