Belenggu Sang Pemuda

Belenggu Sang Pemuda
BSP93. Nasehat ayah


__ADS_3

"Maksudnya?" tanya ayah menoleh padaku.


"Abang mau cerai sama Maya." jawabku mantap. Lalu aku mengamati perubahan di wajah ayahku.


"Pernikahan bukan mainan, Di. Cerai gara-gara apa? Apa masalahnya tak bisa diselesaikan baik-baik?" ucap ayah menuntut penjelasan padaku. Intinya aku ingin bahagia bersama Dinda, yah. Andai saja aku bisa mengatakan hal itu.


"Pertama, Maya main serong. Dia sering jalan dengan laki-laki lain yang bernama Hamzah, laki-laki yang kemarin kecelakaan bareng Maya itu." ungkapku memberitahu ayah. Semoga saja ayah mengerti.


"Jangan bikin malu Ayah, Di. Almarhum ayah Maya kerabat dekat Ayah. Coba tanyakan ke Mayanya lebih lanjut, takut-takut kau cuma salah paham. Cobalah berpikir dewasa. Kau ini laki-laki, kau kepala keluarga. Kata cerai itu pantang untuk diucapkan. Satu kali talak, kamu udah haram buat nyentuh Maya. Ati-ati, jangan mudah ucapkan kata cerai itu." tutur ayah menasehatiku. Aku paham akan hal itu. Aku pun tak akan mengatakan kata itu, kalau Maya tak keterlaluan. Lebih-lebih anaknya tak mirip denganku. Entahlah, anak itu mirip siapa. Yang jelas aku ragu mengakuinya.


"Ayah paham kau ada perempuan lain. Dari gelagat kau pun udah nampak, bahwa kau lebih unggul main serong. Logikanya, tak mungkin laki-laki ngehindar ngegaulin istrinya. Di mana-mana sifat laki-laki itu buas, sealim apa pun itu laki-lakinya kalau udah satu kamar sama perempuan pasti habis itu perempuan. Nah, kau satu kamar sama istri malah enggan untuk nyentuh istrinya. Terus juga, apa lagi ini? Lahan jadi alasan tak pulang-pulang. Di, di mana-mana seorang suami itu senang dengar istrinya lagi ngandung. Ditungguin tiap malam, dielus perutnya, dirasakan tendangan bayinya. Bukan malah tak pulang berbulan-bulan lamanya, balik-balik malah banyak c*pangan di lehernya. Apa itu kalau bukan hasil dari perempuan lain. Ayah tau kau nakal, ayah tau kau buas, ayah tau kau tak pernah bisa nolak perempuan. Ini istri kau yang kau tolak, Di. Ayah udah curiga dari awal kau macam itu." ujar ayahku dengan suara yang terdengar stabil dan tidak terlihat marah. Aku tau ayah tengah memberiku pengertian. Tapi bagaimana? Ayah tak akan paham kasusku.


"Kau udah punya anak, anak kau perempuan. Karma itu benar adanya. Takut-takut kau nyakitin ibunya, malah kelak nanti anak kau nanti yang disakiti laki-laki lain. Siapa lagi yang menyesal? Kalau bukan kita sebagai orang tuanya." lanjut ayahku setelah menjeda ucapannya.


"Sekarang gini aja. Kau tinggalin perempuan itu, terus hidup bahagia sama anak istri kau. Yang udah ya udah. Sekarang buka lembaran baru, apa enaknya main ser….. " Ayah tak melanjutkan kalimatnya, karena tiba-tiba aku mengeluarkan suaraku. Sungguh itu adalah sesuatu yang tak kukehendaki.


"Abang tak bisa. Abang berat sama dia. Abang cinta mati sama dia, Yah. Tak apa sakit hati sedikit, yang penting dia tetap jadi milik Abang." selaku dengan menundukkan kepalaku. Aku memperhatikan kakiku yang terpapar sinar matahari.

__ADS_1


"Pelan-pelan, lepasin dia. Yang kasian sama dia, yang kasian sama Maya, yang kasian sama Naya. Bukan cuma dia yang terluka. Anak istri kau juga pasti sakit hati, pasti kecewa. Terlebih umi, pasti umi tak akan paham tentang ini. Ayah laki-laki, sedikit banyaknya Ayah paham apa yang kau rasa. Percaya, Di. Kau sama seseorang yang kau sembunyikan itu, cuma rasa sesaat. Kau tak benar-benar cinta sama dia. Kau cuma takut, takut dia mengatakannya pada istri kau. Kau begini hanya biar dia tetap berada digenggaman kau. Agar Maya pun tak pernah tau tentang ini." sahut ayah dengan tenang. Aku menoleh padanya, memperhatikan wajahnya dari samping. Terlintas di pikiranku, bahwa ayah dulu pernah merasakan hal yang aku alami sekarang.


"Dia tak tau Abang beristri di sini." balasku singkat.


Ayah menoleh padaku lalu menepuk pelan bahuku, "Pelan-pelan tinggalin dia. Kau pun pernah kan merasakan nikmatnya santet? Jangan sampek kau kena santet lagi, apa lagi kiriman dari seseorang yang begitu kau cintai." ucapnya kemudian.


Aku menoleh padanya, namun ayah malah terkekeh kecil.


"Tak harus tiba-tiba kau pergi. Bisa dimulai dari kurangi perhatian kau ke dia. Perlahan tapi pasti, perempuan akan mundur sendiri. Jika laki-lakinya bukan seperti laki-laki yang dirinya kenal lagi. Harta, tahta tak mampu membuat perempuan pergi dari hidup kau. Perempuan bisa bertahan, meski kau udah tak punya apa-apa lagi. Tapi jika perhatian tak lagi ia dapatkan, ia tak akan bisa bertahan lagi dengan kau." Ayah memberiku saran, lalu ia melangkah masuk ke dalam rumah.


Aku terdiam, memutar ulang ucapan ayahku tadi. Aku tak mungkin bisa meninggalkan Dinda. Ada anak kami di antara aku dan dia. Aku tak bisa membiarkannya hidup tanpa perhatian dariku, aku pun butuh perhatian darinya.


Hanya ada satu cara, cara licik yang pernah terlintas di kepalaku dulu. Agar Dinda mau bertahan denganku, tanpa paksaan dariku. Itu pasti sudah menjadi keputusan yang terbaik untuk aku ambil dan mengatakannya pada orang tua Dinda. Bahwa anaknya denganku tetap baik-baik saja, menjalani rumah tangga dengan bahagia.


Maaf Maya, entah jadi atau pun tidak aku menceraikan kau. Tetap harus kau terima, bahwa aku memiliki wanita lain.


Maaf Naya, papah masih berat mengakuimu. Entah kau anak siapa, nyatanya yang tertulis di akta lahir adalah akulah ayah kandung kau. Semoga kau mengerti, jika suatu saat nanti kau dipertemukan dengan saudara-saudara kau. Yang memiliki kedudukan sebagai anak ayah kau juga.

__ADS_1


Maafkan Abang, Dinda. Seegois ini Abang mencintai kau. Ketahuilah, bahwa hanya kau satu-satunya perempuan yang Abang cintai. Kaulah yang pertama, dan kaulah yang terakhir dalam perjalanan cinta Abang.


~


~


Setelah mengantarkan ayah, umi, dan Zulfa ke stasiun kereta api. Aku langsung menuju ke minimarket. Karena aku akan pulang besok. Aku ingin membelikan susu formula untuk Naya. Dan beberapa kebutuhan lain, untuk sikecil dan ibunya. Aku merasa kasihan pada Naya, ia tak bisa menyusu langsung dari pabriknya. Padahal ASI Maya sudah berproduksi, dadanya pun sudah membengkak. Hanya saja memang aliran ASI-nya belum begitu lancar, hanya tetes-tetes kecil yang keluar dari sana.


Persis di sebelah susunan rak susu bayi, tersusun rapi susu formula untuk ibu hamil. Brand yang biasa Dinda pakai, ia begitu ketagihan dengan susu itu. Hari-harinya jadi tak bersemangat, jika belum meminum seduhan dari susu bubuk itu. Pulang dari sini nanti, aku pun akan memberikannya Dinda dan Givan kebutuhan susunya.


Brukkk….


Susunan susu berjatuhan dari tempatnya, saat seseorang mengambil susu yang mengandung asam folat tinggi. Yang diiklankan oleh para perempuan, yang baru menikah.


Aku menoleh pada seseorang yang tak sengaja menjatuhkan susunan susu tersebut. Betapa terkejutnya aku, sangat menemukan wanita berpakaian seksi yang aku kenal.


Dia belum menikah, bukan? Tapi untuk apa dia mengkonsumsi susu itu?

__ADS_1


......................


Untung up-nya 2 kali. Kalau tak, bisa nanggung nih di ujung episode kek gini 😆


__ADS_2