
"Tak lah, Dek. Adek ngomong apa? Ngaco aja!" elakku padanya.
"Aku tak malu dibilang kumpul kebo. Karena kenyataannya kita tak kumpul kebo, kita udah nikah. Aku lebih malu dibilang perempuan peliharaan." sahutnya, dengan membalikkan tubuhnya menghadap padaku.
"Kenapa mesti malu? Kan nyatanya Adek bukan perempuan peliharaan." jawabku menyesuaikan dengan jawabannya tadi.
"Aduh, sakiiiittt." pekikku tertahan, karena Dinda mencubit pucuk dadaku kuat sekali.
"Sukurin!!!" ucapnya kejam.
"Nyatanya aku macam peliharaan Abang. Diumpet-umpetin, dikasih kemewahan, terus ditidurin setiap hari." lanjutnya, saat aku tengah membuka bajuku. Untuk bisa melihat bekas cubitan yang ia berikan tadi.
"Diajak shalat, diajarin ngaji, dibimbing agamanya, itu tak masuk ke daftar yang Adek sebutin tadi kah?" tanyaku yang terbawa kesal.
"Tak!!! Abang memang anggap aku macam peliharaan." ungkapnya berseru. Aku gemas bercampur kesal padanya, rasanya aku ingin menggigit pipi tembemnya dan p*n*at gembulnya.
"Besok Abang beli burung, buat peliharaan! Udah marahan kita sampek di sini. Terserah Adek mau post Abang, apa mau post video dewasa kita. Abang udah tak peduli. Udah pasrah, terserah aja." putusku cepat. Lalu aku mencium pipinya sekilas, dan berlalu pergi.
Agar permasalahan ini cepat selesai. Lebih baik aku yang mengalah, biar nanti tinggal aku meminta persetujuan Maya untuk menikah lagi saja. Agar aku bisa meresmikan Dinda. Karena sepertinya cepat atau lambat, pasti kedua pihak ini akan mengetahuinya juga.
~
~
~
Tiga hari sudah berlalu. Aku tengah kelabakan karena Zulfa sedari tadi menyambungkan panggilan video padaku. Ia disuruh umi, untuk menelponku. Agar aku bisa menyaksikan acara tujuh bulanan Maya. Sedangkan aku sekarang, tengah berada di rumah. Sembari membantu Dinda melipat pakaian yang baru kering dijemur.
"Berisik betul burung Abang. Lepas aja itu!" ucap Dinda membuatku terkejut. Karena aku tengah berpikir untuk merijek atau mengangkat telepon dari Zulfa ini.
"Biar ada binatang peliharaan. Biar Adek tak disebut peliharaan Abang lagi." jawabku dengan menoleh padanya.
Memang kemarin hari aku sudah membeli burung love bird, seharga tiga ratus ribu sepasang. Meminta uang pada Dinda untuk membeli burung pun, sampai aku dimarahin tiap waktu. Padahal segitu bisa dibilang murah, apa lagi jelas aku mendapatkan kandangnya juga.
"Lepas aja, jangan nyiksa binatang." sahutnya.
__ADS_1
"Nyiksa macam mana? Yang tersiksa tuh ya Adi's bird, bukan love bird. Nih, coba tengok!" balasku dengan membawa tangganya, untuk masuk ke dalam celanaku. Ya kali ini aku memakai celana training panjang, bukan sarung seperti biasa yang aku kenakan.
"Adi's bird, Adi's bird. Lama-lama aku lepaskan juga dia dari sangkarnya." ujarnya, dengan melepaskan tangannya yang kubawa untuk menggenggam Adi's bird tadi.
"Adi's birdnya yang tak mau kabur. Pengen bersarang aja udah." tuturku menanggapinya.
"Papah…"
"Papah….." suara anakku yang semakin mendekat.
"Tuh jagoan tuh, sana ajak main. Abang juga, orang tuh ngapain di rumah aja?" tukas Dinda, saat aku diam saja tak menyahuti panggilan anakku.
"Abang udah ke ladang tadi pagi. Abang niatnya pengen tidur siang, kelonan sama Adek siang ini. Di ladang juga udah beres, tinggal orang-orang Abang selesaiin pekerjaannya aja." jelasku padanya. Karena dari hari itu, sampek sekarang Adi's bird belum bisa bersarang juga. Tentu ini membuatku malas bekerja.
"Biasanya juga di sana cuma mandorin." ucap Dinda. Memang di sana pun aku hanya memperhatikan pekerjaan mereka. Tapi tak sepenuhnya aku nganggur, ada yang tak beres di ladangku pasti aku perbaiki.
"Dipanggil-panggil tuh diam aja. Papah tak sopan betul! Tak punya adab." ujar anakku memakiku, saat dirinya telah sampai di hadapanku. Tak ibu, tak anaknya sama saja. Hari-hari tak lepas dari beradu argumen. Ada saja yang diributkan, ujung-ujungnya pasti aku lagi yang disalahkan.
"Pue lom?" tanyaku pada Givan.
"Papah kalau kesel bahasa daerahnya keluar ya, Bang?" ucap Dinda pada anaknya, lalu mereka terkekeh kecil. Senang betul mereka mengejekku.
Ia terkekeh geli dengan memandangi wajah kesalku, sebahagia itu ibu dan anak ini jika sudah mengejekku.
"Bukan rasis lah, Bang. Kalau aku rasis, aku mana mau tinggal di sini dan pakek bahasa daerah sini buat komunikasi sama tetangga." ujar Dinda kemudian.
"Tapi kita cuma ngejek aja. Ya kan, Mah?" tutur Givan pada ibunya, dan langsung diangguki oleh ibunya.
Dan selanjutnya, mereka langsung mendapat serangan kiss dariku. Apa lagi kumisku baru mulai tumbuh lagi, setelah beberapa hari yang lalu aku mencukurnya.
Tawa renyah dari mereka berdua membuat hatiku menghangat.
Givan lari terbirit-birit dan masuk ke dalam kamarnya. Namun Dinda berhasil aku cekal.
"Ampun lah, Bang. Nusuk betul kumisnya, geli-geli sakit loh Bang." ucap Dinda dengan memegangi kepalaku, setelah aku berhasil menciuminya habis-habisan.
__ADS_1
"Sana gih maen, ajak anaknya." lanjut Dinda dengan mendorong tubuhku.
Wah, kesempatan untukku. Aku bisa melihat acara Maya, yang Zulfa sambungkan dengan panggilan video. Walau bagaimanapun juga, anak yang Maya kandung adalah anakku juga.
"Ok." sahutku kemudian. Sebelum aku pergi, aku menyempatkan untuk mencium pipi tembem istriku sekilas.
Sejak kandungannya membesar, dia terlihat semakin seksi saja. Dia lebih jauh menarik dari sebelumnya. Apa lagi saat ia berjalan, part belakangnya seolah melambai-lambai padaku.
Namun apa daya, Dinda masih mengaku tak berselara untuk berhubungan badan. Aku yang sudah rutin untuk dikeluarkan, menjadi pusing sendiri karena menahan cairanku terlalu lama.
Aku mengajak anakku yang tengah bersembunyi dalam kamarnya. Dan aku pergi dengan Givan ke luar rumah.
Aku mencari banyak anak-anak yang tengah bermain, mana tau Givan ikut nimbrung dengan mereka.
"Kenapa sih mesti maen? Aku mau bobo aja. Ini kan jam bobo siang. Kan biasanya habis makan, shalat dhuhur terus bobo siang." ucap anakku yang menggandeng kuat tanganku.
"Kata Mamahnya suruh maen. Maen sebentar aja, ok? Terus balik lagi, kita bobo siang." sahutku padanya. Karena aku pun memiliki kepentingan lain.
"Tak ada kawan lah, Pah. Mereka pada disuruh bobo sama emaknya." ujar anakku, setelah kami melewati rumah kawan yang biasa bermain dengannya.
"Ke tante Li aja, yuk." sahutku pada Givan. Ia mengangguk, namun meminta gendong padaku. Manjanya anak orang ini. Untung aku sayang betul padanya. Aku adalah penyelamat untuknya, kalah dirinya dimarahi habis-habisan oleh ibunya. Terkadang heran juga aku pada Dinda, ia bisa setega itu jika marah pada anaknya.
Tak butuh waktu lama, kami sampai di rumah pamanku. Semoga saja Liana atau Safar tengah berada di rumah.
"Assalamualaikum…" ucapku sembari melangkah masuk ke dalam rumah. Aku sudah terbiasa keluar masuk di rumah ini. Jadi sudah tak perlu repot-repot mengetuk pintu segala. Yang ada malah merepotkan mereka saja.
"Wa'alaikum salam…" sahut pamanku. Ia tengah menikmati rokoknya dalam-dalam, sambil membaca buku tebal yang berada di tangannya.
"Eh, Di. Sini duduk!" pinta pamanku.
"Ada yang mau diomongin kah, Pak cek?" tanyaku yang langsung diangguki oleh pamanku.
"Gih Abang masuk, cari Tante Li atau om Safar." ucapku pada Givan. Ia langsung berlari menuju kamar Li, yang berada di sebelah ruang tamu ini.
"Gimana, Pak cek?" tanyaku, dengan menduduki tempat yang berada dekat dengan pamanku.
__ADS_1
TBC.
Mau ngomongin apa nih pak Akbar?