Belenggu Sang Pemuda

Belenggu Sang Pemuda
BSP87. Operasi sesar


__ADS_3

"Ibu Maya berada di rumah sakit umum daerah K*******. Bapak diminta datang, untuk menandatangani surat persetujuan persalinan sesar yang akan dilakukan pada ibu Maya." jawab perempuan dalam telepon tersebut.


"Di mana itu rumah sakit umum daerah K*******? Kenapa di sesar?" sahut Adi yang merasa penasaran. Karena ia mengetahui bahwa Maya dan anaknya baik-baik saja, tapi malah ia mendapat kabar seperti ini.


"Mobil yang ditumpangi Ibu Maya mengalami kecalakaan tunggal. Di daerah K******* Jawa barat, Pak. Kedatangan Bapak ditunggu, karena operasi harus segera dilakukan." balas perempuan tersebut.


"Ok, baik. Saya segera ke sana." jawab Adi. Lalu pihak rumah sakit, langsung memutuskan panggilan teleponnya.


"Siapa, Di? Ada apa?" tanya ibu Risa terlihat khawatir.


"Itu, Maya kecelakaan di K*******. Harus disesar katanya, butuh tanda tangan Adi juga." jawab Adi terdengar terburu-buru. Ia terlihat begitu panik, apa lagi saat mendengar bahwa Maya kecelakaan dan anaknya dilahirkan dengan cara operasi. Adi yakin mereka di sana sedang tidak baik-baik saja.


Lalu Adi berjalan untuk mencuci tangannya.


"Maya siapa?" sahut ibu Risa dengan memperhatikan gerakan Adi.


"Yang kedua itu. Adi pergi dulu ya, Bu. Nanti sebelum balik ke provinsi A, Adi ke sini dulu." balas Adi kemudian.


"Abisin dulu makanannya, Di." ujar ibu Risa.


"Nanti aja, Bu. Soalnya disuruh cepat-cepat sama pihak rumah sakitnya." tutur Adi.


"Ya udah, ati-ati. Nanti kabarin aja ke Arif, kalau ada apa-apa." tukas ibu Risa. Lalu Adi mengangguk cepat.


Dan ia langsung berlalu pergi, setelah berpamitan pada ibu Risa dan Arif.


Adi berlari kecil menuju mobil Adinda yang berada di parkiran sekolah dasar. Mobilnya ia parkiran di situ, karena perintah dari bapak mertuanya.


Setelah berada di dalam mobil, Adi menghubungi Zulfa dan Jefri. Ia memberitahukan bahwa Maya berada di rumah sakit dan akan segera dioperasi. Zulfa pun diminta untuk memberitahu ibu Rokhayah. Mereka bertiga diminta datang ke rumah sakit itu juga, dengan membawa beberapa barang-barang yang diperlukan untuk bayi dan ibunya.


Dalam perjalanan yang ditunjukkan oleh go**le maps, Adi mengikuti arahan dari suara yang terdengar dari ponselnya.


'Heran aku, tinggal di kota C. Tapi kenapa bisa kecelakaan di daerah K*******? Ngelayab terus apa macam mana?' gumam Adi pelan.


~


Akhirnya, Adi sampai di rumah sakit tersebut. Dan ia langsung diarahkan untuk menandatangani surat persetujuan, dan mengisi formulir dan berkas-berkas lainnya.


Adi terlihat begitu sibuk, bolak-balik ke ruangan lain untuk mengurus berkas-berkasnya.


Lalu setelahnya, suster memberitahu bahwa operasinya akan segera dilakukan.


Adi mengangguk dan membantu beberapa suster, untuk mendorong ranjang Maya. Maya terlihat tak sadarkan diri, dengan beberapa luka kecil di wajah yang sudah dibalut dengan perban.


Selang infus, dan alat bantu pernapasan sudah terpasang.


"Bapak diminta untuk tes darah terlebih dahulu." ucap seorang suster yang datang dari arah lain.

__ADS_1


Adi menganggukan kepalanya, ia paham prosedur yang harus dilakukan. Karena sebelumnya, ia sudah pernah menemani saudara sepupunya melahirkan.


Saat Adi berjalan menuju ke tempat untuk dirinya mengecek golongan darahnya. Ia mendapat telepon dari Zulfa. Ia memberitahukan bahwa dirinya berada di parkiran, dengan Jefri dan ibu Rokhayah.


"Coba tanya ke bagian informasi. Di ruang operasi katanya. Kalau Abang mau cek darah dulu, nanti ketemu aja di ruang tunggu operasi." jawab Adi dalam panggilan teleponnya.


"Iya, Bang. Barang-barang juga dibawa ke dalam?" tanya Zulfa sebelum Adi menutup sambungan teleponnya.


"Bawa aja, soalnya tadi diminta sama suster. Kain jarik, diapers dewasa, pakaian bayi, kain bedong, sama diapers bayi." sahut Adi. Lalu ia mematikan sambungan teleponnya, setelah Zulfa mendengar ucapannya.


Dan Adi segera melakukan tes darahnya, untuk didonorkan pada Maya. Jika Maya kekurangan darah, atau hal darurat lainnya.


Di tempat lain


Ibu Rokhayah menangisi anaknya yang berada dalam ruang operasi, perasaannya campur aduk tak jelas. Ia bahagia, cucunya akan segera dilahirkan. Namun, ia begitu sedih dan khawatir. Saat mendengar kabar bahwa anaknya kecelakaan dan harus dilakukan operasi sesar mendadak. Jelas itu bukan keadaan yang baik-baik saja.


"Kak Maya lagi jalan-jalan ya, Bu?" tanya Zulfa, karena ia merasa heran dengan kakak iparnya yang mengalami kecalakaan tunggal di daerah lain.


"Iya, tapi dia bilang mau ke rumah temennya." jawab ibu Rokhayah.


"Siapa temannya?" sahut Zulfa dengan mencoba menenangkan ibu Rokhayah.


"Putri, teman dari masa dia SD." balas ibu Rokhayah.


"Kok bisa?" tanya Adi tiba-tiba. Ia sudah berada di hadapan mereka semua.


"Bisa macam mana?" tanya Jefri bingung.


"Ya kok bisa sama Putri? Kan kata suster kecelakaannya sama laki-laki, namanya Hamzah." ungkap Adi kemudian.


"Gimana ceritanya? Ibu kurang tau pasti." sahut ibu Rokhayah.


"Jadi waktu Adi lagi ngurus formulir….


Flashback On


Adi tengah sibuk mengisikan formulir data pasien. Lalu ia diminta untuk mengisikan formulir data pasien seseorang yang mengendarai mobil yang Maya tumpangi.


Adi membacakan nama yang tertera pada KTP yang diberikan pada Adi.


"Jadi ibu Maya ini satu mobil sama pak Hamzah ini?" tanya Adi pada seseorang yang berada di hadapannya.


"Iya. Kata warga yang bawa mereka, katanya pengemudinya kurang ahli lewatin medan menurun dan berkelok. Jadinya mereka keluar dari jalur, dan masuk ke parit warga. Mobilnya masih di tengah parit. Mungkin nanti polisi yang ngurus." jelas orang tersebut. Adi manggut-manggut mengerti.


Melihat dari KTP yang berada di tangannya. Sepertinya Adi pernah melihat orang dalam foto 2×3 yang berada di KTP tersebut.


Adi menggelengkan kepalanya berulang kali, karena banyak kemungkinan yang ia simpulkan dalam pikirannya.

__ADS_1


"Keknya mereka abis wisata ya, Pak?" ucap Adi pada seseorang yang berada di hadapannya.


"Iya, di tas perempuannya ada kartis parkir tempat wisata." sahut orang tersebut.


Adi mengangguk, dan cepat menyelesaikan formalitas rumah sakit tersebut.


Flashback off


"Hamzah?" tanya ibu Rokhayah, setelah mendengar cerita dari Adi.


"Iya, mungkin calonnya Maya." jawab Adi.


"Tegas dong! Bodoh! Masa istri jalan sama laki-laki lain kau diam aja." timpal Jefri dengan sorot mata kesal.


"Biarin aja. Biar prosesnya lebih cepat." sahut Adi.


Ibu Rokhayah menggeleng kepalanya, rasa marah mendengar penuturan menantunya semakin memuncak.


"Nah iya itu lebih bagus, percepat dari sekarang prosesnya. Kamu pikir laki-laki di dunia ini cuma kamu seorang? Sombong! Nikah dihamili lebih dulu, kamu seolah nyepelehin perempuan yang kamu hamilin!" seru ibu Rokhayah, "Sana pergi! Cepat selesaikan proses perceraiannya!" lanjutnya dengan menunjuk pada Adi.


"Tak perlu pergi juga, aku bisa proses perceraiannya dari sekarang. Aku di sini cumu mau ngambil anak aku." sahut Adi terdengar begitu santai.


"Anak? Anak yang mana ya? Nikah cuma nikah seadanya, peran suami pun gak pernah kamu lakukan. Setiap ada di rumah pasti ribut. Boro-boro nungguin istri yang lagi hamil, kerjaannya keluyuran gak jelas." maki ibu Rokhayah, "Gak usah kamu anggap dia anak kamu lagi, gak guna kehadiran kamu di sini. Dia anak Maya, bukan anak kamu!" lanjut ibu Rokhayah.


Zulfa mengusap pelan punggung ibu Rokhayah, berharap ibu Rokhayah mau ditenangkan.


"Pea kau!" maki Jefri pelan. Saat Adi berjalan melewatinya.


Adi meneruskan langkah kakinya, ia begitu penasaran dengan laki-laki yang bernama Hamzah itu. Sebenarnya siapa dia? Pertanyaan yang kian bermunculan sedari tadi.


Adi menuju ke bagian informasi, "Bu, untuk pasien yang bernama Hamzah. Yang kecelakaan masuk parit itu, dia di rawat di ruangan apa ya?" tanya Adi kemudian.


"Dengan siapa?" sahut petugas tersebut.


"Saya keluarga dari pasien yang tengah mengandung itu." balas Adi.


"Oh, yang bareng sama pak Hamzah itu bukan?" ujar petugas tersebut. Adi langsung menganggukan kepalanya cepat.


"Di ruang arum nomor dua." tutur petugas memberitahu.


"Baik, terima kasih." tukas Adi. Lalu Adi berjalan cepat menuju ruangan tersebut.


......................


Sabar ya rekan, ketahuannya lama. Aku kasih tau sekali lagi bahwa cerita ini berbelit-belit dan berkelok-kelok. Namanya juga bacaan ya dinikmati aja seadanya 🤭 karena memang kapasitas penulisnya begini gitu loh.


oke semuanya, terimong geunaseh 🙏

__ADS_1


__ADS_2