Belenggu Sang Pemuda

Belenggu Sang Pemuda
BSP99. Usulan Adi


__ADS_3

"Aku pusing, Bang. Pengen cerai, tapi kasian Novi. Takut gak disayang sama papah barunya nanti, kalau masanya Bena nikah lagi." jawab Edi dengan menyugar rambutnya ke belakang.


"Kenapa Bena?" tanyaku singkat, dengan memperhatikan perubahan pada wajahnya.


"Gak cukup 15 juta sebulan, uang hasil kedai malah dipakai sama dia. Ayah juga marah-marah terus sama aku, gara-gara Bena bikin kedai gak bisa putar balik uang." sahutnya dengan menoleh padaku sekilas.


"Ya… kalau macam itu. Kau yang pandai cari uang. Percaya atau tak, sebulan Abang habisin 200 jutaan. Ya kadang lebih, kadang tak sampai segitu." balasku sedikit bercerita.


Ia menoleh padaku sekilas, "200 juta kalau aku ada uangnya ya gak masalah, Bang. Masalahnya kan aku digaji 16,5 juta sama ayah. 15 juta tuh Bena tau bersih, gak bayar listrik, gak beli kebutuhan bulanan." jelasnya kemudian.


"Coba kau buka usaha sendiri, tanam jahe merah, atau tanam cabai." usulku padanya. Karena menurutku bertani seperti itu lebih jelas, tentu kalau memiliki lahan yang lumayan dan memiliki modal awal juga. Untuk bertahan sampai ketemu di masa panen.


"Aku gak bisa usaha kaya Abang." ujarnya, dengan memperhatikan spion mobil. Karena dirinya akan berbelok.


"Bisanya usaha apa? Abang bantu di awal aja, tapi tak bisa sepenuhnya. Coba kau minta bantuan mertua kau juga." tuturku.


"Aku gak tau, Bang. Aku pusing." tukasnya terlihat begitu frustasi.


"Kalau kau tak ada perubahan, ya cerai jalan satu-satunya. Tapi kau tak mau kan? Kau bilang kasian sama anak. Ini yang bermasalah kan kaunya, bukan Benanya. Kau yang tak bisa nyukupin dia, bukan dia yang maksa kau buat menuhin segalanya. Dia berlaku salah, karena kau tak bisa ngasih apa yang dia mau. Memang bukan salah kau juga, kau udah berusaha, kau tak nganggur di rumah, kau kerja. Tapi… alangkah baiknya, kalau kau rubah sedikit pola pikir kau. Bukan Abang sombong, bukan Abang membanggakan diri. Abang cuma pengen, kau dan Bena tetap baik-baik aja. Jalan keluarnya, ya kau usaha sendiri. Kalau bertani, atau masalah budidaya macam itu, ayo Abang bantu, Abang bimbing. Tapi kalau jenis usaha lain, ya Abang tak bisa bantu, Abang tak begitu menguasai bidang lain." ungkapku panjang lebar. Dengan memperhatikan Edi yang terus menerus memijat pelipisnya.


"Kalau kau mau buka dagangan, kau belajar sama ayah. Kalau kau mau buka tambak, ayo belajar sama pak ceknya Abang. Ayahnya Safar itu, Ed. Jangan nyepelehin dulu, memang misal jahe atau cabai harga perkilogramnya stabil dipuluhaan aja. Tapi kan kalau ladang kau besar, katakanlah lah kau punya satu hektar. Udah lebih baik tuh ekonomi kau. Kau belum ada ladang, boleh kau pinjam ladang Abang dulu. Pinjam ya, bukan Abang kasih. Karena sama Abang pun lagi dikelola sendiri, itu pun kalau kau mau. Nah di tahun-tahun pertama, mungkin kau bakal kelimpungan. Apa lagi ladang kau tak ada, pasti hasil panen kau fokuskan untuk beli ladang. Untuk kebutuhan sehari-hari, kau masih bisa kerja. Jadi kau tak melulu harus ada di ladang, karena ladang bisa ditinggal." lanjutku, agar dia memiliki pemikiran untuk kedepannya. Aku kasihan padanya, ia terlihat tambah kurus. Sedangkan aku, setelah menikah, jelas berat badanku bertambah. Bukan karena gemuk, tapi karena ada yang mengurus.


"Abang kan masuknya jualan juga, Abang jual hasil panen Abang." sahutnya kemudian.


"Memang macam itu, tapi kan ada macam pengepulnya sendiri. Untuk kopi jenis Arabika macam Abang, udah ada pasar dunianya. Jadi misal harga yang ditetapkannya segitu, ya serentak semuanya harganya segitu. Tapi kalau kopi kan harganya tiap tahun pasti naik. Makanya Abang pertahankan usaha ini." timpalku sedikit menjelaskan.


"Kalau aku percobaan satu tahun sama Abang gimana? Dari ladang, modal produksi dari Abang, tapi aku yang kelola. Nanti hasil panennya buat aku, gimana tuh Bang?" ucapnya dengan menoleh padaku dan terlihat juga senyum lebarnya.


"Kau mau gadai apa? Bena?" sahutku dengan wajah yang kubuat seserius mungkin.

__ADS_1


"Kalau kau mau gadai Bena, ya tak masalah. Hasil setahun buat kau. Tapi Bena pun setahun Abang pakek. Lumayan kan m*kinya buat jepit-jepit manja macam itu." lanjutku dengan menaikan satu alisku.


Edi mendelik tajam, "Lebih baik Abang jepitin aja barang Abang di lubang kunci." ketusnya kemudian.


Aku langsung tertawa terbahak-bahak mendengar sahutannya.


"Tapi ngomong-ngomong, Abang sebulan 200 juta buat apaan?" tanyanya tiba-tiba.


"Rumah Abang sekarang besar, listriknya tambah mahal. Belum buat perawatan, perawatan aja kurang lebih seratus juta. Belum bayar asuransi, dan lain-lain sebagainya. Biaya makan sebulan juga." jawabku dengan merogoh ponselku. Karena aku mendengar ada suara notifikasi masuk.


"Perawatan apa sampai seratus juta?" sahutnya kemudian. Saat aku menoleh pada Edi, aku mendapatinya tengah menatapku heran.


"Perawatan kecantikan dong, tengok Abang tambah putih kan sekarang?" balasku dengan seolah sedang menyugar rambutku ke belakang telinga. Padahal rambutku jelas terpangkas rapih.


Edi terbahak-bahak dengan menatapku dengan jijik. Aku pun ikut menyuarakan tawaku.


Aku bergegas mengurus tiket online untuk penerbanganku. Namun, pihak bandara mengatakan bahwa kemungkinan jadwal penerbangannya akan mundur satu atau dua jam. Karena ada masalah pada cuaca, memang sepanjang perjalanan tadi sudah gerimis. Tapi aku tetap tak menyangka bahwa penerbangan akan ditunda cukup lama seperti itu.


Mau tak mau aku harus menunggu sampai pesawat siap landas. Karena sudah tak mungkin mengcancel tiket pesawat yang sudah aku beli.


~


Jam delapan pagi aku baru sampai di depan rumahku. Namun pemandangan yang aku lihat saat ini, malah membuat darahku mendidih.


Ada mobil lain berada di halaman rumahku, dengan seorang laki-laki yang baru keluar dari rumah. Dengan Dinda dan Givan yang berjalan mengekorinya.


Jangan-jangan laki-laki tersebut sehabis bermalam di rumahku?


Jangan-jangan Dinda pun bermain serong di belakangku?

__ADS_1


Atau… mungkinkah itu Mahendra? Ayah kandung Givan. Tapi kenapa ia berada di sini? Apa alasannya sampai berada di rumahku?


Aku langsung menjatuhkan koper kecil yang aku bawa, dan menatap tajam ke arah mereka.


Laki-laki tersebut dan Dinda melihat ke arahku, Dinda terlihat terkejut. Namun, ia langsung menyungingkan senyum yang kurindukan.


Entah mengapa, senyumnya membuat amarahmu semakin memuncak. Berani-beraninya ia membawa laki-laki lain masuk ke rumah kami, sampai hati Dinda melakukannya dibelakangku.


"Papah……….." panggil Givan, ia berlari kecil ke arahku.


Aku mengalihkan pandanganku pada Givan sekilas, kemudian memusatkan perhatianku pada Dinda dan laki-laki yang masih berdiri di tempatnya.


Givan memelukku dan mendongak menatapku.


"Papah tak telepon dulu mau pulang. Aku jadi kaget, tapi seneng juga." ucap Givan dengan tersenyum gembira.


"Sengaja, kejutan. Kalau bilang-bilang Papah tak bakal nampak pemandangan macam ini." sahutku sengaja menyindir Dinda. Dengan mengalihkan pandanganku pada mereka secara bergantian.


"Ayo pah masuk." ajak Givan dengan menarik tanganku.


Aku menyetarakan tinggiku dengannya, dengan menekuk lututku untuk menahan berat tubuhku.


"Gih, Abang masuk duluan. Nanti Papah nyusul." jawabku dengan mencoba memberikan senyum lebar pada Givan. Ia mengangguk dan berlari masuk ke dalam rumah.


Aku kembali berdiri dan berjalan perlahan ke arah mereka.


......................


Hayo Adi mau ngapain? Cemburu buta ya.

__ADS_1


__ADS_2