
"Ya lah, nanti sama mereka Zuhra diarahkan. Diminta cerita juga, apa yang menyebabkan dia sampek konsumsi barang itu. Diresepkan obat juga." jawab Haris memberitahuku. Lalu ia lanjut memakan kerang hijau lagi.
"Menurut kau, lebih baik aku bawa dia ke sana? Atau diminta ke psikiater di kota J aja?" tanyaku meminta pendapat pada Haris.
"Terserah kau. Nanti kalau dia di sana, dia malah tau kau punya peliharaan." jawab Haris dengan melirikku sekilas. Apa maksudnya? Kalau saja Dinda tau disebut dengan peliharaan, sudah pasti dia ngamuk sejadi-jadinya.
"Sembarangan!!! Dia istri aku lah." sahutku membela Dinda. Enak saja dia kata, Adindaku kan cintaku. Bukan peliharaanku.
Dia terbahak-bahak, mendengar responku. Jefri dan kawan-kawan Haris menoleh padaku dengan pandangan heran.
"Berani tak kau akuin itu ke umi sama ayah?" ucap Haris kemudian. Aku hanya menggeleng pasrah. Aku tak bernyali besar, lebih-lebih nanti Dinda yang pasti akan dicela umi habis-habisan.
"Eh, tadi aku ketemu Alvi di minimarket." ujarku mengalihkan pembicaraan.
"Ngapain dia?" tanya Haris singkat. Tanpa meninggalkan aktifitasnya, yang tengah memakan kerang hijau satu persatu.
"Beli susu tinggi asam folat." jawabku jujur.
Haris menoleh dengan mata membulat, "Gila itu betina!" sahutnya kemudian.
"Kenapa memang?" tanyaku yang pura-pura tak paham dengan maksud Alvi membeli susu tersebut. Padahal aku paham, dulu aku sering diminta kak Ayu untuk membeli susu tersebut. Saat dirinya baru menikah dengan bang Ridho. Aku tahu apa kegunaan susu itu.
"Dia rutin minta tiga hari sekali. Terus dua minggu belakangan, dia minta tembak dalam. Aku turutin, karena aku kira dia pakek KB pil." jelas Haris.
"Is, hamil duluan kau nanti." balasku cepat.
"Memang dulu Alvi pakek pil?" tanya Jefri, dengar saja itu jantan. Kalau udah bahas betina saja, telinga langsung nangkap.
"Pas awal memang pakek pil, karena aku tak bisa kalau buang luar. Dari awal hubungan, awal aku jadi pengantin sama Sukma. Aku tak pernah buang luar, pas terpaksa harus zina malah diwajibkan buang luar. Biar tak hamil gitu kan? Ya aku kelabakan, aku mana bisa lagi diujung terus langsung suruh lepas." ungkap Haris membuat aku dan Jefri terkekeh geli.
__ADS_1
"Aku pun sama, pas awal-awal nikah. Aku tak boleh buang dalam, dia maksa minta diresmikan dulu. Alhasil, malah udah isi sekarang. Padahal belum resmi." tuturku pelan dan itu membuat Jefri dan Haris lebih terbahak lagi.
"Zulfa pakek KB apa, Jef?" tanya Haris pada Jefri, setelah tawa mereka mereda.
Aku tak suka mendengar pertanyaan dari Haris. Bukan apa-apa, aku pun bercerita tentang aku dan Dinda. Tapi jelas karena aku sudah menikah dan halal secara agama. Sedangkan Zulfa dan Jefri, mereka jelas belum pernah melakukan pernikahan apa pun. Pertunangan pun entah seperti apa jadinya? Tak ada kabar lagi tentang pertunangan mereka.
"Tak pakek." jawab Jefri seperlunya. Mungkin Jefri memahami perubahan di wajahku, makanya ia hanya menjawab singkat.
"Nanti Dinda kau bawa balik ya, Di. Kalau aku nikah nanti. Rencananya, aku besok mau bilang ke orang tuaku dulu." ucap Haris, kembali ke topik utama.
"Aku tak bisa janji." sahutku dengan menyeduhkan kopi untukku sendiri.
"Diusahakan lah, dulu aku selalu ada untuknya. Sampai borok kau pun aku tutupi darinya." balasnya memaksa, ia juga memang. Haris sampai tak mengatakan apa pun tentang Maya pada Dinda dan Jefri pun demikian.
"Kenapa kau tak bilang ke dia?" tanyaku pada Haris, dengan memperhatikan wajahnya.
"Itu urusan kau sama dia. Aku tak mau ikut campur, aku takut nanti malah memperkeruh keadaan. Kau kan yang mulai sama Dinda, biar kau selesaikan sendiri sama dia. Kalau udah janda lagi, biar aku tampung dia di rumah. Aku sih baik hati dan sholeh." jawab Haris dengan ekspresi sombongnya. Aku melemparinya dengan kulit kacang dan Jefri yang malah terkekeh kecil mendengarnya.
"Kalau kau?" tanyaku pada Jefri.
"Karena aku tau, betapa sakit sebuah pengkhianatan. Biar aja dia tak tau masalah ini. Biar dirinya dan hatinya tetap baik-baik aja. Bukan aku berpihak pada kau, bukan aku tak setia kawan padanya juga. Tapi menurut aku, mending dia di sana aja dan tak tau apa-apa juga. Syukur-syukur kau mau selesaiin sama yang di sini, terus lanjut hidup bahagia sama yang di sana. Memang kemungkinan kau bohong lambat laun pasti diketahui sama dia juga, tapi setidaknya kau tak menyiramkan cuka pada lukanya. Dengan kau milih dia dan mempertahankannya." ungkapnya jelas namun begitu pelan. Sepertinya ini dari hatinya, atau mungkin ia pernah merasakan kasus yang mirip-mirip juga.
"Cep, cep, cep. Jangan nangis, sini Abang peluk." ujar Haris dengan merengkuh bahu Jefri, tapi langsung ditepis oleh Jefri,m dengan sorot mata tajam yang mengarah pada Haris.
Sontak membuat kami semua yang berada di sini, terbahak-bahak melihat tingkah mereka berdua.
~
Pagi harinya, pukul sembilan pagi, aku sudah bersiap akan berangkat ke kota J. Sebetulnya penerbangan yang aku ambil adalah penerbangan terakhir, tapi aku harus singgah di rumah orang tua Dinda dulu. Setelahnya aku harus menjenguk Zuhra di rumah sakit juga.
__ADS_1
Aku menggendong Naya dalam dekapanku, aku menciumi seluruh wajahnya. Ia masih sangat kecil, matanya pun lebih banyak terpejam.
Entah kenapa aku malah merasa begitu kasihan pada anak ini, dia sangat lemah dan tak berdaya. Kulitnya malah terkelupas, entah karena apa. Meski Jefri mengatakan itu hal yang wajar, tapi aku tak bisa berpikir tenang. Aku takut ia merasakan sakit karena kulitnya yang mengelupas itu. Memang yang terkelupas adalah kulit kering, tapi tetap saja aku khawatir. Meskipun sudah muncul kulit baru yang lebih halus.
"Cek up yang rutin, May. Nanti insyaa Allah Abang tambahin jatah bulanannya." ucapku dengan menyerahkan Naya pada Maya.
"Abang beneran mau pulang sekarang? Aku sama Naya gak diajak?" tanyanya kemudian.
"Iya, May. Tak lah, kau di sini aja sama ibu." jawabku jujur.
Maya menaruh Naya di atas tempat tidur, kemudian ia langsung menggapai tanganku dan ia tubrukan dengan bibirnya.
Kedua kalinya Maya mencium tanganku, yang pertama setelah akad. Lalu sekarang ia mencium tanganku lagi.
Tapi tak disangka, ia malah merengkuh pinggangku dan memeluknya. Posisi seperti Jefri menangis dengan memeluk pinggang Zulfa. Seperti kejadian yang diulang lagi menurutku.
Aku menyentuh kepalanya, "Kenapa kau, May?" tanyaku kemudian.
"Aku minta maaf, aku pernah jalan sama laki-laki lain. Tapi itu cuma jalan-jalan aja, Bang. Aku gak ngapa-ngapain, aku gak mesum sama dia." ucap Maya dengan suara bergetar. Mau pergi malah ditangisin, ada-ada saja Maya ini.
"Tolong jangan ceraikan aku. Jangan hiraukan omongan ibu, aku tak mau cerai sama Abang. Aku janji aku bakal rubah diri aku. Aku janji bakal nurut sama Abang. Aku tau Abang marah-marah, karena aku yang salah. Lihat pengorbanan aku, aku hamil dengan perubahan badan seperti ini. Lihat aku ngelahirin anak Abang, sampai perut aku disobek kaya gini." lanjutnya masih dengan suara tangisan yang terdengar jelas.
"Pertahankan aku…..
......................
Jangan di skip loh, scen Maya juga berarti di sini.
Jangan lupa untuk dukung author 😉 Like, vote, hadiah, tips, rate 5 dan komen juga ya 😁
__ADS_1