Belenggu Sang Pemuda

Belenggu Sang Pemuda
BSP170. Keputusan akhir


__ADS_3

"Abang tak mau, Dek. Abang mau kita sama-sama." ucap Adi dengan menggenggam tangan Adinda.


Pandangan mata mereka bertemu, "Bang, aku mohon. Yang kasian sama aku." sahut Adinda dengan menundukkan kepalanya, pada tangan Adi yang tengah menggenggam tangannya.


"Abang kasian sama Adek, makanya Abang perjuangin Adek sejauh ini." balas Adi dengan melepaskan genggaman tangannya, lalu memegangi kedua pipi istrinya.


"Abang bukan kasian kalau macam ini. Harusnya dari awal Abang resmikan aku, lepas kita sah secara agama itu. Kita ini udah belok terlalu jauh. Biarin aku lanjutin perjalanan aku, dengan Abang yang balik ke jalan hidup Abang. Jangan tanyakan tentang cinta aku sama Abang, jangan tanyakan perasaan aku. Bukan aku sombong, bukan satu atau dua laki-laki yang suka sama aku. Tapi aku tolak mereka, karena aku cinta sama Abang. Karena aku paham, bahwa aku masih istri Abang." ujar Adinda dengan beberapa kali menghapus bekas air mata suaminya.


"Bukan aku minta diaktekan untuk gugat warisan, tak macam itu Bang. Insyaa Allah, aku mampu untuk nyukupin kehidupan mereka. Bahkan, setelah ini aku berpikir untuk tak nikah lagi. Aku mau fokus cari uang untuk masa depan anak-anak. Aku udah capek rumah tangga, cuma diawal aja bikin senengnya. Lepas punya keturunan, pasti rumah tangga aku hancur berantakan. Bukan berarti aku nyalahin anak, atas setiap masalah di rumah tangga aku. Tapi ujian datang itu, pas suami udah tau rasanya istri selesai nifas. Itu pasti bikin mereka tak setia, karena istrinya udah tak asik lagi." lanjut Adinda kemudian.


"Demi Allah, Dek. Ini tak ada sangkut pautnya sama se*s kita, Abang terpuaskan dengan Adek. Abang tak kekurangan apa pun, sama yang udah Adek kasih. Dari awal kan Abang udah jelaskan, bahwa macam itu ceritanya. Tolong percaya sama ucapan Abang." sahut Adi dengan wajah yang begitu terlihat malang.


"Entahlah, Bang. Rasanya aneh, kalau laki-laki nikahin perempuan tanpa digaulinya. Laki-laki itu bisa se*s tanpa cinta. Di novel-novel aja banyak, yang nikah karena terpaksa tapi punya keturunan juga. Terus lama-lama mereka saling cinta, karena kehadiran anak itu." balas Adinda dengan menyandarkan punggungnya pada kursi. Ia menatap lurus ke depan, dengan pandangan yang terlihat begitu berat.


"Nyatanya memang Abang tak macam itu, Dek. Bergairah itu pasti, tapi Abang pasti alihin pikiran Abang. Tak tahan kalinya ya… Abang c*li, sambil tengok video kita waktu itu. Demi Allah, Abang tak pernah campuri dia." jelas Adi dengan menarik kursinya, sehingga ia dan istrinya tengah berhadap sekarang.


"Ya udah, terserah Abang. Jadi macam mana? Keputusan Abang apa? Aku tetep mau kita pisah, Abang udah dengar kan alasan aku tadi?" tanya Adinda dengan memperhatikan wajah suaminya.

__ADS_1


"Jadi, Adek seegois ini sekarang? Adek tak mau perjuangin pernikahan kita? Adek takut dikira pelakor sama umi dan Maya? Adek takut, pas masanya kebenaran ini terbongkar? Bukan Adek yang salah di sini, Abang yang salah. Abang yang akan jelasin, jangan takut karena itu semua. Abang pasti berpihak ke Adek, sekalipun umi ngelarang Abang." jelas Adi dengan menatap sendu istrinya. Sejauh ini, ia masih berusaha agar istrinya kembali dalam pelukannya.


Adinda menghela nafasnya, "Bukan aku egois. Coba pikir pakek logika! Duarrrr… Maya tau, ternyata Abang punya istri siri. Terus dia lapor ke umi, kan katanya dia orangnya tukang lapor. Udah macam itu, Abang disidang di hadapan mereka. Terus Abang iyain, bahwa Abang udah nikah siri sama aku. Fix Bang, aku dihujat saat itu juga. Orang kalau udah benci itu, susah untuk percaya dengan kenyataan yang sebenarnya. Sampek berbusa mulut Abang untuk jelasin ke mereka, mereka tak akan percaya bahwa ternyata aku yang pertama di sini. Tetap aku yang dikira pelakor, disangka jadi duri dalam daging, aku yang akan kalah juga nanti, aku yang akan terbuang juga nanti. Jadi… dari pada aku harus dimaki umi dan Maya itu. Lebih baik, aku yang mundur dari awal. Toh, hubungan kita juga udah renggang. Rasanya sulit untuk disatukan lagi, karena aku memang udah terlanjur kecewa sama Abang." ungkap Adinda yang membuat Adi paham.


"Jadi nasib rumah tangga kita macam mana, Dek?" tanya Adi dengan menghapus kasar air yang membasahi matanya.


"Ya udah, kita pisah lepas anak ini lahir. Katanya tak boleh dicerai, kalau lagi hamil, nifas, haid dan setelah dipakek berhubungan badan. Ya udah kita cari aman aja, Abang talak aku lepas aku selesai nifas hamil yang sekarang." jawab Adinda perlahan, tentu ia tak kalah rapuhnya dengan Adi. Air matanya menetes tanpa ia kehendaki, ini bukan hal yang mudah untuknya.


"Ya udah, Abang nyerah. Mungkin memang harus macam itu, nasib rumah tangga kita. Tapi, Abang mau kita tetap baik-baik aja sampek tiba masanya." putus Adi yang membuat hati Adinda mencelos tak karuan.


"Baik-baik macam mana maksudnya?" sahut Adinda bingung.


"Se*s lagi kan?" tanya Adinda kemudian.


Adi menganggukkan kepalanya, "Se*s layaknya suami istri. Lepas nifas pun, Adek tetap harus penuhi itu. Minimal sekali sebelum Abang jatuhin talak Abang." jawab Adi dengan jelas.


"Terus aku hamil lagi lepas itu, terus perceraian kita diundur sampek aku melahirkan. Begitu terus siklusnya, sampek anak udah satu losin. Sampek tiba masanya umi dan Maya tau, terus aku yang akhirnya disalahkan sana-sini." balas Adinda ketus.

__ADS_1


"Tak, nanti biar Abang pakek pengaman. Abang tak mau lagi, tengok Adek tengah raba dirinya sendiri. Abang tak mau dengar suara puas Adek, dengan Adek sendiri yang jadi pelakunya. Kalaupun memang Adek tak ridho Abang masuki, Abang tak masalah dan tak bakal maksa. Yang penting Abang yang ngeluarin Adek, bukan Adek sendiri. Entah dengan jari, atau mulut Abang. Yang penting pelakunya itu Abang." jelas Adi bertepatan dengan Adinda yang membuang wajahnya, mungkin ia tengah merasakan malu karena suaminya mengatakan hal itu secara gamblang.


"Ya, ok? Adek paham kan maksud Abang? Se*s kita bukan berarti Abang masuki Adek, yang penting Adek bisa keluar karena Abang. Jangan bilang jijik lagi, karena Abang udah jelasin kejadian yang sebenarnya. Abang tak mungkin main-main, kalau udah nyebut demi Allah." lanjut Adi kemudian.


"Bilang Abang kalau Adek butuh, atau bisa langsung ajak Abang ke kamar. Biar Abang paham maksud Adek." ucap Adi kembali, karena Adinda tak menyahuti ucapan suaminya.


"Ok, Abang rasa Adek setuju. Abang coba turutin mau Adek yang minta pisah, tapi tolong penuhi permintaan Abang. Terus masalah anak, Adek tenang aja. Akte pasti dengan ayah kandung, atas nama Abang. Mungkin memang telat dan pasti butuh waktu. Tapi Abang pastiin itu akan terlaksana, sebelum Ghifar tiba masanya masuk sekolah. Masalah kehidupan mereka, Abang udah atur semuanya. Adek tenang aja, tak perlu lelah kerja untuk ngurus anak-anak Abang. Kalau ketemu laki-laki yang baik untuk Adek, ya nikahlah. Jangan tak nikah lagi, kasian Adek masih muda. Masih ada yang harus menuhin urusan ranjang Adek. Adek tak perlu terlalu jauh mikirin masa depan anak. Abang pasti bagi adil untuk anak-anak Abang, termasuk Givan." ungkap Adi kemudian.


"Abang macam ini demi kebaikan Adek, demi kebahagiaan Adek. Demi nama Adek tetap baik-baik aja, demi Adek tak dimaki umi dan Maya. Semoga Adek paham akan rasa cinta Abang, dengan pembuktian Abang ini. Abang cinta sama Adek, Abang sayang sama Adek, Abang kasian sama Adek." lanjut Adi, kemudian ia menciumi wajah istrinya yang basah karena air mata.


Lalu ia bangkit dari tempat duduknya dan berlalu pergi masuk ke dalam rumah.


Adinda terdiam sendirian, pandangannya kosong menatap lurus ke depan. Ia cukup lega, akhirnya Adi bisa mengerti akan dirinya. Namun, ia begitu sedih karena rumah tangganya berakhir setelah ia melahirkan nanti.


TBC.


Betulkah seperti itu?

__ADS_1


Kita tengok nanti 😊


__ADS_2