Belenggu Sang Pemuda

Belenggu Sang Pemuda
BSP106. Syukuran kecil-kecilan


__ADS_3

"Terakhir tidur sama siapa?" tanya Adinda tanpa ekspresi.


Adi mengerutkan keningnya, mendengar pertanyaan istrinya yang tiba-tiba tersebut.


"Ng W?" ucap Adi balik bertanya.


Adinda hanya mengangguk samar, dengan wajah yang ia palingkan ke arah lain


"Sama Adek lah, waktu mau berangkat itu sih. Yang Adek minta di atas, terus ternyata Abang banyak c*pangannya di leher, di dada, di perut bawah juga." jelas Adi dengan lugas.


Lalu Adinda hanya mengangguk saja, membuat Adi bingung dengan respon yang istrinya berikan.


"Boleh ya, Dek? Abang udah mau meletup ini, Dek." ungkap Adi kembali berkonsentrasi kembali.


Adinda tersenyum samar, lalu menarik tengkuk suaminya.


Adi tersenyum bahagia, ia langsung menyambut pagutan bibir istrinya dengan begitu agresif. Ia mendapatkan lampu hijau, atas miliknya yang akan segera diizinkan masuk ke sarangnya.


"Jangan ragukan Abang, Dek. Apa pun yang terjadi di luar sana, Abang tetap coba jaga ini demi Adek." ungkap Adi, saat pagutan bibir mereka terlepas.


"Ingat bahwa aku tak sekuat yang Abang kira. Aku bukan wanita yang lapang hati, aku bukan wanita penyabar, dan aku bukan wanita yang selalu mengalah. Kalau memang kita tak bisa dipertahankan. Tolong, jangan buat aku jatuh semakin dalam." ungkap Adinda dengan membelai wajah suaminya.


Adi mengangguk, ia mengerti sedikit tentang sifat istrinya. Apa pun yang terjadi nanti, Adi akan tetap mempertahankan keutuhan cintanya pada istrinya. Ia masih ingin mempertahankan keutuhan keluarga kecilnya. Ia berharap, ada sisi baik yang tak menyakiti semua pihak. Agar ia bisa keluar dari masalah ini.


"I love you…" ungkap Adi dengan mengunci manik istrinya. Dengan sesuatu yang mengeras ia tekan-tekan pelan, tepat di kenikmatan istrinya.


"Love you too." jawab Adinda lalu ia menarik nafasnya lebih dalam. Karena saat itu juga, Adi memasukkan miliknya pada inti Adinda.


Adinda kalah dari rasa cinta yang menyatu saat ini. Ia tak bisa menolak suaminya, ia tak bisa menolak rasa yang suaminya berikan. Meski dirinya sadar, hatinya tidak baik-baik saja atas ulah suaminya.


~


~


~


Tiga hari berlalu


Sore ini, mereka tengah melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur'an dan doa-doa lainnya. Untuk kebaikan bayi yang berada di dalam perut Adinda, juga untuk kelancaran proses persalinan Adinda nanti.


Setelah menjalani acara itu, Zuhra membereskan kembali rumah kakaknya dengan Liana.

__ADS_1


Adi dan Givan pun membantu memunguti gelas bekas air mineral kemasan, untuk dikumpulkan menjadi satu. Laku diberikan pada seorang tetangga, yang biasa mengumpulkan barang bekas untuk dirongsokan.


"Zuhra….." seru Adinda, memanggil adik iparnya dengan berjalan menuju ke arahnya.


"Ya, Kak." sahut Zuhra menoleh ke sumber suara.


"Umi telpon nih." balas Adinda, dengan memberikan ponsel milik Zuhra.


Karena siang tadi Zuhra, Givan dan Adinda tengah bercanda sambil mengobrol di kamar milik Adinda. Dengan ponsel milik Zuhra yang tak sengaja tertinggal di kamar milik kakak iparnya tersebut.


Zuhra mengangguk dengan menerima ponsel yang kakak iparnya berikan.


Lalu Adinda kembali ke kamarnya, karena ia tengah merasa bahwa anaknya tengah tidak nyaman dalam kandungannya. Ia merasakan pinggangnya terasa begitu kaku, dengan panggul yang terasa begitu nyeri. Ia mendapatkan kontraksi palsu untuk kesekian kalinya, padahal kandungannya baru beranjak ke 30 minggu.


"Hallo, Umi. Assalamualaikum." ucap Zuhra dengan menerima panggilan dari ibundanya.


"Minta bang Adi suruh ke kamar, Dek." seru Adinda saat dirinya sudah berada di ambang pintu kamarnya.


Namun, tak disangka suara itu dikenali oleh ibu Meutia yang berada di seberang telepon.


"Siapa itu, Zuhra?" tanya ibu Meutia cepat.


"Bentar, Umi." jawab Zuhra dengan berjalan ke luar, untuk menemui kakaknya.


"Hmmm, Pue?" sahut Adi menoleh ke arah Zuhra.


"Dipanggil kakak, kayanya mulai lagi. Soalnya kakak keliatan pucat banget." balas Zuhra memberitahu. Adi hanya mengangguk, lalu berjalan menuju ke dalam rumah. Dengan menggandeng tangan anaknya.


Zuhra melihat layar ponselnya, detik pada panggilan masih berjalan. Lalu Zuhra menepuk jidatnya, karena menyadari sesuatu yang sudah terlambat.


"Maaf, Umi. Zuhra lupa lagi nerima telepon dari Umi." ungkap Zuhra dengan menempelkan ponselnya pada telinganya kembali.


"Ada Dinda di situ?" tanya ibu Meutia dengan tidak sabaran.


"Hmm… Dinda siapa, Mi?" sahut Zuhra gelagapan. Ia teringat akan pesan kakaknya saat di bandara.


"Itu, yang pernah nginep di rumah. Masa iya kau tak tau?" ucap ibu Meutia.


"Memang gak tau, Umi." elak Zuhra dengan ragu-ragu.


"Siapa yang manggil abang kau tadi?" sahut ibu Meutia, membuat Zuhra ketar-ketir sendiri.

__ADS_1


Ia tidak berani untuk mengatakannya pada ibunya. Karena di sisi lain ia merasa kasihan pada cerita dari kakaknya. Apa lagi ia bisa melihat dengan jelas, bahwa Adi dan Adinda saling mencintai. Ia tak mau membuat mereka terpisah, hanya karena mulutnya yang tidak bisa dipercaya. Oleh sebab itu, ia lebih memilih menyimpan semuanya rapat-rapat.


"Oh, itu… kak Liana, Umi. Anaknya cek Akbar." ungkap Zuhra yang langsung mendapat tepukan dari Liana, yang ternyata tengah berada di belakangnya.


"Pue?" tanya Liana pelan.


Zuhra tersenyum lebar pada Liana, dengan menggelengkan kepalanya.


"Oh, lagi kumpulan kah? Ramai sekali kedengarannya." ujar ibu Meutia kemudian.


"Ya, Umi. Lagi ada kumpul keluarga." sahut Zuhra dengan duduk di bangku panjang yang berada di bawah pohon, di halaman rumah Adi.


"Kau udah ke psikiater, Dek? " tanya ibu Meutia kembali pada tujuannya menelepon anak bungsunya.


"Udah ke temen Abang, tapi katanya dia psikolog bukan psikiater. Terus bang Adi minta rekomendasi dari temennya itu. Eh gak taunya, psikiaternya laki-laki. Jadi gak jadi, Umi. Soalnya abang mintanya yang perempuan aja." jelas Zuhra perlahan. Dengan memperhatikan Safar yang berjalan memasuki kediaman kakaknya.


Karena laki-laki itu, akhir-akhir ini sering kali dipojok-pojokan dengan dirinya. Padahal jelas, menurut Zuhra hubungan antar sepupu jelas tidak normal. Meski kenyataannya memang tak ada hubungan darah di antara mereka, karena Adi dan Zuhra berbeda ayah.


"Kenapa memang harus perempuan?" sahut ibu Meutia, setelah menyimak penjelasan anaknya.


"Katanya biar aku ngobrolnya enak. Soalnya gak cuma berobat katanya, Mi. Aku juga diminta untuk sharing." balas Zuhra kemudian.


"Oh gitu, ya nanti Umi nanya sama kawan lama Umi yang di B**** A***. Mana tau ada yang punya kenalan psikiater." ujar ibu Meutia.


"Ya, Umi. Nanti besok atau lusa juga abang katanya mau liburan ke U**e L***e. Kalau memang ada, ya biar sekalian pergi." tutur Zuhra dengan tersenyum pada Givan yang berlari ke arahnya.


"Ya udah, ati-ati ya nanti. Umi tutup dulu teleponnya, assalamualaikum." tukas ibu Meutia.


"Wa'alaikum salam." sahut Zuhra, kemudian ia menutup sambungan teleponnya.


Givan menghampiri tantenya, yang masih berkutat dengan ponselnya.


"Te… dipanggil sama om Safar. Katanya i love you sama Tante." ungkap Givan dengan tersenyum lebar.


"EHH… MANA ADA!!! OM TAK BILANG MACAM ITU." seru Safar ke arah Zuhra dan Givan.


"TAPI TADI AKU DISURUH SAMA OMA NDA MACAM ITU." balas Givan dengan berteriak.


Zuhra hanya geleng-geleng kepala saja, sembari menarik pelan pipi keponakannya.


"AWAS AJA KAU!!!" pekik Safar dengan berlari ke arah Givan, namun dengan cepat Givan menghindar. Dan berlari ke lain arah. Membuat Safar tak bisa menghentikan laju kakinya dan menabrak Zuhra yang baru saja berdiri dari posisinya.

__ADS_1


TBC.


Aku sih yes 😅


__ADS_2