
Alhasil Dinda mengurungkan niat untuk berolahraga, ia masuk ke dalam rumah dengan menggendong Ghavi. Dengan tangan kananku menggendong Ghifar, sedangkan Ghava berada dalam gendongan ring yang terasa cukup membebani pundakku.
"Dek… Dinda. Sini cobain masakan Bena, masakan khas Turki." seru umi dari arah meja makan.
Dinda langsung berbelok ke arahnya, dengan aku mengikuti arah kaki Dinda. Karena buntutnya minta bersama ibunya, tapi minta gendong denganku. Bukan lain adalah Ghifar anakku.
Dinda langsung mengambil kursi yang tersedia, dengan aku duduk di sebelahnya.
"Sini, Bang. Biar kembar, Bena pindahin ke kamar." ujar Bena yang berjalan menghampiriku, mungkin ia tak tega melihat keadaanku yang menggendong dua orang bocah sekaligus.
"Naya ke mana? Tadi kan sama kau, Ben." tanya Dinda dengan menyendokkan makanan di piring.
"Dibawa Zuhra antar Givan sekolah." jawab Bena dengan mengambil alih Ghava dalam dekapanku.
"Taruh di ruang keluarga aja, Ben. Tadi pagi Abang pindahin ranjang Naya di ruang keluarga." punyaku yang langsung diangguki oleh Bena.
"Zulfa ke mana sih, Umi? Sibuk apa dia?" tanya Dinda dengan menaruh piring yang sudah terisi makanan di depanku. Dengan Ghifar yang langsung mengambil sendok makan, yang berada di sebelah piring tersebut. Dengan yakinnya, ia memasukkan sendok berisi makanan ke mulutnya.
"Sibuk dagang online. Keluar kamar kalau lapar, sama kalau mau pergi ke tempat pengiriman paket aja." jawab umi dengan fokus pada makanannya. Aku pun sedikit merasa aneh pada Zulfa, ia sekarang lebih menutup diri.
"Tak pedas kah, Umi?" tanyaku dengan menoleh ke arah umi.
"Tak, cobain aja." sahut umi dengan memberiku satu buah sendok lagi.
Umi menyuruh asisten rumah tangga, untuk memanggilkan Zulfa. Tak lama ia muncul, dengan diikuti oleh Bena yang menggendong Novi.
__ADS_1
Kami makan dalam diam, karena aku takut istriku terganggu dari aktivitas makannya.
"Kak. Hmmmm…. Gak lama perasaan Akak katanya masuk infotainment lokal, yang katanya Kak Dinda jadi selingkuhan artis lokal. Soalnya aku mengikuti infotainment lokal itu, jadi aku tau." ungkap Zulfa, setelah Dinda tengah menghabiskan minumannya.
Dinda langsung mengangguk, dengan gelas yang ia taruh kembali di meja. Ia melakukan aktivitas makan, dengan Ghavi di dekapannya.
"Hah? Terus macam mana? Kenapa kau diam aja, Bang?" tanya umi dengan cepatnya.
"Yang penting mereka tak nikah. Kata Dinda yang penting istrinya tak tau, suami Dinda juga tak tau." sahutku yang membuat Dinda terkekeh geli, ia menepuk lenganku pelan dengan pandangan gelinya. Aku pun tak tau kejadian aslinya, tapi aku percaya istriku pasti setia padaku.
"Macam mana sih, Din? Tertawa pulak kau! Heran Umi." balas umiku, yang membuat perhatian Dinda teralihkan.
"Kan sebelum itu, nama dari tokoh utama di film yang diangkat dari novel aku sempat redup. Jadi, biar namanya naik lagi. Orang-orang terdekatnya ramai gembar-gembor, bahwa si abang itu ada main sama aku. Istrinya juga udah kongkalikong sama crew pihak produksi film itu, jadi memang disengajakan. Biar filmnya laku, biar single-single terbarunya laku. Aku okein, karena aku dapat bagian juga. Kan novel aku yang diangkat, untuk jadi film itu. Buktinya, setelah film ramai orang nonton, singlenya laku, namanya naik. Aku udah tak ramai diberitakan lagi. Karena memang macam itu cara marketingnya. Lagian mana ada orang selingkuh terang-terangan pamer foto di medsos, kan tak macam itu ya Bang konsepnya?" jelas Dinda yang berakhir dengan menyindirku, dengan ucapannya dan lirikan matanya.
"Aku juga sengaja diem, tak jelasin ke Abang dan tak ada bilang ke orang terdekatku. Karena memang settingan belaka, aku tak betul-betul ada main sama abang itu." lanjutnya dengan memperhatikan semua orang yang berada di meja makan ini.
"Ohh… macam itu. Umi pun denger dari Zulfa, beberapa bulan lalu kau ramai dibicarakan di provinsi A itu." sahut umi yang diangguki Zulfa.
"Sengaja cari sensasi, biar laku macam itulah. Tapi memang aku aja tak kira, sampek ramai betul macam itu." balas Dinda dengan bersandar pada kursi makan. Mungkin ia merasa pegal, karena terlalu lama menggendong bayi Ghavi.
"Jadi akun kak Dinda, ramai orang ngehujat dong?" tanya Zulfa kemudian.
"Tak juga, kalaupun memang ada pun Akak biasa aja. Karena memang tak ngerasa macam itu, kan bisa dibilang cuma pura-pura aja. Foto seolah nempel betul juga kan, banyak orang di tempat itu. Jadi ya memang murni settingan. Tapi pas dapat bagian hasilnya, si istrinya abang itu sering bikin story bahwa dia dan suaminya sekarang udah baik-baik aja. Jadikan seolah Akak ini kalah dan rumah tangga mereka menang, dengan macam itu kan turun tuh kabar jelek tentang Akak yang jadi orang ketiga itu. Tanpa klarifikasi, masalah beres." jawab Dinda dengan atensi semua orang tertuju ke arahnya.
"Terus kaos sama kacamata itu? Waktu dijemput itu? Di kamar juga" tanyaku dengan menyentuhkan tangannya.
__ADS_1
Dinda menoleh ke arahku dengan tersenyum manis, "Kacamata abang itu akan dipakek sekali sama aku, buat foto. Terus kan discreenshot sama istrinya, dia bikin story dengan foto aku yang pakek kacamata suaminya itu. Kaos pun sama, kan aku pakek olahraga sekali terus bikin story dengan pakek kaos itu. Dengan istrinya ramai post ulang foto aku di storynya. Waktu dijemput kan ada media, di pos ronda yang di dekat ladang Abang itu. Sengaja kerjasama sama media, biar bisa kesebar. Namanya juga settingan, Bang. Yang di kamar sih memang tak disengaja. Itu kamarnya Abang itu, kamar aku belum disiapkan. Sedangkan aku dikejar deadline, tapi aku tak nyaman kalau di luar ruangan. Jadi lah rehat di kamar dia, sambil ngerjain kerjaan aku. Iman dia, tak selemah Abang. Lagian juga aku tak mungkin sebodoh itu kali, kalau bujangan aja bisa aku dapatkan. Ngapain pulak aku ngeladenin suami orang, yang jelas bakal ribet masalahnya." ungkap Dinda dengan memperhatikan wajahku.
Bisanya istriku bermain macam itu? Ternyata dunia ini penuh dengan kelicikan, tak cuma aku yang dengan cara licik untuk mendapatkan Dinda.
"Belanja yuk, beliin Abang pomade." ajakku dengan bangkit dari dudukku.
Terdengar tawa geli dari orang yang berada di sini, dengan Dinda yang menggelengkan kepalanya.
Sebetulnya aku hanya beralasan saja, aku ingin mengajak Dinda untuk menyiapkan tentang pernikahan aku dan dirinya.
~
Beberapa saat kemudian, aku dan Dinda sudah berada di dalam mobil. Dengan hanya mengajak Ghifar. Karena umi melarang kami untuk membawa si kembar, katanya kasihan karena udara di kota ini tak sesehat di provinsi A. Tepatnya di kampungku, yang masih berkabut setiap pagi itu. Tentu kabut udara sejuk, karena daerahku termasuknya daerah dataran tinggi.
"Bang…" panggil Dinda terdengar ragu-ragu.
Aku menoleh ke arahnya, dengan langsung mengulurkan tanganku untuk menyentuh pahanya.
"Ngamer yuk. Rindu Abang, Dek. Delapan hari tak campur." ungkapku dengan tersenyum sekilas padanya, dengan pandangan yang fokus pada jalanan.
Namun, tanganku dipindahkan lebih tinggi. Aku menoleh cepat, untuk mengetahui siapa pelakunya. Ternyata pelakunya Ghifar, ia memindahkan tanganku ke atas kepalanya.
Aku dan Dinda terkekeh geli, melihat kelakuan Ghifar tersebut.
"Aku lagi haid, Bang. Terus juga… tadi aku mau tanya soal Naya. Aku ikhlas sih ikhlas, masalah uang itu. Tapi…..
__ADS_1
TBC.