
"Oh.. yang perempuan tadi? Yang kau kata menantunya Umi Meutia?" desak Nurul dengan wajah seriusnya.
"Pantas lah si Adi itu….." timpal Seila yang terpangkas oleh seruan Adi.
"Apa? Adi apa?" tanya Adi yang langsung berpindah duduk di sebelah Seila, dengan memberi Seila delikan mematikan.
Seila menoleh ke arah Adi dengan tersenyum kuda, "Tak… tak apa-apa." jawab Seila kemudian.
"Itu kan? Coba kita panggil, sekelas Dinda tak dia. Apa jangan-jangan dia ternyata… " ucap Nurul dengan suara lirih.
"Heh, Kak. Aku mau nanya treatment!" ketus Adinda, setelah Maya berhasil dipanggil dan berjalan ke arah mereka.
"Orang tuh pada kepo-kepo betul!!!"
"Kau lagi Zuhra!! Dari mana kau??!!!"
"Keluyuran terus dari semalam! Kau tak ingat kah tersiksanya lepas dari candu? Heh?"
"Balik kau sana ke provinsi A! Mulai lagi kau di sini! Jangan bikin kami nyesel ya, Zuhra."
"Ini lagi yang laki-laki, kenapa pulak tak lanjut nyuci? Malah ikut nimbrung lagi."
"Nih pegang anaknya, biar aku yang kerja!"
"Terus kalian pulang!!! Menuh-menuhin ruang tamu aja kalian."
Sewot Adinda yang membuat semua orang terdiam. Adinda meminta Seila dan Nurul untuk berkunjung, karena ada maksud dan tujuan yang baik. Bukan untuk mencampuri urusan rumah tangga Adinda, apa lagi untuk menilai dan membandingkan orang lain.
"Adek hamil lagi kah?" tanya Adi dengan menerima Ghava.
"Hamil, hamil!!! Tak ada kasus k*ndom bocor setelah ini! Palak kali aku!" jawab Adinda dengan berlalu pergi.
"Di, Bang Adi… takut kali loh Umi punya menantu Dinda. Dia kenapa itu? Coba kau tanyakan sana!" ujar ibu Meutia membuat Adi menoleh pada ibunya.
__ADS_1
"Duh, Bang. Keknya aku harus minta maaf ke kak Dinda deh." tutur Zuhra yang langsung duduk sembari bergelayut pada kakaknya.
"Kau lagi! Dari mana memang kau? Bisanya dari semalam kau baru balik? Kau tau kan, kalau kak Dinda capek pasti ngamuk-ngamuk. Semalam dia kurang tidur, gara-gara anak-anak tak ada yang bantuin ngasuh. Abang panas dingin, masih berasa efek dari luka di kaki Abang. Belum lagi Abang lupa, kemarin malam kak Dinda udah minta buat perawatan. Mana sampek hari ini Abang belum turutin lagi." ungkap Adi kemudian.
"Ya udah sana dibujuk, Bang." ujar ibu Meutia kemudian.
"Kau dari mana memang?" tanya Adi pada Zuhra.
"Aku ketiduran di tempat temen." jawabnya dengan bermanja-manja pada kakaknya tersebut.
"Awas aja, kalau kau bohong pas ditanya kak Dinda. Utang kau Abang lipat gandakan, belum lagi kau kena kurung akak kau itu." ancam Adi yang membuat Zuhra terdiam ketakutan.
"Nih pegang Ghava, jagain yang lain juga." lanjut Adi dengan menyerahkan Ghava pada Zuhra. Lalu ia berlalu pergi, untuk menyusul istrinya.
"Dinda, Sayang…" panggil Adi dengan menghampiri Adinda yang tengah berkutat dengan timer mesin cuci.
Adi langsung merengkuh pinggang istrinya dari belakang, "Macam mana, Dek? Beli lipstik kah? Apa mau liburan? Perawatannya biar kita cari di sekitar sini, nanti sekalian Abang temani." bujuk Adi dengan masih memeluk istrinya dari belakang.
"Tak mau, Abang. Calon pengantin kan harus mesra, biar bahagia selalu sampek hari H." balas Adi dengan mengeratkan pelukannya.
Adi langsung memutar tubuh istrinya dan mengangkat tubuh Adinda, lalu ia mendudukkan istrinya pada mesin cuci yang tengah beroperasi.
Satu tangannya berada di pinggang istrinya, dengan tangan lainnya ia gunakan untuk membelai wajah istrinya.
"Bilang, kenapa? Jangan ngamuk, Abang takut." ujar Adi dengan mengunci netra istrinya.
Adinda terkekeh geli, saat mendengar pengakuan suaminya yang takut dengan dirinya.
"Aku tak suka dibandingkan, apa lagi dengan perempuan yang punya status sama untuk kehidupan Abang. Meskipun aku lebih tinggi saat dibandingkan itu, tetap aku tak suka. Apa lagi, kalau ternyata aku lebih rendah. Aku juga kecewa, pas tengok Zuhra baru muncul dengan wajah lelah. Dia ke mana sih dari semalam? Jangan bikin usaha kita selama ini sia-sia. Aku dan Abang di sana itu sebagai orang tua penggantinya, kalau Zuhra kembali macam itu lagi. Itu tandanya kita tak bisa didik Zuhra dengan baik." ungkap Adinda, dengan Adi yang memperhatikan wajah istrinya.
"Nanti kita tanya Zuhra baik-baik, Abang paham Adek khawatir." ujar Adi dengan tersenyum manis pada istrinya.
"Aku tak mau tinggal di sini, apa lagi sama Maya. Rasanya aku mau remas-remas habis wajahnya itu. Apa lagi semalam, dia ketak-ketuk kamar kita terus. Gara-gara anaknya sama Abang itu sakit. Udah kembar rewel betul, Ghifar minta susu tak udah-udah. Mana Abang sakit lagi, Zuhra juga kabur entah ke mana padahal bilangnya keluar sebentar." tutur Adinda dengan ekspresi kesalnya.
__ADS_1
"Abang tak cuma bisa remas loh, Dek. Abang juga bisa hisap, terus melintir juga. Adek juga jangan lupakan hentakkan Abang, yang bikin Adek seketika minta ampun. Belum lagi variasi goyangan yang bisa mutar dan bisa ngaduk juga. Yakin Adek tak mau coba tanpa pengaman? Sensasinya lebih berasa panasnya loh, Dek." tukas Adi yang membuat rahang Adinda terjatuh.
"Coba nih, Adek pegang dulu nih Adi's bird yang bikin Adek puas tuntas." lanjut Adi dengan membuka tali di celana rib-nya, dengan langsung mengeluarkan miliknya yang sudah tegangan tinggi tersebut.
"Tak mau aku, Bang. Aku lagi capek." tolak Adinda. Namun, Adi tetap mencekal tangan istrinya agar mau menggenggam miliknya.
"Cium, sayang." pinta Adi dengan menekan tengkuk istrinya, agar bisa meraup dan menjelajahi mulut istrinya.
Mereka terhanyut, di dalam ruang cuci yang bersebelahan dengan dapur tersebut. Tangan Adinda yang masih mengurut milik Adi, dengan bibir mereka yang saling beradu panas.
"ASTAGHFIRULLAH… GARAGA!" pekik seseorang yang melihat aksi nekat mereka berdua.
"Di kamar, Di!" lanjut orang tersebut dengan berbalik badan dan berlalu pergi.
Adinda segera memundurkan kepalanya, kemudian ia langsung menghapus sisa saliva dengan lengan bajunya.
"Awas, Dek. Mau dimasukin ini, bisanya masih diurut aja?" ucap Adi yang membuat Adinda terkekeh dengan memukul dada suaminya.
"Siapa ya tadi, Bang?" tanya Adinda kemudian.
"Tak tau, keknya sih ayah. Nampak Adi's bird kah rupanya? Disebutnya garaga itu?" ujar Adi yang membuat Adinda terdiam dengan wajah pucatnya.
"Aduh… malu betul aku! Malam kemarin ke-gap umi, masa iya sekarang ke-gap ayah?" tutur Adinda dengan melompat turun dari atas mesin cuci tersebut.
"Lebih malu Abang, Adi's bird udah di luar pulak." tukas Adi yang membuat keduanya tertawa bersama.
"Sana keluar, temenin anak-anak. Aku mau lanjutin kerjaan." ucap Adinda dengan memilah pakaian anak-anak, yang berada di keranjang sebelah mesin cuci tersebut.
"Tadi perasaan ada yang nyaranin ke kamar, Dek. Masa iya tak lanjut? Tanggung loh Abang, Dek." sahut Adi dengan memperhatikan aktivitas istrinya.
......................
Kok aku ketawa 😆
__ADS_1