Belenggu Sang Pemuda

Belenggu Sang Pemuda
BSP227. Masalah hadiah


__ADS_3

"Ada mamah bobo di tempat Ghifar. Ghifar bobonya barengan ya sama Bang Givan, boleh tak?" tanyaku saat mereka sudah menghabiskan susunya.


"Biar aku ambilkan kasur yang lain. Mamah punya kasur lipat yang bisa dipompa lagi." jawabnya dengan bangkit dari duduknya.


Aku langsung menahan tangannya, dengan Givan yang menoleh ke arahku. Kemudian ia duduk kembali dengan wajah bingungnya, "Ada apa, Pah?" sahutnya kemudian.


"Kenapa Adeknya tak boleh bareng? Tak sayang kah sama Ghifar? Ini Adeknya Bang Givan, meski tak satu Papah. Tapi kalian satu ibu, satu kandung. Tak boleh macam itu sama saudara, harus bareng-bareng." ucapku dengan menepuk tumpuan duduk Ghifar. Ghifar sudah payah di pangkuanku, karena memang sudah satu jam lebih dari biasanya dia tidur.


"Aku diajari mamah buat mempertahankan apa yang udah jadi milik aku. Bukan aku pelit, tapi aku punya hak untuk mempertahankan milik aku. Kata mamah, kalau suatu saat harta aku atau milikku dirampas orang semacam penjahat. Aku harus bisa mempertahankan harta aku dan milik aku, ada kok ceritanya di jaman nabi. Papah mau dengar tak ceritanya?" sahutnya yang langsung kugelengi.


Aku sudah mengantuk, yang ada nanti aku tertidur karena mendengar dongengnya.


"Iya… Papah juga tau ceritanya. Tapi itu mempertahankan hartanya yang jadi miliknya dari perampok, bukan dari saudaranya. Lagian masa iya kasur-kasur aja, Abang tak mau berbagi?" balasku dengan memperhatikan wajahnya.


Givan menggeleng, "Aku tak suka, barang pribadi milik aku dipakek sama yang lain." ujarnya dengan merebahkan tubuhnya di tempat tidur, kemudian ia meraih bantal guling untuk ia peluk.


Saat aku menundukkan pandanganku, ternyata Ghifar sudah terlelap. Aku mengangkat tubuhnya dengan berhati-hati, kemudian ia aku pindahkan ke kamar. Aku tidur bersama kembar dan Ghifar, di atas tempat tidur ini.


~


~


Pagi harinya, aku mendengar suara Dinda yang tengah menggerutu. Aku menggeliatkan tubuhku, kemudian mengedarkan pandanganku ke seluruh penjuru kamar. Terlihat Dinda tengah memakai tutup tekonya, dengan menggerutu tak jelas. Saat aku menoleh ke arah jam dinding, terlihat sekarang pukul lima pagi.


"Mah…" suara gadis kecilku dari luar kamar. Naya sepertinya sudah terbangun dari tidurnya.


"Ya, Cut. Mamah lagi salin." sahut Dinda dengan membuka pintu kamar. Ia masih mengenakan pakaian dalam, tapi sudah direcoki oleh anaknya.


"Cut siapa, Dek?" tanyaku yang membuat Dinda terhenyak dari tempatnya.

__ADS_1


Ia mengusap dadanya, "Kaget dodol! Ngomong tuh ngagetin aja!" balas Dinda dengan melirikku tajam.


Aku terkekeh geli melihat ekspresinya. Luntur sudah amarahku, karena terbawa tidur dan disambut lagi dengan pemandangan tubuh molek istriku.


"Cut siapa?" tanyaku ulang, dengan bangun dari posisiku.


Dinda menunjuk dengan dagunya, "Tuh… Icut." jawabnya kemudian.


Aku melongok ke arah pintu, terlihat Naya tengah memperhatikan Dinda yang tengah memakai pakaian.


Aku jadi ingin, karena melihat Dinda memakai pakaian sedari tadi. Tapi ada daya? Naya sudah terbangun, aku tak mungkin melakukannya saat anak-anak sudah terbangun.


Ngomong-ngomong, sejak kapan Naya berubah menjadi Icut? Ia dipanggil dengan sebutan nama depannya.


Setelah siap berpakaian, Dinda langsung menggendong Naya. Kemudian ia langsung keluar dari rumah, mungkin ia ingin membeli sayuran.


Saat aku keluar dari kamar, terlihat Dinda tengah mengunyah makanan dengan menyuapi Naya juga.


"Ohh… ini nih yang namanya Icut? Coba Papah cium, wangi belum ya Icut tuh." ucapku dengan menghampiri mereka berdua, yang tengah duduk di kursi ruang tamu.


Naya tersenyum lebar ke arahku, wajah Chinese-nya semakin jelas. Aku dan Dinda, seperti mengasuh anak majikan.


Aku langsung mencium pipi Dinda dan Naya secara bergantian, kemudian aku duduk di sebelah Naya.


"Kenapa Naya dipanggil Icut?" tanyaku dengan memperhatikan wajah Dinda.


Dinda meneguk minuman dari botol minum milik Naya, "Tak apa, dia kan anak aku. Suka-suka lah aku manggil dia siapa." jawabnya setelah menaruh kembali botol minum tersebut.


"Ya kalau anak-anak kan, kadang tak paham dengan namanya sendiri. Naya kan udah terbiasa dipanggil Naya, otaknya udah ngerekam bahwa itu namanya. Tapi tiba-tiba dia diganti dengan Icut, memang namanya juga. Tapi kan, dia tak biasa dengan sebutan Icut." jelasku perlahan. Aku memperhatikan Naya yang membuka mulutnya, saat makanan yang Dinda suapkan berada di depan mulut kecilnya. Naya tengah makan nasi kuning, dengan lauk telur dadar yang dipotong panjang.

__ADS_1


Awal-awal makanan Naya adalah bubur bayi instan, kemudian Naya sudah dibiasakan makan dengan nasi tim. Hingga beberapa hari, ia beralih ke nasi. Saat melihat Givan tengah makan nasi kuning, Naya terlihat begitu selera melihat nasi kuning milik abangnya tersebut. Hingga beberapa hari terakhir, Naya selalu makan dengan nasi kuning. Karena ia belum berselera, melihat nasi putih.


"Namanya mirip ibunya, aku tak suka. Kalau bisa aku ganti, aku ganti sekalian nama anak ini. Kalau Abang mau manggil Naya dengan sebutan Naya, ya tak masalah. Mungkin Abang masih pengen mengenang mantan, yang udah kabur abis jual anaknya." balas Dinda dengan wajah yang terlihat tak bersahabat.


Aku menghela nafas beratku, "Ikut Adek aja udah, Abang cari aman." ujarku kemudian.


Dinda diam dengan menyuapi Naya, sesekali ia memakan makanan yang berbentuk seperti bola yang ditaburi wijen. Namun, terlihat dari urat wajahnya bahwa ia tengah merajuk. Aku harus bagaimana? Bukannya semalam aku yang marah padanya, tapi sekarang malah ia yang merajuk tak jelas.


"Kenapa sih, Dek? Diem aja." ucapku memecahkan keheningan ini.


"Ya Abang kenapa? Tau anaknya banyak, tapi di kamar aja kek bujang. Tak tau kah repotnya aku ngurus mereka? Padahal nganggur, di rumah terus. Tapi seolah tengah capek, macam abis kerja aja." percaya atau tidak, ucapan Dinda ini kasar. Kalau saja aku tak ingat bagaimana perjuanganku untuk mendapatkannya, ketabahan hatiku untuk menghadapinya selama ini, belum lagi jumlah anak yang sebentar lagi aku berjumlah setengah lusin ini. Sudah kudamprat dia habis-habisan, sudah kumaki dan kutunjuk-tunjuk wajahnya itu. Sayang sekali, aku cinta padanya.


Aku berjalan memutar, kemudian duduk tepat di belakangnya. Aku langsung memeluknya, aku memutar kembali ingatanku tentang cinta kami selama ini. Aku mencoba menahan amarahku, karena jika ini berlanjut pasti itu sebuah musibah untukku. Aku mengalah bukan karena aku takut istri, tapi aku tak ingin ada pertengkaran di antara kami. Aku ingin tetap kami baik-baik saja.


"Maaf, Abang kesal sama Adek. Adek macam kekurangan harta, dikasih segitu sama orang aja langsung bahagia betul. Padahal Abang silahkan-silahkan aja, kalau Adek mau beli-belian." ucapku lirih. Terlihat Naya… eh, Icut maksudku. Ia tengah memperhatikan kami berdua, sembari mengunyah makanannya. Icut makan cukup anteng, tak seperti Givan dan Ghifar yang sering kali minta jalan-jalan ketika tengah makan.


"Dek… beli tuh yang diperlukan aja, jangan terlalu buang-buang uang untuk sesuatu yang fungsinya sama. Ingat roda dunia itu berputar, ingat itu. Mending sisain, buat pendidikan anak-anak sama kehidupan anak-anak kalau kita udah tak ada. Hidup jangan terlalu boros, buktinya hidup sederhana lebih terasa kan nikmatnya." bukan aku yang berkata, tapi ucapan istriku yang tengah menyindirku.


"Memang Abang salah ngomong macam itu?" tanyaku dengan memutar bahunya, untuk menghadap padaku.


Dinda menatapku dengan tajam, matanya mengatakan bahwa ia tengah marah besar padaku. Sudah kuduga, ini bencana untukku.


......................


Mau satu yang macam bang Adi 🥺


Tak apa dimadu juga, kalau cuma sebentar sih. Asal Adi's bird aman terlindungi dari maduku, macam Adi jaga selama ini. Yang penting aku bahagia, tak kaku batin, tak kekurangan, tak apa lagi ya.... 🤔


Nanti lah, sisanya aku pikirkan lagi 😅

__ADS_1


__ADS_2