Belenggu Sang Pemuda

Belenggu Sang Pemuda
BSP113. Cara Adinda


__ADS_3

"Jangan nangis, Sayang…. Yakinlah bahwa Abang pun cinta mati sama Adek, Pak cek pun usahakan Abang biar bisa keluar dari sini. Sabar, Sayang. Abang pun tak pengen terus bikin masalah macam ini." sahut Adi dengan merengkuh istrinya meski terhalang meja.


"Doain persalinan aku lancar, Bang." balas Adinda dengan terisak.


"Pasti, Sayang. Abang usahakan, Abang nemenin Adek lahiran nanti. Pasti Abang yang adzanin anak kita." ujar Adi begitu yakin. Karena ia tahu, keluarga dari abinya pun terus mengusahakan Adi agar bisa keluar dari penjara.


"Cepat pulang, Bang…." sahut Adinda dengan menangisi suaminya. Bagaimana pun juga, Adi adalah suaminya. Ayah dari anaknya, jelas ia sangat mencintai laki-laki tersebut.


Adi mengangguk mengerti, lalu mencium kening istrinya.


"Aku balik dulu, Bang." pamit Adinda kemudian. Ia paham, ia tak bisa terlalu lama menjenguk suaminya. Sebelum ditegur, ia lebih memilih untuk pamit lebih awal.


Adi mengangguk, dengan menatap kepergian istrinya sampai dirinya dibawa masuk kembali oleh petugas.


Adinda mengendarai mobil seorang diri. Ia ingin kembali bertemu dengan Supriyatna, ia merasa Supriyatna masih ingin bermain-main dengannya. Ia pun tak mengerti jelas apa maksud Supriyatna seperti ini?


Ia memasukkan benda sepanjang 11 cm dengan lebar 2 cm ke dalam sakunya.


Dan ia menanyakan keberadaan Supriyatna lewat sambungan teleponnya.


Adinda terpaksa mengikuti arahan Supriyatna, yang memintanya untuk menemui dirinya di rumah saja.


'Dia bilang orang kota C. Kok dia bisa punya rumah panggung macam ini di sini? Apa udah lama kah dia tinggal di sini?' gumam Adinda, sebelum dirinya keluar dari dalam mobil milik suaminya tersebut.


Ia sudah memarkirkan mobilnya di depan rumah milik Supriyatna. Ia bisa melihat Supriyatna yang tengah tersenyum ke arahnya. Kemudian Adinda keluar dari mobil, lalu berjalan perlahan.

__ADS_1


Supriyatna menyambut Adinda dengan akrab, tapi Adinda menyadari sesuatu. Ada sebuah ponsel yang terselip di antara lubang fentilasi udara yang berada di pintu utama.


"Ekhmmm, kayanya kita harus ngobrol di kamar aja." ucap Adinda, membuat Supriyatna melupakan rencana awalnya. Lalu langsung mengiyakan ajakan Adinda.


Lalu Supriyatna berjalan lebih dulu, membimbing Adinda untuk masuk ke dalam kamarnya.


'Pakek headset, Nak. Jangan lupa pakek kaca mata kuda juga. Kau jangan tiru Emak kau ini, Nak.' gumam Adinda dalam hati, dengan mengelus perut besarnya.


Mereka berdua sudah berada di dalam kamar, dengan Supriyatna yang langsung menutup pintu kamarnya.


Adinda langsung duduk di tepian tempat tidur, dengan Supriyatna yang menarik kursi yang berada di situ. Agar bisa berhadapan dengan Adinda.


"Waktu itu aku udah kata kan, dalam waktu satu minggu kau harus bereskan kasus suami aku. Tapi kenapa sampai sekarang suami aku masih di penjara aja?" ucap Adinda langsung.


"Karena, kau masih belum pulang." jawab Supriyatna dengan menyentuh pipi Adinda. Adinda tersenyum manis pada Supriyatna, meskipun sebenarnya ia ingin menepis tangan tersebut.


Membuat mata Supriyatna berbinar indah, dengan tersenyum bahagia.


"Sebetulnya kau ingin apa? Sampai-sampai suami aku kau penjarakan macam itu." tanya Adinda dengan dududk di tempatnya kembali.


"Kalau boleh jujur. Aku ingin kau, aku ingin kita. Aku kasian sama kau, lebih baik kau hidup sama aku aja." jawab Supriyatna dengan percaya diri.


"Oh, sekokoh itu keinginan kau?" sahut Adinda enteng, dengan memperhatikan jam tangan mewahnya. Jam tangan kecil itu, berlapis emas putih. Dengan dihiasi permata berwarna putih, yang memutari lingkaran jam tersebut.


Mata Supriyatna semakin melebar, melihat perhiasan sederhana milik Adinda. Meski hanya jam tangan saja, yang menghiasi tangan mulusnya. Tapi jam tangan itu bernilai estetik cukup besar.

__ADS_1


"Aku hanya pegawai kecil. Tapi percayalah, aku tak akan mengecewakan kau." ungkap Supriyatna kemudian. Ia mengakui hal itu untuk merendah, tapi sayang ucapannya terdengar biasa saja bagi Adinda. Tak sebanding dengan ucapan Adi, apa lagi Adi sampai menangisinya. Tentu laki-laki tersebut tak menarik minatnya, apa lagi jelas suaminya begitu mencintainya.


Adinda mengangguk, "Jadi kau pengen jadi duri dalam daging?" ujar Adinda singkat, tapi ucapannya sungguh terdengar kasar di telinga Supriyatna.


"Kau tak laku kah dengan perawan atau jandanya? Sampai-sampai istri orang kau usik juga." lanjut Adinda begitu saja. Jelas ucapan Adinda membuat Supriyatna terhenyak kaget. Pasalnya ia sudah berfikiran untuk bergumul di atas tempat tidur, dengan perempuan semulus Adinda.


"Aku tak pernah mandang laki-laki dengan hartanya. Dulu pun, aku dulu yang tergila-gila sama Adi. Tanpa aku ketahui dia siapa. Dengan modal membuatnya nyaman aja, aku nekat mencintai Adi. Sama halnya macam kau! Tapi yang jelas, aku tak pernah berpura-pura jadi orang baik di hadapan orang yang aku cintai macam kau! Aku perlihatkan sifat asliku, tak aku tutup-tutupi kejelekan aku. Kalau kau memang ingin bikin aku oleng, tak macam ini caranya." ungkap Adinda dengan suara yang meninggi.


Lalu ia mengeluarkan sesuatu dari dalam sakunya. Kemudian membuka penutupnya, dengan cara ia gigit sarungnya. Dan menarik gagang benda tajam itu, yang berbentuk seperti huruf L tersebut.


Lalu Adinda berdiri, lalu langsung menempelkan benda tajam itu pada kemeja laki-laki tersebut. Kemudian ia menghadapkan mata pisau itu ke bawah, dan membawanya turun secara perlahan. Membuat kancing kemeja tersebut terlepas semua.


Supriyatna melotot tak percaya pada Adinda. Nafasnya tertahan karena rasa takutnya.


"Ini namanya badik. Ukurannya memang kecil, hanya 11×2cm aja. Badik Lampung dikenal memiliki racun yang mematikan. Siapapun yang kena sabetan pada kulit tubuh, maka bisa dipastikan akan terluka parah ataupun meninggal." jelas Adinda, dengan menuliskan sesuatu pada kemeja laki-laki tersebut. Dengan ujung pisau kecil itu. Membuat keringat mengucur deras di tubuh laki-laki tersebut.


"Aku tak takut dipenjara. Apa lagi cuma karena kasus macam ini." lanjut Adinda dengan tersenyum mengerikan pada laki-laki setinggi 168cm, dengan tubuh tak berotot itu.


"Menurut prediksi dokter, 4 minggu lagi aku melahirkan. Aku mau, suami aku ikut ngeden sama aku di ruang persalinan nanti." tutur Adinda dengan menatap mata Supriyatna, dengan senyum manis yang menghiasi wajahnya.


Supriyatna mengangguk cepat, ia ingin segera bebas dari perempuan gila tersebut. Karena ekonomi, Supriyatna sampai nekat mencintai istri dari juragan kopi tersebut. Berharap suami juragan di daerahnya itu terhasut ucapannya, kemudian berbalik mencintainya. Karena menganggap dirinya pahlawan dalam nasib buruk Adinda.


Adinda menghapus keringat dingin yang membasahi pelipis laki-laki tersebut.


"Kenali dulu siapa perempuan yang ingin kau taklukkan. Satu saran dariku, cari kelemahannya. Jangan memulai perang dengannya! Itu kesalahan besar." ucap Adinda dengan berbisik pada laki-laki tersebut.

__ADS_1


Supriyatna mengangguk lemah, dengan pandangan terkunci oleh Adinda.


......................


__ADS_2