Belenggu Sang Pemuda

Belenggu Sang Pemuda
BSP51. Ejekan mantan


__ADS_3

"Eh... si anti janda, si anti bekas orang. Malah dapat janda." ujarnya terkekeh mengejek.


"Ck, kan siapa dulu jandanya. Kalau jandanya kau, ya jelas aku kabur duluan." sahutku kembali melemparkan ejekan padanya.


"Kau…" geramnya tertahan, sambil menunjukku disertai tatapan tajamnya.


"Papah, ini ya? Aku mau ini." seru anakku, dengan berlari dengan membawa coklat kemasan telor itu. Sudah pasti itu yang ia cari. Tak seberapa coklatnya, tapi memang mainannya menarik perhatian Givan untuk mengkoleksinya.


"Ok, masukin ke keranjang. Ambil susu kotak yang biasa Abang minum juga gih. Papah tunggu di rak ini, ya?" sahutku kemudian. Ia mengangguk dan berlari pergi.


"Itu anaknya jandanya, ganteng kan meski masih kecil juga? Iya dong, siapa dulu jandaku. Bukan kaleng-kaleng!" tuturku padanya, tentu dengan ekspresi mengejek padanya.


"Kau menang kaya aja. Kau tak kaya, kau ditinggalkannya. Apa lagi perawatannya puluhan juta, bahkan sampek ratusan macam itu. Aku yakin, kelak nanti kau tak sanggup bayarin perawatannya lagi. Kau bakal didepaknya keluar dari kehidupannya." tukasnya menyahuti.


"Halah, pandai kau cakap! Entah karena kaya atau karena burungku. Yang jelas dia tak pernah main-main di belakangku. Dan yang jelas dia tak pernah menghidangkan dirinya, untuk dicicipi oleh orang lain." ucapku ketus padanya, Nurul Hikmah. Si dokter kecantikan di tempat Dinda perawatan. Mantan kekasihku dulu, yang pernah aku klaim bahwa aku tak bisa melupakan suara d*sahannya. Nyatanya sekarang, d*sahan Dinda yang lebih terekam jelas di ingatanku.


"Kau kan tau, untuk jadi model itu susah. Katakanlah aku ditiduri mereka hanya untuk suap biar aku bisa jadi model." ujarnya menjelaskan kembali permasalahan masa lalu kami dulu. Dengan dia mengatakan demikian, aku bahkan merasa sangat-sangat jijik padanya. Sampai-sampai saat aku mengetahui hal itu, aku memeriksakan diri berulang kali ke rumah sakit. Aku khawatir tertular penyakit seksual menular darinya.


Meskipun menurut pengakuannya dulu, aku belum pernah memakainya kembali. Setelah ia berhubungan dengan beberapa orang, yang berjanji akan menjadikannya model. Tapi tetap saja, aku harus memastikannya sendiri. Takut-takut dia berkata bohong.


Kejadian saat itu, aku hendak memakainya. Malah mendapati ada bekas c*pangan di p*y*daranya. Dan aku langsung mengurungkan niatku. Dan langsung memutuskan hubungan kami. Meski di situ dia memohon maaf dan meminta pengertianku berulang kali, tapi aku tetap pada pendirianku. Aku tak mau kembali padanya lagi, dengan alasan aku tak menginginkan wanita bekas orang lain.


"Suap kek, bayaran kek. Terserahlah! Aku tak peduli lagi." sahutku sambil berjalan menjauhinya.


"Tunggu…" panggilnya menghentikan langkah kakiku. Aku berhenti dan berbalik arah.


"Apa lagi?" tanyaku malas.


"Kenapa sampek kau rahasiakan pernikahan kau. Kau malu kah punya istri janda?" ucapnya dengan memicingkan matanya. Apa lagi ini? Perasaan kawan-kawanku tak ada yang terlalu mengejekku macam ini.


"Tak malu, memang sengaja aku tak undang kau aja." sahutku, lalu aku pergi meninggalkannya.


"Nyatanya kau tak pernah benar-benar nikah sama dia kan? Buktinya tak ada satu pun fotonya dia di sosial media kau. Dan kawan sekolah tak ada yang hadir di pernikahan kau." serunya, saat aku hampir meninggalkan jejeran rak.

__ADS_1


Masa bodoh! Aku tak ingin meladeninya lebih jauh. Aku rasa dia memang ingin mencari masalah denganku. Agar aku sedikit lebih dekat dengannya. Atau memang ia ingin mencari perhatianku saja.


"Udah belum, Bang?" tanyaku, dengan menghampiri anakku yang tengah memilih beberapa snack kesukaannya.


"Udah, tuh. Aku kumpulkan di bawah." jawabnya, dengan menunjuk kumpulan barang yang tergeletak di lantai minimarket. Aku kira itu tumpukan barang yang jatuh, dan belum dibereskan lagi oleh pegawainya. Tak taunya, itu adalah barang pilihan anakku.


Aku memunguti satu persatu barang yang seperti bukit kecil itu, lalu aku membawanya ke meja kasir. Terlihat Nurul sudah berada di parkiran. Ia masuk ke dalam mobil silver, yang berada di sebelah mobilku. Dan perlahan mobil itu menjauh dari tempat parkir minimarket ini.


Ada-ada saja, huh. Kira-kira apa ya yang ia bicarakan, saat bertemu dengan Dinda waktu Dinda perawatan hari itu? Aku jadi penasaran. Lebih-lebih waktu itu Dinda bertanya tentang Nurul tersebut.


~


Aku tengah bersantai di teras rumah, dengan menikmati teh tubruk buatan istriku. Sejak aku menikah dengannya, aku tak pernah dibuatkan kopi. Dinda selalu membuatkanku teh tubruk. Awal-awal aku menyicipi teh tersebut, sampai daun teh yang sengaja tak disaring itu nyangkut-nyangkut di tenggorokanku. Tapi lama-lama aku kecanduan teh buatannya. Aku jadi tak pernah mengkonsumsi kopi lagi.


"HEH!" pekik istirku yang baru keluar dari dalam rumah.


Aku terhenyak dari posisiku. Aduh ya ampun, jantungku serasa geser dari tempatnya.


"Ketemu siapa tadi? Sampek anak aku Abang biarkan belanja sendiri." tanyanya marah. Oh rupanya anak laki-laki kebanggaanku melaporkannya pada ibunya.


"Sini duduk dulu." sahutku dengan menunjuk kursi di sebelahku.


Dinda langsung mengambil kursi tersebut, dan ia pindahkan persis di depanku. Dengan posisi berhadapan, ia duduk dengan menatapku tajam.


"Bukan Abang biarin Givan belanja sendiri. Abang juga kan ada di minimarket itu. Abang tak tunggu dia di parkiran. Abang ikut belanja juga di dalam, nyari barang-barang yang ada di catatan dari Adek itu." jelasku sebelum ke intinya. Aku jelas tak terima ia mengatakan, bahwa aku meminta Givan untuk belanja sendiri.


"Terus?" tanyanya singkat, namun terlihat ia masih begitu marah.


"Ya tak terus-terus. Abang di sana ketemu dokter kecantikan itu, si Nurul." jawabku kemudian.


"Ohh…" apa lah Dinda ini. Dia cuma menyahuti ucapanku dengan oh saja.


"Kok cuma oh aja?" ucapku bertanya balik padanya.

__ADS_1


"Kirain ketemu siapa. Kalau cuma Nurul aja sih ya biarin aja. Paling Abang diledekinnya." sahutnya santai.


"Kok Adek tau, Abang tadi diledekin?" balasku heran.


"Ya waktu itu aja dia ketawa aja pas dia tau aku janda. Dia agak tak percaya, sama ngerasa heran sama Abang." tuturnya kemudian. Lalu ia bangkit dari kursinya. Dan hendak memindahkan kembali kursinya, namun cepat aku tahan.


"Duduk dulu lah, Dek. Terus macam mana lagi?" tukasku dengan memegangi tangannya.


"Ya tak terus-terus. Dia cerita sedikit, bahwa Abang dulu cuma mau perawan aja. Jajan pun berani mahal asalkan perawan. Yang aku bingung, Abang tak pernah ada bilang. Bahwa Abang pun pernah jajan betina, apa lagi betinanya mesti perawan." ungkapnya jelas.


"Ya jajan kan tak masuk itungan. Kalau mantan-mantan Abang ya, yang Abang sebutin itu. Yang penting kan Abang tak pernah macam itu lagi, setelah Abang menikah sama Adek." ucapku membela diri.


"Ya udahlah terserah Abang aja. Buktinya Abang tak jujur sama aku." ujarnya dengan melirikku sekilas. Aku tau maksudnya, dia menginginkan aku bercerita tentang jajananku dulu.


"Kalau memang Abang lagi free, kan tak mungkin nyomot kawan yang jelas-jelas bukan perawan. Jadi mau tak mau ya Abang jajan, Dek. Jajan juga barang baru, bukan bekas pakek orang." jelasku padanya.


"Berapa kali Abang jajan?" tanyanya, yang rupanya masih ingin mengintrogasiku.


"Tiga kali keknya. Tapi pas Abang balik dari penjara, Abang tak pernah jajan lagi." jawabku jujur.


"Terus Abang ngapain?" tanyanya lagi.


"Ya ng*cok sendiri, Dek." jawabku dengan menghela nafas panjang. Itupun ia tanya. Hadeh, ada-ada saja.


"Berarti kak Shasha yang terakhir Abang pakek." ia bertanya lagi. Aku mengingat kembali. Bukan, bukan Shasha yang terakhir aku pakai sebelum aku menikahinya.


Tapi janda kembang itu….


TBC.


Janda lagi? 😫


Siapa ya yang terakhir Adi pakek? Janda yang mana? 😩

__ADS_1


__ADS_2