Belenggu Sang Pemuda

Belenggu Sang Pemuda
BSP49. Tagihan Adinda untuk Adi


__ADS_3

"Apa, Dek?" tanya Adi bingung. Pasalnya istrinya diam tanpa pergerakan. Dengan pandangan yang masih mengunci netranya.


"Aku bersyukur, dapat suami macam Abang. Tetap jadi Bang Adi yang aku kenal, ya Bang? Tetap jadi suami terbaik untuk aku. Papah yang hebat untuk anak-anak aku." jawab Adinda, dengan meloloskan air mata bangganya.


Adi langsung menarik tubuh istrinya, untuk ia dekap. Ia khawatir dirinya tak bisa lagi menjadi kebanggaan istrinya. Apa lagi kenyataan menyakitkan, yang selama ini ia tutupi dengan kebohongan yang begitu banyak.


'Maafin Abang, Sayang.' ucap Adi dalam hati. Ia tak mungkin menyuarakan permintaan maafnya. Karena Adinda pasti akan mencurigai tindakannya itu.


"Lagi pada ngapain?" ujar anak kecil, yang melihat adegan pelukan kedua orang tuanya tersebut.


"Mamahnya lagi pengen disayang." sahut Adi, dengan melepaskan dekapannya.


"Mamah lagi yang dijadiin alasan!" sahut Adinda menimpali ucapan suaminya. Dengan melirik sekilas pada Adi, yang tengah tersenyum manis pada anaknya.


"Sini, Nak." pinta Adi, dengan melambaikan tangan pada Givan.


Givan melangkah menuju ke orang, yang ia jadikan panutan bagi dirinya itu.


Adi langsung menggapai tangan Givan, dan membawanya dalam pangkuannya.


"Adek bayi udah tambah besar di sini. Abang jagain adeknya. Adeknya diajak tidur gih. Papah mau ke ladang lagi, mau garap ladang lagi. Biar bibit pohon kopinya tumbuh bagus. Terus Abang bisa ikut panen di sana." tutur Adi. Agar Givan mau tidur siang, dan tak meminta ikut ke ladang dengannya lagi.


Givan mengangguk, ia mengerti maksud ucapan Adi.


"Aku juga capek. Aku mau tidur." tukasnya dengan menarik tangan ibunya.


Sebelum Adinda berlalu pergi, Adi menyempatkan untuk mendaratkan bibirnya di pipi istrinya yang mulai mengembang tersebut.


Adinda melirik sekilas pada suaminya, namun Adi hanya mengedipkan satu matanya untuk menggoda istrinya.


~


Malam harinya, Adi tengah menghubungi orang catering untuk acara syukuran rumah barunya besok.


"Ya, Bu. Acaranya setelah ashar. Jadi lebih baik diantar setelah dzuhur saja." ucap Adi dalam panggilan teleponnya.


"Baik, Pak. Apa ada catatan lain?" tanya orang di seberang telepon.


"Udah itu aja. Ya udah, makasih ya Bu. Assalamualaikum." jawab Adi terdengar oleh telinga Adinda.


"Iya Pak, sama-sama. Wa'alaikum salam." sahut ibu pihak catering. Lalu panggilan telepon terputus.


"Udah beres, Sayang." ucap Adi dengan tersenyum pada istrinya, yang berada di sampingnya.


"Jadi kapan?" tanya Adinda acak. Adi tak mengerti apa yang dimaksud oleh istrinya.


Namun Adi mendadak pusing. Ia berprasangka istrinya, memintanya untuk menceritakan semuanya pada ibunya.


"Apa, Dek?" sahut Adi tidak mengerti. Ia tak ingin ceroboh. Karena ia belum mendapatkan ucapan jelas dari istrinya.

__ADS_1


"Nengokin adek bayinya? Perasaan kemarin Abang tak nengokin juga. Paginya Abang langsung sibuk sendiri. Biasanya juga setor, tapi sampek lupa." ungkap Adinda tanpa malu.


"Ohh…" Adi merespon dengan tersenyum manis. Dan langsung menggendong mesra istrinya.


"Mau yang hard apa easy?" tanya Adi sambil berjalan menuju kamar.


"Mau surprise aja. Aku mau dienakin, dipuasin, dibikin kl*maks berkali-kali." jawab Adinda dengan menatap suaminya intens.


"Siap sedia. Biasanya juga dienakin, puas, dan kl*maks berkali-kali juga." sahut Adi kemudian. Lalu ia menurunkan istrinya perlahan. Dengan langsung memulai serangannya.


Adi mengelus perut istrinya yang sudah membuncit. Akhir ini istrinya begitu malu dengan perutnya tersebut. Ia tak merasa percaya diri dengan penampilannya tanpa busana.


"Kalau malam dia suka gerak, Dek. Abang seneng betul pas dapat tendangan pelan darinya." ungkap Adi terlihat begitu bahagia.


"Kenapa ya geraknya kalau malam aja?" tanya Adinda dengan memperhatikan wajah bahagia suaminya.


"Mungkin siangnya buat waktunya tidur. Abang kurang tau juga. Nanti setelah rumah rampung. Kita ke dokter lagi. Udah waktunya Adek untuk USG lanjutan juga kan?" tutur Adi. Adinda mengangguk mengiyakan.


"Allahumma janibnasyaithana wa janibnisyathanamarazaqna." lanjut Adi melafalkan doa. Lalu ia meniupkannya di pucuk kepala istrinya.


Ia tersenyum manis di depan wajah istrinya. Dengan kungkungan yang mengunci pergerakan istrinya.


"Apa?" tanya Adinda salah tingkah.


"Kalau dari dekat macam ini. Adek nampak jelek betul. Hidungnya minimalis kali." ucap Adi mengguraui Adinda. Dengan hidung yang ia gesekkan dengan hidung istrinya.


Tangan Adinda menggapai sesuatu yang berada di tengah-tengah tubuh Adi. Lalu ia meremasnya kuat.


Ia ingin menambahkan tanda merah pada kulit putih bersih milik istrinya. Agar Adinda selalu mengingat percintaan panas mereka. Itu yang ada dipikiran Adi, setiap kali berhubungan badan. Agar istrinya tau, seberapa hebatnya dirinya saat menguasai tubuh istrinya.


"Divideo ya, Dek." ucap Adi dengan menegakkan tubuhnya kembali.


"Heh, janganlah. Nanti kesebar pulak. Bisa dipenjara kita nanti." sahut Adinda menolak.


"Tak lah, ngapain Abang sebarin. Buat bahan Abang col* nanti. Kalau Adek lagi nifas." balas Adi dengan menggapai ponselnya. Dan mengaktifkan kameranya.


"No, no, no!" ucap Adinda dengan menggoyangkan telunjuknya di depan Adi.


Adi langsung mengarahkan kamera pada istrinya. Dengan dirinya melepaskan celana jeans pendek yang ia kenakan.


"Janganlah, Bang. Macam tak ada video porn* aja. Sampek-sampek buat sendiri." ujar Adinda dengan menutupi wajahnya.


Lalu Adi menaruh ponselnya di atas nakas, dengan kamera menghadap ke arah mereka.


Setelah pas. Adi langsung membuka kaos yang ia kenakan. Dan menurunkan c*l*na d*l*mnya. Ia sudah t*lanj*ng bul*t sekarang.


"Aman, tenang aja." ucap Adi menenangkan. Lalu ia mulai menindihi istrinya, dengan berat tubuhnya yang ia sangga dengan kedua siku tangannya.


"Jangan hiraukan kamera. Adek nikmati apa yang Abang berikan, ok?" lanjut Adi kemudian. Adinda mengangguk, dan mulai meliukkan tubuhnya. Saat ujung lidah Adi menari-nari tepat di kulit mulusnya.

__ADS_1


Meskipun mereka sering melakukannya, tapi salah satu di antara mereka tidak ada yang merasa bosan sedikit pun. Adi selalu bisa membuat istrinya bersedia melakukannya. Dan Adi sudah amat kecanduan dengan tubuh istrinya, atas rasa nikmat yang istrinya berikan. Sejauh ia berkelana pada wanita, hanya Adinda lah yang membuat dirinya kecanduan akan se*s. Untungnya mereka berdua sudah halal melakukannya.


Decitan ranjang mulai berirama. Desa*an demi desa*an pun lolos begitu saja. Namun sejauh ini, geraman Adi belum memenuhi ruangan. Bertanda dirinya masih bertahan dalam jepitan yang istrinya berikan.


Sampai kecipkrakan air terdengar. Namun tak sampai membasahi tempat yang ia gunakan.


"Ughhhh…. Abang…"


"AKHHHHH………."


nyaring suara seorang wanita yang berada di bawah kungkungan Adi sekarang. Mungkin seseorang yang melintas di sekitar rumah mereka, bisa saja mendengar pekikan tersebut.


Adi menatap intens wajah wanitanya. Ia tersenyum manis padanya, ia bangga dengan dirinya sendiri. Meskipun pernah gagal membuat istrinya kl*maks, tapi Adi merasa hanya dirinya lah yang terhebat. Apa lagi, saat Adinda mengatakan. Hanya dirinya yang bisa membuatnya kl*maks berkali-kali.


"Plong?" tanya Adi dengan senyum yang masih terpatri di wajahnya.


Adinda membuka matanya, dengan mulai mengatur nafasnya yang begitu memburu.


Adinda mendapati suaminya sedang memandangi wajahnya. Ia tersipu, pipinya merona secara alami.


Lalu ia menggapai pakaiannya, untuk menutupi wajahnya.


"Apalah Abang ini? Malu kali aku diliatin macam itu." ujarnya di balik pakaian yang menutupi wajahnya.


"Jangan di tutupin dong. Abang suka liat ekspresi kl*maks Adek. Abang suka liat meronanya pipi Adek." ungkap Adi jujur.


"Tau, ah. Masih aja suka ngerayu. Jangan ngomong Abang suka, Abang suka. Aku jadi geer, aku jadi malu lah Bang." sahut Adinda. Pakaian yang menutupi wajahnya pun sudah raib di rampas Adi.


"Pengen d*ggy dong, Dek." pinta Adi dengan mencabut kebanggaannya.


"Tak mau, nanti aku keluar lagi." tolak Adinda.


Namun Adi tak menggubris, ia memiringkan tubuh istrinya. Laku menarik pinggang istrinya. Ia memaksa menginginkan posisi tersebut.


"Tujuannya Abang d*ggy, memang biar Adek puas berkali-kali." tutur Adi dengan mulai memasukkan kembali miliknya.


Decitan ranjang pun terdengar kembali. Sampai beberapa kali erangan kenikmatan keluar dari mulut Adinda.


Sepertinya Adi masih kuat bertahan untuk bisa menaklukkan istrinya. Ia ingin istrinya benar-benar terpuaskan akan pemberiannya.


TBC.


Episode kali ini tak bikin penasaran ya?


Tapi malah bikin yang baca butuh pegangan 😆


Untuk yang laki-laki, kuat-kuatin pegang yang ditengah 🤣


Untuk yang perempuan, awas ikutan keguncang ya Mak 😆

__ADS_1


Pantas juga Adi betah. Sehari tak Ng W aja dek Dinda sampek nagih. Bener-bener pasangan ini. Gacor betul! jantannya sama betinanya sama saja 🤭


Tapi ngomong-ngomong, ada yang mau link videonya Adi gak nih 😆😂🤣


__ADS_2