Belenggu Sang Pemuda

Belenggu Sang Pemuda
BSP40. Tentang Haris


__ADS_3

Cukup lama mereka mengobrol. Sampai Givan sudah tertidur, mereka baru pamit pulang.


Lalu aku menghampiri Dinda yang masih ada di luar rumah. Pasalnya, mobil kawannya masih nampak oleh matanya. Mungkin ia menunggu mobil itu menjauh, baru memasuki rumah.


"Yuk masuk, udah malam. Givan juga udah tidur." ucapku, dengan merangkul istriku.


Dinda mengangguk dan mulai mengayunkan kakinya, untuk memasuki rumah. Setelah ia masuk, aku langsung menutup pintu dan menguncinya.


Hanya pintu depan yang kami lewati setiap hari. Karena pintu belakang rumah pusaka ini, langsung menuju halaman belakang. Yang terdapat beberapa pohon yang berbuah lebat.


"Makan belum, Sayang?" tanyaku, dengan menghampiri Dinda yang tengah mencuci tangannya.


"Udah." jawabnya ringkas.


"Yuk tidur." ajakku dengan menyentuh saklar lampu. Rencananya aku akan mematikan lampu, setelah Dinda berjalan menuju kamar.


Namun ia malah duduk di sofa panjang ruang keluarga, "Sini Bang." ujarnya dengan menatapku.


Aduh, ada apa lagi ini? Jangan-jangan, ia akan menyidangku sekarang.


Aku berjalan ke arahnya, dan menduduki tempat di sebelahnya.


"Sukma udah nikah lagi kah, Dek?" tanyaku berbasa-basi.


"Kata siapa?" sahutnya, namun bertanya balik.


"Perasaan, Haris pernah bilang Sukma udah nikah lagi." jelasku kemudian. Karena memang aku masih mengingat pernyataan Haris waktu itu.


"Sebetulnya itu cuma alibi orang tuanya kak Sukma aja." balasnya, dengan menggigit buah pear yang tersedia di atas meja. Lalu ia mengambil remote tv, dan langsung memencet tombol powernya.

__ADS_1


"Maksudnya?" tanyaku bingung.


"Iya, orang tuanya kak Sukma bohong sama bang Haris. Biar tak minta balik lagi sama kak Sukma." jelas Dinda, dengan pandangan fokus pada televisi.


"Sebetulnya kenapa sih mereka bercerai?" ujarku penasaran. Tak jelas sekali kasus perceraian Haris dan Sukma ini.


Dinda menoleh padaku, dan memperhatikan wajahku dengan seksama.


"Bang Haris kalau marah suka KDRT. Abang ingat waktu kejadian di rumah sakit. Hanya karena aku tak mau jawab pertanyaan darinya, aku tak mau jelasin tentang hubungan kita dulu padanya. Pipi aku sampai dicengkeramnya macam ini." tuturnya, dengan mencontohkan bagaimana Haris mencengkram rahangnya dulu. Jempol tangannya berada di sisi pipi kiriku, dan jari telunjuknya berada di sisi yang berlawanan. Dan Dinda menekankan cukup kuat juga.


"Iya-iya paham." sahutku sambil melepaskan tangannya.


"Nah itulah. Udah mana kak Sukma di rumah tak pernah dibantuinnya. Pagi dia berangkat kerja, balik dia urus burung. Malam dia main sama anak-anak sebentar. Terus langsung tidur, kalau dia lagi tak butuh kak Sukma." jelas Dinda kemudian.


Aku manggut-manggut mengerti. Memang dari wajah juga Haris nampak sangar. Tapi aku tak menyangka dia suka main pukul pada wanita.


Aku pun tempramen, aku menyadarinya. Tapi hanya suaraku saja yang menggelegar. Tak tahan-tahan sekali dengan amarahku. Aku tumpahkan pada barang-barang di sekitarku. Aku tak sampai hati jika harus menganiaya orang yang membuatku marah. Dinda juga beberapa kali pernah mendapat amarahku. Tapi sejauh ini aku tak pernah membanting barang apa pun, saat aku marah padanya. Tapi aku pernah sekali pada Maya. Entah kenapa, Maya selalu gampang membuat emosiku memuncak.


Aku memadu anak perempuan mertuaku. Mereka tau, tapi sampai sekarang mereka belum memberitahu anaknya. Mungkin mereka menunggu aku yang mengatakannya sendiri. Tapi aku yakin ini tak akan berjalan lebih lama lagi. Karena ucapan Dinda tadi. Orang tua mana yang tega anaknya diperlakukan macam itu.


"Terus juga, kak Sukma juga sebetulnya tak tega, pas Ken harus ikut sama bang Haris. Tapi di sisi lain, kak Sukma pengen betul bang Haris tau, macam mana susahnya ngurus anak." ungkap Dinda lagi. Karena aku hanya diam menyimak.


"Padahal dulu mereka langgeng betul. Seingat Abang, mereka jadian waktu kelas dua SMA. Tapi hanya sebatas pacaran anak muda, apa lagi Haris dulu anak pesantren. Yang jelas jadwalnya padat. Nah terus pas udah kuliah. Mereka nikah, Abang pun hadir di pernikahan mereka. Terus pernah dengar kabar katanya Sukma sengaja pakek KB. Biar kuliahnya tuntas. Terus lepas jadi sarjana, Abang tak pernah dengar lagi kabar mereka. Karena Abang yang langsung balik ke kota Abang." ungkapku bercerita.


"Jebolan pesantren tak bisa menjamin orang tersebut berakhlak baik. Bang Jef ya kayak bang Jefnya. Bang Haris ya kayak bang Harisnya." sahut Dinda berkomentar.


"Terus kenapa tuh Abang suka maen se* dari usia dini?" tanyanya kemudian. Dengan memperhatikan wajahku. Pasti ini membahas tentang mantan-mantanku lagi. Pusing aku kalau sudah macam ini.


"Lebih dini Adek lah. Adek empat belas tahun udah tak perawan. Abang SMA baru lepas perjaka." elakku membela diri. Aku mengingat pengakuannya dulu.

__ADS_1


"Kalau aku itu… memang aku yang bodoh. Aku gampang percaya sama orang. Terlebih lagi orang itu laki-laki yang aku cintai. Dan aku ini, salah satu korban dari laki-laki macam Abang." balasnya bisa saja. Memang Dinda paling bisa memutar balikkan keadaan. Awalnya dia mengaku, namun melemparnya lagi padaku.


"Coba dulu Adek jadi korban Abang. Kenal Adek, Abang tidurin. Besok-besok Abang nikahin. Sayang sekali kenalnya pas udah janda. Mana susah kali ditaklukin. Udah macam itu, Adek udah pandai…." tukasku terhenti, saat telingaku ditarik kuat olehnya.


"Aduh… aduh…" pekikku dengan kekehan geli. Karena mulut istriku meracau begitu cepat. Ia begitu marah saat aku menyebutnya janda. Memang itu faktanya kemarin, tapi ia tetap saja marah disebut dengan janda. Terus apa sebutan untuknya dulu? Perawan beranak kah? Terkadang heran aku pada wanita yang aku cintai ini.


Aku tertawa setelahnya, aku merindukan senda gurau bersama istriku ini. Kenapa harus ia shoping-shoping dulu, baru ia mau di dekati macam ini.


"Bacut, Dek. Rindu sangat Abang nyoe." ujarku karena Dinda melengos, saat aku ingin mencium bibirnya. Sedikit, Dek. Rindu sekali Abang ini. Kurang lebih artinya seperti itu. Karena aku terbiasa menggunakan bahasa yang bercampur.


"Maya itu siapa?" tanyanya random lagi. Aduh, ia dengar nama itu dari mana? Jantungku langsung berpacu, karena jujur aku takut Dinda mengetahui kebenarannya.


"Kenapa memang?" aku bertanya balik padanya.


"Simpanan Abang kah dia?" tanyanya lagi. Sebetulnya aku pun tak tau siapa simpananku? Dinda atau Maya? Pada kawan-kawanku, aku memperkenalkan Dinda sebagai istriku. Masyarakat di kampungku dan seluruh keluarga besar dari abiku, mengetahui bahwa Dinda istriku. Tapi, orang tuaku hanya mengetahui Maya sebagai istriku. Dan negara juga mengakui bahwa aku dan Maya adalah sepasang suami istri.


"Ini simpanan Abang." jawabku, dengan menarik pipinya gemas. Dan tersenyum lebar padanya. Agar menyamarkan rasa takutku akan ketahuan olehnya.


"Sembarangan! Aku istri Abang, bukan simpanan Abang!" sahutnya sewot.


"Abang tak punya simpanan apa pun, Dek. Entah itu perempuan, barang, atau aset apa pun." jelasku padanya. Ya Tuhan, aku berbohong lagi padanya.


"Terus untuk apa Abang kirim uang ke rekening atas nama Maya Renawati? Ke Seila Ramadhani juga, Abang kirim dengan nominal yang cukup banyak." ucapnya tegas. Mati aku! Kenapa Dinda bisa tau itu?


"Kirim uang? Kapan Dek?" tanyaku pura-pura linglung.


Dinda berlalu pergi, dan mengambil buku tabungan yang berada di dalam tas. Yang tadi siang ia pakai untuk pergi ke luar.


"Coba tengok ini." ujarnya dengan memberikan buku tabungan tersebut.

__ADS_1


TBC.


Ternyata Adinda lebih teliti, maennya langsung ke bank keknya buat ngecek sendiri 😆


__ADS_2