Belenggu Sang Pemuda

Belenggu Sang Pemuda
BSP219. Bukan tak perhatian


__ADS_3

"Hmm… kalau menurut aku, baiknya ya anak-anak kita sama kita. Naya juga kita bawa, biar dia juga kenal sama nenek dan kakeknya." sahut Adinda kemudian.


"Nenek dan kakeknya itu, orang tua Adek kah?" tanya Adi yang dijawab anggukan kepala dari istrinya saja.


"Adek betul kah mau nerima Naya?" tanya Adi kembali, yang kedua kalinya langsung dijawab anggukan kepala lagi.


"Hmm… Abang tuh pernah liat orang kek Naya, Dek. Kalau tak salah, dia pacarnya Maya. Abang talak Maya, pas Maya lagi jalan sama pacarnya itu. Keknya Abang tuh pernah tengok dia, tapi waktu itu Abang tak ngeh kalau wajahnya mirip persis sama Naya. Chinese macam itu, putih, pipinya bakpao macam itu juga. Pokoknya persis lah, cuma memang dia kan laki-laki sedangkan Naya perempuan." jawab Adi dengan memperhatikan platform kamarnya.


"Pacar? Dia pacaran lagi, pas masih jadi istri Abang?" tanya Adinda, terlihat ia begitu terkejut mendengar pernyataan dari suaminya.


Adi mengangguk, "Maya itu beberapa kali ke-gap lagi jalan sama laki-laki. Yang pertama, waktu dia masih hamil. Waktu itu Abang mau nemenin dia lahiran, karena waktunya udah deket betul. Tapi pas Abang sampek rumah dia, ibunya kata Maya lagi ke CFD dari pagi sampai sore belum balik. Padahal pas Abang telpon, dia kata lagi makan stuff roti di rumah kalau Abang tak salah ingat. Terus pas Abang mau ke rumah Abang sendiri, ada mobil berhenti depan rumah. Tak taunya, Maya datang diantar laki-laki. Terus beberapa hari kemudian, pas Abang tidur di rumah orang tua Adek. Abang dapat kabar dari rumah sakit daerah K******, katanya Maya kecelakaan terus mobilnya masuk parit. Jadi Naya itu, dilahirkan secara sesar karena kecelakaan itu. Nah, yang ketiga kalinya di lampu merah P***** itu Dek. Tapi yang terakhir ini, laki-lakinya mirip Naya. Bukan laki-laki yang pertama kali, atau kedua kalinya Abang temui itu. Yang anter sama yang kecelakaan itu namanya Hamzah, pas Abang tanya dia ngakunya kawannya Maya aja. Nah, yang di lampu merah P***** itu dia kata dia ini calonnya Maya. Masa iya orang bersuami, malah punya calon suami? Kan tak beres itu, Dek. Makanya detik itu juga, Abang talak Maya di depan mata pacarnya itu." ungkap Adi bercerita, dengan ia memiringkan tubuhnya untuk menghadap istrinya yang terhalang anaknya.

__ADS_1


"Waktu Maya lagi operasi aja, Abang tinggal makan di kantin. Perasaan biasa aja, tak khawatir, tak deg-degan, tak bahagia juga. Ngadzanin juga biasa aja cuma takut Naya meninggal aja, karena bayinya kecil betul mana pucet lagi. Eh tak taunya, memang anaknya putih makanya nampak pucet betul." lanjut Adi dengan masih mendapat perhatian penuh dari istrinya.


"Berarti macam tak ada ikatan batin ya, Bang?" sahut Adinda kemudian.


"Bisa jadi, Dek. Dari situ juga Abang ngeraguin Naya terus, tapi Maya jelasin sambil nangis. Katanya Naya ini mirip neneknya dari ibunya, karena neneknya itu keturunan Chinese. Mirip matanya, tapi tak dengan struktur wajahnya. Dari situ Abang coba berpikir positif, nerima kenyataan bahwa Naya memang anak Abang. Padahal jelas, dari hati Abang tak merasa. Kasarnya, kalau anak Shasha mirip Abang. Mungkin Abang agak curiga, kalau anak Shasha itu anak Abang. Karena Abang sering kan hubungan sama Shasha dulu, kemungkinan k*ndom bocor itu ada dan juga sering Abang ngelakuinnya dulu. Nah ini sih, perempuan yang pernah digauli sekali. Pakek k*ndom pulak, eh malah hamil dengan anak yang tak mirip Abang. Kemiripan memang bukan jaminan, bahwa anak tersebut bukan anaknya. Tapi Dek, rasanya aneh lah masa ia orang pribumi dengan kulit hitam manis macam Abang ini. Terus punya keturunan dengan wajah Chinese, terus tak mirip mamahnya juga. Adek kan tau, Naya tak mirip Maya sama sekali kan?" jawab Adi dengan menyibakkan rambut istrinya, yang menutupi wajahnya.


Adinda menganggukkan kepalanya, "Givan aja kan, tak mirip sama Mahendra." balas Adinda dengan menyeka keringat yang membasahi dahi anaknya. Meskipun cuaca di kamar ini sudah terasa amat sejuk, tetapi putra pertama dari Adi tersebut tetap basah karena keringat.


"Kata siapa? Menurut Abang sih mirip, Dek. Dari tarikan senyumnya, bentuk rahang, bentuk hidungnya juga mirip Mahendra. Pas Abang tau Mahendra, waktu Adek datang ke kontrakannya itu. Givan mirip Adek kan, cuma dari warna kulit sama mata aja. Macam Ghifar ini full mirip Abang, tapi mata yang sebelah kanan ini persis Adek. Kalau mata kirinya, kek agak besaran menurut Abang." ujar Adi, dengan Adinda yang manggut-manggut saja.


"Nah itulah. Umi ngerasa tertipu betul sama Maya, apa lagi Abang yang dari awal diperalat di sini? Rasanya mau Abang penjarakan itu betina, sayang Abang tak punya uang." tutur Adi yang membuat Adinda terkekeh geli.

__ADS_1


"Yang ikhlas, pasti ada hikmahnya kan dari ini semua? Yang pertama, jadilah laki-laki yang lebih hati-hati dalam menancapkan batangnya. Yang kedua, kalau punya istri dua mesti adil. Biar salah satu istrinya tak pacaran lagi, karena Abang berat sebelah. Yang ketiga, harusnya Abang jujur dari awal sama aku dan sama Maya juga. Selain bikin ceritanya jadi berbelit-belit, aku juga tak kehilangan uang sebegitu banyaknya karena tuntutan Maya. Tapi… yang udah, ya sudahlah. Udah terjadi juga, yang penting kita ikhlas aja. Itung-itung beli anak perempuan, karena anak kita laki-laki semua." ucap Adinda dengan tersenyum samar. Ia mencoba menjelaskan pada pembaca semua, dari petikan kisah rumah tangganya yang penuh drama tersebut.


"Kalau Adek ngomongnya macam itu, harusnya Adek kasih perhatian sedikit pada anak yang Adek beli itu. Mau bagaimana pun juga, Naya itu sekarang jadi anak Adek." sahut Adi dengan menarik selimut tebalnya. Meskipun Adi berasal dari kampung halaman yang cukup dingin, tapi ia tak terlalu kuat dengan dingin dari pendingin ruangan.


"Lah, memang selama ini siapa yang mandiin Naya? Itu aku, Bang. Naya ini kan kadang bangunannya lebih awal, dari anak yang lain. Yang selalu nyuapin sarapan Naya kan aku juga, karena memang yang lain masih pada tidur. Abang kan abis subuhan tidur lagi, bukannya nyuci. Padahal kaya yang iya, nyanggupin cucian sebagai tugas wajib Abang. Perhatian tuh yang macam mana? Masa iya aku harus jagongin dia depan mata aku terus, katanya umi mau jagain cucunya. Ya harusnya dijaga juga itu Nayanya, bukan anak-anaknya Adi Riyana aja." sangkal Adinda, yang tak terima dengan tuduhan suaminya.


"Ya maksudnya, kalau Naya nangis tuh diajak atau ditanya kenapa." ujar Adi kemudian. Adi pun tak mengetahui, bahwa selama ini Dinda yang memandikan Naya dan menyuapi Naya sarapan.


"Aku sering tau, dia nangis itu karena mau ambil mainan. Aku biarin dia nangis, biar dia ada usahanya untuk raih mainannya. Masa iya mau satu tahun masih duduk aja, kalau dibawa ke dokter malah suruh diterapi nanti. Gigi belum tumbuh, perkembangan Naya macam lambat betul. Ghifar bisa ke sana ke mari sendiri kan, karena aku biarin dia aja. Aku cuma merhatiin dia aja, tapi tetap dalam pengawasan aku. Coba diingat lagi, lima bulan Ghifar udah di baby walker. Udah bisa gerakan kakinya ke sana ke mari, udah mulai belajar duduk tegak juga. Delapan bulan kan, dia udah lancar ngesotnya. Bukan aku bandingin mereka, cuma dari awal keknya cara Maya ngasuh Naya ini salah. Anak itu jangan digendong-gendong aja, dimanja jangan keterlaluan. Nanti anak itu manjanya keterlaluan, mana aturannya dia udah bisa rambatan tapi masih duduk aja." jelas Adinda yang membuat Adi merasa tak enak hati pada istrinya.


Ia menyangka istrinya tak memperhatikan anak gadisnya, tetapi kenyataannya salah besar. Adinda mencoba menstimulasi otak Naya, agar memiliki inisiatif untuk meraih mainannya sendiri.

__ADS_1


"Pantas aja tadi bilang, kalau Naya ngerengek minta maianan sampek datang pemadam kebakaran. Nyindirnya asoy betul." ujar Adi dengan tertawa geli. Dengan Adinda pun terbahak dalam tawanya, meski ia sudah mencoba menutupi mulutnya agar tak bersuara dalam tawanya.


......................


__ADS_2