Belenggu Sang Pemuda

Belenggu Sang Pemuda
BSP136. 31 hari


__ADS_3

"Pue?" tanya Adinda yang melewati suaminya begitu saja, kemudian merebahkan tubuhnya di sisi kanan tempat tidur.


Dengan gerakan cepat, Adi sudah berada di sisi istrinya. Adinda langsung menoleh dengan pandangan herannya, "Kenapa, Bang? Minta pijat kah?" tanya Adinda kemudian.


"Boleh, Dek." sahut Adi, dengan langsung melepaskan seluruh pakaiannya.


"Heh! Apa yang mau dipijat? Bisanya bugil macam itu? Mana apa lagi ini? Ng*ceng pulak!" ujar Adinda dengan menunjuk bagian tengah suaminya yang berdiri tegak.


"Diurut, Dek. Tak tahan kali Abang." kata Adi mengakuinya.


Plak…


Suara paha Adi yang terkena pukulan tangan dari telapak tangan istrinya.


Adi meringis kesakitan, "Aduh, aduh… pedes loh Dek!" ucap Adi dengan mengelus pahanya, berharap rasa panas itu menghilang.


"Sana ngocok sendiri! Apa kali Abang ini, masa iya aku disuruh ngocok." ujar Adinda kemudian, lalu ia merebahkan tubuhnya membelakangi suaminya.


Adi menoleh pada istrinya, 'Istri bikin tambah dosa aja. Udah macam ini, mending dosa-dosa sekalian.' gumamnya dalam hati dengan masih melirik istrinya dengan penuh minat.


Adi langsung merebahkan tubuhnya dan memeluk istrinya dari belakang, dengan bagian belakang kemeja istrinya yang Adi singkap. Mempertontonkan bagian part belakang Adinda yang dilapisi dengan segitiga berwarna pink.


Dengan sesuatu yang tegak itu sengaja dibenturkan di part belakang Adinda, membuat Adinda kalap. Ia khawatir suaminya berlaku di luar batas, karena sampai saat ini mereka masih belum boleh untuk melakukan hubungan biologis.


"Bang, sana nonton Mia Khalifah. Dari pada bikin aku bingung macam ini, Abang kira aku bisa nolak Abang? Sama Bang, aku juga pengen. Udah lama aku nahan, aku juga kangen pengen nyatu. Tapi ingat aturan, tak boleh campur sampek 40 hari." ungkap Adinda dengan membalikkan tubuhnya menghadap suaminya.


Netra mereka bertemu, terlihat kilat penuh cinta dan nafsu di sana.


Tanpa menjawab ucapan istrinya, Adi langsung mengungkung istrinya di bawah tubuhnya.


"Dosanya biar Abang yang tanggung, Dek." ujar Adi dengan mulai menciumi istrinya.


"Tapi, Bang… aku belum selesai nifas. Aku masih……." sahut Adinda dengan mencoba mengunci kepala suaminya, agar tak melanjutkan aksinya.

__ADS_1


"Sssttttttttt…." suara Adi yang memotong ucapan Adinda tadi.


Lalu Adi langsung membawa istrinya masuk dalam buaiannya. Tak lama kemudian, terdengar suara penuh permintaan terdengar dari mulut Adinda.


Adi dengan senangnya, menuruti apa yang istrinya inginkan. Tak butuh waktu lama, hentakkan demi hentakkan dirasakan oleh Adinda. Dengan suara lepas yang memenuhi ruang kamar tersebut.


~


~


Esok harinya, Adi tengah mengajak anak-anaknya bercengkrama. Dengan Adinda dan Zuhra yang tengah bersiap. Mereka berencana akan membeli perlengkapan bayi, yang menurut Adinda masih banyak yang kurang.


"Bang… Ghifar pakein diaper." seru Adinda dengan merapihkan hijabnya.


"Jangan lah, Dek. Nanti nahan pipis lagi." ucap Adi menolak perintah istrinya.


Ghifar tak pernah dipakaikan diaper, tentu bukan karena Adi tak mampu membelikannya juga. Tapi karena Ghifar yang tak pernah mau buang air di diaper. Diaper yang dipakainya selalu kering dan bersih, tapi jika diaper itu dilepas. Anak bayi itu langsung membuang air seninya.


Tentu bukannya bertambah hemat, karena pakaian yang dimiliki bayi itu harus banyak. Karena sering berganti pakaian, karena mengompol. Belum lagi deterjen, konsetrat, listrik dan juga tenaga menjadi lebih banyak terbuang. Terkadang Adi sampai mencuci dua kali sehari, hanya untuk pakaian bayi kecil tersebut.


"Ya udah, ya udah. Nanti Abang pakekan. Salinin Givan dulu, Abang mau salinin Ghifar sekalian Abang mau salin." balas Adi dengan berjalan melewati istrinya. Adinda tersenyum samar, saat melihat tanda merah pias pada jakun suaminya.


Ia teringat kembali bagaimana buasnya Adi semalam, juga bagaimana pasrahnya dirinya pada suaminya. Sampai ia hanya bisa memberikan tanda miliknya, pada jakun suaminya saja.


Adinda sampai memutar kepalanya, karena pandangnya terkunci pada sosok gagah suaminya. Hingga Adi berada di ambang pintu kamarnya, kemudian ia menyadari bahwa istrinya memperhatikannya sedari tadi.


Adi menoleh pada istrinya, lalu mengedipkan sebelah matanya dengan senyum menggodanya.


"Ganjen!" seru Adinda untuk suaminya. Hal itu membuat Adi tertawa terbahak-bahak, dengan berlalu masuk ke dalam kamar.


Beberapa saat kemudian, mereka semua sudah berada di dalam mobil. Adinda menyebutkan nama tempat yang ingin dikunjunginya, dengan Adi yang mengangguk mengiyakan ucapan istrinya.


"Oh iya, Dek. Kapan Zuhra hilangin tatonya?" tanya Adi setelah tidak ada pembahasan lagi di dalam mobil tersebut.

__ADS_1


Adinda menoleh ke arah Zuhra, yang duduk di belakang kursi kemudi. Sambil menemani Givan bermain ponsel milik Adinda.


"Yakin mau dihilangin?" tanya Adinda memastikan.


Zuhra terlihat begitu bingung, "Tak tau, Kak. Bang Adi minta aku buat hapus tato. Kalau aku sih tak mau kak sebetulnya." ungkap Zuhra kemudian.


"Sakit loh, Dek. Panas dingin nantinya, terus rasanya lebih sakit dari ditato. Belum lagi tak cukup sekali proses, ada 3 sampek 4 kalinya baru bisa hilang." jelas Adinda dengan memutar kepalanya, agar bisa melihat Zuhra.


"Ya, dia nanti kelihatan betul perempuan nakalnya Dek. Kalau tatonya tak dihilangkan. Jangan nambah bikin malu lah, udah tak ting-ting mana bertato segala." timpal Adi tak setuju dengan ucapan istrinya.


"Yang penting dia udah tobat, terus tak nambahin tatonya. Kalau betul cinta sih, tak pandang dia bertato atau berbulu. Nyatanya yang jelas sering nyelipin rokok di tangan dan udah beranak juga, tetep dinikahin." tutur Adinda dengan melirik sekilas ke suaminya, ia sengaja menyindir tentang dirinya sendiri pada suaminya.


"Lain, Dek. Adek tak bertato, tapi berkissmark." tukas Adi yang bisa saja membalas ucapan istrinya tersebut.


Zuhra dan Adinda tertawa ringan. Lalu Adinda berkata kembali, "Kalau aku dulu bertato kek Zuhra, Abang mau tak?" tanya Adinda kemudian.


"Halah, nyatanya dulu Abang bilang tak mau kalau tak perawan. Nyatanya malah tergila-gila sendiri sama yang jadi mamahnya anak-anak. Adek jangan dijadikan contoh di kehidupan Abang, Abang mana bisa nolak itu." jawab Adi membuat Zuhra malu sendiri akan ucapan kakaknya.


"Uhh, mekar loh aku Bang." sahut Adinda membuat Adi tersenyum geli dengan menoleh pada istrinya.


"Jadi menurut Abang, tato kau dihilangin aja Zuhra. Nanti dari pada pas kau mati, terus umi sama ayah tau pas mereka mandiin jenazah kau. Bahwa kau bertato, malah lebih-lebih mereka kacaunya, Dek." ujar Adi setelah terdiam sejenak.


"Keknya Abang sangat menjaga perasaan umi sama ayah, ya? Dijaga betul-betul, sampek ditutup-tutupi sendiri. Sampek aku pun ditutupi selama ini sama Abang, demi menjaga perasaan umi sama ayah. Salut aku sama Abang." ucap Adinda dengan menatap lurus ke depan, memandang jalanan yang cukup ramai.


Adi menoleh ke arah istrinya, ia merasa tersinggung dengan ucapan istrinya. Benarkah ia terlalu menjaga perasaan orang tuanya? Sampai Adinda yang harus mengalah dari semua pihak.


Zuhra hanya terdiam, ia tak berani ikut campur dalam urusan rumah tangga kakaknya. Jelas ia merasa tak enak hati, jika melihat kakaknya dan istrinya terang-terangan beradu argumen di hadapannya.


"Bukan macam itu, Dek. Kalau Abang bagi tau umi sama ayah sekarang, yang ada Adek dituduh pelakor sama mereka." ungkap Adi lirih, tapi masih bisa didengar jelas oleh Adinda.


Adinda menoleh pada suaminya dengan tatapan penuh selidik, "Memang ada siapa di luar sana? Sampek aku dikira pelakor?" tanya Adinda yang membuat Adi terdiam dengan pikiran yang berkecamuk. Ia baru sadar, bahwa ia keceplosan tadi.


"Jawab dong… tak usah sampek tegang macam itu." lanjut Adinda dengan suara yang terdengar pelan namun seperti tengah menuduh suaminya.

__ADS_1


TBC.


Ada yang sama macam Adi dan Adinda, belum 40 hari udah perang kelam*n 😝


__ADS_2